Daur Ulang

Daur Ulang
Pesona Gajah Putih Part 01


__ADS_3

Aku bersama Wapta sekarang telah tiba di kota Bangkok ibukota negara Thailand, negara yang dijuluki orang dengan sebutan Gajah Putih.


Jauh di dalam benak pikiranku rasanya aku tak pernah menduga, hari yang kini kujumpa, benar-benar melukis senyum bahagia. Tiada sanggup kujelaskan, lihatlah kaki ini telah berpijak di negeri Gajah Putih.


Kalau bicara tentang sejarah, aku diam membungkam seribu bahasa, kenapa negara Thailand dijuluki dengan Gajah Putih? Jelaslah, aku tidak mengerti alasannya.


Pertanyaan itu tebersit di dalam pikiranku saat ini seakan ingin berkutat lebih lama, lebih letih pun tak apa, aku ingin memikirkannya, tetapi terhalang ilmu dan kenyataan yang ada, ingin bertanya, tetapi dengan siapa aku bertanya?


Wapta juga tidak begitu mengenal sejarah, aku sekilas tahu dia dari dirinya sendiri yang tidak suka bercerita, bahkan mendengarkan cerita.


Wapta bukan orang yang suka bertele-tele, melainkan dia lebih suka menonton drama korea, bernyanyi-nyanyi membuatku seperti orang yang mendengarkan tidak jelas.


Aku tidak mengerti alasan dia menyukai korea, terutama group band k-pop sebagai seorang lelaki aku harus menghormatinya, itulah yang suka darinya. Banyak lagi yang lain, tidak aku sebutkan.


Sekadar prangsangka yang belum tentu kebenarannya, lebih baik aku mencoba mempertanyakannya. Siapa tahu Wapta bisa menjawab pernyataanku; “Wapta, apa kau tahu alasan kenapa Thailand dijuluki orang dengan sebutan Gajah Putih?”


“Aku tidak tahu, apakah itu mengganggu pikiranmu, Nar? Tidak usah kau pikirkan itu, lupakan saja.”


Aku diam, Wapta dengan semangat menarik tanganku. Kami berdua telah tiba di kota Bangkok, ini pengalaman pertama bagiku, jalan-jalan ke negera orang lain, jauh rasanya melelahkan.


Padahal, Thailand masih di Asia Tenggara. Jangan sebut aku lebay karena ini adalah pengalaman pertama yang bahkan kaki ini gemetar mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru.


Rasa lelah telah mendominasi seluruh perasaan. Rasa ingin merebahkan tubuh ke ranjang yang empuk, tidur pulas dengan nyenyak. Embusan napas kala itu menyertai gumaman hati ingin beristirahat.


Tibalah kami di salah satu hotel yang tak jauh dari kota Bangkok, hotel itu bernama Gaam Hotel, tempat penginapan yang terbilang murah menurut Wapta.


Alat tukar mata uang Bangkok bernama Baht, uang yang tak pernah kupegang. Selama ini aku selalu memegang uang rupiah, sebelumnya kami telah menukarkan alat mata uang.


Ini benar-benar pengalaman pertama yang kurasakan sekarang berada di bukan negara sendiri, melainkan negara orang yang terbilang sangat memanjakan mata karena memandang keindahan yang ada di dalamnya.


Ketika memesan kamar hotel, aku menatap cukup kagum terhadap Wapta, dia berbicara dengan sangat lancar dalam bahasa thai.


Bahasa yang kupelajari, sampai-sampai aku menggigit jari, membanting sesuatu yang membuatku tenang. Karena begitu sulit bagiku saat itu dalam memahami dan menguasai bahasa tersebut.


Dua kamar telah dipesan Wapta, kami berdua menuju ke kamar masing-masing. Tidak jauh, kamarnya berdekatan.


Kulihat Wapta sudah masuk ke kamarnya. Sementara aku masih membuka kunci kamar milikku. Saat kunci kamar terbuka, aku menatap ruangan kamar sejenak. Diam di depan pintu kamar, setelah puas menatap tidak tanggung-tangung lagi, saat itu aku langsung berlari cepat menuju ranjang, merebahkan tubuh ke sana.


Jelas sudah rasanya, kurasakan nyaman ada tiupan hawa dingin yang berasal dari AC mampu membuatku semakin mengembuskan napas lega, melepas rasa lelah sebelumnya.


Usai bangun tidur. Aku merasa seluruh badan lelah letihku sudah hilang. Saat itu, aku mengambil buku catatan, lalu menulis imajinasiku yang berdatangan.


