Daur Ulang

Daur Ulang
Kepingan Logam


__ADS_3

Usai habis semua lamunan yang berserakan di dalam benakku seakan tidak terasa aku tiba di tempat pengiriman surat.


Syukurlah. Aku memarkirkan sepeda motor, melepaskan helm. Beranjak ke sana ingin mengirimkan surat dengan penuh harap.


Satu hal mengenai suratku adalah semoga tersampaikan. Disambut Wapta dengan perasaan senang saat membacanya. Hanya itu yang kupikirkan, melebihi dari sekadar tulisan surat.


...ฉันไม่สามารถคิดเกี่ยวกับมันอีกต่อไป สิ่งเดียวที่อยู่ในหัวของฉันตอนนี้คือคุณ รู้ไหมว่าคิดถึง...


... (C̄hạn mị̀ s̄āmārt̄h khid keī̀yw kạb mạn xīk t̀x pị s̄ìng deīyw thī̀ xyū̀ nı h̄ạw k̄hxng c̄hạn txn nī̂ khụ̄x khuṇ rū̂ h̄ịm ẁā khidt̄hụng)...


...Aku tidak bisa memikirkannya lagi. Yang ada di kepalaku saat ini hanyalah kamu. Tahukah kamu aku merindukanmu....


Ini hanyalah tentang kerinduanku yang melebihi luasnya semesta. Lebih ringan tentang apa yang ada di dalam jiwa.


Aku ingin mengatakan kepada siapa pun yang bilang ini lebay. Bagi orang yang tidak pernah merasakannya. Dia takkan mengerti tentang sekadar kata yang membalut sukma


Maka diamlah. Hentikan ketidakjelasan makna dalam gumaman menghina


Sanubari yang tidak tahu perasaan. Deretan angka dan kalimat yang ditulis rapi dan tertulis di antara papan dan besi.


Maka menjauhlah


Wahai orang-orang yang tidak tahu perasaan. Penat letih kerinduan


Maka pergilah


Atau tertawalah hingga habis suara, memekik dengan leluasa. Jangan pandang ke arah sini, pandanglah ke gurun pasir nun jauh di sana. Begitulah kehampaan yang diikuti tiupan irama angin.


Berpuas dirilah dengan apa yang ditatap hina oleh netra yang kosong dari makna mengerti dan peduli


Sejatinya tetesan rinduku membekas di antara kepingan logam yang sedang kugenggam.

__ADS_1


Kini aku hanya menatap tenang ke sekumpulan merpati di atas gedung. Di tali listrik yang jelas mengukir bayang-bayang mengenai sosok dirinya. Tiada dalam hitungan detik aku berdiam, lebih lama menghela napas termenung.


***


Tiga hari berlalu. Aku menunggu balasan surat dari Wapta, tetapi tak kunjung kuterima. Sudahlah, aku harus tenang dan berpikir positif, mungkin dia sama sepertiku beranggapan sulit menulis dan mengirimnya atau dia memang sekadar membaca tak berniat membalasnya.


Kakek sepertinya sibuk mengurus toko. Sementara aku sebatas sibuk membaca buku-buku kuliah yang berjilid tebal, sedikit waktu mengingat Wapta. Mengenai waktu memang tak terasa, hari bagiku bagai tetesan air yang jatuh ke permukaan logam, menggenang sebagai kenangan.


Kepingan logam yang kini berada di tanganku berbentuk bulat seperti koin. Bukan uang yang selama ini orang kenal, sekadar kepingan yang kutemukan di jalanan tempo lalu.


Tidak berharga. Sekilas bulatan yang sempurna dalam artian tidak cacat. Aku tahu di dunia ini tidak ada yang sempurna, tetapi itulah pada hakikatnya, sedangkan menurut pandangan manusia itulah bentuk bulatan yang kutatap sempurna.


Aku memainkannya sekadar melempar ke atas, lantas jatuh kutangkap kembali. Mataku fokus belajar, sedangkan tangan tidak bisa diam. Pikiranku saat ini terbagi dua antara tulisan dan anggapan sederhana mengenai logam yang melebur.


Aku ingin tahu adakah warna yang bisa kulukiskan atau kuhentikan dari ingatan.


Mungkin. Tidak ada. Dan entah mengapa aku masih berharap sesuatu yang samar.


Diam bermenit-menit. Aku menggaruk kepala, merasa tidak konsentrasi. Membaca buku dengan pikiran terbang ke alam lain, rasanya aku tak mampu.


Agenda yang sudah kutetapkan seakan berantakan seperti tulisanku yang sekarang. Walaupun memang tulisan yang selama ini kutulis hampir rapi, hanya saja lihatlah ada tidak ketidaknyambungan antara perasaan dan kehidupan sebenarnya.


