
Wapta itu wanita. Ia berambut hitam lurus dengan poni menutupi dahi. Seorang wanita yang kucintai, ada banyak hal di dunia ini mengenai cinta dan kasih sayang. Begitulah sekiranya apa yang diinginkan perasaan, kesederhanaan bersambut satu sama lain.
Aku di sini. Negara yang bagiku baru kupijak, tidak jauh. Negara yang juga berada di kawasan Asia Tenggara. Semenjak bertemu kakek, rasa yang dulu hilang dari hidupku seakan berdatangan kembali. Aku tahu semua kejadian ini bagai mimpi yang tidak pernah aku sadari, mimpi yang tidak pernah aku rasakan.
Kebahagian yang sekarang merasuk ke dalam jiwaku, mengakar kuat di sana. Di negara ini, aku melanjutkan semua apa yang telah aku nantikan.
Hei, Wapta. Apa kabar? Itulah kata sapaan yang ingin kutunjukkan, kuucapkan setulus merpati mengepakkan sayap. Bagaimana kabarnya sekarang di sana. Apakah tetap sama seperti dulu? Aku tidak tahu, mungkin saja sudah banyak berubah.
Wapta, kau tahu aku sekarang berada di ujung taman, menatap anak-anak bercengkrama. Aku juga telah berganti nama. Bukan suatu keharusan bagiku, melainkan kakek yang katanya punya kenangan tersendiri bersama ayah hingga dia terus memanggilku Roman.
Ya, sekarang namaku Roman, sama seperti nama ayahku, tetapi aku masih memegang erat nama Narak, nama itu akan senantiasa melekat antara kenangan dan perpisahan.
Aku di sini pernah berkhayal menjadi seorang penyair yang bisa mengungkapkan perasaan dalam bentuk bait dengan susunan sempurna, ditulis tulus hanya teruntuk sang kekasih, tetapi jujur saja aku sulit menguasainya.
Kepalaku sampai sakit, aku tidak jago dalam merangkai bait, tetapi aku yakin seyakin-yakinnya, perasaan tulus ini akan tersampaikan kepadamu.
Wapta, aku tidak pernah berpikir sempit, tentu dalam hal memikirkanmu, pikiranku sekarang membentang luas dan terkhusus bagiku hidup di sini, jujur rinduku seakan membubung tinggi, sulit kuleraikan.
Aku sangat ingin bertemu denganmu, besok sepertinya akan cerah. Aku ingin sekali mengajak kakek dan nenek ke Indonesia.
Bagaimana, ya menjelaskannya. Ingin bertemu, itu saja sepertinya sudah cukup.
Aku menghela napas. Sudah hampir satu jam berlalu, aku tetap diam berduduk, bertatap buku dan memegang pena.
__ADS_1
Aku sedang menulis cerita itu di lembaran buku diary pemberianmu pada waktu itu. Terima kasih atas bukunya, walaupun jujur buku ini pernah aku kemas dan tidak kugunakan karena memandang itu adalah pemberianmu yang berharga.
Akan tetapi, tindakanku diketahui kakek. Waktu ketahuan, jelas saja aku garuk kepala. Tahu, apa yang dia bilang kepadaku.
“Man, kau tahu hakikat buku diary itu ada?” Kakek bertanya padaku. Dia sekarang tidak lagi memanggilku dengan sebutan Narak atau Nar. Dia lebih memilih Roman, mengingatkannya pada ayahku. Dengan sebutan singkat dia mengatakan Man.
Aku menggeleng, tertawa canggung. “Itu ... aku tidak tahu.” Benar-benar aku tidak ingin memberitahu perihal buku itu kepada kakek yang bagiku sangat berharga.
“Kau harus tahu, Man. Lahirnya buku diary itu di dunia ini untuk ditaruh tulisan. Bukan dijadikan pajangan. Lihatlah, tanda tangan ini. Aku tahu alasan wanita itu memberikan buku itu juga bukan sebagai pajangan.” Kakek mengatakan langsung di hadapanku. Saat itu, aku mengingat kata-katamu yang memberikan buku diary karena aku suka menulis.
“Kau anak muda yang tidak tahu hakikat sebuah buku diary. Ayolah, jangan galau.” Kakek tertawa menepuk-nepuk pundakku.
Aku mengernyit saat mendengarnya. Kala kakek berkata demikian, aku semakin canggung, mangut-mangut setuju.