Inilah yang sering terjadi padaku, menulis imajinasi yang kadang dengan sekejap datang, lalu sekejap hilang. Kadang-kadang aku mendongak, mencari inspirasi agar ia terus berdatangan ke dalam benakku.


Menulis adalah hobiku sejak dulu dengan sesuatu yang tak pernah bisa kubayangkan, kata-kataku tersusun dengan sendirinya, tangan ini bergerak menulisnya.


“Aku memahami sedikit arti tentang lelahnya perjalanan, selepas lelahnya itu aku beristirahat dan saat lelah itu hilang, aku merasakan perasaan yang nyaman, apakah kesedihan juga begitu? Perasaan tetaplah perasaan, aku rasa kesedihan juga sama.”


Tulisan yang sedang kutulis dalam buku catatan punyaku.


Aku terdiam mengusap wajah, lalu mengembuskan napas panjang ke telapak tangan, kembali mengusapkannya ke wajah.


Inspirasi datang seakan manisnya madu, begitu tidak aku sangka. Walaupun tebersit pertanyaan ringan di dalam benakku.


Apakah semua kata yang baru saja kutulis itu benar atau tidaknya sekilas dugaan aku bukanlah orang bijak seperti orang-orang di luaran sana, melainkan aku hanyalah sekumpulan debu yang terlupakan, bahkan diinjak pun aku tak apa, walaupun sakit itulah mungkin nasibku.


Aku tak ingin banyak memikirkannya, aku menutup buku catatan itu, lalu meletakkannya di samping lampu tidur.


Saat itu, aku termenung lagi sejenak membuka jendela kamar. Di sana, terlihat kota Bangkok yang begitu indah.

__ADS_1


Waktu malam hari yang belum bisa kujelaskan lebih detail lagi, aku selalu berusaha belajar menulis ingin menjelaskan apa yang kulihat menggunakan majaz-majaz agar terkesan indah, tetapi sekali lagi aku sudah berusaha.


Aku benar-benar sulit melakukannya, bahkan perasaan ini seakan mengajakku untuk menyerah.


Saat ini pun kenangan masa lalu masih saja menghantuiku, mengusik pikiran dan perasaanku.


“Hal yang aku bisa lakukan hanyalah merenungi masa lalu yang sudah terlewat jauh, aku ini memang lemah saat ketika mengingat semua kenangan pahit, entah mengapa aku hanya bisa bersedih, bahkan rasanya aku tak mampu menjelaskan lebih panjang ke orang lain.”


Aku bergumam di dalam batin, menatap lampu-lampu yang bersinar terang di setiap bangunan toko dan gedung tinggi nan kokoh di hadapanku.


Sebenarnya perasaan apa ini? Sampai sekarang aku masih saja belum mengerti tentang perasaan, apa yang kutatap saat ini adalah jutaan lampu bercahaya menerangi malam. Lihatlah, lampu itu berasal dari jendela-jendela gedung dan lain sebagainya.


Aku lupa memberi tahu Wapta bahwa besok adalah pencarian kami untuk menemukan tempat tinggal kakek.


***


Pagi itu. Masih redup cahaya matahari, Wapta mengetuk pintu kamarku, lantas setelah kubuka dia mengajakku berkeliling menjelajah, menelusuri kota Bangkok.


“Tidak, aku tidak mau!” jawabku ringkas lanjut menatapnya serius, “Bukankah sebelumnya sudah kukatakan aku datang ke negera ini hanya untuk bertemu kakek, jadi aku tidak ingin membuang waktu sia-sia.”


“Ayolah, Nar! Kapan lagi kita bisa ke sini, aku ingin tahu lebih banyak tentang negara ini, temani aku.” Wapta mencoba membujukku dengan alasannya yang jujur membuatku juga ingin mengetahuinya.


Mengetahui sejarah, ingin tahu lebih banyak tentang negara kakekku berada, siapa tahu di jalan nanti aku bertemu dengan salah seorang yang mungkin bisa jadi sahabat dekat. Ketertarikanku dengan bahasa thai juga cukup membuatku semangat berjuang lebih untuk bisa menguasainya. Jujur, itulah bahasa yang tersulit bagiku untuk pelajari.


“Baiklah, aku mau.”


“Yeah!” Wapta bersorak girang.


Dengan itu kami berdua telah sepakat untuk menjelajahi kota Bangkok. Dikarnakan hari yang masih terlalu pagi, maka masing-masing dari kami saling bersiap diri.


