
Amarah telah membuatku lupa. Kejadian itu sebenarnya terjadi dan terhitung saat dua tahun lalu semenjak aku bertemu editor baru yang juga tidak kusangka ternyata adalah temannya. Itu pernah terlewati pada bab Editor vs Penulis Gabut.
Editor naskah yang baru kutemui dua tahun lalu itu menggeleng pelan. Kejadian lama, empat tahun editor naskah yang sekarang ada di depanku.
“Tidak, kau bukan seorang penulis pemula.” Dia berucap membuatku tegang. Kala itu di ruangannya terasa diliputi oleh serba banyak udara yang tidak bersahabat.
Debar jantung menatap tidak keruan, napas pun memburu tak henti menggerjapkan kedua kelopak mata. Tidak sedang kelilipan.
Editor naskah yang baru kutemui dua tahun lalu itu menggeleng pelan. Kejadian lama, empat tahun editor naskah di depanku.
Suaranya keluar agak berat. “Aku jelas mengenalmu, kaulah penulis yang dua tahun lalu keluar dari ruangan editor naskah, kau berjalan menunduk. Dan aku ingat betul, kaulah orang yang membuang naskah ke tong sampah. Kau tidak tahu, aku melihatmu kala itu berputus asa membuang naskah itu ke tong sampah!”
“Kaulah penulis yang ditertawakan seluruh staf. Dibicarakan setiap hari oleh orang-orang di ruangan kerja. Aku jelas mengingat wajahmu.”
Masa lalu. Suara itu dengan intonasi yang bergerumuh di telingaku. Masa lalu, menampar ingatan lama.
Sekarang di Negeri Gajah Putih ini sudah terhitung empat tahun lalu dan dua tahun lalu semenjak aku bertemu editor naskah baru yang ternyata adalah temannya. Lama waktu berlalu dengan detak detik jarum jam. Matahari yang bersinar di langit.
Udara berembus di sela sela pepohonan. Pun pada jendela kaca yang tampak semburat cahaya berkemilau terang.
Ada banyak peristiwa yang seharusnya bisa kulupakan dengan sekejap mata, tanpa mengingat ngingatnya, tetapi aku tidak bisa memungkiri saat wajah itu ada di depanku dan kulihat kembali. Ingatanku yang dulu ada itu seakan kembali kulihat, jelas aku tidak bisa melupakannya.
“Apa kau sudah puas menatapku?”
“Kalau kau tidak puas menatapku. Satu hal yang ingin kusampaikan kepadamu adalah tentang sebuah berita. Isi berita ini perlu kau tahu lumayan bagus, usai lama tidak bertemu denganmu selama empat tahun lalu. Akhirnya kita bisa bertemu, Narak.”
Saat mendengar tuturan kata editor naskah itu, aku membatin heran, bingung dengan benakku berusaha menebak apa maksudnya? Bahkan aku menatap dosen itu juga ikut tersenyum dengan wajah seperti orang bahagia. Mempertanyakan berulang kali dalam benakku apa maksud ucapannya? Aku terdiam tidak mengerti.
***
Ini hanya cerita lama, usang dan mungkin telah berdebu disingkirkan dan dibuang dalam kenyataan pahit pun tak apa. Manis sudah tak ada atau mungkin ada.
Cerita yang aku tahu itu bagai menatap layar lebar yang kembali terulang. Jelas teramat mengenai peristiwa yang telah lewat. Mengenang masa lalu, masa dulu di mana semua ini adalah awal mulanya.
Aku tidak memungkiri semua apa yang telah diperbuat olehnya, tidak pula menerima dengan lapang. Apa yang kakek katakan usai hari itu aku bercerita padanya.
Dengan senyum kakek perlahan meminum jus favoritnya. “Man, itu cerita yang cukup bagus. Hanya perlu kau tahu mengenai ini, kau tidak boleh berputus asa. Impianmu ingin menjadi penulis itu salah satu hal yang mungkin nanti akan tercapai. Membutuhkan waktu lama untuk bisa mencapainya. Belum sekarang, kau hanya harus percaya di kemudian hari.” Kakek punya sesuatu dalam hal menghiburku.
Dua tahun lalu. Eh? Empat tahun lalu maksudku, saat senyap-senyap ruangan yang diisi jam pelajaran. Aku duduk di kursi belakang. Inilah awal mula cerita yang menyebalkan dalam hidupku. Awal cerita yang tidak pernah kusukai seumur hidup.
Pulang sekolah di hari yang cerah. Matahari dan udara kompak memberi panorama indah. Naskah itu telah kupegang, rampung dengan tulisan yang lumayan kupandang nyaman. Saat itulah jalanan ramai dengan mereka yang juga sama sepertiku pulang dari sekolah.
