Daur Ulang

Daur Ulang
Surat Dari Hati yang tak mampu kukirimkan


__ADS_3

Wapta, kau tahu rindu? Saat ini itulah yang kurasakan, tiada dalam suatu kata tersirat makna. Aku tahu dirimulah yang selama ini terdapat di dalam bait-bait pengharapan.


Saat ini aku sedang berjalan ke taman membawa suratmu yang sangat ingin kubaca sekarang, sangat ingin aku mengetahui apa yang dirimu titipkan di selembaran kertas.


Lihatlah, di balik naungan awan itu, rasa rinduku terhalang, rasa rinduku ibarat sinar matahari menyinari bumi, sekarang ia tampak ditutupi awan, rinduku terhalang jarak dan komunikasi.


Wapta, kalau boleh aku jujur tiada apa pun, juga siapa pun di dalam hidupku yang lebih tahu selain diriku.


Rasa rindu ini hanya aku yang tahu, aku tidak pernah menyebutkannya ke orang-orang, hanya saja aku pernah benar-benar kesulitan menuliskan kata terbaik dalam susunan kata acak kepadamu.


Aku juga pernah kesulitan menyembunyikan ekspresiku di depan kakek. Dia sudah tahu bahwa aku mencintaimu, tetapi saat ini derita terbesar dalam hidupku adalah kesulitan memilih kata yang bisa kukirimkan langsung kepadamu.


Tahukah sebelumnya aku pernah menimbang rasa, menimbang surat yang kutulis hanya untukmu. Kenyataannya susah.


Di bangku taman yang senyap suara, sekarang rasanya tidak terdengar apa pun, hanya deru kendaraan yang berlalu lalang.


Aku termenung sejenak menatap ke arah suratmu. Surat yang kupegang saat ini mampu menghilangkan sesuatu yang ada di dalam jiwaku ini tentang rasa setitik rindu.


Dengan gerakan perlahan aku membuka suratmu, tentunya hati ini berdegup dan susah kujelaskan, lebih tepatnya aku tidak ingin menjelaskannya, nanti kau kira aku adalah orang yang lebay dan lain sebagainya.


...นรัก. มันคือฉัน Wapta...


...Narak. Ini aku Wapta...


...ฉันมั่นใจว่าคุณสามารถพูดภาษาไทยได้แล้ว...


...Aku yakin kamu sekarang sudah bisa berbahasa thai...


...นั่นคือเหตุผลที่ฉันส่งจดหมายฉบับนี้เป็นภาษาไทย...


...Itulah alasanku mengirim surat ini dengan menggunakan bahasa thai...


...คุณปู่บอกว่าคุณไปมหาวิทยาลัยกรุงเทพ วิธีการแต่งตัวละครยาก?...


...Kakek bilang kamu kuliah di universitas bangkok. Bagaimana merangkai Aksara, susah?...


...อักษรไทยจะไม่ทำให้คุณหัวล้านใช่ไหม?...


...Aksara thai itu tidak akan membuatmu jadi botak bukan?...


...ฉันสงสัยว่าตอนนี้หน้าตาของคุณเป็นยังไงต้องซีดแน่ ๆ เพราะคุณนอนดึกเกินไปในการทำงานที่ได้รับมอบหมายจากวิทยาลัย...


...Aku penasaran bagaimana wajahmu sekarang, pasti pucat karena kebanyakan begadang mengerjakan tugas kuliah....


...นั่นแหล่ะ ทักทายวาปตา....


...Jadi, itu saja. Salam Wapta....


Eh? Saat itu kupikir sudah habis semuanya, rupanya masih ada lembaran seterusnya. Aku sejenak tertawa, kadang lucu entah mengapa sulit kujelaskan.


...ขอโทษนะล้อเล่น...


...Maaf, tadi hanya bercanda...

__ADS_1


...คุณกินแตงโมเป็นยังไงบ้าง?...


...Bagaimana semangkanya, kamu makan?...


...ฉันแน่ใจว่าใบหน้าของคุณต้องแปลกใจใช่มั้ย?...


...Aku yakin wajahmu pasti heran bukan?...


...เป็นของขวัญสุขสันต์วันเกิด!...


