Daur Ulang

Daur Ulang
Bungkusan Mie Instan dan Permen Tanpa Pemanis Buatan


__ADS_3

Hampa. Bayang-bayang yang terbit seperti sinar matahari dalam kelembutannya yang menambah vitaman D bagi kesehetan, membentuk garis kehidupan yang tidak pernah bisa kulewati.


Deburan ombak itu mengiringi kertas yang semula dihamburkan dalam hitungan detik dan menit yang hilang di tengah-tengah keramaian, meninggalkan bekas kaki yang menelusuri jejak sang waktu.


***


Puuuh, aku menulis sesuatu yang bahkan tidak ada arah tujuannya.


Itulah catatan yang hari itu kutulis di buku catatan, hampir memakan satu lembar kertas hingga rasanya tidak kusangka buku catatan itu malah diterbangkan angin. Buku catatan tentang semua ini.


Buku catatan yang telah banyak melewati puluhan ribu pulau dan kota, bahkan melewati negara yang ada di dunia fantasi dipenuhi imajinasi ambyar dan berantakan.


Sebentar menatap ke arah deretan papan nama yang terpampang di sudut kilometer sana, di tempat pedalaman desa yang tak dapat diraih oleh jutaan kata. Ingin sekali rasanya kuleraikan separuh ungkapan daksa dengan mulut cibiran yang menganga. Ditatap lebar melebarkan paksa.


Di aliran sungai yang memanjang dan jalur perjalanan menuju sukma di jiwa yang kini membentang dengan kosa kata yang berlipat purna.


Ini niskala yang kala terikat, bersatu ia dalam hubungan jasa dan asa yang berikat kalimat yang mungkin didengar dusta oleh telinga, kalimat yang cuma sebatas sementara, tidak selalu ia selamanya ada di sisi seorang penduka.


Kadang di beberapa hal ada sederet penglihatan yang berubah, ada semacam warna yang menyilaukan mata. Dan lain-lainnya dalam hal ini, kupikir berdiam lebih baik daripada berbicara.


Kamu tahu tentang semua ini? Seharusnya aku tetap tegar menjadi diriku sendiri, tanpa harus repot berpura-pura menjadi sosok orang lain. Dulu pernah dalam hidupku membayang satu imajinasi dengan memakai kalimat yang aneh.


Catatan lesuh yang tak elak caci, menuturkan ucapan melalui tulisan superkacau yang pernah kutulis mengenai hujan yang turun di bulan Agustus dengan tetesan airnya yang berwarna merah. Dari langit malam itu turun ke atap rumah. Deras basah membasahi jalanan.


Jalanan hidup yang tak kunjung menemui titik kepastiannya. Jalanan hidup yang terasa kosong melompong, tidak ada spesialnya.


Dan air hujan merah pekat itu berjatuhan hingga memenuhi bejana. Terakhir kalinya kutatap di bulan Agustus, tepat di malam hari itu sang rembulan menunjukkan sinar terang. Ditatap mata semua itu memang indah, tetapi nyatanya cacat logika.


Aku seperti burung pungguk. Kamu tahu aku hanya mampu diam termenung di dahan pohon yang daunnya lebat, hanya mampu diam menatap sang rembulan di sana sambil bersuara harapan. Berharap dengan satu pengharapan yang bisa dibilang sangat mustahil untuk kulakukan. Sejauh mata memandang yang kini jarak di antara aku dan dirinya memang sangat jauh dari bumi ke angkasa, satu pertanyaan pun muncul seperti sebuah layar LED yang menyala dan patut ditertawakan. Pertanyaan sebuah ungkapan gugur di mulut tanpa bisa kusadari. Bisakah diriku yang tidak bisa apa-apa dan tidak punya apa-apa ini untuk memilikinya? Digapai tangan memang tak sampai.


Rembulan yang terang benderang di sana. Apalah daya seorang burung pungguk. Merindui sesosok rembulan dengan sebatas tatapan. Menemani malam hari itu di dahan pohon diikuti deretan bintang yang berbilang satu, dua, tiga dan empat hingga bilangan kelima ratus juta kilauan yang menawan indah di cakrawala pemikiran, hanya bisa kutatap sebentar tanpa bisa berlama-lama dengan denyutan jantung yang terasa perih mendenyut seperti tikaman senjata tajam, selayang pandang pun aku merasa seakan tidak mampu lebih lama menatapnya bagai mengikis sukma dengan dongakan kepala ringan sambil sesekali menghela napas.


