Daur Ulang

Daur Ulang
Banyak Hal Yang Berubah


__ADS_3

Banyak hal yang kini berubah. Dari apa yang dulu aku tahu tentang perkara tempo lalu sampai apa yang aku tahu sekarang tentang sebuah benda runcing nan tajam, berbentuk lurus—benda itu berada tepat di pengujung leraian derita dan harapan lama.


Ialah benda di depan mataku yang ternampak jelas dari hanya menatapnya. Semacam anak panah yang hendak menusuk ke mata. Apa yang saat itu bisa kulakukan hanyalah berlari sambil berkuat diri, bergumam terus menerus menempuh tiupan angin itu yang berada di pengujung leraian derita dan harapan lama yang telah usai semuanya menjadi sederetan angka dalam bait syair kenangan. Ini tulisan atau keluhan? Tidak ada apa pun. Kuingin menggapai sesuatu sudah terasa hilang, disentuh apalagi tak ada wujudnya.


Aku selalu memikirkan apa yang dipandang oleh orang lain berupa warna hijau, kuning dan merah. Ketiga warna itu ada pada lampu jalanan yang seakan akan menggambarkan filosofi kehidupan. Apa yang kutahu tentang kehidupan ini, bagiku sekarang kehidupan adalah jalanan yang panjang menyusuri tempat ke tempat.


Kapan aku akan berhenti dari perjalanan hidup ini? Itulah pertanyaan yang sempat kutulis usai tahu mengenai sudut pandang tersebut, merasakan sendiri bagaimana atmosfer debaran rasa menghantamku dan membuatku merasa tidak berhak berbangga diri maupun merasa paling berkuasa atas sesuatu yang kupunya.


Beberapa tempo lalu sebelumnya saat aku pergi berlayar ke salah satu daerah dan berkunjung ke salah satu perpustakaan. Di sanalah aku menemukan sudut pandang baru tentang semua ini yang kutahu semua itu lebih baik kubenam dalam diriku sendiri, dan akan menjadi sebuah pengingat untuk diriku di masa yang akan datang.


Aku menulis cerita ini dengan rangkaian peristiwa flashback yang sengaja kuacak dari bab ke babnya, itu karena aku tidak ingin menjadikan perkara ini jelas bagi orang lain, itu menyakitkan. Terlebih aku menulisnya tidak serius, sekadar untuk mengingat kembali tentang semua kejadian yang ada dalam lamunan, tentang biografi hidup seorang amatir yang menjalani hidupnya. Melalui teracaknya moment ini, aku meminta maaf atas diriku dengan ingatan yang kutulis berdasarkan susunan kacau dalam pikiranku. Dengan begitu kiranya aku bisa sedikit menarik napas lega sambil mengingat-ngingat kembali tentang kejadian lama yang telah hilang dari hidupku dan telah tertinggal di belakang sana sebagai kenangan, inilah catatan panjang lebar itu yang kumaksud.


Panjang lebar, kawan. Catatan ini kutulis sambil duduk menghadap jendela, menatap lalu lalang kendaraan karena rumahku sekarang berada tepat di dekat jalan raya. Di negeri Gajah Putih ini perlu kau tahu aku hanya bisa berteman dengan segenggam pena dan sering berkutat menghabiskan waktu luangku dengan beberapa perkara dan di atas beberapa lembar kertas aku menulis semuanya, tanpa ada hal lain yang dapat kulakukan sambil mencoba meringankan sejenak kepala dan tangan ini terus bergerak mengukir tulisan. Itulah ringkasnya hari ini tentang kisah yang ingin kusampaikan pada angin dan hujan.


Atau lebih tepatnya aku sedang menulis koran pagi. Sepanjang ini dan sebanyak ini kata yang telah kulewati dalam kesunyian alam diikuti alunan musik yang selalu menemaniku, ciri khas yang selalu kuselipkan pada lembaran kertas mengenai sebuah alunan lagu lagu kenangan dan harapan yang telah menghilang, tertulis di dalamnya dari A sampai Z. Membentuk kalimat dan paragraf. Entahlah, aku tidak ingin banyak menginginkan semua ini menjadi sebuah cerita yang utuh dan saling berhubungan, lebih tepatnya aku hanya sekadar menulis. Drama ini mungkin akan terus berlanjut dari bab ke bab seterusnya ataupun kuakhiri dengan mudah tanpa berbelit belit dan ribet, yaitu dengan berat hati kuberi titik di akhir kalimat dan paragrafnya dengan bertuliskan tamat. Selesai dan berakhirlah ini cerita.


Penulis punya gaya yang kau tahu, kawan. Inilah yang kurasakan sekarang, ingin menulis apa yang hendak kutulis. Perangai senyum senyum dan tawa itu kalau diingat dan diterka seakan macan dalam kurungan yang terjebak dan tidak bisa keluar.


Tapi, semua ini hanya sebuah catatan yang ditulis oleh seorang amatir. Bukan sebuah karangan novel yang selama ini sering kau bicarakan padaku. Dalam menulis catatan ini, aku tidak perlu berletih, cukup merasa bebas dengan gaya penulisanku yang beragam dan bebas untuk memilih di antara mengakhirinya dan melanjutkannya. Semua ini hanyalah sebuah catatan tentang hidupku yang dipenuhi lamunan.


“Kau terlalu lebay. Hanya tulisan seperti ini, kau sering menggerutu dalam diam.”


“Kata siapa aku sering menggerutu?” tanyaku tidak terima dengan penuturannya.


“Itu buktinya.”


Dia bagai petinju kata internasional yang kala itu membuatku terdiam hingga tak bisa menjawabnya, aku kalah berdebat dengannya yang punya banyak bukti.


Satu per satu bukti ditunjukkan olehnya bahwa aku sering menggerutu saat menulis semua ini dan aku pun mengakuinya memang itu sering terjadi.


Tulisan ini seakan telah menjadi jiwaku dengan sifat pemarah. Lihatlah tulisan ini yang sejatinya memang terbaca seperti intonasi orang yang tengah marah seakan bara api yang panasnya membuat tangan melepuh dan menjerit perih.


Sesekali aku mengubah gaya penulisannya dan memberi suatu kelonggaran dalam isi ceritanya. Ini membuatku seperti berubah kepribadian dalam waktu singkat.


Dari semua ini hanya aku yang tahu mengenai susunan peristiwa cerita yang tengah kutulis ini karena keseluruhannya pernah kualami dalam hidupku yang tidak seharusnya kubicarakan. Mengapa juga aku membicarakannya? Buruk sangka kini menjadi tameng yang lumrah saat menatap tulisan seperti ini, itu tidak dusta dan tidak jarang pula aku bertemu satu dua orang yang menyebalkan, berlagak sok tahu. Terseok seok dalam memutar balikkan fakta yang ada. Itu tidak banyak berubah.


Apa yang berubah sekarang adalah tentang dirinya yang usai menjadi kenangan. Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kuartikan dalam menatap tatapannya? Lita Aksima yang berada di dekatku cukup memberi kesan dalam hidup yang telah berlalu kesekian hari yang terlewati.


