
Aku ingat dulu. Masa-masa kami berduduk ria dengan sorak sorai, menonton tidak hanya kami dengan banyak orang yang juga sepakat. Satu kampung.
“Ooohoooi.”
“Haha, cetak gol terus, bung!”
Para orang tua berdrum dum irama tawa. Kompak girangnya satu sama lain. Kami selaku anak kecil dulu hanya ikut menyemarakkan suasana di antara mereka.
Berkumpul di sana. Menonton televisi jadul yang berukuran kurang lebih aku tidak tahu. Susah menjelaskannya, televisi yang lumayan mahal pada masanya.
Aku tidak ingin menyebutkan merek, nanti dikira iklan. Itu televisi legenda yang hingga tahun ke tahun masih ramai dan kukuh di atasnya tertancap di dinding.
Ditengok banyak orang. Menatap pertandingan sepak bola ramai-ramai, berasa seperti berada di stadion aslinya. Bahkan warung kopi itu ramai pembeli dan laris manis jualan makanannya.
“Itulah pemain sepak bola.” Sajak menunjuk antusias ke layar televisi dengan harapan yang kala itu mungkin dia langitkan.
Aku tidak peduli entah itu pemain sepak bola atau pemain bolap sekali pun. Fiksi yang tentu di dunia nyata, tidak ada pemain bolap dan bolap itu apa? Terserahlah, namanya fiksi. Sekadar mengarang cerita yang tidak punya dasar pengetahuan. Inilah awal mula dari semua ini bermula, kawan.
“Pertandingan itu sepertinya sudah jelas dimenangkan tim kita. Lihatlah, skor musuh tertinggal jauh, bahkan kupikir mereka tidak akan bisa mencetak gol.” Salah seorang berusia tua berambut uban di sana terdengar menjabarkan analisis tatapannya yang fokus memperhatikan.
Pandanganku menatap keseluruhan orang-orang yang berada di kerumunan. Banyak orang berdesakkan ingin menatap layar televisi di atas sana yang tertancap di langit-langit dinding. Itulah dia tepat arah jam dua belas wanita yang kala itu kutatap. Di sanalah Wapta berada. Ikut menonton di sela jejalnya penonton yang bersorak sorai.
Sajak menarik kerah leherku. “Lihat itu, Pesepak bola itu menyeringai.”
Layar televisi itu menampilkan gaya seringai terbaik pemain favorit Sajak. Pemain sepak bola yang menyeringai.
__ADS_1
Yeah—seringai yang bagus, kawan. Sajak berusaha mengikuti idolanya yang berhasil mencetak angka di sana, lantas mendadah, menyeringai di lapangan hijau tersebut.
Say hello. Iya, begitulah. Bahkan menjadikanku sebagai tameng yang sesuka dirinya mengguncang dengan tatapan hangat dan senyuman terbaik. Menyuarakan cita-cita dan ambisinya bertekad kuat menjadi pemain sepak bola.
Kupikir mengenai itu ada banyak hal yang merupakan wadah kemampuan seseorang meningkat dan mengenai inspirasi yang bisa datang dari mana saja.
Aku ingin berteriak dalam batin. Ini baru semangat yang hari itu dia menunjuk kipas angin. Imajinasi ambyar yang sangat jauh berbeda denganku.
Hanya dirinya yang bisa membayangkan apa dan bagaimana hubungannya antara kipas angin dan lapangan sepak bola. Lebih-lebih kantor duta besar di Amerika sana. Dua bayangan sekaligus muncul mengenai apa yang menjadi bagian hidup dan cita-citanya hanya sekilas menunjuk ke arah kipas angin.
Saat itu aku hanya tertawa. “Aku sebenarnya tidak peduli pesepak bola itu menyeringai atau tidak, tapi mendengarkan sorak penonton. Itu seru dan menyenangkan.”
Benar-benar menyenangkan. Sajak mengangguk-angguk bilang aku adalah haters bagi pemain idolanya. Sesegera mungkin kutepis, di antara kami sempat terjadi perbincangan hangat.
Kekalahan tim musuh tertinggal, masih lama dan analisis seorang sebelumnya mungkin saja benar. Skor nilai menunjukkan 0-2. Skor yang lumayan mencengangkan, sedangkan tim lawan belum mencetak satu pun angka. Pendukung kegirangan setengah sadar. Teriakan membahana dan tampak di sana sponsor menyuarakan semangat seraya menyanyikan lagu kebangsaan dengan bangga mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih di langit-langit.