***


Katanya Wapta lumayan sambil menjelajah kota Bangkok, menjadikan kota Hua Hin sebagai titik akhir dari perjalanan kami.


Menurut Wapta di kota Hua Hin terdapat sebuah pantai yang begitu indah. Di sana lebih-lebih nikmah suasananya, hawanya nyaman. Sebelum berangkat, Wapta si tukang pamer itu memberitahu sedikit tentang sejarah kota Hua Hin.


Jelas sekali, sepertinya dia seakan berubah dari sebelumnya. Aku heran tidak ingin bertanya atas perubahan sikap yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan kami melihat-lihat kota Bangkok terlebih dahulu.


Menyusuri perkotaan yang dipadati orang-orang. Wapta saat menumpang mobil angkutan umum, sebut saja begitu dia kembali menceritakan sejarah kota Hua Hin yang katanya dulu kota Hua Hin hanyalah sebuah kampung nelayan, tetapi pada kemudian hari di sulap menjadi kota, lalu di sulap lagi menjadi tempat wisata.


Aku hendak tertawa mendengarnya bercerita. Apa benar begitu? Main sulap-sulapan. Haha, saat mendengarkannya, aku hanya mangut-mangut. Sementara, Wapta terus saja berbicara tanpa habis-habisnya kurasa.


Aku yang sekarang sudah berbeda dengan aku yang dulu, tidak sama seperti yang kalian bayangkan. Tapi, bicaraku masih saja tidak beraturan, itulah yang sulit aku kendalikan. Bahkan, tulisanku masih saja berantakkan.


Berlalu waktu, kini aku hanya duduk diam, menikmati perjalanan menuju ke pantai. Jelajah kota Bangkok telah usai, telah banyak tempat yang kami kunjungi, rasanya luar biasa.


Dengan sebotol minuman kesukaanku yang menemani perjalanan ini. Selebihnya sekadar penjelasan mengenai minumanku adalah jus jeruk dengan botol orange. Ya, kau tahu itu? Benar, kan? Jika tak tahu, ya sudahlah untuk apa juga menyebutkan merek nanti dikira iklan.


Saat di perjalanan itu, banyak suara yang kudengar, tetapi sayangnya aku tidak bisa memahami bahasanya. Sulit sekali rasanya.


Entahlah, suara itu laksana angin yang bertiup menerpa daun pohon, menghasilkan bunyi yang tidak bisa dimengerti.


“Ini ... membuatku pusing, menyebalkan kenapa aku tidak bisa menguasai bahasa yang orang lain bisa,” gumamku memperhatikan sekitar yang tampak saling bercengkrama.


Kemudian seorang kakek tua tampak menghampiriku. Dia berkata, “ขอฉันนั่งที่นี่ได้ไหม? (k̄hx c̄hạn nạ̀ng thī̀ nī̀ dị̂ h̄ịm?)”


Dalam pikiranku mendengar bahasa itu tidak lain, tidak bukan seperti ini;


“@£÷&$&@£×£#&×¥.” Aku belum dapat memahami apa yang dikatakan kakek itu. Jelasnya aku bukan asli orang Thailand, melainkan aku warga negara asing yang tak tahu menahu soal itu.

__ADS_1


Aku termangu hingga Wapta membisikkan sesuatu ke telingaku, “Jawab saja โปรด (pord)”


Aku yang mendengar bisikannya, saat itu juga aku langsung mengucapkannya, “โปรด (Pord) ....”


Kemudian kakek tua itu langsung duduk di sampingku, memberikanku sebatang coklat yang terbilang mahal, Ya, mahal!? Kau tau itu, seperti sebelumnya merek tidak disebutkan nanti dikira iklan.


Kakek tua berbicara kepadaku panjang lebar seolah-olah menceritakan sesuatu, aku yang mendengar semua itu, hanya mangut-mangut, sedikit merasakan pusing yang teramat dahsyat.


Bintang-bintang berkeliling di atas kepalaku, bulan-bulan malah menertawakanku, planet planet malah ikut berputar kompak bersama bintang, dua benda langit itu kompak membuatku linglung. Ah, ini begitu menyebalkan!


Aku mengeluh di dalam batin. Yakin, siapa pun tak akan bisa mendengarnya, kecuali orang yang bisa membaca pikiranku atau menatap ekspresi anehku, sejak dulu bahkan saat bertemu Aiban aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah.


Aku mengakuinya orang yang mampu menyembuyikan kesedihan adalah orang yang benar-benar kuat di dunia ini.


