
Udara di pagi hari dinginnya terasa, walaupun tiada angin yang bertiup. Benda langit berukuran besar berhawa panas yang sering bersinar di permukaan langit belum bisa kutatap. Matahari seakan masih malu-malu sembunyi di balik bumi.
Sebentar lagi, kurasakan ia akan muncul bersinar terang menyinari sebagian planet ini, lebih tepatnya kota yang saat ini kupijak.
Rambut kehitaman di kepala ini telah basah, juga sama seluruh badan telah kuyup dibungkus busa sabun. Kebiasaanku di setiap hari mandi. Aku benar-benar hafal gerakan yang kulakukan. Guyuran air yang kujatuhkan dari setangkai gayung.
Mulai kepala mengalir keseluruhan. Itulah kegiatan harian yang semua pun orang tahu, hanya kadang caranya berbeda. Bagi sebagian lagi tidak penting dibahas. Saat ini aku membahasnya, jelas kutulis semuanya.
Kalau editor naskah membaca tulisan ini, bisa saja saat itu seketika dia mengernyit kesal dan bilang macam-macam, jangan pernah marah ini sesukaku menulis dengan banyak gaya dan lain sebagainya.
Saat ini aku tidak ingin terbebani ucapannya yang tepat pada malam hari itu. Biarkanlah semuanya. Menulis bagiku bebas dan bagi seorang editor naskah anggap saja ini catatan, bukan apa-apa sekadar tulisan.
Suatu saat nanti tulisan ini akan kupersembahkan langsung kepadanya. Editor naskah yang hari itu menghempas naskahku dan bilang bahwa editor dulu yang juga menghempas naskahku untuk pertama kalinya adalah temannya.
Bagiku inilah takdir yang telah digariskan oleh Sang Maha Kuasa. Aku harus terus berusaha bisa agar membuatnya kaget kala membaca tulisan ini, tulisan yang kutulis sengaja ingin membuatnya mengernyit.
Pagi hari. Ini masih pagi, pukul enam lebih sedikit. Ciri khas yang sering kurasakan kala pagi tiba adalah sehabis mandi, tubuhku mudah menggigil. Air dalam bak seakan terasa seperti balok es yang mencair.
Iya, secepatnya aku berusaha selesai saat tiba gerakan mengguyurkan air, sedikit sabun tidak mengapa. Sudah wangi.
Kulihat jam usai mandi, hanya berlalu enam menit. Tidak selama yang kupikirkan. Cepat bergerak atau lebih cepat yang mungkin saja saat ini kupikirkan rekor terlama mandi tiga jam atau tiga puluh menit.
Kakek saja yang bilang, justeru dia mandi lebih lama dariku. Satu jam kurang enam menit lamanya. Lumayan, rekor tercepat mungkin saat ini dipegang olehku. Lebih cepat dari kakek tentunya.
Aku jelas tidak ingin mengetahui rekor-rekor yang selama ini sering diucapkan kakek. Satu hal pasti adalah aku tahu kakek hanya sebatas mengarang, tidak serius.
Bagiku itu juga tidak penting. Aku tidak ingin memikirkannya lebih lama, lebih-lebih membuang waktu dan melelahkan.
“Man, man. Cepatlah kau kemari, sudah jam berapa ini?” Kakek berseru-seru lagi. Aku cepat bergegas datang menghampiri.
Tentunya sudah rapi berpakaian seperti biasa, sebelumnya kakek berseru setelah jarak waktu yang lumayan lama.
__ADS_1
Tiba di sana. Nenek sudah datang, duduk di meja makan, menatapku tersenyum. “ยายมาเมื่อไหร่?” Kapan nenek tiba? kutanya.
“ใช่ แค่ตอนนี้ มาเริ่มกินกันเถอะ.” Iya, Baru saja. Ayo kita mulai makannya.
“Okey.”
Aku duduk pelan. Tersenyum menatap mereka berdua. Makanan sudah siap di meja, beberapa lauk pauk sederhana dengan ciri khas kakek yang memulai bersyair terlebih dahulu.
Suara kakek itu biasanya parau kala berbicara, tetapi suatu keajaiban kala bersyair sejenak mendehem dehem. Suaranya menyesuaikan irama, alunan nada yang jelas pun didengar nyaman.
Habis bersyair. Selesai. Kakek menyuruhku memimpin—membaca doa makan.
Sebentar, sebentar. Kenapa aku? Baru kali ini dia menyuruhku, tetapi tak apa. Aku sejenak melapangkan pikiran, lanjut membaca dengan suara lantang di hadapan kakek dan nenek. Iya, begitu kebiasannya. Selesai berdoa. Doa yang kebanyakan orang pun tahu. Tidak perlu kusebutkan.
Kami memulai makan. Satu per satu lauk pauk dicicipi. Di pagi hari yang masih diam berbicara, juga anggota orang tampak beberapa masih tidur nyenyak, terdiam di kasur. Beberapa macam orang berlainan aktivitas. Kami salah satu penghuni rumah di kota ini yang sudah bersibuk diri, bergerak tangan membantu makanan sampai ke rongga mulut.
Kami bertiga sering berpagi-pagi sarapan. Menikmati kalimat syukur. Dari dulu kala sejak pertama kali aku tiba di Thailand.