Lihatlah, logika yang memuat kata-kata berantakkan. Dibaca saja aneh rasanya bagai menatap pecahan cermin yang berbentuk seperti kerikil.


Lirih dalam keremangan cahaya. Kumatikan lampu maka telah matilah terang, gelap gulita kini datang tidak terlihat apa pun.


Di saat itu aku menunduk, mengingat akan sesuatu yang mengacaukan pikiranku. Terlalu nelangsa, kisah fiksi yang kubuat padahal tidak begitu.


Rangkuman yang saat itu kutulis di dalam barisan kertas, menciptakan suatu arti dalam degungan yang membabi buta raga.


Wal hal memang itulah kesalahanku, lebih besar lagi berdiam adalah cara yang mungkin bisa kulakukan hingga saat ini, terlama senyap dalam rintihan yang tak kunjung kutatap sirna.

__ADS_1


Pueh. Teringat masa lalu kadang mengesalkan atau bahkan menyebalkan. Aku harus menerimanya atau perasaan ini akan dibelah oleh pisau berkarat yang menimbulkan sayatan perih. Luka yang ternganga lebar membekas rasa sakit yang membuat diri tak kuasa bernapas.


Kepingan logam yang semula kugenggam kini kulemparkan ke dinding. Bunyinya terdengar jelas, tetapi tak menunjukkan kerusakan. Apakah hatiku bisa sekuat kepingan logam yang tadi kulempar ke dinding tak ada kerusakan atau apalah yang orang sebut sakit.


Aku kembali mengambil buku diary pemberian Wapta yang kini kutahu dia telah lama tidak ada di sisiku, tetapi benda kenangannya kusimpan baik-baik.


Menatap tanda tangan darinya di buku diary itu mampu mengobati rasa rinduku. Wapta bagiku adalah satu-satunya wanita yang saat ini kucintai, tak ada seorang pun yang bisa menggantikannya. Kalau ingin tahu mengenai karakter Lita Aksima adalah bias kerinduanku.


Di sanalah aku membuat karakter fiksi bernama Lita Aksima yang mirip dengan sosok Wapta. Membayangkan suatu kata yang membuatku tersenyum untuk sementara waktu.


Sesulit ini coretan yang kutiadakan ujung katanya, seberapa banyak nanti entahlah aku sempat berpikir coretan itu akan memakan begitu banyak kertas, banyak kata yang akan kutuliskan dengan harapan.


Keteguhan hatiku benar-benar diuji seperti kepingan logam yang telah kulempar, lantas kulempar berulang kali. Kesabaranlah yang harus kutanam di dalam sanubariku.


Sebijih gandum pun tak apa. Semoga ia tumbuh subur. Kesabaranku dalam memendam perasaan dan bersiap diri menghadapi bagaimanpun akhirnya nanti.


Sekarang aku harus melupakan sejenak apa yang membuat pikiranku berkecamuk. Sudahlah, lupakan mengenai ini. Dibahas terus? Hendak sampai kapan? Beribu lembaran kertas akan penuh kalau terus dibahas, tetapi entah mengapa aku suka membahasnya.


Bahkan berbicara dengan diriku sendiri di depan cermin. Mengatakan berbagai macam kerinduaan dan bait syair cinta yang berbalut keindahan.


Aku menyukainya, lebih ringan membuat perasaanku menjadi tentram.


Lebih tepatnya aku suka menulis kata yang menyejukan pikiranku, mengeluarkan semua benak kekesalan yang menghimpun banyak hal di dalam kehidupanku.


Masa demi masa sulit telah kulewati dari usiaku tujuh tahun hingga sekarang.


Di usia tujuh tahunlah pertama kali meteor menghujam perih ke dalam perasaanku, saat aku melihat sendiri seorang ayah dan ibu pergi selamanya meninggalkanku.


Kesendirian yang kurasakan hingga sekarang sepertinya sama saja. Tidak ada perubahan, walaupun aku sempat merasakan bahagia saat pertama kali bertemu kakek.


Itulah moment bahagia yang kurasakan. Lebih dari itu rasanya kakek punya bakat lain yang selalu membuatku kadang tersenyum sendiri kala berbicara dengannya. Selalu teringat dan berbekas kuat di dalam ingatanku, pelajaran yang berkesan adalah dibahas saat bahagia.

__ADS_1


Otakku lancar mengingat. Sekarang pun kembali menyalakan lampu yang semula kumatikan, membaca kembali buku berjilid tebal yang selama itu kupegang.


__ADS_2