Pertemuaan yang tidak pernah kusangka dan ini membuatku seperti orang yang tidak pantas buatnya. Dia hanyalah karakter fiksi dalam cerita yang kutulis.


Beberapa dari cerita fiksi punyaku memang berbentuk fantasi yang kesemuaannya itu ada dalam benak pikiranku seperti sekumpulan embun yang diterbangkan oleh angin dan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, juga seperti sekumpulan buih di lautan yang ombaknya memecah di sela karang. Bagai orang yang berdebat dengan suara tiupan angin di jendela, berkencang urat leher saling membalas argumen. Menumpukan kekuatan pada pena, menggenggam, menghentaknya ke meja.


Aku pernah mengalami Deja Vu terberat semasa hidup berupa layar yang kutatap bagai jelas terasa nyata. Itu ternyata tidak seseram yang kukira dan terjadi hanya di alam mimpi nan singkat, semacam alam kehidupan baru yang kala itu kutemui dalam alam dunia yang tidak pernah bisa kutemui secara nyata. Itu fantastis dengan sekumpulan bebek bisa berbicara.


Sekumpulan merpati mengepakkan sayapnya, bersenandung dengan irama yang membuatku hanyut, terdiam dalam lamunan dengan pikiran sederhana sambil merenungkan apa yang sudah terlewati mengenai kenangan dan sederetan angka.


Sekumpulan mereka juga pernah banyak mengobrol denganku dan aku memang sosok lelaki yang aneh. Bicara dengan alam fantasiku sendiri, berkhayal dengan makhluk berukuran raksasa bernama yeti.


Mataku pernah perih, hati ini kian meronta sakit. Menyeka mata bekas menangis. Menyesali akan satu dua kalimat berupa kepahitan dalam hidup yang sarat akan lerai dan lunglai, tentang cintaku dan rindu yang bagiku adalah hal terberat. Apa yang membuatku menangis adalah hal sepele bagi orang lain, sebenarnya ada banyak. Lelaki itu seperti yang dikatakan kakek seharusnya berjiwa kuat, tangguh dan perkasa dalam menempuh dan menjalani hari-harinya, tanpa kenal mengeluh, tanpa kenal tangisan ataupun keputusasaan yang sejatinya tiada berguna untuk ke depannya. Aku pernah mengatakan langsung kepada kakek bahwa aku berbeda dengan kebanyakan lelaki di luaran sana. Sering berulang kali pun masalah ini kujelaskan, hasilnya tetap sama.


Sama, sama, sama. Yeah, itu sedikit mubazir kata. Baiklah itu keterlaluan, aku akan berubah untuk bisa mengontrol diri dalam menulis semua ini. Menjunjung tinggi kaidah penulisan dan bermandi KBBI.


Mungkin orang lain berbeda, bagiku mereka jelas berbeda denganku, bukan hanya mungkin tapi pasti berbeda. Orang yang dulu kukenal baik bersahabat di depan mata tersenyum ramah, ternyata tidak selalu baik. Dia malah menyimpan dendam. Mereka sekelompok orang jahat yang bisa menyamarkan diri. Dengan menggunakan topeng mereka menyamar dan menjadikan diri mereka sebagai acuan untuk bisa terus mencari pembenaran.


Itulah mereka, jati diri mereka satu per satu yang menghantamku dengan kalimat sama. Kalimat yang seakan adalah mutiara, tetapi beracun saat kupegang aku hampir mati terjengkang di pasir yang penuh duri.


Aku pernah mempunyai firasat buruk tentang semua itu dan langsung membuangnya jauh jauh dari isi kepala. Itu terlebih menyebalkan dan tidak seharusnya karena itu adalah suatu keburukan.


Itu sangat menyebalkan, kawan. Seperti ombak besar tanpa bisa kubelah.


Seperti kata kakek, aku harus bisa menata hati ini agar tidak membenci. Sebetulnya berbalas argumen seperti ini melelahkan, cukup melelahkan karena aku harus membanting semua argumen, tetapi dari dulu sampai sekarang aku menyukai balas membalas argumen mereka dengan tawa sedikit tidak puas. Tawa mereka mengejek dan tawaku mengejek diri sendiri.


Tidak salah, bagiku mengejek diri sendiri itu kujadikan sebagai tempat cerminan agar tidak memandang rendah terhadap orang lain. Untuk tidak berdebu hati dengan merasa bangga.


Bangga dengan kemampuan diri sendiri yang sejatinya tidak punya apa apa karena kata salah seorang di antara ratusan juta dan milyaran jumlah orang di dunia ini.


Aku baru mengingatnya, soal itu sebaiknya tidak usah dibahas dan tidak usah disebut, nanti susah pula memahaminya dan itu membutuhkan bahan rujukan yang terpercaya dan aku tidak mempunyai.


Maka argumenku akan ditolak. Debat ini hadir dalam bentuk tulisan, tempo lalu aku merasa dibanting oleh satu kata.


“Dangkal! Kau punya otak dangkal!”


Kata dangkal itu sukses membuatku gemetar seakan ingin pingsan. Hampir merasa seperti dibunuh oleh racun udara yang membuatku sesak dalam bernapas, susah menghirup karbondioksida.


Temanku itu menatapku dengan tatapan aneh. “Jangan kau pikirkan, aku tadi hanya bercanda. Kau sudah makan? Jangan sampai lupa, nanti kau akan kelaparan dan lapar itu bisa jadi akan membuatmu mati.”


Kepalaku mulai terasa mendingin. Dia pandai dalam mencairkan suasana dengan suara tawa, andai lebih ngeri dari itu bisa jadi dulu kami saling tampar.


“Belum, kau mau traktir? Berani kau bertanya, berani juga kau mengabulkan permintaanku,” kataku balas tertawa.


Ingatanku sekarang bercampur aduk, apa yang kuingat adalah ingin mendaur ulang cerita ini dari awal pertama aku hidup.


Mungkin juga itu terlalu jauh, dalam masa remaja berdebat adalah hal yang kusukai, mencari cari kesalahan orang lain dan memutar balikkan fakta, sekarang aku tahu itu tabiat buruk yang harus kulupakan.


“Kau anak kecil yang sekarang telah menjadi besar dalam tampilan seluruh badanmu, tetapi kepala dalam otakmu itu masih sama seperti anak kecil,” kata salah seorang perawan tua, memperhatikanku.


Rumah itu kutinggali sendirian. Berkutat lebih banyak dengan perihal dan perkara yang mudah bagi orang lain dan rumit bagiku. Perawan tua itu benar, aku bahkan sering kesulitan dalam mengeja huruf arab sampai kelas dua SMP. Bagaimana mungkin seorang anak kelas dua SMP tidak bisa mengaji? Astaga, itu memalukan hampir seluruh urat sarafku.


“Kau yang tidak tahu tentangku mungkin akan mudah bicara, mau apa pun dan bagaimanapun itu memang benar adanya.”


Aku hanya bisa menjawabnya dalam lontaran ucapan batin dan memilih cepat meninggalkan perawan tua itu yang terus mengoceh tentang kejelekkan yang ada padaku. Aku tidak membantahnya karena itu benar sambil berjalan mengembuskan napas pelan, memilih cepat masuk ke rumah dengan wajah tersenyum santai.