***


Ketika tiba di pantai Hua Hin, apa yang terbayang lelah di pikiranku sekarang sudah menghilang. Bahkan, semua hal yang menganggu pikiranku telah hilang sudah.


Pemandangan lautan yang jernih seolah menghapus jejak pikiran yang sedang kacau, entah bagaimana? Itu aneh.


Wapta mengajak aku bermain ke tengah laut. Di sana kami saling bermain lempar-lemparan percikan air satu sama lain. Ini seperti anak kecil saja, aku tertawa setiap kali mengibaskan air ke wajahnya.


Sekadar penjelasan saat ini di tengah laut itu dangkal dengan ketinggian air sebatas dada, kami leluasa bermain di situ, memang sekarang air laut sedang surut, ombak kecil pun terus menerpa bebatuan menghasilkan buih-biuh kecil bekas terpaan ombak. Ya, begitulah. Suasana pandai.


Pada saat itu, Wapta berlari ke arah pantai dengan tertawa meninggalkanku sendirian di tengah laut. Aku jelas heran mengapa dia meninggalkanku. Apa alasannya? Aku cukup menatap malah ikut tertawa.


Saat jauh dariku. Aku masih berada di tengah laut. Wapta berteriak sangat keras, “ฉันรักคุณ (c̄hạn rạk khuṇ)!” Mendengar itu, aku jelas kebingungan apa yang diucapkan Wapta. Sebenarnya apa maksud dari ucapannya itu yang seakan membuatku tak mengerti dibuat olehnya.


“Dasar! Mentang-mentang bisa bahasa thai, seenaknya teriak-teriak,” gumamku dalam batin. Ya, memang begitulah. Karena keterbatasan pengetahuan yang kumiliki, maka rasa malu membuatku mengumpatkan kekesalan, entahlah.


Rasa-rasanya aku pernah membacanya di suatu kamus hari itu. Sudahlah, aku tidak ingin memperdulikannya.


Sebenarnya ada banyak tempat yang belum kami kunjungi saat ini, hanya sekadar melalui waktu begitu saja.


Aku menghampiri Wapta yang baru saja berteriak tidak jelas, menatap penuh tanya; “Kenapa? Kenapa kau berteriak begitu tadi?” tanyaku kepada Wapta.


“Tidak, tidak ada apa-apa, aku cuman mau berteriak dan bikin kamu penasaran,” jawab Wapta yang tampak aneh. Lihatlah, dia seperti orang yang sedang berbohong.


Entahlah. Aku tidak ingin menduga-duga. Jangan-jangan dia mengejek penampilanku.


Daripada itu lebih baik makan. “Aku tahu, kamu pasti lapar. Ya, udah kita makan!” Aku mengajak sambil menarik tangannya ke salah satu restoran.


Wapta tampak mengiakan, kami pun berganti pakaian, sebelumnya pakaian yang kami kenakan itu sekarang sudah basah habis bermain di tengah laut.


Untunglah, sebelum berangkat Wapta memberitahu agar membawa pakaian ganti untuk nanti di pantai Hua Hin. Syukurlah, kami membawa persiapan lengkap sebelum berangkat ke sini.


Usai berganti pakaian, kami berdua kembali saling bertemu. “Oke, kita hendak ke restoran mana, Nar?” tanya Wapta kepadaku yang juga aku tidak tahu hendak kemana.


“Serahkan saja kepadaku, aku jamin pilihanku yang terbaik!” ucapku seakan membanggakan diri, padahal aku saja tidak tahu yang mana restoran terbaik, hanya berdasarkan pemikiranku saja.


Itulah diriku yang tidak ingin dipandang rendah, tetap memaksa walaupun kenyataannya tidak begitu.


Wapta tahu betul tentangku. Dia hanya tertawa mengatakan kamu saja tidak pernah ke sini bagaimana kamu tahu persis tempat ini. Haha, benar apa yang dikatakan Wapta.


Aku terus mengelawak, Wapta tampak tertawa mendengarkannya, walaupun memang tidak suka, dia kadang mengatakannya demikian, senyumanku mungkin akan terlihat. Aku susah menyembunyikan ekspresi wajahku.


Wapta, tahukah kamu bahwa aku mencintaimu, mencintaimu semua tentangmu, mencintai dan terus mencintai.


Di pantai Hua Hin ini sepertinya terdapat banyak restoran sampai aku bingung memilih yang mana, ya sudahlah Railway Restaurant saja. Di restoran itu mungkin lebih nyaman kujadikan sebagai tempat kami makan.

__ADS_1


__ADS_2