Daur Ulang

Daur Ulang
Rangkaian Yang Ketiga


__ADS_3

Waktu kadang kala memang tidak terasa. Sekarang, sudah memasuki rangkaian cerita yang ketiga. Aku tidak ingin menjelaskan kenapa cerita ini punya rangkaian. Itulah yang akan menjadi ciri khasnya. Aku tahu ini semua hanyalah tulisan yang kutulis dengan menceritakan ceritaku sendiri, tidak orang lain. Ini hanyalah cerita milikku.


Dua rangkaian terdahulu telah mengisi coretan yang seakan-akan tidak mempunyai alur yang jelas, seperti hidupku aku berharap dari sekian banyak kata yang sudah terlewati mampu memberikan kesan yang dirasa indah.


Entah apa yang ada di pikiranku sekarang, syair atau sekadar bualan yang melanglang buana. Pergi ke tempat yang tiada ujungnya.


Aku meletakkan buku harian di rak buku yang tampak tersusun rapi dari berbagai buku yang sudah kubaca. Aku ingin menutup lembaran lama, berusaha memulai hidup dengan gembira tanpa ragu membuka lembaran baru.


Cerita itu selalu aku baca, selalu aku nikmati dengan rasa yang tiada tara bagai rembulan yang bersinar terang.


Benarlah semuanya, perasaan bimbang telah melanda pada usia mudaku sekarang, pada usia yang masih remaja ini, aku benar-benar kehilangan arah tujuan untuk melangkah, untuk terus menjalani kehidupan yang sedikit banyak ketidakmampuan diriku lunglai dalam menceritakan perihal cerita ini kembali.


Hari itu setelah satu-satunya teman yang kupunya. Dia bisa mengerti keadaan diriku, bahkan membimbing diriku ke jalan yang benar, kini dia sudah tidak ada lagi.


Temanku sudah pergi menghadap Sang Pencipta, sebenarnya ada rasa yang tidak bisa dibicarakan begitu saja, rasa yang lebih baik dipendam untuk diriku sendiri.


Kini aku benar-benar sendirian, hari demi hari itu kulewati dengan catatan yang dipenuhi coretan. Coretan tinta yang tiada makna dapat kutelusuri, semua telah hilang.


Tetesan demi tetesan air mataku berderai di malam-malam sunyi, tampak setelahnya air mata memenuhi sekitaran tempat, menggenangi lantai keramik, bendungan air mataku yang berasal dari kelopak mata berderai tanpa kuinginkan, air mata itu seakan jatuh dengan kehendaknya sendiri.


Ini semua hanyalah masalah waktu.


Waktu yang masih panjang, tetapi perasaan menyerah. Kenapa datang sekarang? Aku tidak bisa menjawabnya, aku lemah diri tak bisa memungkiri ini.


Di balik jendela kamar, aku menatap keadaan sekitar yang tampak sunyi tak ada suara apa pun yang terdengar. Hal itu membuat jantungku berdebar-debar, jantung berdenyut cepat, entah mengapa rasa kehampaan diri, juga kegelisahan yang tak bisa kujelaskan.


Tujuh belas tahun sudah berlalu, baru sekarang perasaan pilu menghampiriku, ini begitu menggangguku. Aku melamun menatap kosong ke luar jendela.


Hidupku sebatang kara dengan sebatas kemampuan, mengandalkan modal usaha yang terus kulakukan untuk menghidupi diriku sendiri.


***


Malam hari



Keindahan malam itu menemani diriku dengan kesedihan yang melanda perasaan, aku jelas merasakan pedihnya. Aku hanya bisa mendongak, menatap sekumpulan bintang-bintang yang berjejer rapi dengan sinar kelip-kelip serta bulan yang tampak membulat dengan terangnya.


Aku mengusap air mata untuk kesekian kalinya memekikkan rasa yang tak kunjung usai, aku berharap besok pagi adalah hari yang dapat kutemukan sebuah kebahagian, juga seorang teman yang mampu menciptakan sebuah senyuman.


