
“Masa muda seharusnya kamu gunakan untuk mempelajari apa yang penting buat masa tuamu nanti, Narak. Seberharga apa pun benda yang saat ini kamu tatap dan incar, menghabiskan banyak waktumu dalam hal kesia-sian yang mungkin tidak ada ujungnya, itu karena kamu sendiri yang membuatnya rumit. Terkekang oleh sikapmu sendiri yang kamu tidak bisa mengendalikannya dengan bernas.”
“Masa muda seharusnya kamu gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan menjadikan masa mudamu sebagai batu loncatan untuk terus berusaha dalam meningkatkan kemampuan, keterampilan dan terus berkembang untuk membangkitkan potensi yang masih terpendam dalam dirimu, kalau boleh aku tertawa di hadapanmu sekarang. Maka aku akan tertawa lebih nyaring dari siapa pun. Aku baru saja mendengar bahwa kamu kesusahan untuk mengungkapkan isi perasaanmu kepada salah seorang wanita yang tadi kamu ceritakan padaku. Itu saja permasalahanya? Bagiku itu hanyalah masalah sepele, bahkan itu hampir membuatmu seperti orang yang tidak punya pendidikan dan tidak mencerminkan sikap seorang mahasiswa. Merindukan wanita itu di setiap saat dan sering membuatmu lalai pada waktu-waktu yang tertentu. Seharusnya kamu bisa melewati semua ini dengan sikap tangguh.”
“Jika kamu merasa merindukannya dan bahkan sangat mencintainya, mengapa hingga saat ini kamu masih saja mau terbebani oleh perasaan itu? Cinta dan benci adalah dua perasaan yang selalu ada, bisa jadi berdampingan. Lepas cinta itu berakhir, manisnya akan hilang. Kadang beberapa orang menghadapi fase terburuk, bahkan beberapa orang lagi menyebutnya fase paling terkutuk dalam hidupnya adalah rasa kebencian yang muncul pada dirinya. Bayangkanlah itu.”
“Masa mudamu adalah masa keemasan yang bisa jadi menentukan akhir hidupmu kelak akan jadi seperti apa? Maka jangan kamu habiskan masa itu hanya untuk kedua perasaan antara cinta dan benci. Cobalah kamu pikirkan lebih matang ada berapa banyak wanita selain dirinya?”
“Sewajarnya. Cintailah orang yang kamu cintai dengan batas sewajarnya, tanpa berbelit belit kamu memahaminya. Antara teman, keluarga dan lain-lainnya, kadang itulah hakikat cinta sebenarnya, saling menyayangi dan memberikan perilaku terbaik kepada orang yang kita cintai.”
“Inilah kalimatku untukmu, perkara cinta boleh kadang kapan saja. Ada sesuatu di dunia ini yang tak bisa kamu dapatkan begitu saja. Ilmu pengetahuan yang ada di kepalamu tidak akan kamu dapat, kecuali dengan belajar.”
“Berapa lama waktu yang kamu habiskan dalam 24 jam? Itu semua membuktikan kualitas seseorang untuk berkembang dari hari ke hari. Aku memberikan nasihat ini kepadamu sama seperti kebanyakan orang tua memberi nasihat kepada anaknya.”
Itulah ceramah panjang lebar yang dijabarkan langsung oleh ayahnya Martin Sirikanjana atau lebih nyaman kusebut orang berjas hitam sebelumnya. Bersamaan perginya mobil yang tadi memelesat di pandangan mataku. Kata-kata itu bergema di dalam isi kepala dan sekarang aku melamun menatap jalanan, jasad terdiam beberapa saat memikirkan sesuatu yang bahkan sulit kupahami lebih dalam.
Aku ingin menepis beberapa kata yang keliru darinya. Tapi, untuk apa? Sudahlah, aku tahu tentang hidupku sendiri, walau bagaimanapun nanti akhirnya aku berterima kasih atas semua hal apa pun dalam hidupku.
Senyuman tipisnya kala itu menatapku, semua itu masih saja kuingat. “Narak, kamu ingin tahu usaha? Usaha perjuangan hidup seorang pemuda adalah menggali potensi diri. Galilah potensi besar yang terkubur di dalam jiwamu saat ini dan soal cinta, lupakan untuk sementara atau lebih baik nanti saja. Kamu lebih berhak memahami suatu ilmu daripada sibuk dengan hal yang tidak bermanfaat.” Sejenak dirinya tertawa dengan volume suara yang kuduga dia sengaja mengatur volumenya, biar ada kesan coolnya.