Dalam artian ingin menutup telinga agar suara perawan tua itu lenyap dari sisi hadapan dan bayangan pikiranku. Perawan tua itu sepertinya menyukaiku, bahkan seringkali dia membawakan makanan.


Dibalik sikapnya yang sering mengoceh, aku menyukai sisi kebaikannya. Makanan itu selalu membuatku bersendawa kenyang dan semangat beraktivitas, setelahnya aku sering mendapatkan ceramah panjang lebar dengan wajahnya yang kutatap ketus.


Dia tertawa. “Wajahmu itu menyebalkan!”


Aku berlari menghindari sapu yang ada di tangannya, tetangga di sebelah rumah datang meleraikan dengan tawa yang semerbak di antara semuanya. Kami itu tidak lebih hanya bermain kucing kucingan.


“Aku tidak bisa berpikir jernih pada masalah ini. Kalian ini bukan muhrim dilarang berduaan di dalam rumah, apalagi tidak ada orang selain kalian berdua!” Itu kata tetangga yang menghampiri.


Besok seterusnya aku selalu diundang makan malam di rumahnya, tidak lagi dia yang mengantarkan makanan. Diundang seperti pejabat di negeri itu. Dramatis.


Aku menepuk jidat kaget, kompor di rumahku belum mati, niatku sebelumnya ingin merebus mie instan, bergegas usai itu aku pamit dan syukurlah sampai rumah aku masih sempat mematikannya hingga tidak terjadi apa pun. Aku tersandar di dinding dapur sambil mengacak rambut untuk menghilangkan rasa cemas sambil mengembuskan napas syukur.


Aku juga pernah mendengar berbagai ceramah rohani agar hati ini tenang. Ini sederhana, akulah yang membuatnya rumit, tetapi masa itu cukup aku berdiam tanpa memberi tanggapan sambil bermain kasti sendirian. Itulah juga permainan yang selalu mengisi masa dulu saat sendirian.


Bermain dengan sebuah bayangan. Kalau kau bertanya siapa yang ingin berteman dengan orang sepertiku? Hanya Jazu dan beberapa lainnya. Itu pun bertemu di luar rumah, lebih tepatnya akulah yang suka menyendiri, walaupun mencari teman itu bagiku adalah perkara mudah. Hanya dibutuhkan banyak omong, banyak omong yang menyenangkan tentunya dan cepat mencari topik agar tidak hambar, itulah kunci utama yang pernah kugunakan.


Kata orang banyak teman, banyak rezeki. Banyak musuh, banyak pula pikiran buat membalas argumen mereka.


“Haha.. kau menggerutu terus dari tadi.”


“Apa? Masalah?” kataku tajam.


“Wajahmu itu masalahnya.” Dia tertawa.


“Absurd, lawakanmu itu absurd.”


“Ya, ya. Sudahlah, kau sudah bisa mengarang lagu buat nanti pas acara kelulusan, teman?” tanyanya.


“Mengarang lagu? Aku tidak bisa, suaraku juga tidak bagus bagus amat!”


“Iya, makanya dilatih.” Imbuhnya.


“Mau dilatih berapa kali? Kalau memang suaraku begini, ya begitulah akan susah diubahnya. Kalau kau mau beri aku uang 7Milliar baru aku mau melatih suara.” Aku melontarkan nada serius buat bercanda.


“7Milliar itu gampang, asal kau mau melatihnya dalam mimpi.” Dia tertawa.


Aku kesal. “Kau bergurau tidak lucu.”


“Haha.. lupakan saja, maafkan aku, kau sepertinya tengah kesal saat mendengar ucapanku, suaramu itu menjadi aneh.”

__ADS_1


“Ya, sudah puas tertawanya?” kataku ingin menyudahi. Temanku itu terbatuk.


“Soal itu, ya bisa dibilang puas, aku baru ingat bukankah kau menyukai perdebatan, aku tahu selama ini kau suka berdebat. Ayo, sekarang, teman—ayo, kita berdebat.” Dia menantang dengan suaranya yang lumayan membuat nyaliku tertantang.


Namun, aku telah lelah dengan dunia ini, berdebat tidak lagi kusukai. Ayolah, aku sudah menderita batin sekarang, bahkan untuk bicara saja kupaksakan agar dia puas mendengar suaraku yang serak ini.


Suaraku yang kuubah seceria mungkin, agar tetap tegar saat berhadapan dengan suara, masih tegar sampai sekarang hanya kadang saat sendirian aku sering mengeluh atas hidup ini, sering bertanya. Mengapa dan kenapa, juga berbagai hal lainnya yang seringkali kupertanyakan saat senyap dalam lantunan bait keluhan. Satu ke satu tempat yang hampir membuatku tenggelam dan hancur dalam kehidupan.


“Aku menyukai perdebatan? Hmm.. baiklah, hari ini aku akan menjelaskannya bahwa itu hanyalah kebohongan, aku berbohong.” Aku menerangkan padanya dengan santai.


“Aku tidak percaya, kau berbohong dengan bangga. Perlu kau tahu kebohongan itu adalah racun dari apa yang kau katakan, jauh berbeda dari kulihat selama ini. Kau itu ketahuan mengatakan dua kebohongan. Pertama, kau berkata apa yang kukatakan itu bohong, padahal kau dulu yang mengatakannya sendiri bahwa kau suka berdebat. Kedua, kau sedang berbohong mengatakan bahwa itu adalah kebohongan. Kau tidak bisa main main mengenai ini.”


“Kebohongan adalah racun yang mematikan!!” lanjutnya mendramatisir.


Aku mengusap air mata yang mengalir karena bekas menguap. “Iya, kebohongan itu memang mematikan bagimu dan bagiku itu tidak penting. Maksudku apa yang kau katakan itu tidak penting, mengenai sesuatu yang disukai di hari itu lambat laun bisa berubah seiring berjalannya waktu.”


“Banyak hal yang berubah dari hanya sekadar tawa dan senyuman yang kau lihat. Begitupun kesukaanku dalam hari hari yang kujalani, kau tidak tahu mengenai itu. Bagiku menjelaskannya itu tidak penting dan mengenai dulu aku meminta maaf karena tidak konsisten dalam berbicara dan itulah alasanku mengatakan bahwa aku berbohong tentang itu. Orang yang mengenalku tidak akan sepertimu. Bertanya hal itu lagi yang membuatku muak, betapa pun kau ingin mengungkit masa dulu. Itu sudah berlalu yang bisa jadi itu menjadi hal yang amat kubenci. Seharusnya kau sudah tahu tentang itu tanpa harus kujelaskan. Bagaimana sikapku sekarang, apa pernah kau lihat aku berdebat lagi usai semuanya berlalu. Kupikir kau sudah tahu tanpa harus kujelaskan lebih banyak. Aku lelah.”


Aku menjelaskan panjang lebar kepadanya agar diri itu berpuas usai mendengarnya, tetapi apa kenyataan yang kulihat.


“Poin pentingnya, kau berbohong dengan bangga.” Dia menanggapi, tertawa sinis.