“Krik ... krik ....” Jangkrik berbunyi. Aku mendengar jelas dengan perasaan yang benar-benar hampa. Sejenak menyeka air mata, membenam wajahku ke dalam telapak tangan.


Aku menghampiri ranjang, merabahkan tubuhku untuk beristirahat tidur dengan memejamkan mata.


....TimeTravel....


Aku membuka mata, berdiri sendirian di tengah kegelapan. Aku kebingungan sekarang berada di mana, sekelilingku berangsur-angsur memancar cahaya putih, yang tadinya gelap, sekarang keadaan tampak putih di sekelilingku tanpa ada apa pun, tanpa ada siapa pun. Aku berada di alam kosong, apa ini sebenarnya?


Apakah ini kilas balik yang menunjukkan diriku di dalam alam bawah sadar, apa sekarang aku kembali ke waktu itu, tidak mungkin, usiaku masih tetap tujuh belas tahun. Aku menatap jelas kedua tanganku ini sejenak meraba wajah.


Sayup-sayup suara kudengar seolah-olah memanggil diriku, juga aku mendengar ada suara tangisan seorang bayi mungil, kedua suara itu bercampur aduk, aku bingung siapa? Siapa itu?


Aku ada di mana? Aku tidak tahu sekarang, siapa pun tolooong ....


Tiba-tiba datang cahaya putih menutupi pandanganku, silau sekali. Saat itulah aku menatap seorang bayi menangis di pangkuan seorang wanita.

__ADS_1


Apakah itu ibu? Itu aku?


Aku menatap bayang-bayang di depan mataku, sebenarnya apa ini kilas balik dari masa kelahiranku, aku masih bingung tidak mengerti. Sepertinya benar itu adalah ayah dan itu adalah ibu.


Ini rumah sakit, aku tahu sekarang benar tidak salah lagi, itu ayah dan itu ibu.


Suara orang yang memanggilku tadi ternyata adalah ayah, ibu juga tampak tersenyum. Hanya aku yang menangis di dalam gendongan ayah, lihatlah dia mengusap wajahku, tersenyum menatapku.


Ibu berada sedang di kasur. Sepertinya ini adalah rumah sakit, tempat bersalin ibu melahirkan diriku. Lihatlah, ayah memberikanku pada ibu, kini dia menggendong diriku.


Ibu, aku di sini menatapmu. Apa kau bisa mendengarnya. Ibu, aku di sini. Sepertinya percuma dia tidak akan mendengarnya.


“Sayang, liat. Anak kita lahir laki-laki.” Ibuku masih menyebutku, apa dia tidak tahu selama ini? Apa baru tahu sekarang?


Kulihat tampak ayah menunjukkan ekspresi bahagia, dia memeluk lembut diriku bersama ibu.


“Bagusnya kita beri nama apa, ya?” Ayah bertutur lembut mengelus kepalaku.


“Narak, aku ingin memberi namanya dengan nama Narak,” ucap ibu tampak bahagia menatap ayah.


“Nama yang bagus untuk wajahnya yang imut,” ucap ayah yang kudengar. Kulihat dia berucap sambil mencubit lembut hidungku.



น่ารัก Berasal dari bahasa Thai yang berarti imut. Ternyata ibu memberikan nama Narak itu semua ada alasannya. Dia menjelaskan pada ayah, nama itu berasal dari bahasa thai น่ารัก yang berarti imut. Setelah sekian lama, aku baru tahu ternyata ibu berasal dari negara Thailand yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang lelaki dari Indonesia yang kini menjadi ayahku.


Di dunia ini memang tidak ada yang tahu takdir cinta bertemu, seorang wanita itu ibuku yang berasal dari Thailand, dia menikah dengan ayahku seorang pemuda yang berasal dari Indonesia.


Cahaya putih yang menyelimuti sekitaran diriku berangsur-angsur pudar, kini perlahan menghilang, menyisakan jejak kenangan yang kulihat dengan jelas. “Ibu, ayah,” ucapku berusaha menggapai keduanya, tetapi kilas balik itu telah lenyap sepenuhnya. Bulir mataku memanas seakan ingin keluar tangis, aku menyekanya perlahan.


