
Melewati waktu ke waktu. Aku menyadari tak perlu banyak yang dipikirkan, aku melewati hari ke hari dengan penelitian usai lulus dari universitas. Profesor berambut putih itu menemaniku melakukan kajian terbaru terhadap mesin waktu. Maaf, aku salah sebut maksudku aku membantunya, dialah yang ingin menciptakan mesin waktu. Dengan harapan, aku ingin kembali ke masa lalu. Mesin waktu ini, tentang angka dan tentang dinamika ruang dan detak yang selama itu ada di kekosongan.
Aku menulis catatan seperti tulisan cacing yang tak akan bisa dibaca kecuali olehku sendiri karena akulah yang menulisnya. Mesin waktu ini, sudah hampir siap.
“Profesor, mesin waktu ini, biarkan saya saja yang memberinya nama. Karena saya yakin, ini suatu pengharapan saya bertemu dengan seseorang di masa lalu saya.” Kuucapkan dengan catatan yang kupegang.
Aku sudah memperkirakan di catatan nama apa yang kuberikan, aku mencatat nama-nama lalu memilah milih mana yang akan kuambil. Dengan itu aku yakin seyakin-yakinnya mesin waktu ini akan membawaku bertemu wanita yang sejak lama aku menyesali perbuatanku sendiri, rasa rela yang membuatku sadar aku telah bersalah.
“Silakan kau beritau aku tentang gagasanmu, tetapi nanti saja. Berilah ruang sebentar, aku ingin meneguk air teh dan kau tau lelah rasanya, aku ingin bersantai.”
Profesor itu mengatakan dengan ucapan khas yang selalu membuatku hendak tertawa. Serta gaya yang membuat suasana menjadi mencair. Aku menyukai sifatnya dalam hal perihal caranya mengobrol selalu menyenangkan.
“Maafkan saya, Prof. Saya terlalu menganggap hal ini adalah suatu pencapaian yang amat saya banggakan. Saya seakan tidak bisa menunggu dan saya sangat ingin mencoba mesin waktu ini.” Aku benar-benar tidak bisa menunggu lama, kalau kuberitahu ini sudah berjalan puluhan tahun dan baru sekarang menuju final.
Usai aku galau mengingat naskah yang ditolak penerbit. Galau mengingat kenangan dalam hidup, rasanya aku seperti tengah terombang-ambing oleh ombak lautan.
Galau yang membuatku tak bisa lagi tertawa. Lita Aksima berkerut kening dalam hal perihal yang tak ingin kujelaskan. Aku tak berdaya seperti yang kau harapkan.
Kembali ke masa lalu adalah satu-satunya jalanku. Lita Aksima, Jazu, Wapta, Sajak dan teman temanku lainnya, Ibu, Ayah. Aku sudah menyerah dalam menjalani cobaan hidup yang amat berat, rasanya aku ingin bertemu kalian lagi. Selama ini perasaan menimbang banyak kata, sudah banyak dari satu ke satu hari aku merasakan kehilangan yang mendera dan rasanya itu amat menyakitkan. Bagaimana kondisiku kala itu hanyalah berteman sepi, merasa ditinggalkan.
Betapa banyak sudah air mataku yang jatuh membasahi pipi. Isak tangis tertahan, kepalaku yang menguraikan banyak kata serta merta kaku dalam ketikan tangan.
Hari itu, bagiku adalah awal bagus, awal yang cerah untukku pergi menenangkan diri dan pikiran, tetapi itu semua tidak berhasil, malah sebaliknya. Kehilangan demi kehilangan terjadi seiring berjalan waktu. Entah mengapa selalu ada dalam duniaku yang tidak hanya sebatas ini saja. Lebih ringan aku tidak ingin membahasnya yang tentu akan menjadi panjang.
__ADS_1
Di suatu hari itu aku hanya bisa menatap kosong, semuanya sudah kuputuskan matang untuk mengakhiri hidup sebelum bertemu profesor yang membawaku ke dalam lab nya untuk mendalami penelitian membuat mesin waktu. Hari itu aku merasa apalah artinya kehidupan kalau hati ini tidak pernah merasakan lagi yang namanya tawa kebahagiaan, saat di mana aku hanya bisa mengeluarkan tawa yang kubungkus rapi untuk menutupi kesedihan.
Berjalan di khalayak ramai pun kaki ini gontai. Menatap gedung tinggi, di sanalah imajinasiku memutar otak memerintah tubuh. Aku menuju tegap dengan tekad yakin melangkahkan kaki seraya bergumam itulah akhir yang kupikir adalah ending yang sesuai untukku. Ending hidup adalah kematian. Tapi , di hari itu aku tidak pernah menyangka.
