
Sekarang, aku menyukai kopi bersama temanku. Kami berdua duduk mengobrol bersama di sebuah kedai kopi yang tidak begitu ramai, suasana yang begitu asri, sejuk rasanya. Aku terhanyut dengan alunan musik dari gemericik bambu yang mereka bunyikan. Menenangkan.
Hal yang aku lakukan adalah meminumnya dan menikmatinya.
Temanku menggerutu seolah memaki dan terkekeh saat mengejekku karena sekarang aku menyukai kopi serta menikmatinya dengan wajah yang berseri.
“Haha ... teman, engkau sudah berubah rupanya!” Dia menepuk pundakku dengan cukup keras, hampir membuatku tersedak.
Dalam benak pikiranku menangkis semua kata yang dilontarkannya. Di dunia ini, aku memang tak pernah tahu kemana takdirku melangkah, pena terus menggores kata hingga menemukan hal baru, menemukanku dengan suasana yang jarang kutemui, bahkan menemukan sesuatu yang tak kusukai.
Memang ada hal yang ingin dirangkum dalam sebuah majalah, tetapi seolah-olah keinginan membutakan pandangan. Aku tak bisa berbuat apa pun, hanya bisa pasrah serta berserah diri dan kutitipkan semuanya kepada Sang Maha Kuasa.
“Tahukah, engkau merana menyeringai dengan memutar-mutar kata yang rumit!”
“Bicara apa kau ini? Dari tadi kenapa mutar-mutar gak jelas?”
“Itulah ciri khasku, teman. Menggambarkan sesuatu melalui sedikit kemiringan.”
“Tak sama dan tak semudah yang kau ucapkan, aku seolah dibuat bingung oleh kata katamu itu!” Dia terus menggerutu, tetapi aku sibuk menulis apa yang ada di imajinasi, menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Apakah kau tahu? imajinasiku ambyar dengan catatan penuh kebingungan, bahkan penuh dengan coretan yang membuatku hampir putus asa, tetapi tekad dan semangat menjadikan sebuah dorongan, aku akan terus belajar merangkai kata, bahkan merajutnya dalam bentuk rajutan yang indah.
Akan tetapi, kumohan jangan menghina karena aku selalu terbawa suasana, aku akan berusaha dan terus berusaha.
Namun, anehnya. Temanku selalu saja mengejek semua karya yang sudah kutulis, tetapi ejekannya tak membuatku mundur, malah menjadikan aku semakin bersemangat dalam menulis.
Bersemangat untuk membuktikan bahwa aku juga bisa. Begitulah, bahkan aku menganggapnya sebagai sebuah tantangan.
__ADS_1
“Daritadi engkau sibuk menulis sesuatu yang tidak ada faedahnya. Kenapa? Apa itu hobimu teman? Aku bingung denganmu, kenapa bercita-cita menjadi seorang penulis padahal kau tidak ada bakat menulis!” ejek dia sambil mempertanyakan alasanku memilih untuk menjadi seorang penulis.
“Oh, Jangan bingung, teman! Menulis adalah caraku untuk menghilangkan kebosanan walaupun bagi sebagian orang tulisanku berantakan. Ya, memang berantakan,” jawabku disertai senyuman yang mungkin baginya terlihat sedikit menyebalkan.
Secangkir kopi sudah menjadi sejarah dalam perjalanan hidupku pada hari kemarin. Kopi yang diberikan oleh Wapta, aku meminum semuanya hingga habis, tak tersisa airnya hanya meninggalkan bekas dari kopi tersebut, bubuk yang memang punya warna hitam.
Pada pagi hari yang dingin, aku kembali menyeduhnya dalam gelas. Ya, seperti yang kulakukan sekarang, di sebuah kedai kopi bersama temanku, kami berdua duduk bersama saling mengobrol dengan tegukan kopi yang menyertainya.
Dia selalu mendukung niatku untuk menulis, walaupun terkadang apa yang temanku katakan memang benar, tulisanku tidak masuk akal, kadang sering keluar alur yang melenceng dari cerita dan itu cukup membingungkan, plot hole bertebaran dalam naskah yang kubuat.
Secangkir kopi yang pahit itu menemani hari-hari aku dalam menulis, membuat pikiranku berjalan memutar, mencari alur yang sedikit berbeda dari orang-orang.
Aku meminum kopi tersebut dengan perlahan-lahan, tegukan demi tegukan, dan menghirup aroma kopi yang kusukai.
“Lebay!” ejek dia seolah ingin membangkitkan semangatku karena bagiku semakin dia mengejek, aku akan semakin bersemangat dalam menulis.