...Itu hadiah, Selamat Ulang Tahun!...


...คุณเองเกรงว่าคุณจะลืมวันเกิดเพราะยุ่งอยู่ในวิทยาลัย...


...Kamu sendiri, jangan-jangan sudah lupa hari ulang tahunmu karena sibuk kuliah...


...คุณเป็นอย่างไร?...


...Bagaimana kabarnya?...


...ตอนนี้คุณกำลังทำอะไรอยู่?...


...Sedang apa sekarang?...


...ถามเยอะจริงงงว่าจะเขียนอะไร? ป่านนี้คุณยังไม่ส่งจดหมายทำไม?...


...Aku banyak bertanya, sebenarnya bingung mau menulis apa? Selama ini kamu tidak mengirimku surat, mengapa?...


...Apa kamu sudah lupa padaku?...


...นรัก, สุขภาพแข็งแรง...


...Narak, tetap jaga kesehatan...


...หวังว่าเราจะได้พบกันอีกในภายหลัง...


...Semoga nanti kita bisa bertemu kembali....


Iya, Wapta. Semoga, ngomong-ngomong aku sekarang sedang menatap berlama senyap ke arah suratmu. Namaku bukan Narak lagi, melainkan kakek memanggilku dengan Roman atau Man.


Aku sedikit garuk kepala dulu, saat tahu nama Narak di sini dipakai orang untuk nama wanita, aku tertawa serba salah pantas saja itulah alasan kakek mengganti namaku Roman.


Wapta, maafkan aku yang selama ini sering menimbang suatu hal yang tak mampu aku jelaskan. Itu aneh, bukan?


Aku tak mampu mengirimimu surat, justeru kaulah yang mengirimiku terlebih dahulu, tidak Wapta. Ini adalah kesalahan diriku.


Kesalahan mental yang kurasakan, kelainan yang sulit kujelaskan. Mungkin aku harus pergi ke tempat pencuci otak. Lebih tepatnya aku membutuhkan seorang psikologi agar hidupku lebih tentram.


Kuliahku baik, selama dalam masa study di sini menyenangkan, walaupun aku berniat tidak ingin punya teman.


Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk, hanya sekadar membaca buku saja, tidak banyak buku yang kubaca. Dalam waktu sehari, aku hanya mampu membaca tiga buku, bahkan berulang kali membacanya supaya melekat kuat di ingatan.


Bukunya tebal-tebal, aku seakan tidak kuat lama-lama mengingatnya.

__ADS_1


Soal Aksara Thai rasanya benar kepalaku sampai botak, tidak dalam artian sebenarnya. Kau tahu amsal-amsal buatanku yang absurd. Maka begitulah sekiranya otak ini memikirkan dan tangan ini menulis Aksara Thai. Kepala botak, tangan kesemutan. Haha, bercanda.


Lebih-lebih sebenarnya aku cukup berbahagia mendapatkan surat darimu, kau juga benar. Aku lupa ulang tahunku sendiri, ulang tahun yang seharusnya diingat-ingat aku malah melupakannya.


Maafkan aku yang bulan lalu membuatmu menunggu berjam-jam dan aku tidak datang. Maafkan aku yang tidak tahu bagaimana menghargai kedatanganmu hari itu.


Semua ini memang kesalahanku yang mungkin akan memakan waktu kalau aku jelaskan lebih lanjut. Aku tidak bisa menatap ke arahmu yang di sana.


Kini aku hanya bisa menulis surat yang mungkin akan menjadi suatu kata rindu antara secangkir kopi dan rasa pahitnya yang melekat kuat di dalam satu kesatuan artian, tidak dalam artian dengung yang ternampak bagaikan rancau kebiasaan.


Aku sering melakukan kesalahan ringan yang tidak tahu benar atau tidaknya. Kesalahan yang tidak boleh aku sebutkan.


Apakah kesalahan itu wajar? Mungkin benarlah wajar, tetapi kesalahan berulang kali mungkin saja akan dipertimbangkan. Ragu kata maaf akan mendamaikannya.


