Daur Ulang

Daur Ulang
Selangkup menara; remuknya pusaran mimpi tak berkeping


__ADS_3

Ucapan kakek pada akhirnya terus membuncah keluar sampai di titik yang mana kupikir hal perihal yang dikatakannya adalah di luar batas pemikiranku sebelumnya. Itu bagiku terlalu tidak bisa kutangkap dengan akal sehat.


Bagai dijerat di kepala. Sesak lama-lama pusing kala mendengarnya. Itu mengerikan, jauh dari logika dan anganku bagai diterangkan penjabaran yang tidak pernah kutahu selama ini mengenai kekecewaan dan air mata yang katanya amat mendalam.


Ringkas saja saat itu Kakek lanjut menceritakan kepadaku panjang lebar mengenai salah seorang temannya yang ternyata memiliki kasus sama sepertiku.


Sekilas diriku terdiam membayangkan bagai donat yang dibagi dua tidak rata di ujung, bukan berarti sama keseluruhannya.


Tubuhku membeku, gerakan tanpa bergumam sesekali muncul bayangan di otak selancar layangan terbang yang ditiup angin. Blush... sekencang lari maraton dan napas berembus lelah, lari dengan jutaan kilometer jaraknya.


Membayangkan nasib kehidupan yang dialami tokoh cerita kakek dalam perasaan duka. Kesekian rasa yang diruntutkan hampa seolah melanda ketidaknyamanan kosa kata yang ditatap dari kejauhan bergumam keputusasaan hingga tiba di ujung angan dan dilupakan.


Betapa kasihan rasanya, ingatan dan pikiran yang beku tanpa tindakan bersyukur, putus asa melanda hidup. Walaupun antara tokoh yang diceritakan kakek kepadaku memiliki kasus sama sepertiku. Pada akhirnya cerita itu begitu berbeda, selesai kudengar saat dia terjun dari ketinggian gedung menara, embusan napas terakhir entah sempat atau tidak. Kubayangkan bagai telur pecah.


Apalah yang terjadi selanjutnya? Pusaran mimpi bergema selama itu lenyap dalam hitungan menit. Orang-orang pun banyak berdatangan menatap berurai air yang mengalir. Berita tersebar mengenai kepergian seorang pemuda yang telah berputus asa atas dunia ini.


Kehilangan cinta dan menangis tanpa air mata, bersimbah cairan merah yang lekat di jalanan. Dari ketinggian gedung menara, raut wajah bagaimana? Aku hanya membayangkan dan terus membayang dalam angan dan sanubari ini.


Aku mendengarnya hanya mampu terdiam mengucapkan di dalam batin rasa iba atas apa yang menimpa hidupnya.


Sebenarnya apakah alasan kakek menceritakan itu kepadaku? Aku tidak tahu sekarang, hanya diam mendengarkan.


Saat ini aku tidak ingin menanyakan hal perihal yang beragam kepada kakek, cukup untuk saat ini diam mulut dan anggota mendengarkan saksama suatu cerita lama, diceritakan panjang lebar dari narasumbernya sendiri yaitu kakek sang pendongeng saat ini dan kutulis ringkas sebelumnya dengan sedikit tamsil.


Tanganku saat mendengarnya membiru gemetar hingga kiranya aku bersyukur bisa mendengarkan habis cerita lama itu usai dikupas panjang lebar.


Kakek menatapku sedih. “Man, kakek berharap kau tidak seperti itu. Kelak di suatu masa semoga kau bisa menungkapkan perasaanmu kepada wanita yang kau cintai ataupun semoga kau bisa melupakannya saat di mana wanita itu menikah tidak denganmu. Walau bagaimanapun, Man. Kau harus sadar mengenai semua hal sekarang dan dampaknya nanti. Ingatlah satu hal mengenai kesalahanmu sendiri yang tak berani mengungkapkannya.”