Dinginnya hawa yang datang berupa tiupan angin. Melambai, meneriakan suara terasa seperti irama yang menenangkan jiwa hingga tidak bisa kubayangkan mengapa hal itu justeru membuatku kembali mengingat masa lalu. Ingatan yang muncul kala itu seakan berselancar pacu dengan kereta rusa santaclaus dan di mulai garis start itu dari ketinggian gunung es yang tingginya mencapai batas ketinggian awan. Bergemetaran kaki ini berpijak dengan tangan berpegang erat. Lantas hitung mundur. Satu ... dua ... tiga ...!


Kereta meluncur seolah aku bergugur dari sana. Irama jantung jangan ditanya. Kedipan mataku membeku, terbelalak dengan kencangnya angin yang menerpa wajahku. Hingga aku tidak sadar telah mencapai bawah. Pemandangan ternampak seperti hamparan tikar yang empuk dengan busa-busa berwarna putih bersih.


Rusa itu kembali membawaku terbang ke langit. Aku duduk menikmati dan menatap pemandangan hingga rasanya tak peduli apa pun lagi, riang gembira. Seakan aku telah menemukan sesuatu yang baru dan melupakan berbagai macam nestapa dalam hidup yang terasa tidak apa-apa hingga rusa itu terus terbang dan membawaku menatap dunia yang amat kecil di depan mataku. Dan semua ini teramat jelas mengenai pemikiranku yang cacat logika.


Kisah pilu tidak melulu mampu kuleraikan dalam goresan tinta layu berdaun kelabu. Pernah dulu dalam hidupku membayang sebuah samudra kata yang luasnya tak terkira dari sisi ke sisinya hingga memenuhi seisi bumi dan airnya tumpah dan berserakan semuanya di luar angkasa. Fiks, semua ini cacat logika. Tapi, ada dua hal bagiku mengenai peristiwa itu yang memang nyata dan tidak cacat logika. Pertama, pernah dulu dalam hidupku mencintai seorang wanita yang tak kunjung bisa kukatakan kalimat itu kepadanya. Kedua, pernah dulu dalam hidupku memandang dalam diam lalu memendamnya dan tersimpan dibalik tatapan secara sembunyi aku selalu merindui tentang sesosok wanita yang tak kunjung kutemui dirinya di titik temu. Di antara sejuta kepingan sendu dan ragu. Bersikukuh diri ini dengan kalimat rindu yang tanpa kupeduli itu menyiksa diriku sendiri.


Kamu tidak tahu seperti apa rasanya? Itu seperti lagu favoritmu yang kamu ingin putar menggunakan DVD dan belum sempat kamu mendengarnya, seketika listriknya mati. Sesederhana itu, mengenai rindu yang berasa mengganjal di dalam hati.


Aku tahu ini berbeda dengan persepsi milikmu. Setiap orang punya definisi dan pemikiran masing-masing. Keliru? Silakan debat terbuka di hadapan umum.


“Narak, kamu itu sepertinya terlalu naif dalam mencintamu wanita itu.”


Orang berjas hitam itu sepertinya ingin memulai ceramahnya padaku. Aku menatap senyum dan masih tidak menjawab.


Sejuta kata nasihat. Kalau aku tidak bisa menerimanya itu percuma. Dalam hal ini aku harus bersiap mendengarkan.

__ADS_1


Sejauh ini dalam kehidupanku memang tidak suka ceramah yang menghakimi. Aku tidak suka dinasihati dengan gaya sok tahu seperti itu. Karena dari dulu hingga sekarang aku selalu merasa hidup sendirian dengan persepsi milikmu sendiri, tanpa peduli banyak terhadap orang di sekitarku.


Beberapa hidup yang kulalui kadang memang membingungkan seperti garis coretan di kertas. Ada satu dua peristiwa yang kulewati bersama Wapta dan beberapa rekan kerja kala itu berasa hidup seperti aliran sungai yang terus mengalir.


Aku mengikuti gaya mereka yang akrab satu sama lain. Walaupun di lain sisi ada hal yang berbeda, aku seorang munafik yang tidak pernah menganggap banyak hal. Wapta dan Jazu, juga beberapa rekan kerja. Bahkan Big Boss dengan perangai galaknya.


Semua masa lalu pada akhirnya terlewati bagaimanapun rasanya mau itu pahit atau asam sekali pun dan pada akhirnya semua itu hanya akan menjadi bayangan yang tak kunjung kumengerti. Satu dua penjelasan di perpustakaan kadang kutemukan.


