Daur Ulang

Daur Ulang
Awal Pertemuanku Dengan Martin Sirikanjana


__ADS_3

Saat pertama kali mendengar nama Martin. Apa yang tebersit dalam benakku adalah sesosok lelaki yang kukira sama sepertiku. Di negeri Gajah Putih ini, aku menemukan satu fakta, sejak awal bertemu dengannya.


Martin Sirikanjana adalah namanya, wanita keturunan asli berdarah Gajah Putih yang hari itu menghampiriku dengan senyuman di salah satu taman kota, tempat yang sering kugunakan untuk menghabiskan waktu luang, sibuk menulis di sana.


Gaya bicaranya dan tatapan yang memang menyenangkan. Di dekatku kami bagai orang yang telah lama akrab. Padahal aku tidak pernah menganggapnya apa pun.


Itu bukan pertemuan yang pertama antara aku dengannya. Itu adalah pertemuan yang ke seratus kalinya atau bahkan sering tak terhitung berapa banyak pertemuan yang telah terjadi antara kami berdua, entah itu disengaja ataupun tidak. Secara kebetulan saat aku berjalan, sering ketemu.


Uppss.. sepertinya itu bukan hanya sebuah kebetulan yang kualami, melainkan itulah takdir. Mengenai itu aku tidak banyak bantahan dan jelas aku tidak tahu apakah memang takdir seseorang itu telah ditentukan semejak lahir, tetapi pernah satu kali rasanya aku mendengar ada seseorang yang berkata bahwa apa pun yang terjadi di dunia ini terjadi itu tidak hanya sebuah kebetulan, tetapi itulah katanya bentuk takdir seseorang.


Takdir yang sudah ditentukan semenjak diri berada di dalam kandungan perut ibu. Saat mendengar hal itu, aku tidak pernah memungkirinya dan memilih bersibuk diri dengan perkara pribadi milikku.


Mendaur ulang perasaan yang kala itu memberatkanku dalam setiap bidang yang tengah kupelajari. Hari demi hari yang berlalu memenuhi setiap lembaran kertas dengan kalimat kerinduan, semacam penyakit kronis yang kurasakan. Tidak ada hal perihal kemudahan dalam diri yang selama ini berdiam membanting perasaan. Berdiam diri merasakan bentuk kehampaan batin yang melanglang. Kurasakan lebih lama, hanyalah dalam bentuk rentetan yang berbentuk sederhana tentang perasaan resah dan tak tentu arah, tiada kosa kata yang melengkungkan ingatan ini menjadi pengkok. Eh? Bengkok maksudnya. Maaf, salah ucap.


Aku akan menceritakan awal mula pertemuanku dengan Martin Sirikanjana yang sesungguhnya itu terjadi di salah satu bandara. Kamu tahu bandara internasional Suvarnabhumi?


Bandara yang mungkin kubayangkan berada di tengah tengah kota. Sekitar 25 meter sebelah timur kota Bangkok.


Saat kepergian Wapta hari itu dan dia memberikanku hadiah perpisahan berupa buku diary yang hingga kini masih kusimpan dengan beberapa tulisan yang telah mengisinya. Itu karena kakek, andai kakek tidak mengetahui aku menyimpan buku diary itu, sampai sekarang buku diary itu akan tersimpan rapi dalam bungkusan.


Karena itu istimewa. Limited Edition. Pemberian seorang wanita yang kusukai sejak lama. Aku hanya tidak mampu untuk mengatakan perasaanku kepadanya, buku diary itu sekarang berisi tulisan punyaku.


Saat menulis di sana, tangan ini berusaha kugerakan dengan hati-hati menyimpan puisi yang kukarang teruntuk Wapta.


Mengenai itu sudah terlewat bab ke bab dari sebelumnya, jauh mungkin. Lelah juga tidak, aku menulis flashback cerita ini dengan cara terpisah antara degungan ambyar dan degungan samar yang sebenarnya satu kesatuan dari semua ini saling berhubungan antara satu dan yang lainnya. Seperti sebuah puzzle yang semula acak dan memang tampak berantakkan, perlahan tapi pasti akan terbentuk susunan yang menawan.

__ADS_1


Aku memang tidak pandai dalam menulis sesuatu. Saat ini berada di ruangan, terdiam menatap ke arah jendela yang di sana terpampang langit biru dengan awan yang berarak putih bersih.