Aku mengangguk, tak ingin banyak bantahan. “Kakek benar. Selama ini aku selalu melatih diri agar tegar dalam hal merindukannya dan terus berdiam diri memedam rasa yang tak bisa kukatakan secara langsung. Aku sedang berusaha menunggu di saat waktunya nanti tepat mengenai semua rasa yang selama ini kupendam. Maka di saat waktunya tepat, aku akan mengungkapkannya.”


“Selama berdiam diri, selama masa melamun kakek harus tahu ada banyak hal yang kutemukan saat di mana aku membayangkan Wapta. Dia bagaikan bidadari yang memberikanku semangat di setiap hari yang kulalui.”


“Dialah orang yang mampu membuatku menulis banyak kata. Tentunya ada banyak kertas yang kuhabiskan hanya menulis kalimat untuknya. Selama masa merindukannya aku selalu kukuh menyakini pada suatu saat nanti perasaanku ini akan menemukan titik henti. Entah di titik bahagia ataupun sedih. Saat ini aku tidak tahu kepastiannya dan hanya sebatas percaya bahwa aku bisa tenang mengatasi masalah perasaan ini, meski di kemudian hari nanti kutemukan Wapta menikah bersama orang lain. Aku perlahan belajar berusaha menerimanya dengan hati dan pikiran lapang. Kakek juga saat ini harus menaruh rasa percaya yang kuat kepadaku.”

__ADS_1


Aku menjelaskan panjang lebar. Kakek dan nenek sekarang tampak menyimak semua yang kukatakan. Aku menatap mereka seperti air yang berada di dalam wadah, tenang ternampak. Dan selama ini dalam hal menulis kata menjadi kalimat telah banyak hari kulewati dengan tetesan air hujan yang menemaniku kala merangkai bait demi bait syair hanya untuk Wapta.


Selama ini telah banyak waktu yang terlewati. Aku habiskan mengenang dan terus membayangkan sosok Wapta.


Dalam gumaman yang tak pasti berujung ini aku menyadari rasa terpendam dalam jiwaku senantiasa merobek keseharian dan memperluas harapan yang belum pasti.


Di tiupan angin sejuk yang bertiup kala pancaran matahari senja bersinar hendak terbenam, seringkali saat itu kuhabiskan masa berdiam gumam menatap tenang dengan sebatang pena di tangan.


Menatap ke arah tulisan di lembaran kertas, menulis kata terbaik untuknya sambil sesekali mengeja, kadang berulang ulang untuk mengasah keindahan bait yang kurangkai. Sambil sesekali mengubahnya dari tahap ke tahap penulisan.


Tetap saja hasilnya kuakui tidak sebagus yang kubayangkan. Itulah kesungguhan dari arti sekadar buatan tangan sendiri. Bukan hasil menjiplak atau merekayasa diri dalam tipuan yang berani mengatasnamakan karya orang lain sebagai karya sendiri.


Di tiupan angin damai, membelai lembut dedaunan kelapa dan semilir angin pantai. Sekilas rasa yang hari itu kutatap bagai pecahan kaca. Berhamburan warna yang perlahan menghilang dan musnah.


Pantulan sinar kristal yang indah ingin kugapai. Sekerat rasa kini seakan terbayang iba menatap sekujur tubuh yang lunglai dalam keheningan tanpa berkeinginan.


Aku melamun lagi. Inilah kesekian kalinya terdiam jasad dengan banyaknya kata yang bermuara dalam batinku. Ini hampir sama seperti dulu, apa yang kurasakan sungguh mengherankan.


Sekarang kutatap kakek yang tampak sejenak menatap ke arah jam tangan. Bola matanya sedikit menyipit berusaha fokus menatap ke arah jarumnya.


Seperti biasanya. Dia menunjukkan jam keemasan miliknya kepadaku, padahal aku juga punya jam, walaupun hitam logam.


Saatnya berangkat. Jam sekarang telah menunjukkan pukul di mana kebanyakan orang beraktivitas.