Suara yang tidak nyaring, bahkan hampir tidak bersuara. Mungkin aku yang salah menilainya, itu hanya sebuah senyuman.
“Aku tidak sedang menertawakanmu, Narak. Saat kamu mengira dalam batinmu bahwa aku menertawakanmu. Maka dapat kupastikan semuanya bahwa kamu tidak terima dengan nasihat yang kuberikan.”
Tidak begitu, aku menerima semua nasihat yang diberikannya. Hanya saja mengenai kerinduan yang tengah kualami, semua ini murni tanpa kukehendaki. Dan jika kutengok ke hari-hariku, sebenarnya tidak selalu aku lupa dalam mengerjakan tugasku sebagai mahasiswa. Puluhan lembar catatan sudah mengisi setiap referensi yang kutulis sendiri dengan tanpa ragu mengerjakannya, tanpa meminta bantuan orang lain.
Tulisan dalam bahasa thai. Bahasa yang kala itu memang memberatkanku dalam mempelajarinya. Memang benar, apa yang disebut potensi dalam diri seperti membangunkan seekor singa yang sedang tertidur. Saat ia mengaumkan suara, puluhan hewan diterkam dan mendapati ia akan makanan berupa ilmu pengetahuan. Ringkasnya perut singa yang diibaratkan kepala akan menjadi berisi dengan ilmu pengetahuan. Tenaga bergerak, otak berteriak dan keduanya harus terus ada untuk mengisi waktu dari hari ke hari dan menjelajahi lebih banyak bidang untuk dikuasai. Suatu bidang kalau disertai dasar yang kukuh akan tetap tegak berdiri, walaupun tiupan angin berusaha merobohkannya.
Cita-citaku ingin menjadi penulis. Sejak dulu kala, saat aku masih kecil. Impian itu sejak lama ada. Bersamaan dengan Sajak.
Kami berdua menyampaikan masing-masing cita-cita di ruangan kelas hari itu. Pemain sepak bola sebagai hiburanku padanya.
“Cita-citaku ingin menjadi penulis novel. Saat itu aku akan terkenal di seluruh jagat alam semesta sebagai seorang penulis yang berbakat.” Suaraku bergetar dengan intonasi yang kala itu sengaja kubuat sebaik mungkin.
Sajak tertawa mendengar nada ucapanku. Yeah—penulis novel ambyar yang hingga kini tidak mampu menerbitkan satu buku pun. Hanya bisa berusaha menulis dan memulai hidupnya dengan sekilas pandang menciptakan tulisan yang seperti ini.
Bahkan katanya naskah novel ini berulangkali direvisi, ingin menyempurnakan bait kata yang ada di dalamnya. Hei? Apakah bakat menulis itu bisa kukuasai? Dan mencapai impianku untuk menjadi seorang penulis?
Bahkan, aku tidak yakin karena dulu pernah sudah banyak editor naskah geleng kepala saat menatap naskah yang kubuat. Bukan saja cacat logika, bahkan katanya terbaca aneh dan sisi ke sisinya terbayang menyebalkan.
__ADS_1
***
“Aku ingin bertanya padamu sekarang. Sudah berapa tahun kau menulis, heh?” Editor naskah kala itu menyeringai. Menatapku dengan raut wajah yang kupikir kala itu terpampang imut.
Beda jauh sama editor sebelumnya yang kutemui hari itu. Seringkali saat aku bercakap pada orang lain menilai seseorang itu dari sekilas tatapannya memandang ke arahku. Cara dia menanyakannya cukup terbilang sopan dan tidak membuatku menjadi orang yang kikuk kala berhadapan dengannya.
“Oh, tidak lama. Aku menulis naskah ini baru saja beberapa minggu lalu. Aku punya banyak inspirasi dalam membuatnya. Ini sebenarnya tulisan lama, kesekian kalinya kubuang ke tong sampah dan buat lagi yang baru dengan alur cerita yang sama, akhirnya jadilah naskah yang sekarang kau pegang itu.”
Di awal kalimat aku ingin berbohong dan terbayang dosa. Maka aku berusaha menjelaskannya dengan detail supaya tidak jatuh pada kebohongan mutlak. Sebenarnya naskah itu sudah memasuki masa dua tahun lamanya, tidak mungkin kujawab demikian rasanya aku akan terkesan di matanya seperti adonan kue basi yang berusaha dimasak berulang kali dan itu tidak sedap.
Kemungkinan tulisan berbeda. Semoga saja dia tidak memandangku seperti itu yang mana membuatku menjadi serba salah.