“Kau berbohong dengan semuanya dan aku tahu kau mengatakan kebohongan lagi. Kau pernah dulu mengajakku berdebat, tetapi aku menolaknya karena aku tidak pandai dalam bersilat lidah, kau tahu orang yang berteriak pamer pun ternyata tukang pamer. Itu tidak bisa dimungkiri, dia berteriak jangan mengurusi orang lain, tetapi dia sendiri melakukan hal yang nyata mengurusi orang lain. Dalam artian menghina dengan bertopeng nasihat. Kau tahu bedanya nasihat dengan hinaan?”


Saat mendengar kalimat dulu, aku cukup tersenyum dia adalah orang yang bisa menghargai kenangan masa lalu. Mengingatku sebagai orang yang suka berdebat di masa itu, apalagi masalah pamer. Sebetulnya aku hanya bicara untuk melanjutkan pembicaraan yang tidak penting ini agar bisa terus berlanjut.


Aku menarik napas. “Sudahlah, kau jangan membahas itu di depanku, aku memang pembohong. Ini hanya masalah yang bukan rumit. Dangkal, tidak sedalam lautan.”


“Kau tidak asyik, teman. Bagaimana cerita tentang koboimu itu?” tanyanya, seperti mengalihkan topik pembicaraan.


Koboi lagi, hendak sampai kapan dia akan membahasnya? Yeah, aku sedang tidak berminat membahasnya lagi, bahkan itu malah membangkitkan rasa trauma yang masih terasa saat pertama kali berjumpa dengan editor naskah dulu yang tidak seharusnya kubenci, tetapi sudah telanjur membencinya. Dalam hal ini aku menoleh sejenak diam ke arah lampu jalanan.


Memejamkan mata, merasakan tiupan angin itu yang berdesir rapuh di telingaku. Aku terpejam sejenak berada di alam lamunan dalam perkiraan waktu tidak lama, hanya sebentar. Itu karena temanku itu yang terus berkata dan membuatku resah dalam menuntut rasa yang ada.


Dia terus bersikukuh dengan pertanyaan sebelumnya. Membuatku menyeringai tak bisa menjawab untuk beberapa saat.


Lalu aku berlagak dengan suara diikuti tepisan tangan, meminta agar masalah ini bisa dipahami olehnya untuk kali ini saja. Please.. jangan bahas. “Kumohon kau jangan pernah membahasnya lagi di depanku, tentang itu aku tidak ingin membahasnya. Tempo lalu, aku dihajar langsung dengan kalimat mentok seakan aku terkena tamparan oleh orang bijak yang mengatakan berbagai kata menurut dia. Padahal, itu hanya cerita fiksi dan aku heran mengapa dia begitu mengurusinya.”


“Haha.. kau keseringan menggerutu, teman. Memang apa katanya?”


“Katanya karakter fiksi punyaku adalah tukang pamer dan dangkal otaknya, ya ampun aku tertawa saat membaca kritiknya di salah satu forum kepenulisan.”


“Forum kepenulisan?” Dia seperti orang yang baru mendengar kata tersebut.


“Ya, tempat para penulis berkumpul dan di sana aku membagikan tulisanku dan ternyata editor itu juga ada di sana.” Kupun menjelaskan padanya dengan ringkas.


“Haha.. apa kau marah dengan itu?”


“Tidak, aku hanya kesal dan kau tahu editor itu membawa pasukannya hingga akhirnya aku memutuskan keluar dari forum tersebut. Aku merasa seperti tidak dihargai oleh mereka yang sudah menjadi seorang senior dalam dunia kepenulisan.”


Aku menjelaskan kepadanya lebih dari itu, lebih panjang tentang kritik mereka dan aku tidak menyukainya, aku tidak suka cara mereka dalam memberikan kritik dan itu jujur saja hampir membuat rasa kesalku memuncak ke batas ketinggian awan.


Temanku itu menangkap tidak setuju dengan pemikiran yang baru saja kusebutkan. “Kritik itu bagus, teman. Asal kau bisa menerimanya dan menjadikannya sebagai pendorong semangatmu dan ibarat masakan. Jadikanlah itu sebagai garam yang asin, tetapi banyak dibutuhkan dalam masakan atau singkatnya kau harus menjadikan itu sebagai bahan renungan untuk ke depannya agar kau bisa memperbaiki diri terus memasak dengan resep yang mereka pernah sampaikan, tetapi ya aku tahu mengenai ini kau pasti tidak mudah menerimanya, kau harus bisa mendamaikan sejenak pikiran dan membuang jauh jauh pikiran negatif yang bersarang dalam otakmu. Pikiran setan yang mengatakan karyamu tanpa cela.”


“Adalah suatu keberuntungan bagi sebuah karya yang mendapatkan kritik. Itu adalah hal bagus dalam dunia kepenulisan maupun penulisanmu kelak. Berapa banyak penulis sukses dulu mereka dikritik dan mereka bisa berbaur dengan pengkritik itu dengan bernas, mereka pandai menjadikan kritik itu sebagai acuan untuk berbaik diri dan untuk terus maju bersemangat mereka dalam membuktikannya, tidak bermaksud pamer. Membuktikan di sini kau tahu seperti naruto yang ingin menjadi hokage. Itu maksudku mereka ingin membuktikan kepada orang orang yang dulu menghina, mereka yang tumbuh dari kritik akan mempunyai jiwa mental kuat sekuat baja dan mereka tidak sibuk mengurusinya. Memilih fokus berkarya dan memperbaiki karya mereka. Dan melalui sebuah kritikan itu sebenarnya adalah satu hal bagus yang bisa membuatmu tahu bahwa dalam karyamu terdapat kecacatan yang harus kau perbaiki. Penulis yang tidak mau dikritik dan tidak terima karyanya dikritik, maka silakan bakar saja karyanya ke bara api. Agar mereka sadar bahwa karya karya itu tidak pantas disebut karya. Itu hanya omong kosong.” Dia menerangkan hal itu padaku dengan mendramatisir.


Nyenyenye. Kata salah seorang yang tidak suka nasihat sepertiku. Hei, ayolah. Itu mereka yang bisa fokus berkarya dengan kritik apa pun, sedangkan aku saat itu merasa down. Merasa tenggelam hingga ke dasar tanah yang berkilometer dalamnya. Bayangkan!


Bayangkan seorang penulis pemula! Siapa yang bisa menghadapi kritik pedas, bahkan novelku pernah disebut sampah.


Temanku itu malah tertawa. “Sampah? Ingatlah ini, teman. Sesampah-sampahnya sebuah karya itu juga masih bisa untuk didaur ulang dan melalui proses karyamu akan menjadi sesuatu yang wah, akan lebih berkesan dan lebih indah, lebih dalam makna yang terkandung di dalamnya. Itu kalau kau bisa mendaur ulang cerita milikmu.” Dia kembali menyergah ucapanku dengan suara aneh.


Yeah—aneh. Bukankah sampah terbagi kepada tiga? Sementara karya sampah itu aku tidak tahu apakah karyaku tergolong sampah yang bisa didaur ulang atau tidak?