Beberapa waktu kemudian, dalam hitungan tidak lama, penjelasan mengenai kehidupan itu lenyap tak berbekas dari kepalaku dan isi kepalaku kembali menguraikan renungan panjang yang terlebih semua itu sia-sia, mengingat masa lalu yang terus terbayang.


Aku menatap sekilas orang berjas hitam di sebelahku yang tengah menyetir dan memulai diri hendak menceramahiku mengenai kehidupan yang tengah kulalui.


“Saya meminta maaf akan semua ini. Anda benar, saya memang terlalu naif. Saya juga tidak bisa menjelaskannya kepada Anda. Bukan karena apa-apa, saya memang tidak bisa menjelaskannya dan entah mengapa bagi saya itu terasa susah.”


Orang berjas hitam itu kini tampak tertawa dan memelankan suaranya. “Narak, kamu tidak perlu menjelaskannya padaku dan menjelaskan semua itu untuk apa?”


Dia seakan tidak ingin membiarkanku menjawab perkataannya. Hendak rasanya dalam hati kujawab, tetapi dia lanjut bicara dan seperti menegahku bicara, “Kamu tidak perlu menjelaskannya karena aku sudah mendengar semua ceritamu, Narak. Ceritamu tentang bagaimana kerinduan yang hanya dirimu tahu seberapa kedalamannya dan luasnya. Narak, kupikir tentang dirimu itu mempunyai pengalaman hidup yang memang membingungkan, kamu orang yang betah berada di fase itu terus menerus dan itu tidak membuatmu bosan? Sungguh, kamu manusia hebat.”


Itu berlebihan dan aku tidak menyukainya. Orang berjas hitam itu tampak tersenyum dengan kalimat pujiannya yang kurasakan semerbak memenuhi seisi mobil. Sementara aku saat itu kehabisan kosa kata dan sebaiknya apa yang kulakukan sekarang adalah memilih berdiam diri. Orang berjas hitam itu berbasa-basi sebentar denganku tampak sambil menginjak pedal gas.


Detik ke detik saat mobil hitam itu memelesat dengan kecepatan maksimal yang tak bisa kubayangkan bagai membelah jalanan kota, beberapa pengendara tampak menjauh seakan memberikan jalan.


Dengan gesit membelok dan menyalip pengendara lainnya seperti jalanan itu bebas hambatan dan menjadi miliknya seorang yang sesuka hati menerobos dan menyalip pengendara lainnya. Melewati puluhan mobil dan truk. Kecepatannya sangat tidak bisa kubayangkan.


Aku mengusap wajah, berderaian rasa takut dalam diriku. Dengan kecepatan seperti itu rasanya terbayang di otak tentang kematian dan sekumpulan darah.


Astaga? Aku menggelengkan kepala. Jantungku berdetak hebat dan perutku terasa mengecil. Kupegang sebentar. Aku mengusap wajahku lagi untuk kedua kalinya, berbeda dengan Martin Sirikanjana yang fokus di kursi belakang menatap buku dan tampak tidak risau sama sekali.


Itulah alasanku. Orang berjas hitam itu seperti menatap maklum, sepertinya. Aku bersyukur kecepatan mobil kembali normal.


“Kamu tahu jam berapa sekarang?” Orang berjas hitam itu menatap tanya.


Aku bersegera menengok jam tangan. Benar saja, sebentar lagi pelajaran kuliah akan di mulai. Ini sudah hampir telat. Aku baru sadar ini karena sebelumnya kami terlalu sibuk berbicara mengenai ini dan itu hingga akhirnya itulah yang terjadi. Waktu terus berdetak dari menit ke menit.


“Itulah alasanku, Narak. Kulihat kamu takut dan beralasan seperti itu padaku, kamu tidak perlu takut karena di setiap hari aku melalui jalanan. Semua ini sebenarnya sudah terbiasa kulalui dengan kecepatan maksimal dan sapulah wajahmu itu yang kulihat sekarang di dahimu bersimbah air peluh.” Orang berjas hitam itu menatapku dan kini memberiku tisu.


Yeah—memang benar ternyata, keringatku di area dahi berguguran, detak jantungku berangsur pulih dari degupan kencang sebelumnya dan terasa lega saat mobil hitam itu kembali melaju di jalanan dengan kecepatan normal. Selama ini dalam hidupku, tidak lama hampir dua tahun lalu, aku merasa takut sendiri pada yang namanya kematian, entah mengapa beberapa hal mengenai kematian yang sering terbayang bahkan pernah membuatku pingsan, tidak sadar selama hampir hitungan waktu tujuh belas jam.