Editor naskah itu memeriksa lebih banyak menatap ke arah tulisanku dan mendapati banyak kesalahan. Aku memakluminya karena itulah tulisan tanganku sendiri yang memang kacau balau.
Editor naskah di hadapanku sekarang tampak menghela napas “Ya, sekarang aku ingin bertanya lagi padamu. Sebelum kau menulis naskah yang memuat cerita ini, pernahkah kau membuat yang namanya outline?” Editor naskah itu bertanya padaku.
Seketika aku menggelengkan kepala dan beda jauh dari apa yang kuharapkan. Mendengarnya saja, aku baru kali ini mendengarnya, tiba tiba dahiku secara otomatis mengernyit. Refleks sendiri menyebutkan kata, Eh? Outline? Apa maksudnya? Saat itu aku tidak mengerti.
Enggan bertanya dan kupikir sebaiknya nanti kucari di aplikasi yang terkenal bisa menjawab pertanyaan apa pun, sekarang zaman sudah memasuki era digital dan terbilang canggih, hanya saja aku jarang ingin mengetahui hal-hal seperti itu. Lebih tepatnya malas.
“Dan kali ini, aku ingin lanjut bertanya lagi padamu. Pernahkah kau melakukan riset saat sebelumnya kau memulai untuk memutuskan menulis naskah ini? Pernahkah kau menentukan karakter tokohnya akan seperti apa?” Editor naskah kali ini banyak pertanyaan.
Bukan hanya itu, melainkan ada banyak seperti bintang bintang di langit. Yang membuatku tertegun lama mendengarkan.
Pembahasan itu lumayan dia jabarkan dan memakan waktu lama. Ringkasnya pertemuaanku kali ini dengan salah seorang editor baru itu mendapatkan hasilnya suatu pembelajaran yang berharga dalam hidupku.
Meskipun pada akhirnya, naskah itu tetap ditolak dengan banyak penjabaran kesalahan yang kulakukan. Dalam waktu dua tahun aku terus menulis, sepertinya aku tidak berkembang banyak dalam hal ini.
Editor tidak terima naskah yang kacau. Kalau hanya soal tanda baca, masih bisa diperbaiki. Lain halnya saat lembaran naskah itu kacau balau dari alur cerita, berbagai hal lainnya. Ribet dan editor naskah punya kemampuan dan akal sehat untuk bersegera menolaknya.
“Silakan, kau cari editor lain saja. Ceritamu ini membingungkan, bahkan banyak tanda baca salah dan kata-katanya aneh. Kalau aku melakukan perubahan total pada naskahmu. Maka seharusnya akulah yang menyandang gelar penulisnya, bukan?” Editor itu bergurau seakan akrab denganku.
Menepuk bahuku bilang, “Kau harus semangat lagi untuk ke depannya, masih panjang waktu buatmu supaya terus berkembang menjadi seorang penulis hebat yang dapat membuahkan karya.”
Aku mangut-mangut mendengarkannya dengan takzim. Keluar dari ruangannya sambil mengusap wajah dingin akibat ac ruangan. Bingung, garuk kepala sambil mengembuskan napas, tulisanku ternyata tidak memberi banyak pada keberhasilan. Itu tidak mungkin dapat kumungkiri, aku ingat sebelumnya saat di mana bertemu dengan salah seorang editor naskah gila yang dulu menghempas naskah punyaku.
Semenjak hari itu kenangan pahitku terulang saat bertemu salah seorang editor naskah gila, aku berusaha mendamaikan suasana hati untuk beberapa saat setelahnya kutemui satu kesempatan lagi, lagi dan lagi kesempatan seakan berdatangan dan bisa kubayangkan bagai tetesan embun di daun singkong yang sesegera mungkin ingin kusentuh.
Dan hari itu kutemui salah seorang editor naskah yang berbeda dari editor gila hari itu. Editor naskah yang satu ini memberikan sikap terbaiknya kepadaku, tersenyum ramah.
__ADS_1
Namun, hasilnya tetap sama. Naskah ditolak dengan alasan yang juga hampir sama. Padahal itu naskah berbeda dari saat aku bertemu editor naskah gila yang dulu menghempas naskah punyaku.
Naskah yang dihempaskannya malam hari itu pada akhirnya kubakar, tepat di jalanan berteriak dan mendongak sambil berusaha untuk menghilangkan pikiran yang tak tentu arah tujuanku. Memang, itu pantas dibakar dan aku tidak marah ataupun kesal karena membakarnya.