Apa yang bisa kupikirkan sudah tidak ada lagi, mengingat ngingat kenangan lama itu benar benar telah menyakitkanku yang entah mengapa juga aku tidak ingin meneruskannya. Bagaimana kisah itu berakhir. Aku telah melukiskan warna kelabu dalam hidupku sendiri yang amat tidak kusukai atas seluruh hidupku.
“Kau tampaknya tidak senang dengan ucapanku, melulu tentang itu selalu membuatku muak dengan tingkah lakumu.”
“Mengapa saat merasa kehilangan itu bisa menyakitkan seseorang?”
“Sudahlah, kawan. Lupakan. Aku sudah bisa melupakannya. Benar sekali, kawan.” Detik ke menit seperti memelesat, melaju cepat diikuti dengan derap langkah ini menaiki ketinggian gedung. Berdebar hati tak kuat membayangkannya.
Sejenak mengenang kembali masa itu, tidak ada yang perlu kupertimbangkan lagi dan ini keputusan yang kuambil dengan tekad bulat dan secara mutlak. Hingga tibalah renunganku di atas sana, terdiam lama melihat waktu. Angin bertiup, awan memutih bersih di langit sana dengan biru yang menentramkan.
Aku tidak pernah menyangka itu akan menjadi pusat perhatian banyak orang.
Di bawah sana ramai orang berkemurun. Menatap, menyorak nyorak dengan suara tinggi berbahasa thai. Aku terdiam lama menatap mereka.
Puluhan mobil kepolisian dan sirenenya memekik ke atas, tempatku berdiri saat ini ingin menjatuhkan diri.
Aku bertanya heran pada diriku. Mengapa mereka seperti begitu amat peduli. Bahkan orang-orang yang selama ini ada dalam hidupku saja tampak tidak peduli denganku. Bagaimana mereka bisa begitu peduli dan tanpa bisa kupikirkan lebih matang. Rasanya seperti terhempas dalam lautan tanpa bisa kujelaskan.
“Hei. Turunlah! Kau ingin bunuh diri, anak muda macam apa kau, hah!” Menggunakan toa yang besar. Polisi itu berbicara dengan bahasa thai.
__ADS_1
Sorak sorai orang orang juga demikian. Kulihat puluhan staf televisi datang menghampiriku. Memotret dan merekam jejak hidup yang saat ini aku ingin mengakhiri semuanya. Masa depan? Apakah ada masa depan bagiku yang pengecut atas semua hal dalam hidupku ini.
Tak lama kemudian, helikopter tiba. Aku semakin heran bagaimana mereka mengetahui niatku ingin bunuh diri.
Kemungkinan ada semacam CCTV yang memantau pergerakan masyarakat dan pencegahan lebih awal dilakukan. Rasanya melihat semua itu aku menjadi terpikir ulang dan matang untuk tidak melakukannya, untuk berdamai sesaat usai semuanya berakhir.
Sontak saja aku mendapatkan ceramah panjang lebar dan dimasukkan ke ruang isolasi untuk menanyai apa sebabnya dan mengapa aku berniat bunuh diri.
Kakek juga di sana. Menyebutkan itu semua adalah salahnya. Seseorang datang menepuk pundakku. Tak pernah aku tahu dia adalah seorang profesor.
Inilah awal pertemuanku dengannya yang membuatku tahu bahwa aku ingin ikut bersamanya membuat mesin waktu yang mungkin berguna untukku. Kakek menyerahkan izin mungkin tidak apa-apa baginya.
Selama dalam ruang lingkup pengetahuan dan sains kakek amat mendukungnya. Yang tak pernah kusangka profesor itu adalah teman kakekku sendiri.
Sekarang. Aku menyibukkan diri di ruangan ini. Dengan alat penelitian dan tulisan yang amat bisa kulihat bagaimana perjuanganku selama ini.
Usai minum teh dan bersantai profesor itu menghampiriku dan bertanya apa nama yang tadi ingin kukatakan.
“Saya menamainya Mega Berlian.”
Profesor saat mendengar perkataanku cukup tampak heran mengapa dan kenapa alasanku memberinya nama Mega Berlian. Tak ada yang perlu kujelaskan, ini sudah menjadi keputusanku.
“Berilah ruang untuk nanti saya jelaskan, saya ingin beristiharat dulu, Prof. Lelah.” Aku tertawa. Meniru ucapannya.
__ADS_1
Profesor itu juga sama tertawanya. Baiklah, sampai ketemu nanti, Mega Berlian kau akan membawaku kembali ke masa lalu untuk bertemu seseorang yang kucintai.