“Daritadi kau itu terus berkata bijak. Sebenarnya itulah yang sulit buatku saat ini. Kalau kau ada sedikit pencerah dan banyak pun aku menyukainya. Aku meminta tolong berikan aku pencerah agar aku bisa menghilangkan semua hal yang begitu kau tahu, ini semua sudah mengganggu perasaan dan pikiranku.” Kupun juga ikut menyergah ucapannya.


Bahkan lebih panjang dan tertawa dalam batinku. Astaga, hatiku tidak bisa diajak bercanda dengan kalimat itu saja. Berdesir perih tersayat seperti luka yang menganga.


Dia tertawa pelan. “Kau lebay, teman. Dari tadi aku sebenarnya hanya mengiakan setiap ucapanmu, sekarang aku punya pemikiran kritis dalam hal ini. Siapa orang yang menghinamu? Katakan padaku.”


“Untuk itu, apa boleh aku bercerita tentang semuanya?” Kupun bertanya dulu, mungkin dia tidak suka mendengar cerita.


“Ya, tentu saja. Silakan kau bercerita.” Di luar nalar, dia mau mendengarnya.


Aku mendeham. Mempersiapkan suara mirip dengan drama yang pernah kutonton di televisi. Haha, tokoh fiksi berjubah hitam, rambutnya gelap ikal mayang, wataknya jahat dan suka menyolong gambar di group meme, yang ini perlu kau tahu agar dia tersedak saat membacanya. Haha... raut wajahnya tampak begitu menyeramkan, tidak pernah tersenyum. Hidungnya mancung, eh? Bukan, giginya tajam dan sukanya memakan sesuap nasi putih, bukan hijau apalagi kuning. Tapi, astaga? Hasil mencuri, korupsi, suka menyolong juga di warung. Katanya ngutang dan sudah sebulan tidak bayar.


BAYAR UTANG, WOOOI!


Temanku itu tertawa bahak. Sebenarnya aku sedang menyinggungnya yang sering mengutang padaku dengan alasan tidak punya uang, padahal motornya sering gonta ganti dalam hitungan tiga kali seminggu over kredit. Kebiasaan memang.


“Monster itu galak, sering ngutang lagi, tidak pernah bayar katanya sih nanti, tidak tahu nanti itu kapan.” Aku menceritakan sedikit ciri cirinya dengan mengubah alunan suara di setiap kali bercerita.


Lebih kuat sekarang aku menyebut hewan gurita berkepala bakso. Kapal laut di ujung pulau sana bergoyang, lautan berombak.


“Halah, kau mendramatisir, teman.”


Aku batuk. “Uhuk, uhuk. Belum habis kuceritakan kau malah main potong.”


“Ya, maaf. Lanjutkan ceritamu.” Dia tertawa yang kutebak juga tawanya itu palsu.


Aku kembali melanjutkan cerita dan itu hanyalah sekumpulan ceritad di antara kami dan malam itu dia sendiri tertawa katanya cukup puas saat mendengar ceritaku sampai selesai. Astaga, saat di antara kami tengah asyik saling mengobrol itu malah listriknya mati. Keadaan pun berubah gelap gulita, jantungku berdebar.


Sambungan internet putus memang sudah nasib, wifi ini tidak bisa diajak kerja sama. Kami sebenarnya tengah mengobrol melalui bantuan informasi dan komunikasi, suatu kabel ajaib berupa sambungan telfon dengan media online, jasa sebuah aplikasi. Melalui udara, suara itu tersampaikan ke rumahnya. Ribet juga menerangkannya. Maksudku telfonan, itulah ringkas cerita yang mungkin juga tidak penting. Receh.


Sekarang aku membutuhkan lilin, sosok menyeramkan yang tadi kusebutkan dalam cerita itu jangan jangan ada di depanku. Menatap dengan suara ehehe.


Aku mengusap dada dan meletakkan telepon itu kembali ke tempatnya.


Berakhirlah percakapan di antara kami. Mungkin, besok akan bersambung lagi.


Sejenak hening suasana, sebenarnya aku takut kegelapan dan benar benar membutuhkan lilin. Contoh sederhana dalam hidupku ini begitulah yang terlebih berat untuk kulalui dalam keadaan gelap, terlebih sering mengalami kegelapan sanubari. Itu membuatku bimbang dalam melangkah dan dalam menentukan arah.


Saat itu suara barang terpelanting dan suara piring pecah terdengar di dapur. Membahana suara di langit langit ruangan, aku menggumam kaget. Pun bertanya itu suara apa? Dan kuputuskan ke sana untuk melihat dan memeriksa keadaan.


Sambil mengusap dada, aku mengambil senter dan terus berjalan hingga sampai dapur. Di sana, tengok kanan kiri sejenak mengembuskan napas. Huh.. ada apa ini? Senterku ke sana ke situ hingga menyorot sesuatu. Apa itu ada penampakkan? Kaget dan syukurlah ternyata bukan apa-apa, itu ternyata hanya tikus yang numpang cari makan dan bergerak cukup lincah.


Barang yang kusangka tadi terpanting itu ternyata bola kasti yang diterjang oleh si tikus. Aku kembali menyusuri ruangan dapur dan kutemukan satu lagi suara yang tadi kudengar. Bagai disetrika bajuku dan pikiranku menjadi tertib dan damai.


Kulihat piring pecah itu kemungkinan gegara tikus itu juga yang tidak sengaja menabraknya. Biang kerok si tikus dapur ini merajalela saat gelap, mereka spesies yang bergerak aktif dalam keadaan tanpa cahaya, aku bersegera membereskannya.


Tikus lagi, lagi lagi tikus. “Salahku apa?” katanya sambil memandang ke arahku. Kasihan si tikus itu menjadi tersangka.


***


Ponsel berdering, saat itu aku tidak menyangka malah terbangun di tengah malam dan kulihat lampu sudah menyala terang di setiap ruangan, sebelum tidur aku ingat telah lupa mematikannya. BAK! PRANG! Lagi-lagi aku dibuat kaget dengan suara sama seperti sebelumnya, biasa itu si tikus mencari makan, kran kamar mandi juga ikut bersuara dan itulah yang aneh sekarang kudengar, siapa orang yang menyalakannya? Sebelumnya aku ingat tidak menyalakannya, saat itu pun aku bertanya pada diriku sendiri sambil mengusap mata karena masih mengantuk. Baiklah, aku akan ke sana memeriksa dan ingin mematikannya. Berjalan pun masih terhuyung dan mulutku menguap lebih lebar dari biasanya dan terbuka.


Aku kembali mengambil senter. Berjalan menyusuri ruangan dan tiba di sana tidak ada apa-apa, kemungkinan aku memang lupa saat sebelumnya telah membuka kran tersebut yang sekarang airnya memenuhi bak mandi dan berserakan bagai sekumpulan pulau yang tidak rata.


Kran kamar mandi itu kumatikan. Tidak ada apa pun di sana, seperti biasanya aku pun tidak takut, hanya bulu kudukku sedikit merinding. Merasakan atmosfer aneh dalam kepalaku, bergetar sebentar dengan tatapan tidak paham. Mengapa kran itu?