Naskah baru yang kubuat seperti berhamburan di drive penyimpanan. Aku terus melakukan apa pun saran yang diberikan oleh para editor yang sudah terhitung tiga orang jumlahnya. Memperbaiki apa yang kuharus kuperbaiki.
Beberapa kali setelahnya dan telah banyak mencoba, aku terus mengajukan naskah ke editor lain dan hasilnya tetap sama, naskah itu ditolak. Beberapa bulan terlewat dalam tanggal kalender yang telah kuberi lingkaran.
Aku melangkah dengan satu langkah pasti menuju impianku selama ini, bertatap angan yang seakan kuberi satu kepingan percaya dan pada akhirnya semua itu kini tertinggal di pikiran.
Yeah—hasilnya ternyata masih sama. Naskah itu tetap saja ditolak mereka.
***
Sekarang perasaanku sudah berdamai dengan semua itu. Bahkan, sekarang aku berusaha menerima semua itu dengan lapang dada dan mengenai kemampuanku memang kuakui aku payah dalam hal menulis. Namun, di lain kesempatan nanti, aku tiba dengan alur cerita yang berbeda dari sebelumnya.
Aku akan selalu berlatih dan selalu berusaha untuk terus mengembangkan tulisan, melakukan perbaikan pada diri ini dengan apa pun yang bisa kulakukan untuk saat ini dengan sebisa mungkin, melakukan yang terbaik.
“Narak, apa yang kamu pikirkan. Kamu tidak menjawab sedikit pun perkataan yang kuucapkan.” Orang berjas hitam itu muncul menghampiriku di alam benak pikiranku saat ini membayang ke alam masa lalu.
Berdiri tegak dengan perangainya yang lumayan. Itulah dirinya, suara sedikit parau, ditambah juga dengan gaya sok coolnya yang ingin segera kutabok. Eh? Bercanda. Mana berani aku berhadapan dengannya yang punya badan kekar dan semua itu dapat terlihat di pergelangan tangannya. Satu tinju, berbalas tinju. Bisa jadi, tanganku akan patah.
Sebelumnya dia menyapa dan bicara dalam bahasa thai yang dapat kupahami maksud dari ucapannya dan kutulis menggunakan bahasa indonesia biar gampang dan mudah dipahami. Tumben, aku merasa sedikit heran saat mendengarnya, orang berjas hitam itu mengeluarkan bahasa thai yang lain dari kebiasaannya saat bicara denganku.
“Hei, kamu kenapa?” Dia bertanya. Masih dalam bahasa thai yang kupikir mengherankan.
Dia lalu mengguncang tubuhku. Semakin membuat diriku heran dan bertanya pada diri sendiri, ada apa dengannya?
“Narak! Narak! Narak!” Dia menyebut namaku berulang kali, entah mengapa bibirku sekarang seolah tidak bisa berbicara.
PLAK!
Satu tamparan kurasakan mendarat di pipiku. Aku mengusapnya dan terbangun dari lamunan yang selama ini ternyata menjeratku. Pemandangan mataku berangsur normal dan rasanya aku seperti baru bangun tidur.
Dan astaga? Aku kaget setengah malu saat mengetahui dan menatap langsung di hadapanku bahwa orang yang tadi bicara sebelumnya dan menyebut namaku sebanyak tiga kali. Itu ternyata bukan orang berjas hitam tersebut, melainkan sosok wanita.
Dialah Martin Sirikanjana sedang berdiri di hadapanku dan dialah yang tadi menampar wajahku. Astaga? Aku tidak menyangka hal demikian dan sekarang aku menjadi orang yang serba salah, bahkan sebelumnya tidak tahu apa pun. Sibuk melamun dan berkhayal membayang ke alam masa lalu dan menatap sosok ayahnya yang mengucapkan hal demikian kepadaku.
Ah. Hampir lupa, seharusnya kusebut dia dengan sebutan orang berjas hitam biar terkesan cool, itu kataku sebelumnya. Aku sekarang baru mengingatnya bahwa orang berjas hitam itu sebelumnya sudah memelesat bersama mobilnya di jalanan sana. Bagaimana mungkin sekarang aku punya gambar bayangan dirinya, ucapannya dan wajahnya bagai nyata di hadapanku. Astaga? Itu jelas hanya khalayan semata.
__ADS_1
Syukurlah, Martin Sirikanjana menamparku dan berkat itu dia menyadarkanku dari lamunan yang seolah menjerat jiwa ini, walaupun pipiku sekarang jelas terasa sakit bagai disengat lebah.
Tapi, aku tetap berterima kasih.