Bandara internasional Suvarnabhumi berjarak sekitar 25 meter di sebelah timur kota Bangkok. Aku berada di sana, duduk di salah satu kursi sambil menggenggam erat tangan dengan perasaan yang kala itu bisa kujelaskan seperti membuatku merasa kehilangan, merasa aku tidak akan bisa hidup dan sepertinya kepergian Wapta membawa sepotong sanubari di dalam diri ini yang sekarang mengembuskan napas dengan pikiran membuncah.


Membayang seandainya diri ini berada di tengah gunung, lorong-lorong dan jurang yang mengangga lebar. Pun, hanya aku sendirian yang berada di sana. Maka, saat itu aku ingin berteriak sepuas yang kumau.


Sepuas rasa yang ada di dalam benak pikiranku dan mengenai Wapta, aku seakan orang gila yang bertanya lirih pada sanubari yang terdiam lesu. Yeah, aku mengembuskan napas sesak. Bergumam menatap ke arah depan sana mengenai seperih ini yang namanya perpisahan di antara aku dengannya? Terlebih saat itu apa yang ada di dalam perasaanku yang selama ini kukuh kusimpan, semua itu tidak bisa membuatku tenang.


Duduk melamun. Kedua tanganku masih memegang buku diary pemberian Wapta. Sopir yang membawaku sebelumnya ke bandara sudah pulang. Aku beralasan ada sesuatu yang ingin lakukan. Dalam ini kalau aku berterus terang menuturkan jawabanku adalah ingin melamun. Itulah yang saat ini ingin kulakukan atau mungkin mendamaikan perasaanku yang bagai kehilangan benda mutiara yang sangat berharga dalam kehidupanku, bahkan hampir tidak ternilai harganya.


Duduk melamun. Kedua tanganku masih erat memegang buku diary pemberian Wapta. Saat itulah aku menatap salah seorang wanita duduk di sebelahku dengan tanpa sedikit pun sebelumnya kusangka dia memperkenalkan namanya.


Apa kamu tahu apa yang kudengar kala itu? Martin? Namanya Martin. Itulah kesan pengalaman pertama dalam hidup yang tak tentu arah ini, suatu keberuntungan aku mengetahui hal demikian.


Martin Sirikanjana. Nama lengkap yang saat itu disebutkannya. Di akhir nama itu aku tidak terkejut, hanya di awal namanya yang membuatku seperti orang baru. Memang, baru beberapa waktu lalu aku tiba di negeri Gajah Putih ini. Secara dalam otakku belum ada informasi, lebih tepatnya ada banyak hal yang tidak kuketahui dari hanya sekadar nama yang kini membuatku merasa pangling terhadap diri sendiri.


Aku berbicara menggunakan terjemah di aplikasi. Karena aku menulis di sana, bahwa aku baru tiba di sini dan tidak mengenal benar bahasa thai. Dia menawarkan bahasa inggris, lebih-lebih kataku aku cuma lulusan SMA yang sering bolos saat SMP dulu ada pelajaran bahasa inggris. Lebih-lebih aku berbohong, padahal mengenai bahasa inggris jangan tanya. Itu keahlianku sejak dulu.


Hanya malas. Dan rasanya aku lebih suka mendengarkan rekaman suaranya dan diterjamahkan ulang. Didengarkan berkali-kali sambil ingin belajar tutur katanya hingga indera pekaku menangkap respons yang terasa bahasa thai itu mudah untuk kuucapkan. Kami terus berbicara.


Satu jam lagi menunggu. Dia datang terlalu awal menuju jam keberangkatannya hendak terbang ke Australia, ingin berlibur menghabiskan waktu katanya.


Yeah—saat itu ada banyak percakapan. Sedikit terlupa soal kepergian Wapta. Martin Sirikanjana datang bagai malaikat yang menyembuhkan keruhnya pikiranku.


Aku menyangka dia adalah utusan yang sengaja diutus memang untuk meredakan perasaan yang tengah kurasakan saat ini. Tapi, itu mustahil karena aku bukanlah termasuk orang yang taat agama.