Merasa khawatir mengenai pertanyaan hidup yang belum bisa kujawab.


Aku pernah menulis beberapa pertanyaan singkat dalam hidupku sendiri yang hingga kini semua pertanyaan itu belum bisa terjawab olehku, tentang siapa yang nanti akan menjadi sosok kekasih halalku dan bersamanya dalam hitungan menit, jam, bulan dan tahun atau selamanya kekal bersemayam dalam hidup dan ruangan batinku yang membentuk sebuah kenangan dan cerita yang entah bisa kutatap bahagia ataukah tidak, juga tentang pertanyaan apakah aku bisa merasakan masa depan yang cerah seperti keberhasilan meraih semua impian yang selama ini aku ingin menjelajahi dunia ini dari satu tempat ke tempat lainnya dan pertanyaan terakhir dalam hidupku adalah tentang di mana tempat kematianku? Tempat terakhir aku hidup di alam dunia ini.


Mengenai pertanyaan terakhir, aku tidak ingin membayangkannya sekarang. Bahkan peluh keringatku pelan kusapu dengan sehelai tisu dan berusaha saat ini menenangkan perasaan yang sebelumnya bergejolak hebat.


Pertanyaan pertama dalam hidupku belum bisa kupastikan sepenuhnya apakah benar Wapta memang jodohku atau bukan?


Di lain sisi yang kala aku bergeming, menatap datar ke bola api raksasa yang bersinar di langit. Seringkali saat itu aku melamunkan hal yang tidak bisa kumungkiri dari hanya sebatas ingatan dan aku telah menyadari semuanya, bahkan begitu jelas bagai kutatap suatu pengetahuan matematika dasar yang tak sebanding dengan hal ini. Mengetahui sekilas tentang hal itu mustahil rasanya kalau sampai sekarang diri ini masih bersikukuh diam dan membungkam, tanpa mengatakan sepatah kata pun mengenai perasaanku secara langsung kepadanya. Dari dulu dan sejak lama aku bersamanya yang saat ini berpisah jarak baik raga maupun komunikasi, beda negara. Kuharap perasaan yang masih terpendam ini akan menemui titik temunya dan sampai sekarang aku masih bisa merasakan semuanya. Perasaan yang seakan kekal.


Merasakan bagaimana cinta dan kerinduan itu hadir padaku. Bagaimana rasa itu terasa seperti kenyataan yang hinggap dan bersenandung ria dengan irama yang membuat mataku susah terlelap tidur. Pada malam-malam yang dipenuhi kerinduan kepada dirinya seorang.

__ADS_1


Kutatap saat kepergian pesawat yang membawa sosok yang kucintai. Hanya mampu menatap di balik kaca bandara. Pesawat yang terbang memelesat dan menghilang, tak lama menembus awan.


Bungkusan mie instan dalam bentuk kemasannya yang indah itu ternampak di genggam salah seorang anak kecil. Dia memberikannya padaku.


Aku heran hendak bertanya, tetapi belum sempat mengucapkannya, anak kecil itu malah berlari menghampiri seorang wanita yang mungkin itu adalah ibunya. Mereka berdua kompak saling mendadah padaku.


Aku balas mendadah juga dengan senyuman. Entah mengapa aku masih menatap bungkusan mie tersebut? Dan saat itulah ternyata dibalik bungkusan mie instan dalam bentuk kemasannya yang indah itu tersimpan sebuah surat yang dilipat-lipat. Astaga? Kulihat ini seperti sebuah kejutan yang dapat kurasakan.


Aku tidak pernah menyangka hal demikian. Itu surat dari Wapta. Aku membuka perlahan surat tersebut dengan jantung berdegup.


...Narak, aku menitipkan surat ini pada salah seorang anak kecil. Oh, ya. Saat anak kecil itu memberikan bungkusan mie instan ini padamu, apa yang kamu ucapkan padanya? Jangan lupa berterima kasih, jangan jadi orang sombong, ya di sana. Ingat selalu pesanku ini, awas kalo sampai lupa!...


...Hmm.. kita berpisah hari ini, ya. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi....


...Surat ini dari Wapta. Katanya dia sekarang lagi berada di dalam pesawat, titip salam buat Narak yang di situ sedang senyum....


Kamu tahu, Wapta. Itu seperti permen tanpa pemanis buatan yang kuterima. Manisnya alami seperti dirimu yang kala marah dan mengoceh dengan perangaimu yang kusukai dari dulu hingga sekarang.