Saatnya aku berangkat kuliah, sedikit tidak kusangka kakek memang pendongeng handal. Matahari di luar sana telah menampakkan sinar, menembus jendala kaca. Aku pun telah lama selesai makan, telah bersiap rapi juga lain sebagainya.


Saat ini menatap kakek sambil merapikan kerah leher. “Sebelum berangkat, aku perlu bercermin dulu, kek.”


Kakek tertawa. “Man, kau sudah tampan tidak usah bercermin lagi.”


“Kakek bergurau? Tadi aku baru saja makan, bisa saja ada sisa makanan yang menempel di gigiku,” timpalku balas tertawa.


Aku beranjak dari mereka menuju kamar, tentunya untuk bercermin. Sengaja saat itu aku meninggalkan tas di ruangan makan.

__ADS_1


Menatap sekilas dari kejauhan kakek dan nenek tampak saling pandang berbicara dengan bahasa thai. Ini seperti hal rumit yang kurasakan.


Bahkan saat aku membayangkannya sejenek menghela napas. Batinku melukiskan suasana di tepian sungai yang tenang airnya, menyeruak penuh makanan, satu ikan kini tampak sibuk memakannya.


Tamsil yang kubuat lebih sederhana mengenai menara mercuscuar yang berdiri tegak dengan ketinggiannya. Tepat di keremangan cahaya sepagi dunia belum memancarkan sinar matahari.


Menara yang menyorotkan sinar terang ke segala arah. Kutatap termenung seperti menandakan suatu tanda, juga sekilas sinar yang menembus di jendala.


Perpaduan warna yang saat itu membias, menunjukkan suatu keindahan yang lebih tenang tentram ditatap. Dibayangkan sedemikian, juga lama merangkainya.


Kendatipun demikian, apa yang bersinar bagiku pancaran sinar itu tidaklah indah. Ia bersinar terang terpampang di depan mata yang jelas menyilaukan, bahkan menyakitkan saat menatapnya lebih lama.


Ini sepertinya hanya mengenai selangkup menara mercuscuar dengan sorotan sinarnya yang menyorot ke arah seorang pemuda.


Dia sekarang berdiri diam menunduk di pinggir pantai nan dekat di sana. Berdiri termenung dengan segala harapan dan segala kecamuk perasaan yang membabi buta guncangan.


Lihatlah sebentar, seorang pemuda itu berdiri berkepalan tangan menatap ke arah lautan yang ternampak di depan matanya.


Dia sekarang memerlukan kapal agar bisa menyebrangi lautan kerinduannya. Lautan yang luasnya terbentang melebihi angan.


Inilah dirinya yang masih bergumam ragu untuk memilih menaiki kapal ataukah tidak. Dia seakan telah betah bersikukuh diam.


Seorang pemuda itu tidak lain, tidak bukan adalah aku sendiri. Diri yang hanya mampu terdiam sunyi senyap. Menatap kosong ke arah lautan kerinduan kepadanya.


Merindukan dirinya, sesosok kekasih hati yang kurasakan tak mampu kutemui.


Lautan kerinduan yang luasnya terbentang bagai khalayan kemarin sore. Jejak langkah terhenti, gumaman terpatri membentuk ribuan samudra dan jutaan benua.


Entahlah mengapa khalayan kemarin sore itu membuatku semakin bimbang untuk menyebranginya ataukah tidak.


Dan saat ini aku membayangkannya seakan tak bisa kuseberangi.


Bagaimana kiranya mengatasi masalah diri yang selama ini bersikukuh rindu dan tak kuasa menyebranginya supaya berjumpa dengannya di titik temu?

__ADS_1


Deretan makna telah lama kutelusuri hingga memecahkan angan dengan beribu ribu kepingan dan remuknya mimpi-mimpi yang tak bisa kusatukan lagi.


Begitu banyak rasanya pecahan yang kini berhamburan, bahkan sepertinya kepingan itu terbuang tanpa kuinginkan.


__ADS_2