Kakek dan nenek sering memberikan suatu kata yang mereka utamakan mengenai pola hidup harus terjaga. Lebih-lebih menjaga keseimbangan dalam hal kesehatan.
Jika ada orang bertanya siapa orang yang bagiku paling istimewa di dunia ini? Dalam hidupku hanya punya dua orang yang bagiku sangat istimewa hingga seakan kurasakan dalam jumlah banyak.
Iya, dua orang yang mampu mengalahkan beribu atau bahkan milyaran orang di dunia ini yang bagiku juga aku tidak mengenal mereka semuanya satu per satu.
Aku sekadar mengenal beberapa orang yang sering kutemui. Senyuman yang tampak dari dalam batin, memancar ke permukaan wajah. Mereka telah banyak memberikan suatu kata terbaik dalam satu pengertian hidup mengenai kebersamaan.
Mungkin itulah alasan mengapa selama ini aku kadang sering merasakan hal aneh.
Hal aneh yang tak bisa kutatap lebih lama bagai menatap sinar matahari, menyilaukan.
Aku pernah berlama-lama menatap senyap. Beku dalam diam hingga rasanya kedua mataku mengalir air mata perih atau apalah yang saat itu kurasakan jelas semuanya.
__ADS_1
Bentuk gambar muncul bagai hologram, layar tampil di film action sci-fi yang kupikir semua itu angan-angan palsu belaka.
Mencintai Wapta dan terus merindukannya bagiku hanyalah bentuk angan-angan palsu yang menjelma sesosok bidadari mimpi nan penuh kelembutan tutur kata, tatapan hangat dan senyuman yang merekah indah. Saat seseorang bertanya siapa yang salah? Jawabannya aku.
Aku yang salah atas semuanya. Itulah mungkin yang terbaik. Perlahan lupa atau tidak, kupikir sama. Mengingatnya atau tidak juga sama. Wapta tetaplah Wapta.
Dia akan terus ada di dalam sanubari. Sosok wanita tanpa bisa aku mengerti. Dialah sosok yang sering kutatap dalam ingatan, yang sering kurindukan dan segalanya. Kalau aku mengeruk tanah, membuat suatu parit yang memuat kertas cintaku padanya mungkin parit itu akan terpenuhi tinta-tinta.
Aku pernah sedikit belajar bersyair. Akhir dari semuanya berhenti di tengah-tengah jalan. Berat, kepalaku sampai sakit. Bibirku pernah kelu dan kosa kataku tidak sebagus buatan orang lain.
Aku sangat ingin bisa melantunkan syair-syair yang mampu mendamaikan sanubari dari badai. Bukan yang membuat diri sengsara atau terkubur mati karena mengingat kerinduan.
Temanku dulu bernama Sajak pernah bilang mengenai satu hal yang membuatku terngiang hingga saat ini, tetapi sekarang aku tak ingin jelas mengingatnya.
Dua orang di depanku. Kakek dan nenek telah mengobati rasa rindu yang bersemayam di dalam benak pikiranku. Dan apa alasannya? Aku tidak tahu sosok mereka berdua telah banyak mengisi hari-hariku, telah banyak memberikan warna keindahan yang jelas kutatap dan rasakan.
Warna yang mampu menghapus kerinduan ini terhadap seorang wanita yang begitu kucintai, amat teramat sangat kucintai.
“Ayo, tambah lagi, Man.” Kakek menatapku yang selesai makan lebih dulu.
Aku tersenyum. “Alhamdulillah, sudah kenyang ini, kek.”
“Kau itu pasti berbohong, kakek lihat baru sepiring kau bilang kenyang? Kau itu harus tahu, Man. Lelaki itu otot kuat tulang besi. Kalau kau makan begitu, bagaimana bisa kau kuat, tulangmu akan keropos.”
Aku tertawa mendengarnya. Mana ada, kakek sepertinya ingin mengarang sesuatu yang membuatku makan lebih banyak. Nenek di sampingnya tampak senyam senyum ikut membenarkan apa yang dilakukan kakek kepadaku.
Aku tahu nenek tidak bisa berbahasa indonesia. Kemungkinan dia melihat dan mengerti gerakan kakek yang menyuruhku tambah nasi dengan gaya yang seakan menunjukkan isyarat bahasa tubuh.
Kalau ingin tahu kakek ternyata punya cara lain yang membuatku mangut-mangut setuju menambahkan nasi ke piring. Nenek saat itu menatap tawa, walaupun aku tahu dia tidak bisa berbahasa indonesia. Kakek juga sama dalam hal tertawa.
Saat itu. Aku juga sama ikut tertawa bersama mereka. Baiklah, porsi piringku sekarang bertambah. Padahal, perutku sudah kenyang, benar-benar kenyang karena suatu ajakan dari kakek.
__ADS_1
Aku tersenyum, menerimanya dengan hati dan pikiran lapang, lanjut makan menikmati pemberian Sang Maha Kuasa di hadapanku bersama mereka. Mereka yang telah banyak memberikan warna.
Warna yang mampu menghapus kerinduanku selama ini, warna yang kurasakan menunjukkan keindahan super debur fantastis, warna yang lama kutatap berlama senyap dan sedikit pun tidak pernah merasa bosan.