Kuharap bungkusan mie ini memberikan suatu kabar baik di suatu saat ini. Hingga beberapa bulan berlalu dan bungkusan mie itu hilang entah kemana? Aku lupa benar-benar meletakkannya.


Berjam-jam mencari. Hasilnya tidak ketemu, aku mendesah resah dengan suara sedih.


Aku meminta maaf karena di hari itu, tanpa sengaja aku telah menghilangkannya, entah mengapa sepertinya lagi dan lagi aku seakan melakukan kesalahan kecil yang aku sendiri merasa aneh dan itu tanpa sengaja.


Apakah ini suatu pertanda bahwa kami berdua memang tidak berjodoh?


Aku mengembuskan napas. Seseorang di sampingku memakai setelan jas hitam menatap, lantas bertanya padaku tentang siapa yang salah atas semua kejadian yang telah terjadi? Jawaban tentang semua itu kupikir semuanya sudah diketahui sejak lama. Terlewati jauh dari bab sebelumnya.


Aku menjawab tegas bahwa memang akulah yang salah atas semua ini dan selama ini akulah orang yang selalu merasa benar dalam segala hal tindakan dan dalam berbagai kesempatan buta mata yang tidak bisa semuanya kuulang kembali.


Mungkin saja sekarang Wapta sudah berubah dan malah membenciku dengan segala apa yang telah kulakukan selama ini.


Menghilang darinya tanpa kabar dan tanpa sepatah kata mengucapkan kalimat tanya.


Kalaupun ribuan kata maafku melambung tinggi ke awan terus mencapai atmosfer atau bahkan luar angkasa dan Galaxy hingga kata maaf itu memecah menjadi partikel kecil dan berserakan ke segala arah. Kupikir kata maaf itu sudah tak berarti apa-apa lagi saat Wapta benar membenciku. Kesalahan terbesar dalam hidupku yang pernah kulakukan dulu.


Pertanyaan terpenting bagiku dalam hidupku saat ini adalah apakah Wapta sekarang membenciku? Aku harus tahu jawabannya, itulah sekarang aku ingin berangkat menuju ke Indonesia untuk tahu mengenai semua kebenaran dari pemikiranku yang tidak menentu dan tidak tahu titik arah penelusurannya. Dari semua yang kubayangkan ini semacam coretan yang bisa mengacaukan pikiran.


“Narak, sepertinya saat ini kamu berpikir negatif.” Orang berjas hitam itu menyela apa yang kukatakan tentang diriku sejak tadi.


“Bukankah selama ini kamu tidak pernah mengatakan cinta kepadanya?” Dia lanjut bertanya seperti memastikan.


“Jika kamu benar-benar seorang pelajar. Suatu saat kamu akan tahu sendiri mengenai jawaban semua itu, saat ini kamu harus bisa menghilangkan semua pikiran negatif yang ada di dalam dirimu. Kamu harus bisa melakukan apa yang terbaik bagi masa mudamu sekarang, Narak. Seperti kebanyakan apa yang orang tua inginkan pada anaknya. Belajarlah menjadi sosok pemuda yang bisa mengambil pelajaran dari hanya sekadar mengingat masa lalu.”


Orang berjas hitam itu kini menyuarakan ceramah padaku. Berlagak dengan perangai sok bijak dan sok akrab. Namun, di lain hal dari itu kurasa dia hanya ingin menghiburku dan berusaha menenangkan perasaanku yang tengah kurasakan.


Aku menatap angguk dengan senyuman sederhana. Perbincangan kami di dalam mobil hitam yang terus melaju di jalanan itu tidak terasa mendekati tempat kuliah. Hingga tak terasa pemberhentian mobil di tempat parkir, aku tidak bicara lagi.


Langkah kaki ini turun dari mobil diikuti Martin Sirikanjana dengan wajah yang berusaha kuatur agar tetap ceria.

__ADS_1


Orang berjas hitam itu melambai dengan senyuman hangat ke arah kami. Hingga rasanya entah mengapa aku menatapnya seperti seorang ayah bagiku.


Selama ini aku memang tidak pernah merasakan seperti apa sosok seorang ayah. Dengan masih kutatap, dia berlalu pergi dan mobil hitam itu kembali memelesat di jalanan. Sampai hilang seluruhnya di dalam pandanganku, aku masih tertegun membayang dengan perasaan kacau.


__ADS_2