“Jangan pergi dulu, duduklah bersamaku sebentar, kuingin mengobrol lebih banyak bersamamu!” kata dia menahan kepergianku.
“Ada hal apa yang ingin engkau obrolkan denganku? Kenapa matamu terlihat begitu serius?” tanyaku sambil mendudukkan badan ke tempat semula.
“Bagaimana kalau kita saling berbagi cerita? Ceritakan kepadaku sebuah cerita kehidupan yang kini kau rasakan!” kata dia dengan nada yang terdengar keren, bahkan seolah berirama.
“Baiklah, aku akan bercerita, cerita tentang cintaku kepada seorang wanita.”
“Wanita!? Apakah engkau sedang jatuh cinta?" tanya dia menatapku dengan raut wajah yang tampak tercengang. Mungkin saja, apa karena aku begitu lama menjomlo hingga dia menatapku begitu? Entahlah.
“Ya, seorang wanita yang kusukai, aku bingung bagaimana mengatakan perasaanku padanya, apa pendapatmu? Akankah rasa ini tetap aku pendam seperti langit yang memendam air hujan. Oh, teman. Bisakah bantu aku menemukan jalan keluar dari semua ini?”
__ADS_1
Aku bercerita tentang sebuah cinta, sebuah rasa yang sulit kuungkapkan kepada seorang wanita dan meminta solusi darinya, kuharap dia bisa memberi solusi yang tepat.
Di tempat itu, di kedai kopi yang tidak begitu ramai, kami berdua menikmati kopi dengan suasana yang damai.
Saling berbagi cerita kehidupan satu sama lain, dia mengerutkan dahi sambil meletakkan gelas kopi itu ke meja kemudian dia berkata, “Saranku, jangan terburu-buru mengatakannya!”
Aku mendengar dari apa yang dikatakannya, aku bergeming merasa solusinya tidak bisa kuterima, kemudian aku mempertanyakannya, “Kenapa? Apa salahnya mengatakan perasaan cinta kepadanya?”
“Bukan begitu, teman. Maksudku adalah cinta membutuhkan proses untuk tumbuh, berakar kuat, jangan kau dekati dulu sebelum ia tumbuh besar, kedua insan tersebut jika keduanya saling mencintai dan dipendam, cinta itu akan tumbuh semakin besar!” katanya sambil menghirup kopi.
“Kau tahu banyak tentang ini, aku takjub denganmu teman!” kataku sambil memutar-mutar gelas kopi, berusaha menerima perkataannya.
Sekarang, kami berdua terdiam sesaat, tidak berkata sepatah kata pun, suasana berubah menjadi hening.
Aku memecah keheningan itu dengan melanjutkan perkataan, “Aku mengerti sekarang! Aku akan memilih tidak mengatakannya, aku juga akan menyembunyikannya, memendam semuanya, entah sampai kapan aku bisa memendamnya.”
Aku melanjutkan perkataan sambil beranjak pergi. “Ah, Sudahlah ... aku ingin melanjutkan bekerja, jadi aku pamit. Terima kasih teman atas waktu yang engkau berikan, aku banyak belajar darimu tentang hal yang tak bisa aku rasakan!”
Benakku menggambarkan sebuah serpihan kaca yang jatuh dari atas gedung, tinggi berlantai lima puluh, serpihan kaca itu jatuh dan remuk oleh harapan yang membutakan, sekadar mengungkapkan perasaan hati yang sekarang menimpa diriku.
“Memendam? Aku merasa bahwa aku tak sanggup memendam rasa yang kian memuncak ini,” gumamku dengan perasaan yang berkecamuk, tidak tentu arah.
Aku hanya ingin mencobanya, memedam perasaan yang kini kurasakan. Aku beranggapan tentang sebuah ketentuan yang telah digariskan Tuhan. Aku percaya takdir kehidupan, jodoh dan kematian ada di dalam genggaman-Nya.
Jika suatu saat aku dan Wapta ditakdirkan berjodoh, kami akan bertemu dan membina hubungan dalam akad pernikahan.
Namun, jika aku dan dirinya tidak berjodoh, aku akan menerimanya dengan hati yang lapang, dada yang tenang, mengikhlaskan dirinya bahagia bersama orang lain.
__ADS_1
Aku tidak bernafsu lagi pergi ke tempat kerja, lebih memilih pulang ke rumah, mencoba mendamaikan hati dengan sesuatu yang membuatku gemetar. Kesemuaan itu tak bisa kujelaskan, bahkan rasanya begitu memilukan.