Daur Ulang

Daur Ulang
Pesona Gajah Putih Part 02


__ADS_3

...ความผิดหวังมาโดยไม่ได้รับเชิญ (Khwām p̄hidh̄wạng mā doy mị̀ dị̂ rạb cheiỵ)...


...Kekecewaan datang tanpa diundang....


Beberapa makanan tampak tersusun rapi di meja makan kami, aku melahapnya dengan cepat membuat Wapta terbelalak mata melihatku seperti itu.


Sebenarnya itu adalah kebiasaanku sejak dulu. Ingat saat Jazu memberiku roti, saat itu aku langsung melahapnya hingga dia mengatakan aku rakus, kubalas saja berat badannya melebihi truk bensin.


Usai selesai makan, kami keluar dari Railway Restaurant itu, sebenarnya untuk apa berlama-lama di sana, tidak penting juga kurasa.


Aku menghela napas panjang, entah dalam bentuk keluhan atau apa? Aku tidak ingin menjelaskannya. Hal itu rupanya membuat Wapta tampak penasaran, “Kenapa kamu Nar? Napasmu keluar panjang banget seperti rel kereta,” tanya Wapta sekilas dengan tawa yang menghiasi wajahnya.


“Kamu bohong soal tempat ini, tidak seperti yang terdengar, semuanya tampak biasa-biasa saja,” kataku menghela napas karena perjalanan dari kota Bangkok ke kota Hua Hin dan pantai itu ternyata begitu jauh.


Walaupun demikian aku tahu rasanya berkeliling kota Bangkok hingga tiba di kota Hua Hin, tetapi rasanya ada hal yang membuatku tidak nyaman, perjalanan jauh seperti ini tidak ada manfaatnya.


“Kamu ingin kembali pulang Nar? Apa kamu marah padaku?”


Pertanyaan Wapta tidak kujawab. Aku malas menjawab pernyataan yang kalau dipikirkan jelaslah aku ingin pulang. Aku tidak ingin membicarakannya lebih panjang.


Di sampingku Wapta seakan terus memancing agar diriku berbicara dengan berbagai caranya. Kasihan kesemuaan cara yang dilakukannya gagal.


Akhirnya aku angkat bicara dan memutuskan pulang saja ke Gaam Hotel, tempat kami menginap, Wapta sepertinya tampak merasa bersalah atas hari yang membuatku kecewa.


Sebenarnya mudah saja. Kalau dia mau meminta maaf, tentu aku akan memaafkannya, tetapi begitulah Wapta keras kepala.


Dalam perjalanan menuju pulang. Sialnya, Wapta terus mengatakan tentang pemandangan sekitar kepadaku yang jujur membuat bibir ini gatal ingin mengucapkan hal serupa.


Aku harus tahan bicara agar Wapta tahu rasa kekecewaan yang kurasakan.


Aku tak menghiraukannya, walaupun Wapta berulang kali menyikut lenganku. Aku lebih memilih duduk diam dengan pandangan lurus menatap ke depan.


Aku akui di negara Thailand ini memiliki banyak tempat yang menarik, tetapi perasaan kecewa yang menghampiriku membuat semuanya terasa tak ada selera, tak ada keinginan lagi dengan semua itu.


Tibalah kami ke Gaam Hotel, aku langsung bergegas masuk kamar, meningggalkan Wapta sendirian. Rasanya aku kecewa berat tak ingin menjelaskannya.


***

__ADS_1


Hari yang membuatku kecewa itu sudah berlalu, tetapi kami berdua masih saja mengurung diri satu sama lain. Aku tak kuasa menatap langsung dan bertemu dengannya. Sejenak menghela napas.


Aku tidak ingin bertemu dengan Wapta yang telah membuatku kecewa, tetapi kenapa dia tidak menemuiku untuk meminta maaf, apakah dia takut bersalah atas semuanya.


Apakah kami berdua sama-sama mengurung diri, masing-masing tidak ingin bertemu, bisa saja. Aku hanya menduga, seharusnya akulah yang meminta maaf.


Aku lanjut menghela napas untuk kesekian kalinya, sejenak merenung ternyata kini aku sadar akulah yang salah. Apakah mungkin Wapta juga merasa bersalah, mungkin saatnya kami saling mengintrospeksi diri.


Aku menunduk dengan pena di tanganku. Tidak ingin diam dalam sekejap mata. Aku terus menulis di sana, menuangkan perasaan yang saat ini kurasakan.


Entah apa yang dirasakan Wapta, seharusnya akulah yang meminta maaf.


Tok ... tok ... tok ....


Terdengar ketukan pintu kamar, aku bangun dari lamunanku, apakah itu Wapta atau orang lain yang mengetuknya.


Saat itu aku jelas penasaran siapa yang mengetuk pintu. Aku mencoba menghela napas, memberanikan diri untuk membuka pintu, perasaanku terasa gugup bercampur takut, semua itu seakan menyelimuti seluruh perasaan di dalam jiwaku.


Dengan langkah pasti, aku melangkahkan kaki membuka pintu kamar, saat pintu terbuka, terlihatlah seorang wanita tampak memakai kaus warna kuning dan ramput yang diikat rapi. Dia berdiri di hadapanku, tersenyum. Ya, wanita itu adalah Wapta.