Aku sedikit mencibirnya karena tidak suka, dia terus mengulangi seringai-seringai yang kutatap entah mengapa menyebalkan.
“Bisa tenang sedikit, tidak? Kau tahu sepertinya itu tidak akan membuatnya senang karena kau meniru gayanya. Nanti, kau akan dituduh plagiat, mau?”
Sajak tertawa. “Plagiat? Eh, itu beda kisahnya, kawan. Kau tahu suatu karya tulis atau musik dan sebagainya?”
“Kupikir itu sama saja, saat ini kau sedang ingin memplagiat gayanya.”
“Plagiat gaya seseorang seperti tersenyum dan sebagainya itu sepertinya boleh, tiada yang bisa membuatnya rugi juga, bukan?”
__ADS_1
Di tengah keramaian. Sajak kembali meniru gayanya. “Kalau boleh aku mengarang puisi sekarang, aku akan mengarangnya, kawan.”
“Pesebak bola itu menyeringai, kau lihat seringai wajahnya?” Sajak mengulangi ucapan sebelumnya. Melupakan soal plagiat yang jelas aku tidak menyukainya.
“Akan kuberi judul puisi Pesebak Bola itu Menyeringai. Dengan intonasi superfantastis yang menggetarkan.”
Menirukan gaya seringai wajah yang kutatap menyebalkan. Entah itu bisa digolongkan ke dalam kasus plagiat atau bukan? Jelas saat itu aku sembarang ucap. Hanya mengikuti perasaan isi hati yang kesal dibuat olehnya.
Pesepak bola itu menyeringai. Yeah—karanglah puisi yang bisa menggetarkan. Aku selalu menanti puisi itu. Seringai mantap dan sukses membuat musuh mengusap wajah yang bersimbah air peluh. Pertandingan itu masih kukuh berlanjut dengan huru-hara perasaanku yang muncul tak menentu. Sesegera mungkin rasanya aku ingin menjauh sejenak.
Kalau soal puisi bisa kubayangkan Sajak dari kelas 3 SD sudah pandai membuatnya. Itu bisa menjadi bukti di kelas 6 SD ini.
Seperti yang pernah kubaca di salah satu perpustakaan kemampuan seseorang itu berkembang dari waktu ke waktu. Dilatih dengan sebisa mungkin, kemampuan Sajak dalam hal menulis puisi bisa ditengok dari prestasinya selama ini ikut dalam ajang lomba puisi antar kelas maupun sekolah. Dia juaranya. Sang juara yang melebihi setiap murid kala itu, sang pembual dengan imajinasi absurd miliknya.
Sajak memperhatikan menit menit pertandingan di layar televisi. Berbisik kepadaku dengan gayanya.
“Eh, kau lihat menit pertandingan itu, bentar lagi pertandingannya selesai. Kita sudah tahu siapa yang akan menang, bukan? Lebih baik kita cabut dari sini, biar terlihat keren.” Sajak terkekeh dengan bisikannya.
Tanpa banyak ucap. Dia menarik lenganku dengan semringah, menuntun dan menyeruak di tengah kerumunan yang berdesakan. Di saat itulah aku menatap sekilas Wapta yang ada di depanku.
Berpapasan dengan sekilas tatap. Kisah hidup ini membingungkan, aku tidak pernah menyangka dialah satu-satu wanita yang hingga kini tak bisa kulupakan.
Dialah wanita yang benar-benar membuatku tersenyum setengah ingin terbang menembus awan. Deraian yang sama, tiupan yang tak bisa kugapai.
Di tengah lamunan yang sekarang aku berduduk di dalam mobil hitam yang sebelumnya menjemputku. Menatap ke arah luar jendala, ramai hilir mudik kendaraan, tatapanku dan ingatanku terus membayang ke alam masa lalu. Andai aku seperti Sajak yang bisa merangkai kalimat indah. Juara satu di perlombaan dulu, berandai-andai itu membuatku ingin tertawa dan sepertinya hal yang bisa kulakukan untuk saat ini hanyalah belajar agar bisa seperti dirinya.
__ADS_1
Belajar merangkai kata dan membuat susunannya seperti alunan nada di antara kepingan dan jernihnya air terjun hingga di bawahnya terbentuk kemilau tujuh warna yang ternampak menawan indah.
Semua itu bisa dilakukan, selama ada tekad dan kemauan diri ini melangkah hendak kemana? Bisa untukku terus maju atau mundur, tanpa penyesalan dan sebagainya. Impian hidupku, beginilah sudah.