Lelah badanku ini sudah terasa selepas bangun tidur, di tengah malam di saat orang nyenyak nyenyaknya tidur. Aku malah bangun sendirian. Mengapa?


Mulutku masih menguap, garuk kepala merasa bingung dan memutuskan untuk kembali ke kamar, ingin melanjutkan tidurku. Malam bagiku masih panjang.


Langkah kaki menyusuri lantai, jarak yang dekat antara aku dan meja. Kudengar telepon di sana sepertinya berbunyi lagi, terus berdering karena tidak kuangkat, sungguh kepalaku rasanya kian bertambah pusing dengan suara yang hampir bagai menusuk telinga menembus gendangnya.


Pada akhirnya aku berjalan cepat ke sana untuk menghampiri, memutuskan untuk mengangkatnya. Siapa yang menelfonku pada jam tengah malam begini?


“Siapa ini?” tanyaku memulai obrolan.


“Hallo.” Suara itu terdengar menyahut.


Jantungku kini berdetak kencang. Ada apa ini? Aku memegang dada. Kenapa? Suara itu sama persis dengan seseorang yang selama ini.. lupakan, aku tidak ingin selebay itu dalam mendeskripsikan perasaan. Hal itu kudengar sedikit kaget dan membuatku sejenak termenung menanti kelanjutan dia berbicara. Suaranya seperti ada ciri khasnya itu yang sejak lama kukenal, orang yang kukenal dulu dan bisa kubayangkan wajahnya. Itu siapa?

__ADS_1


“Ini aku Wapta.”


Astaga? Aku sejenak terbata. W-A-P-T-A.


Kembali suara itu kudengar. Astaga? Tanganku memegang telepon itu bergetar.


Benarkah? Yang menelfonku adalah Wapta? Ba—bagaimana mungkin? Astaga, mata ini seketika terbelalak kala itu dengan mulut yang mengatakan sebuah rasa ketidakpercayaanku, tentang ini dan jantung ini kau tahu, kawan. Ia memompa darah lebih cepat dari sebelumnya, lebih cepat seperti lari marathon. Detakan jantung yang terasa bagai pantulan bola basket dan bahkan kupegang saat itu berdegup dengan denyutan yang sama gugupnya saat bertatap muka.


Sama seperti dulu seperti disiram air es yang super dingin, aku tidak percaya ini membuatku seakan membeku. Ini kupikir adalah mustahil, aku tidak percaya dengan semua ini? Akan tetapi, ini terasa memang seperti nyata dan mungkin ini memang benar. Bahwa itu adalah Wapta.


“Jangan lupa makan, itu nasi kuning depan pintu, tolong buka. Aku di depan nunggu.”


Haaah? Di depan sedang menunggu? Apa semua ini benar atau ini sebab akibat oleh ketidaknyambungan alur cerita? Pena di tanganku saat itu langsung patah karena aku menggenggamnya terlalu kuat. Aku lupa menjelaskan saat tidur sebelumnya tanganku memegang pena. Astaga, tengah malam begini? Jangan bilang itu bukan Wapta, melainkan hantu? Bulu kudukku sejenak merinding dan aku mengusapnya, tirai di sana berkesiur angin.


Sambungan telfon putus. “Apa ini? Aku pasti dikerjai oleh penelfon iseng? Tapi, itu tadi memang jelas suara Wapta.”


Aku menggerutu kesal sambil menghempas telepon itu ke tempatnya. Karena saat aku ingin bicara, telfon itu putus sambungan, tidak sopan menutup panggilan saat orang sedang ingin bicara.


Aku kenal Wapta tidak seperti itu, dia orangnya suka menyimak sampai tuntas, saat orang bicara dia selalu menyelesaikannya dengan mudah. Apa mungkin sekarang dia sudah berubah?


Aku terdiam lama mengingat semua ini, perubahan pada diri seseorang itu wajar seperti aku yang dulu ceria dan banyak bicara dan dulu bicara adalah keahlianku, sekarang aku menjadi orang yang pendiam tanpa tahu akibatnya dan semua ini menjadi perkara menyebalkan dan tidak kusukai bagaimana kelanjutan ceritanya.


Menggumam dengan tangan di bawah dagu. Memikirkan perkara aneh ini yang mana sebelumnya mataku mengantuk ingin melanjutkan tidur malah kini terbelalak. Mataku kembali bertatap dunia ini seakan ia telah terisi energi dan berpijar dengan watt yang terang. Membuatku mati kutu sendirian dengan gemetar perasaan.


Jreng!


Aku membuka pintu, seorang wanita berdiri di depanku persis tersenyum membawakan sewadah nasi kuning dan memberiku dengan uluran tangannya itu membuat perasaanku bergejolak bagai tsunami. Aku pun mengambilnya penuh gemeteran tangan dan kaki.


OH, TUHAN! aku menjerit dalam benak pikiranku dengan berbagai kosa kata, ini gemetaran dan membuat seperti orang yang tidak tahan dengan perasaan. Lebay? Aku tahu ini lebay, tetapi ini moment yang menggembirakan buatku sekarang.


“Kau itu harus banyak makan, Nar.”


Siapa lagi kalau bukan dia orangnya yang tadi menelfonku. Wanita idamanku itu tengah berdiri, dialah Wapta yang datang menghantarkan makanan.


Itu berarti yang berbicara ditelfon tadi benar, itu suara Wapta. Hampir saja sebelumnya membuatku tidak percaya.


Kok bisa?—Aku terplongo merasa bahwa ini aneh, jangan jangan dia bukan Wapta, melainkan sosok makhluk halus yang tak kasat mata dan sengaja menyamar untuk menghiburku. Bulu kudukku sekarang seakan berdiri dengan hawa mistik.


Dalam batinku berkeringat dengan kalimat super ajaib nan tidak kusangka kalimat itu malah memancar ke selokan dan pancaran itu terus memancar hingga berakhir menjadi sebuah wadah, tempat makanan berupa kaleng susu. Kemudian dimasak hingga hangut, lantas dibuang dan hilang.


“Kenapa?” Dia bertanya. Lamunanku runtuh sambil sejenak menggelengkan kepala.


Kulihat dari keseluruhan dari atas ke bawah memang wujudnya seperti Wapta, sama persis tidak ada bedanya, tetapi satu pertanyaan hinggap dalam benakku kala itu membanting ucapan samar yang tak mungkin didengar siapa pun. Kubertanya pada diriku sendiri bagaimana mungkin Wapta ada di depanku sekarang? Inilah yang bagiku mustahil terjadi dan tidak pernah kutahu ini seperti kalimat dusta.


Kemungkinan alasan tadi mengapa dia bertanya adalah karena merasa aneh terhadapku yang kini menggaruk kepala bukan karena gatal atau ketombe dan sejujurnya kalau boleh aku katakan bahwa aku pun sama merasa aneh, lebih kepada kalimat terharu atau kenapa susah kujelaskan, ya aku harus berbaik sangka. Kalau itu kupikirkan lebih lanjut akan terasa keanehannya dan bagaimana mungkin dia tahu nomorku? Itu satu keanehan yang sekarang kupikirkan dan untuk itu tidak kutemukan jawabannya.