Pada waktu itu aku berumur tujuh tahun, aku tahu betul peristiwa itu, peristiwa kematian ayahku tercinta. Karena kematian ayah dulu ibu menjadi depresi, kematian yang membawa kabar duka seakan terlalu dalam, sangat menderita bagi ibu, bahkan aku di usia tujuh tahun itu merasakan kepedihan yang dirasakan ibu.


Tak berlangsung lama dari kematian ayah, ibu berangsur-angsur menderita sakit dan mengembuskan napas terakhirnya.


Saat itu aku jelas melihatnya, jelas sekali menusuk sanubariku yang terdalam. Sekarang, kilas balik menampilkan semua itu di depanku lagi, aku menatap jelas setiap perasaan ibu bergejolak. Kini, aku memahami mengapa ibu menderita sakit. Aku tahu itu sangat menyakitkan ibu, bahkan aku juga sama.


Sebelum itu tidak pernah aku tahu ternyata ibu meninggalkan selembar surat. Saat ini, kutatap jelas sinar kilas balik menampakkannya padaku. Lihatlah, ibu menulis bergumam; “Semoga surat ini dibaca olehnya saat dirinya sudah besar nanti.”


Ibu, aku mendengarmu. Aku mendengar apa yang kau ucapkan. Aku di sini menatapmu.


Sepertinya suaraku tidak terdengar. Kulihat, Ibu menangis mendekap surat itu. Kilas balik ini dengan jelas memperlihatkan padaku tempat ibu meletakkan selembar surat tersebut.


Aku menatapnya perlahan cahaya putih putih menghilang, bayangan ibu juga hilang semuanya. Aku terbangun meneteskan air mata. Dengan perasaan perih aku mengusap perlahan mataku. Tidak berlama-lama aku bersegera cepat menuju ke tempat ibu meletakkan selembar surat tersebut.


Dengan perasaan gugup menghela napas, apakah kesemuaan yang baru saja kutatap itu benar semuanya atau hanya pikiranku yang sedang kacau dan menciptakan bayang-bayang semu belaka? Aku tidak tahu, bahkan tanganku gemetar membukanya.


Aku membuka laci lemari itu dengan perlahan, saat laci itu terbuka terpampang di sana sebuah kotak. Aku mengambil, membukanya.


Saat membuka kotak itu terpampang surat itu masih utuh dengan bau yang begitu harum kucium. Di dalam kotak itu juga ada perhiasan milik ibu.


Perhiasan itu begitu banyak, tetapi aku tak menghiraukannya, yang kuinginkan hanya untuk melihat isi dari selembar surat yang kini ada di depan pandanganku.


Aku mulai membuka lipatan surat, saat sudah terbuka tampak tulisan yang seakan sudah berubah warnanya tampak buyar.


Kemungkinan surat ini sudah terlalu lama berada di dalam kotak ini, bukan hanya setahun atau dua tahun, melainkan sepuluh tahun lamanya surat itu terpendam di dalam sana. Memanglah, itu yang terjadi saat ibu meninggalkan dunia, dia menulisnya tepat satu hari sebelum kematiannya.

__ADS_1


Ibu, aku sudah menemukannya. Lewat suatu keajaiban yang muncul, aku bisa menatap dengan jelas peristiwa masa lalumu.


Walaupun tulisannya tampak buyar, aku masih bisa bacanya, aku sejenak diam menatap, lalu perlahan membacanya;


Anakku tersayang, umur ibu ini takkan lama lagi, ibu akan segera menyusul ayahmu. Saat kamu menemukan selembar surat ini, ibu harap kamu gunakan seluruh perhiasan yang sedang kamu lihat untuk menemui kakekmu di negara Thailand. Maafkan ibu karena tak bisa menemanimu lagi, saat kamu bertemu kakek sampaikan salam hangat ibu untuknya.


Selembar surat itu sudah selesai kubaca sekarang, juga di dalam surat itu memuat alamat rumah, tempat tinggal kakek.