__ADS_1


Hal yang mengherankan. Mengenai ucapannya itu yang membuatku hampir seperti orang yang telah lama kenal, tidak ada muatan beban yang kuucap seakan bicara seperti kala berbicara dengan salah seorang sahabat. Sebutan kebanyakan orang menyebut wanita itu adalah sosok yang ramah. Di bandara internasional Suvarnabhumi itu dia bahkan ringan tangan, tanpa banyak pikir membantu sepasang kekasih kakek dan nenek untuk membantu mereka berduduk dengan hati-hati sambil menampakkan senyuman tulusnya, lalu memulai percakapan hangat dengan mereka. Mengucapkan berbagai kata sapaan yang ramah dan perkenalan yang entahlah saat itu aku tidak banyak peduli menatap semua itu.


Aku menatapnya dengan menebak isyarat tangan dan sekilas senyumannya. Dan sedikit kurekam dan terjemahkan kembali.


Di tengah perbincangan mereka. Aku memutuskan pergi dari sana. Dia kembali menghentikanku dan memberikan kartu alamat yang katanya usai dia datang dari berlibur ke Australia. Saat tiba kembali ke negeri Gajah Putih ini, dia menyuruh untuk mampir ke rumahnya. Satu hal lagi yang kala itu kurasakan keanehannya.


Lagi-lagi itu menggunakan terjemah melalui aplikasi. Aku hampir setengah malu berbicara dengan bantuan sebuah aplikasi penerjemah dan wanita itu bilang banyak kekeliruan yang terjadi di aplikasi.


Karena dia orang asli sana, bisa berbahasa thai dengan lebih fasih dan lebih leluasa yang katanya terjemah di aplikasi bisa saja keliru dan sangat jauh berbeda kala aku mencoba dan menulisnya, lalu memberikan teks tulisan itu padanya.


Beberapa saat itu aku terjebak dalam perbincangan lagi. Aku mencari alasan, kakek menungguku di rumah. Wanita itu memaklumi dan katanya hati-hati dijalan, jangan sampai melamun.


Aku pamit pergi. Langkah kaki sudah berjalan meninggalkan wanita yang tadi memberikan kartu alamat sambil mengira dalam benakku itu adalah akhir pertemuan antara aku dan dengannya. Karena walaupun dia memberikan alamat, buat apa aku datang ke rumah orang yang bahkan baru aku kenal. Apa kata orang tuanya nanti, terlebih tidak kenal sebatas perkenalan sepintas yang tak mungkin bisa untuk kuteruskan dan nekat bertamu ke rumahnya. Aku membayangkan keanehan dan memilih tanpa banyak peduli.


Lebih-lebih lagi aku belum sepenuhnya bisa berbahasa thai. Saat aku bertamu ke rumahnya apa yang akan nanti kubicarakan sama mereka? Astaga, membayangkan saja membuat bulu kudukku merinding dan saat itu ku mengira bahwa itu adalah akhir pertemuanku dengannya. Selamat tinggal.


Aku berpaling arah dan mendadah, tanpa sengaja melakukannya. Dan astaga? aku termangu, menatap wanita itu yang malah balas mendadah dengan sikap ramahnya.


***


Aku tidak pernah menyangka. Perkiraanku ternyata salah besar. Pada hari itu, hari pertama saat memasuki kuliah di salah satu universitas di kota Bangkok ini. Kami berdua tak sengaja saling berpapasan.


Mataku terbelalak lebar, tidak percaya. Dia adalah wanita yang hari itu kami bertemu dan saling mengobrol sebentar di bandara internasional Suvarnabhumi. Ternyata ini adalah tahun pertama baginya memasuki dunia perkuliahan dan itu sama sepertiku yang juga sama seperti dirinya.


Seperti mimpi kemarin sore, seperti semburat cahaya yang menyelimuti pemandangan di kutub utara. Aku masih tidak percaya dan bergumam dengan apa yang kulihat. Pun, dia juga sama. Memukul lenganku dan ucapannya melontarkan seperti sebuah kejutan yang memang tidak pernah kami sangka sebelumnya.

__ADS_1


Percaya atau tidak? Itulah awal pertemuanku dulu dengan Martin Sirikanjana yang terus menerus terjadi di tempat yang berbeda, tanpa disengaja dan entah mengapa sejak hari itu, pertemuan tanpa disengaja itu sering terjadi dan kutahu hubungan ini seperti tali yang terikat dan susah untukku melepaskannya.


__ADS_2