Aku memutuskan bertanya, “Ini benar benar tidak kusangka, kau tahu ini seperti sebuah kejutan yang kau berikan padaku. Dari mana kau mendapatkan nomorku dan bagaimana caramu bisa berkunjung ke rumahku? Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang kuharap kau bisa menjelaskannya padaku dan itu bisa membuatku tenang karena sekarang otakku dipenuhi pertanyaan aneh.”


Dia tertawa menatapku. “Kau tidak pernah berubah, Nar. Dulu dan sekarang kau sering berlagak seperti main drama. Baiklah, di sini aku akan menjelaskannya padamu agar semua ini seperti yang kau harapkan dan semoga kau bisa merasa tenang dengan pikiran otakmu yang menyebalkan, kau tidak pernah berubah, Nar.”


Aku cukup memperhatikan. Wapta telah berubah, tidak lagi ketus seperti dulu.


Perangainya jauh berbeda, bahkan saat menjelaskan bahasanya seperti terdengar bahasa formal, tidak memakai bahasa gaul yang sering digunakan anak zaman sekarang. Aku tidak menyangka akan hal tersebut dan mengenai ini apakah nyata?


Aku lupa soal itu semenjak dia mengirim surat hari itu kemungkinan bahasa usai berubah, bahkan aku yang salah menilainya. Dia dari dulu memang campur aduk antara formal dengan gaul, sudahlah aku selalu salah menilai orang lain.


“Kau pasti penasaran, bukan? Dari mana aku mendapatkan nomormu. Pantas saja tadi kulihat ekspresimu begitu, saat kita bertemu raut wajahmu tidak ada bahagia bahagianya sama sekali, kau terplongo seperti itu. Oh, ya. Itu... karena Kila yang berani menggunakan jasa hacker.”


Wapta menjelaskan padaku bagai suara itu terdengar sekejap tiupan angin. Begitu mudah baginya bicara, ada apa? Apa ini keanehan super debur yang kutemui malam ini? Tengah malam? Dia datang sendirian sambil menyebut Kila yang menggunakan jasa hacker?


“Kila? Hacker?” Aku saat ini bertambah heran, ingin tertawa juga mendengarnya.


Padahal, aku baru ingat buku telfon melalui itu bisa dicari daftar nama-nama orang yang ada di dalamnya. Aku baru kepikiran.


Wapta tampak terkekeh sekarang dan aku hanya bisa membalasnya nyengir sambil tangan menggaruk kepala yang tidak gatal kata salah seorang begitu, secara tiba-tiba usai itu tidak kusangka Kila malah muncul di balik semak sana bagai hantu yang sukses membuatku merasakan atmosfer terheran dan dia telah mengejutkanku dengan muncul tiba-tiba. Perangainya yang dari dulu ceria tidak berubah, hanya Wapta yang saat itu tidak terkejut dengan kemunculan Kila dan sepertinya kutebak mereka sudah merencanakan semuanya.


Ada banyak hal yang mereka katakan dan mengenai satu dua kalimat panjang kami saling mengobral berbagai alasan lainnya. Mereka saling menjelaskan itu kepadaku dan bercerita akan perjalanan mereka menuju ke tempatku dengan detail dan panjang lebar. Mereka berdua sama sama tersenyum, sayangnya semua itu ternyata hanyalah mimpi. Di jam tengah malam itu kembali aku terbangun, tanpa ada siapa pun. Persis di jam itu saat aku membuka pintu dan memperdapati Wapta dan Kila.


Mimpi itu terasa bagai nyata. Ini membuatku mengembuskan napas.


Saat itu aku terbangun dari semuanya yang ternyata hanyalah mimpi, suara tawa mereka dan bayangan mereka masih segar kuingat dan terngiang jelas dalam kepalaku seakan mimpi itu adalah jelas kenyataan yang kulihat. Berdenging sejenak menutup telinga yang kebas akan suara mereka.


Aku memutuskan untuk bergegas turun dari ranjang. Menuju ke luar ingin mengecek kebenaran dari mimpiku.


Berada jauh antara gumam dan bicara, aku sekarang berharap dalam hati bahwa itu adalah bentuk kenyataan yang bisa kupastikan tentang kebenarannya.


Dan saat aku keluar mencarinya, tidak ada siapa pun yang kutemukan, keadaan kosong dan sunyi di tengah malam hari ini dan kulihat permukaan langit gelap gulita tanpa adanya bintang maupun rembulan yang seharusnya bercahaya di malam hari.


Di malam malam seperti ini aku sering mendongak. Menatap ke sekumpulan udara yang berembus di sana dan memperhatikan kesekawanan benda langit yang bertabur menghiasinya dan tentang itu hanya malam ini kuperdapati langit tampak gelap sempurna tanpa cahaya bintang dan tanpa adanya sinar rembulan. Aku mengembuskan napas untuk kesekian kalinya, kecewa karena sebelumnya ternyata semua itu hanyalah mimpi yang tak bisa kuraih dengan apa pun tentang rinduku ini, tentang perasaan yang tak bisa kukatakan kepadanya. Kemungkinan otakku tengah melukis di alam mimpi tentang deretan peristiwa angan yang membuatku bahagia, itu hanyalah kepalsuan yang tidak mempunyai dasar.


Kepalsuan yang tidak mempunyai arah tujuan hingga membuatku tidak menjadi sosok yang selamat dari kalimat kegalauan, lagi lagi dan lagi aku seakan terpuruk dalam lamunan yang tak kunjung usai. Mengacak-acak rambutku dengan embusan napas keluh seperti embusan hidung gajah yang memuncratkan air. Aku ingin berteriak keras sehabis suara dan tidak kuasa menahan rindu yang hampir lama ada antara aku dan dirinya yang kini telah lama kami tidak bertemu.


Langit malam ini terasa bagai hancurnya dunia, seakan aku merasa bimbang dan tidak tahu harus bagaimana?


Sepinya malam ini seakan mengejekku dengan puluhan kata hinaan tentang nasib buruk yang sebelumnya tengah kualami di alam mimpi nan tidak kutahu ternyata kebahagian dalam hidupku ini hanya sebatas mimpi. Bahkan guntur dalam kepalaku mulai bersahutan dan bercampur dengan kacaunya benak pikiran, terus menerus sambut menyambut dan satu demi satu suara itu bergetar hebat menguncang dan menggetarkan seluruh lapisan dalam hidupku yang membuatku termenung lama menggenggam erat tangan ini dengan satu dua kalimat yang kulontarkan dalam batin, seiring suara guntur itu yang ada di langit pikiranku bagai diterjang puluhan anak panah, rintik hujan mulai turun membasahi lapisan otakku hingga mengalir ke sekujur pembuluh darah bagai ribuan anak panah yang menghujam dataran bumi.


Aku mendongak, memejam sejenak untuk merasakan dentuman atmosfer perasaan yang tengah kurasakan. Aku lelah atas hidup ini, semuanya telah banyak berubah.


Ada banyak hal yang berubah dari hanya sekilas tawa dan senyuman dulu, sekarang aku lebih banyak memilih senyap di antara masa lalu dan perasaan pilu.