Dia langsung mengatakan permintaan maafnya kepadaku sambil menundukkan wajah, entalahlah mungkin merasa bersalah. Aku memakluminya, Wapta ini bukan salahmu, tetapi salahku.


“Hehe, itu seharusnya akulah yang meminta maaf kepadamu, maaf sebelumnya sudah mengabaikanmu, sejujurnya selama dalam perjalanan ke sana aku menikmatinya, pemadangannya lumayan.”


Aku mencoba memperlihatkan senyum terindah punyaku. Wapta mengoceh senang, aku dengar garuk kepala.


“Oh ya, sebelum kita pulang, kemarin aku beli sesuatu buat kamu, Nar.”


“Sesuatu!? Apa itu?” jawabku penasaran, sebenarnya apa yang dimaksud Wapta dengan sesuatu itu. Jelas, aku tidak tahu.


Ternyata Wapta memberikanku sebuah gantungan kunci berbentuk gajah putih, ada lingkaran berwarna emas pada ujungnya.


Aku menerima gantungan kunci yang diberikannya, mengucapkan terima kasih dengan segenap perasaan.


Aku jujur menyukai gantungan kunci yang telah dia berikan kepadaku. Wapta tampak bersorak senang mengetahuiku menyukai gantungan kunci.


Terlihat senyuman di bibir Wapta. Dari dulu hal yang aku sukai dari Wapta adalah senyumannya yang begitu indah.

__ADS_1


Anehnya, tanpa sadar senyuman Wapta membuatku menjadi salah tingkah. “Sudah dulu, aku mau tidur. Hehe, udah ngantuk.” Aku bersegera menutup kamar.


Belum sempat Wapta berbicara, pintu itu sudah kututup dengan cepat, mungkin Wapta akan terheran-heran. Entahlah, aku tidak tahu. Mendingan aku tidak ingin mengingatnya.


Di dalam kamar, aku memandang gantungan kunci penuh perasaan aneh yang sedikit bercampur kesal dan suka.


Perasaan aneh yang membuat jantungku sukses berdebar-debar. Pikiranku seolah berbunga-bunga, jelasnya ini aneh. Aku bukan seorang wanita, hanya saja mengenai perasaan setiap orang berbeda-beda.


Di dunia ini aku cukup tahu mengenai perasaan. Orang yang membahasnya kadang dikatakan alay atau lebay.


Aku pernah mendapatkan celaan itu dari temanku. Dia benar aku memang alay dan itulah sikapku. Kalau ingin tahu, napasku sekarang seakan-akan keluar dari rongga hidung lebih nyaman dari biasanya seperti kosong melompong. Lega dan terasa bahagianya.


“Aneh!? Ada apa dengan perasaan ini?” tanyaku pada diriku sendiri sambil memandang gantungan kunci tersebut.


Gantungan kunci itu kuletakkan di atas meja yang tak jauh dari tempat tidurku.


Aku memulai mengingat kejadian yang sudah terlewat, pesona negeri gajah putih sekarang menyimpan banyak hal, tetapi aku tak ingin mengetahuinya, ada banyak pesona di dunia ini, aku tak ingin melihat semua pesona yang membuatku lelah.


Entah kenapa? Muncul sebuah ingatan saat berada di pantai, saat Wapta berteriak menggunakan bahasa thai itu tak bisa hilang dari pikiranku.


Masih jelas kata-katanya seolah-olah terpahat di dalam benak pikiran yang menuntutku membuka kamus untuk mengetahuinya.


Berjam-jam lamanya aku mencari kata itu, tetapi tak kunjung aku menemukannya.


Ini seperti orang yang sedang mencari seutas cincin di dalam kubangan lumpur, sangat sulit terlebih ingatan tentang kata itu samar-samar.


Namun, saat itu karena kesungguhan yang kulakukan dan tak kenal lelah, aku mencari satu per satu kata itu dengan sikap teliti yang pada akhirnya aku berhasil menemukan arti kata yang sekarang membuat diriku terkejut.


Ternyata kata itu mempunyai arti seperti kata I Love You dalam bahasa inggris. Mengapa aku berdegup, ini aneh. Mengapa Wapta mengatakannya, itu berarti dia sama sepertiku? Ada apa dengan semua ini?


Saat dia mengatakannya aku tidak mengetahuinya, mungkin saja Wapta hanya bercanda, terlebih saat itu dia tertawa.


Sekarang, aku pun mengiakan saja apa yang sudah kudengar, aku tidak memikirkannya, tetapi tak pernah disangka, kata itu kembali membuatku tidak bisa tidur.


Kala itu aku menghampiri meja, membuka buku diary. Kemudian bergerak tangan mengambil polpen, lanjut menulis di buku tersebut.


Apa yang sudah terjadi, biarkanlah terjadi anggap saja seperti air mengalir, aku tidak perlu mengingatnya, saat ini aku memerlukan waktu lebih panjang, lebih dari apa pun untuk menemukan kakek.

__ADS_1


Aku kembali mengisi waktu malam yang sudah semakin larut ini dengan catatan harian yang kini kutuliskan. Tidak dalam bentuk uraian panjang, hanya helaan napas yang tersirat makna tidak penting.


__ADS_2