Itulah, cerita ringkasnya, tidak perlu panjang lebar. Aku tidak ingin membuang kertas semakin banyak, inti dari semuanya adalah semenjak hari itu, buku diary milikmu selalu kugunakan. Kutuangkan tulisan milikku.
Ia sering bertiup melewati dari satu tempat ke tempat lainnya. Rasa rindu ini akan kutitipkan saja kepadanya. Itu berlebihan, tidak usah sepertinya. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Hampir melewati tiga halaman. Mengapa aku seperti orang yang tidak bisa berpikir jernih, menulis tentangmu saja raga ini seakan melayang jauh meninggalkan bumi.
Ketahuilah. Aku tidak sedang curhat, tetapi sekadar menulis, juga tidak dalam suatu keharusan, ini adalah semata hobiku sejak dulu. Walaupun, kata-kata yang kutulis entah bagaimama terpandang berantakan.
Ingat dulu, temanku mengejek tulisan naskah yang terpampang berantakan, sampai sekarang semua itu masih teringat jelas di dalam benakku. Aku seakan ingin beranjak pergi dari bangku taman ini, tetapi tanganku masih kuasa menulis, entah akan sampai berapa lembar.
__ADS_1
Sepertinya tinta penaku mulai habis. Aku lupa tempo hari membelinya.
Wapta. Salam teruntukmu.
Buku diary itu kututup. Aku kembali menatap anak-anak yang bercengkrama di depan sana. Duduk sendirian di bangku taman ini, aku sering melamun.
Tas ransel di sisiku menemani, seperti biasa di dalamnya ada berbagai keperluan seorang mahasiswa. Aku tidak memungkiri diri, rintih atau apalah yang menyebabkan sesuatu yang tidak bisa disanggah akal.
Aku mengangkat tas ransel. Ingin kembali pulang ke rumah, menyusuri pinggiran taman yang penuh kehijauan. Taman di pusat kota Bangkok, ramai kendaraan berlalu-lalang, aku cukup berjalan dengan lapang tanpa mengeluarkan keluhan.
Taman itu berdekatan dengan rumah kakek. Beberapa waktu lalu, kakek dan nenek memutuskan pindah dan berakhir menetap dekat sana. Mereka ingin menjalani masa nyaman, membangun pertokoan yang lebih besar, kakek orangnya hemat, dengan sekejap mengubah toko yang dulunya cukup besar menjadi lebih besar, sekarang pun pelanggan, juga pengunjung toko menjadi ramai.
Tidak pernah kuduga, rumah dan toko itu berdekatan dengan taman, tidak jauh. Jaraknya hanya bersebrangan. Aku tak perlu melambai taksi, tak perlu berkendara, cukuplah kaki ini melangkah, membayangkan berjalan bersama seorang kekasih, itu gila. Tidak usah membayangkannya, cukuplah begini karena dirinya sudah tertanam di dalam sanubari, siapa pun tak akan mengerti. Walaupun, dijelaskan menggunakan syair dewa-dewi.
Apa yang dikatakan Kakek tempo lalu sedikit memberiku pengetahuan. Beberapa orang tidak menyukai kalimat cinta berlebihan. Beberapa dari mereka tidak menyukainya. Hubungan cinta yang bisa kupahami itu alay.
Namun, aku mengerti siapa pun tak akan bisa menghormati selama dia tidak mengalaminya sendiri. Tertawa saja, begitulah kenyataannya.
Aku memberikan semuanya dalam pandangan sederhana tanpa menoleh, tanpa berkutat lebih lama. Aku cukup tahu, apa yang sekarang aku alami, apa yang dulu aku lalui. Ponselku berdering, memecahkan lamunan saat berjalan. Aku berhenti, mengambil ponsel, melihat lebih jelas siapa nama yang terpampang di depan layar.
Ah, itu kakek seperti biasa kemungkinan dia tengah khawatir. Ingin tahu keberadaanku di mana dan sedang melakukan apa.
“Hello, Man. Kau ada di mana?” Kakek bertanya dengan suara berat, ciri khasnya kadang batuk-batuk. Benarlah apa yang tadi kupikir seperti biasa, selalu begitu.
__ADS_1
“Di jalan. Dekat lagi sampai rumah.” Aku mencoba mengelawak. Lihatlah, aku sedang berdiri tak jauh dari di hadapan kakek.
Kakek masih tidak melihatku. “Kakek!” Aku berseru di telfon. Kakek seakan menebak sumber suara, menoleh menatapku, kami pun bersitatap, saling tertawa.