Entah bagaimana? Kemungkinan kakek tidak mengetahui kabar kematian ibu sehingga dia tidak pernah mengunjungiku, aku tidak tahu. Sekilas menduga, sudah lama waktu berlalu, tetapi kenapa baru sekarang aku mengetahuinya. Jujur, saat itu perasaan sebelumnya seakan mulai mendapatkan titik temu, seperti takdir ingin menghantarkan diriku ke negara baru.


Kini aku menghela napas, merenung sejenak, bagaimana mungkin aku bisa berangkat ke sana, sedangkan tidak ada kemampuan alias aku tidak bisa bertutur bahasa Thai. Aku tidak bisa.


“Ini terasa sangat berat, aku juga tidak tahu keadaan daerah sana,” gumamku di dalam hati dengan pikiran yang terus melanglang ke mana-mana, pikiran yang bekerja mencari solusi dari hal yang terasa berat ini.


Terlintas di pikiranku sekarang seorang sosok wanita yang dulu bersamaku, aku mengingatnya. Dialah wanita itu. Ya, wanita itu adalah Wapta.


Wapta pernah bilang; dia menguasai tiga bahasa salah satunya adalah bahasa thai.


Saat mengingatnya lantas aku pun mengambil ponsel yang telah lama kuletakkan di dalam lemari. Aku harus meminta bantuan kepadanya.


Aku bergegas mengecek nomor Wapta, sebelumnya aku sudah berganti kartu, rupanya nomor Wapta masih ada, tersimpan rapi di memori ponsel.


Nomorku sebelumnya, nomor dulu yang sempat kubuang. Jika aku menghubunginya pakai nomor ini jelas dia tidak akan mengenalinya, aku harus memberanikan diri demi kebaikan dan meminta bantuan.


Aku pun menghubunginya, hampir satu bulan lamanya, tidak ada kabar sama sekali, baru kali ini aku muncul meminta bantuan.


Apa Wapta tidak marah selama aku menghilang, jujur semua ini aku lakukan demi ibuku. Tidak ada alasan lain, Wapta. Jauh di lubuk hatiku masih mencintaimu, tetapi rasa itu sudah terpendam jauh semakin jauh.


Entah Wapta akan membantuku ataupun tidak, aku tak memikirkan itu, aku refleks langsung sadar tak sadar sudah menghubungi Wapta.


Jarum jam menunjukkan pukul 00.28 tengah malam. Apa Wapta akan mengangkatnya? Astaga? Aku benar-benar refleks, saat aku hendak mematikan ponsel.


“Hallo, ini siapa, ya?” Persis suara itu menyambung dan membuatku gelagapan.


“Ini, aku Narak, teman dulu yang bekerja denganmu.”


“Oh, Narak. Apa kabar nar? Lama gak ada kabar? kamu ngilang kemana aja? kamu lagi di mana?” Seolah bertubi-tubi pertanyaan terlontarkan dengan begitu saja darinya.


“Mengenai itu nanti kita bahas di lain waktu saja, maukah kau membantuku?” pintaku kepada Wapta dengan perasaan gugup.


“Iya, aku mau. Emangnya kamu membutuhkan bantuan apa dari aku?”


“Ikutlah denganku ke Thailand, kau pernah bilang, kan bisa bahasa thai?”


“Baiklah, kapan itu?”


“Kemungkinan sabtu, kita akan berangkat ke sana, aku akan kirimkan alamat rumahku padamu.”


“Baiklah.” Persis kata itu diucapkan Wapta. Aku mengakhiri dengan ucapan salam, lalu mengirimkan alamat rumahku.


Dalam waktu sebulan, aku memendam rindu yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata, perasaan yang sama tiap malam menghantuiku, tetapi apakah benar semua perasaan ini telah kukubur jauh-jauh? Aku tidak yakin Wapta.


Entah takdir atau bukan. Mengapa di saat aku ingin melupakan rasa yang dulu kupendam, kini mengharuskan antara aku dan kamu bertemu kembali.


Entah ini awal dari perasaan cinta dulu yang kupendam akan bersemi kembali atau hanyalah sekadar meminta bantuan untuk bertemu kakek di negara Thailand sana. Aku tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2