“Pelajaran biologi tadi lumayan. Kau tahu aku juara satu dalam hal menjelaskan mengapa puas itu mamalia dan hanya satu orang yang menyebutnya ikan.”
“Hahaha.. iya, itu Narak. Hanya dia yang satu satunya bilang paus itu ikan, bahkan lebih nyaring menyebutnya ikan paus. Seharusnya, kan mamalia.”
Aku sendiri berjalan menyusuri trotoar. Mendengar perbincangan mereka. Ikan puas? Yeah, itu salah, alasanku memakai kata ikan, hanya sebagai pemanis dan nyatanya aku tahu paus itu mamalia.
Beberapa menit usai itu aku melambai ke salah satu angkotan kota dan di sanalah aku pun berangkat, siap sedia menunaikan janji temu antara aku dan editor naskah.
Angkotan kota itu berangkat dengan gejolak perasaan bagai tiupan angin di telingaku, berdesir rapuh. Tidak, itu hanya kebohongan. Di dalam angkotan kota yang lumayan banyak orangnya, aku terdiam sambil menghitung tekad satu dua kalimat yang kupikir bisa menenangkan situasi saat ini. Berlindung diri dalam harapan.
Ini kejadian sebelum aku bertemu kakek, sebelum aku tiba di Negeri Gajah Putih. Empat tahun lalu saat usiaku tujuh belas tahun dan cerita ini kumulai.
Dua tahun lalu terhitung semenjak aku bertemu editor naskah baru yang ternyata tidak kusangka dia adalah temannya dari pertemuan dulu yang sekarang sudah terhitung empat tahun lamanya.
Sementara, editor naskah baru yang ternyata adalah temannya. Itu sudah terhitung dua tahun pergantian musim.
Ada banyak hal selama itu. Beda orangnya, tetapi kelakuan mereka berdua hampir sama, entah ada kerja sama di antaranya atau bagaimana? Editor naskah yang kutemui hari itu di negeri Gajah Putih sukses membuatku trauma untuk kedua kalinya. Dia tidak lagi membuatku seperti dulu membuang naskah ke tong sampah, melainkan lebih ngeri, sukses membuatku punya bayangan perintah dan lantas kubakar di jalanan, tanpa penyesalan.
Tidak. Aku tidak seharusnya mengingat semua itu, seperti kata kakek usai aku bercerita padanya. Aku bisa membuat suatu kenyataan yang indah. Pahit pun tak apa, asal keinginanku bisa terbayang, jangan dikenang kenang dalam ingatan.
Akan tetapi, aku tidak bisa memungkirinya. Ingatan itu hadir sendiri tanpa kuinginkan sebelumnya. Ia bagai angin yang bertiup tanpa diperintah datang ataupun bisa kusuruh pergi. Ia mengusik! Aku meminta tolong pada sekumpulan cahaya.
Tapi, ingatan itu kembali menjelma sesosok jingga di langit nan kutahu aku tidak bisa melupakannya.
“Kau tahu dari ribuan penduduk di kota Majaz ini hanya koboi gila itu yang suka bercerita tentang wanita yang dia cintai tanpa memandang siapa dirinya.”
“Benar. Dia tidak sadar diri, dia tidak bisa mencintai seorang putri raja. Dia hanya koboi gila yang punya mimpi kelewatan batas. Itu juga mimpi yang gila.”
Ingatan itu seakan memperlihatkan padaku kembali tentang bagaimana beberapa editor naskah yang kelakuan mereka entah mengapa hampir sama dan tentangku yang tidak bisa menerimanya, tentangku yang tidak mempunyai kemampuan menulis.
Kalau aku mempunyai kemampuan lebih dari ini. Kemungkinan ayam jantan akan berkokok, burung elang itu akan terbang lebih tinggi dan memekik di langit.
Hewan hewan di dunia ini bersenandung. Di dataran kutub utara sana. Para pengiun juga bernyanyi dan akhirnya aku tenggelam di lautan api yang menghanguskan diri.
Itulah kata kakek yang menyebutku akan menjadi orang sombong. “Di dunia ini, kita tidak pernah tahu, Man. Dibalik susah payahnya seseorang dalam berusaha ingin menggapai impiannya. Lantas dia pun pada akhirnya mendapatkan kegagalan dari usaha keras yang selama ini dia perjuangkan, tentunya dibalik semua itu ada terkandung hikmah bagi orang yang mau memikirkannya. Bisa jadi, kalau kau menjadi penulis di usiamu dulu belum genap dua puluh tahun, kau akan berubah menjadi orang sombong, orang yang melupakan akhirat, orang yang melupakan orang orang di sekitarmu dan menjadi lalai akan hari kiamat.”