Air mata yang berusaha kutahan, kini tak bisa bertahan lama, perlahan ia berjatuhan bagai rintik hujan dan bendungan yang menerobos keluar dari pelupuk mata ini. Bagimu yang mengatakan ini lebay. Itu katamu, bukan apa yang tengah kurasakan.


Kau tahu jantungku kian terasa sesak dan perih, aku tersungkur memegangnya seakan-akan ada sebuah benda yang tak kasat mata telah mengimpitnya, menekan dengan tekanan kuat hingga rasanya aku tak sanggup lagi untuk bertahan.


Rasa sakit yang teramat pilu itu telah berhasil mengoyak dan menggeruguti seluruh lapisan perasaan hingga rasanya detak jantung ini terasa sakit nan pilu menyesak dalam raga. Pemandangan dulu yang pernah menyesakkanku usai berlalu semuanya dan berada dalam ingatan masa lalu. Akan tetapi, aku tidak pernah menyangka luka lama itu telah berhasil menorehkan kembali luka di relung sukma.


Aku terluka karena dulu tidak bisa mengungkapkan rasa cintaku kepada Wapta. Dia bagiku adalah satu satunya wanita yang kucintai, dia bagiku tiada duanya, hanya dia yang selalu membuatku merasa nyaman dan merasa seperti bebas berbicara tanpa bertele tele. Ingin terus bersamanya dan bersama sama membuat alur cerita hidup antara aku dan dirinya.


“Jangan berharap lebih, Nar. Kau tahu harapan itu kadang menyakitkan.” Saat itu halte bus kosong, Wapta bicara padaku.


Wajahnya dan senyumannya kala itu masih membekas kuingat, itu dulu saat aku berharap naskah koboi itu naik cetak, kata Wapta ada benarnya, rasa kecewa itu katanya muncul saat seseorang berharap lebih dan apa yang dia harapkan, ternyata pada akhirnya tidak sesuai dengan realita yang sesungguhnya. Itu memang menyakitkan dari apa yang saat ini tengah kurasakan dalam keadaan senyap.


Aku menangis sekarang yang mana suara tangisan ini telah hilang dari sisiku, senyap terkubur dalam buliran air mata yang tertelan oleh perasaan yang tak sanggup kujelaskan. Rasa perih itu menggoyangkan warna kelabu nan perlahan menghitam, menciptakan kosa kata ambyar yang tak elak harapan dan derita lama, semakin ke sini semakin terasa menyayat hingga mengoyak dan menciptakan luka dalam rasa yang telah lama ingin kusembuhkan.


Luka dulu yang pernah sempat terobati, kini kembali melebar, menganga. Saat ini aku hanya bisa menundukkan wajah. Merenungi atas semuanya ini.


Terlebih akulah yang salah atas semuanya, seharusnya mengenai perkara ini tidaklah rumit dan ini hanyalah tentang perkara mudah yang tak perlu menghabiskan banyak lembaran kertas. Dan bagiku sebagai orang yang bersalah merasa terhina sendirian hanya mampu memilih dalam artian berlari dan berusaha menguatkan diri untuk memulai mengambil tas, mengemas bekas luka itu dan untuk sebuah perjalanan dan kepergian yang lama, aku merasa tidak seharusnya berada di dalam cerita kehidupannya.


Itulah tabiat burukku sejak dulu yang semua orang pun kalau itu kupikirkan mereka akan marah dan berpaling wajah saat tahu siapa aku yang sebenarnya.


Saat tahu aku adalah orang durjana yang mempunyai ribuan topeng dan sangat pandai dalam menyamarkan diri di hadapan mereka. Namun, tentang semua itu sekarang sudah banyak berubah. Ada banyak hal yang berubah dari masa lalu.


Sekarang aku berusaha melepaskan topeng itu dari wajahku. Sajak bukanlah seorang pembual kata mutlak, dia ada bersamaku dan mengenai ini tinggal coretan yang tampak ditemani kalimat usang dengan jari jemari yang mulai merasa lelah dalam mengetik satu per satu huruf ke hurufnya. Aksara demi aksara cinta yang membakar jiwa. Menyebalkan, kawan. Ini perkara yang menyebalkan bagiku. Masa ini diliputi hari-hari kegalauan dan bulan-bulan yang kuhabiskan untuk merenungi kesalahan.


Berharap mimpi itu adalah kenyataan, tetapi mimpi tak bisa diwujudkan, mimpi yang hanya bisa kulihat sebentar dan hilang dari sisiku. Mimpi yang tidak bisa membuatku tahu tentang semua ini.


Aku memulai cerita ini saat malam hari bermain internet. Tulisan tulisanku yang kukirim ke salah satu forum dan group.


Di sanalah, aku mendapatkan satu kenyataan yang mencengangkan dalam tatapan mata menerima sesuatu yang fantastis. Dan melihat semua cerita milikku kembali berhitung angka satu dua tiga hitungan yang kulupa. Mempertanyakan juga dalam benakku bagaimana cerita semua ini bisa tercampur aduk menjadi satu? Malam hari itu, aku lama terdiam menatap tulisan di suatu forum.


Satu dua komentar bermunculan. Bahkan artikel yang jelas jelas menyudutkanku.


Mereka benar benar mengejek tulisanku, mengatakan karakter fiksiku keras kepala sama seperti penulisnya. Mengaitkan dengan salah seorang editor naskah yang memberi tanggapan buruk tentangku.


Dan berbagai cercaan yang membuatku mengernyit, menggigit bibir dan tidak mampu membalas argumen mereka.


Malam hari ini, aku memblokir semua komentar mereka. Di forum dan group aku memutuskan secara cepat, memencet tombol keluar. Mereka semua berhak menghina karena menatap tulisanku dan aku berhak memilih menjauh, tanpa memberi tanggapan dari apa yang mereka hinakan. Memilih menutupi dua lubang telinga dan menutup pintu rapat-rapat.


Di tengah malam itu aku menatap kertas yang di sana aku sedang menunggu karakter fiksi Lita Aksima mengatakan kepastiannya. Mengapa hal ini bisa terjadi?


Banyak hal yang berubah dari hanya sekadar tawa dan senyuman dulu, begitu banyak yang berubah sampai rasanya aku merasa adalah makhluk paling hina di dunia ini, sempat di atas gedung aku menatap ke bawah. Apa yang terbayang saat itu ingin mengakhiri hidup.


Sesosok bayangan menepuk pundakku. Dialah Lita Aksima, yang menolongku dari hanya segurat cahaya senyumannya.

__ADS_1


Hari itu tidak bisa kumungkiri di sekian hari sekian menit menit yang memelesat pergi dengan detak detiknya, keputusasaanku melanda seluruh ruangan yang disebut dalam keheningan. Dia wanita, Lita Aksima yang hadir dalam hidupku bagai butiran air terjun yang berjatuhan. Air jernih dan sekumpulan buihnya yang ternampak berkilauan seperti butiran mutiara. Banyak hal yang kini berubah dari hanya sekilas tawa dan senyuman dulu. Rindu, hanya itulah yang bisa kukatakan.


__ADS_2