Aku pernah menatap sekumpulan orang yang bertikai, tidak dalam waktu sehari, tidak seberapa banyak kata maaf yang diucap. Kala hati seseorang sudah membenci, apa pun mereka tidak akan memaafkannya.


Kebaikan dan lain sebagainya akan dianggap angin lalu, sudah banyak mendengar pun beribu kebaikan yang dilupakan dalam sekejap mata, hilang semua hanya karena satu kesalahan.


Bagaimana diriku yang tidak pernah baik kepadamu? Lebih tepatnya kau adalah orang yang berhak menentukan semua keinginanmu tanpa menoleh ke arahku.


Aku sangat mudah melupakan seseorang, tetapi melupakanmu sejak dari dulu aku tidak bisa.


Aku menghela napas sebentar. Mendongak, apa yang terbayang saat ini adalah kala aku bertemu orang bijak, tentulah dia akan berkata padaku bahwa aku adalah orang yang tidak tahu hakikat syukur. Hakikat hidup dan kebahagian di dunia ini.


Wapta, ini adalah suratku yang gagal hari itu kukirimkan. Saat itu aku berhela napas mengetiknya di komputer, bergeming senyap menatapnya, aku sudah mencoba lebih lama, lebih dari apa pun pertimbangan.


Itulah alasanku kenapa selama ini aku tidak pernah mengirimmu surat. Aku sedikit takut membayangkan kalimat-kalimat manisku pada suatu waktu nanti akan berubah menjadi hal yang tidak kau inginkan.


Apa yang kukira manis belum tentu semuanya manis. Itulah kata-kataku sejak dari dulu tidak beraturan, berantakan seperti biasa. Aku menulisnya untukku sendiri.


Tulisan yang awalnya berantakan bukan hanya dalam penyusunan kata, tetapi juga logika, tanda baca dan lain sebagainya, semua itu perlahan aku perbaiki dengan sikap totalitas sebagai seorang penulis.


Itulah yang membuatku tahu arti sesungguhnya rasa lelah, merindukanmu tiap waktu adalah caraku untuk terus menjalani kehidupan. Lelah sudah pasti, pikiran ini berpacu dengan materi-materi, juga dirimu yang amat berharga.


Aku pernah mendapatkan singgungan keras oleh salah seorang pujangga. Dia menganggapku telah mempermainkan cinta, padahal sejatinya tidak begitu.


Aku hanya tak mampu menuliskan surat untukmu, lantas tidak kuasa untuk mengirimnya. Kamu berhak bahagia, walaupun dengan orang lain.


Bukan denganku yang tidak pernah tahu arti dari kata cinta? Selama ini aku seakan-akan sibuk pada hari-hariku yang aku jalani, sibuk pada buku-buku tebal yang ingin aku kukuasai.


Sibuk dalam artian, aku tidak pernah menjalin cinta dengan siapa pun di sini. Aku hanya mencintaimu, seorang wanita yang kutatap selalu. Bagaimanapun kau pergi, aku tetap mencintaimu, entah sampai kapan ini akan hilang dari dalam sanubariku.


Aku sering menyibukkan diri dengan catatan, juga beberapa lembar kertas yang selalu kubaca berulang, buku tebal itu aku sangat menyukainya.


Inilah surat dari hatiku yang tak mampu kukirimkan kepadamu, surat yang begitu penuh pertimbangan.


Sekarang pun aku tidak berniat mengirim surat panjang lebar, nanti aku akan mengirim surat dalam bentuk permintaan maaf saja karena hari itu aku sudah membuatmu menunggu lama. Berjam-jam berada di toko. Kakek tidak pernah mengatakannya, katanya dia lupa.


Astaga? Saat ini aku merasa bersalah. Ingin meminta maaf kepadamu, semoga kau bisa memaafkan diri ini. Setelah membayangkan kesalahan itu pikiranku kembali berkelana.


Rasanya aku harus lebih bisa mengatasi perasaan dan pikiranku saat ini, kau telah menulis surat kepadaku dengan panjang lebar.


Tentu aku akan berusaha menimbang diri lagi untuk mengirimimu surat, bahkan rasanya suratku akan lebih panjang dari surat yang kau kirimkan kepadaku.

__ADS_1


__ADS_2