
Di sebuah Hotel ini, aku mengungkapkan sedikit rasa kekecewaan. Tentang tulisan yang telah melewati berbagai peristiwa sederhana dengan tanpa panjang lebar, tanpa banyak hal lain yang kubahas. Entah itu jelas ataupun tidak. Selama dalam masa menulis, ada banyak hal yang kuingat, tetapi menulis adalah hobi keseharian.
Di balik senyuman sederhana, ternyata ada dua pasang mata yang sedang mengigau, memanggil sesuatu yang jelas tidak ada hubungannya dengan semua ini. Tertera selembar tulisan, sebuah catatan yang tidak penting, ini sedikit merepotkan.
Aku berhenti menulis sesuatu yang sulit kueja sendiri, bahkan terbata-bata mengenai kegiatan kesendirian, melewati waktu dengan tulisan berantakan, semua ini kulakukan hanya sebagai tempat luang, sekarang berubah menjadi sedikit aneh.
Di kamar Hotel ini, aku menulis catatan yang tidak penting, hanya bualan kekesalan, juga semua unek-unek terkeluarkan yang berasal dari kekosongan pikiran.
Waktu menunjukkan pukul tengah malam, aku menulis ditemani lampu kecil sebagai penerang. Sedikit redup dan menenangkan.
Waktu berlalu, memang ini sedikit terasa cepat. Dari malam hari sampai pagi hari catatan itu selesai dalam 20 lembar kertas tulisan.
Usai dari semua itu, aku kembali tidur pulas meninggalkan semua catatan yang sudah tertulis. Sekilas curhatan berbentuk catatan seperti segelas cawan, aku meletakan catatan di atas meja.
Saat itu, aku tertidur pulas, tanpa memedulikan apa pun, tetapi tak lama aku terbangun karena bermimpi Ibu yang mendekapku, mengucapkan pesannya untukku.
Aku pun bergegas cepat menemui Wapta untuk mengajaknya pergi mencari alamat Kakek.
Kami berdua terus mencari alamat. Walaupun, tak mengenali di mana alamat yang pasti.
__ADS_1
Wapta sibuk bertanya kepada orang-orang, dia pandai berbahasa Thai, sedangkan aku terdiam karena tidak bisa menuturkan bahasa.
Untungnya, tak lama dari itu, ada pelancong dari Benua Eropa, wajah bule berkulit putih itu sedang membeli makanan.
Aku menghampiri, mempertanyakan tentang alamat, bule itu menjelaskan bahwa dirinya baru saja melewati alamat tersebut.
Aku menyimak penjelasan bule, sedangkan Wapta sama sepertiku, dia juga menyimaknya.
Melalui penuturan yang dia ucapkan, kami berdua berangkat menuju tempat tersebut.
Hingga kami sampai di sebuah toko yang tak begitu ramai. Toko itu cukup besar, tetapi sedikit sekali pembeli datang untuk membeli barang di toko tersebut, karena mungkin toko penjual kasur dan juga aneka bantal tidak begitu diminati pasaran.
Entah bagaimana kakek itu seperti mengenali wajahku, dia mengelus perlahan. Aku terheran.
Tak lama, kakek itu langsung memelukku dengan erat, aku semakin merasakan heran.
"Apakah kamu mengenali kakekmu, Nar? Kurasa dia adalah kakekmu," ucap Wapta berbisik ke telingaku, aku masih dalam pelukan kakek tersebut.
Beberapa saat kemudian, kakek itu melepaskan pelukan seraya berkata, "Narak, kamu tumbuh besar menjadi anak muda yang tampan sama persis Ayahmu."
__ADS_1
Aku kaget mendengarnya, bagaimana tidak, dia mengucapkannya spontan. Aku tidak tahu bagaimana dia mengenaliku, bahkan dia lancar berbahasa indonesia.
Aku lebih kaget lagi karena itu—dia berbahasa indonesia, bahkan terdengar lancar.
Aku menghela napas damai.
"Kakek!" Aku kembali memeluknya.
"Syukurlah, kakek bisa berbahasa indonesia."
Mendengar ucapanku, Kakek tertawa lepas seraya menepuk pelan bahuku.
"Duuh, Kakek malah tertawa, sebelum ke sini, aku mati-matian belajar bahasa thai, dan sampai sekarang, aku tidak bisa—" ucapku manja kepada Kakek. Dia tampak masih tertawa.
"Iya, sudah. Setelah perjalanan yang panjang, kalian pasti lelah, kakek akan menyiapkan tempat istirahat," jawab Kakek memotong ucapanku.
Kakek benar-benar menyiapkan tempat untuk kami berdua. Kukira kami akan diantar ke rumahnya dan siapa sangka Kakek naik ke atas. Ya, sepertinya dia tinggal di toko ini.
Dari kejauhan, aku menerka bahwa toko ini mempunyai empat lantai. Pantas saja, kemungkinan lantai seterusnya memanglah rumah dan di bawahnya telah disulap menjadi toko. Itu dugaanku, belum pasti.
__ADS_1