“Dengan kegagalan itu, semangat barumu akan tumbuh. Kau akan bangkit kembali dari keterpurukan. Kau sudah tahu rasanya sakit saat mendapatkan kegagalan dan kau terus mencoba, tentu saat nantinya kau berhasil. Rasa sombong itu sudah tidak ada di dalam dirimu. Apa yang kau ingat saat berhasil adalah rasa syukur atas perjuangan panjang dan semua itu telah dikabulkan Tuhan. Sang Maha Kuasa dan Mengetahui atas segalanya. Pun, keluhan seorang hamba yang bersujud memohon dalam leraian tangis di sepertiga malam. Sungguh seseorang itu tak akan paham artinya lelah dan rasa syukur selama dia tidak berjuang dan berkorban.”
“Man, kau tidak perlu merana, lelaki itu kuat. Maka berjuanglah selalu.”
Itulah kata kakek saat aku bercerita padanya tentang editor naskah yang kutemui ternyata kelakukannya sama saja dengan editor naskah dulu. Kejadian itu seperti terulang lagi. Kakek tidak banyak menggubris kalimatku, hanya memberi nasihat agar aku tetap semangat.
Di tahun saat usiaku tujuh belas tahun dulu. Sebelumnya Wapta bertanya aku hendak pergi kemana?
Saat aku berdiri mematung di jalanan menunggu angkotan kota. Dengan tulisan naskah itu kudekap di dada. Aku menjawab ringan sambil tersenyum, kataku ingin bertemu editor naskah dan mencoba.
“Hmm.. apa kau sudah yakin, Nar?”
“Iya, yakin. Kau tahu selama ada kesempatan, tak akan kubiarkan. Aku akan berusaha meraihnya dan mencobanya adalah salah satu jalanku untuk mengetahuinya.”
Aku mengacungkan jempol. “Okeee...”
Wapta tertawa. Kami membicarakan banyak hal sambil menunggu angkotan kota dan Wapta menunggu jemputannya yang pada akhirnya dia dijemput oleh salah seorang supir pribadi. Masuknya Wapta ke mobil itu, aku hanya bisa menatap diam dan memberikan senyuman sambil mendadah. Beberapa saat berlalu, mobil itu bagai hilang di pandanganku.
Senyuman tadi yang diberikan Wapta padaku masih jelas kuingat, wajah itu tersenyum balas mendadah. Aku merasa bahagia entah mengapa senyuman itulah yang selalu kunanti dari wajahnya.
Wapta, sebenarnya aku tidak yakin akan menghantarkan naskah ini, tetapi mau bagaimana sesuatu yang belum jelas itu akan tahu saat aku mencobanya.
Beberapa menit berlalu, saat itulah ada satu angkota kota. Aku berdiri sejenak mematung dan masuk perlahan sambil meminta permisi kepada orang-orang.
Di sepanjang perjalanan menaiki sebuah angkotan kota, menuju ke arah salah satu tempat yang telah dijanjikan. Dua menit tiga menit memelesat dengan tatapan mataku terus mengecek tulisan.
Salah seorang di sampingku menyapa. Melihat juga tulisanku. “Kau sepertinya sibuk dengan tulisan itu?” tanyanya.
“Tidak, saya hanya mengecek ulang setiap apa yang sudah saya tulis di lembaran ini.”
“Kau masih SMA?” tanyanya lagi.
Seragamku belum kulepas. Yeah, benarlah itu membuatnya bisa menebak dengan mudah. Mungkin sekadar basa basi.
__ADS_1
Aku mengangguk. Orang itu memberikan amplop yang ternyata isinya lima ratus ribu kepadaku. Aku menggaruk kepala heran, kenapa dia memberiku amplop?
“Bagaimana kalau aku membeli tulisanmu itu untuk kujadikan bahan lanjutan novelku, kau tidak keberatan?” katanya.
Aku tidak percaya saat mendengarnya. Hei, ayolah. Ini novel menceritakan tentang koboi milikku yang rasanya tidak sembarangan akan kuberikan begitu saja.
Walaupun dia memberiku dengan banyak uang sekali pun. Sebenarnya aku tidak membutuhkan uang, aku menulis untuk diriku sendiri dan selama ini berusaha untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa aku juga bisa, membuktikan karakter fiksi yang hidup sebatang kara bisa menciptakan sebuah mahakarya.
Aku tidak membutuhkan uang dalam artian aku menulis untuk diriku sendiri. Bahkan di cerita koboi itu memuat tentang walikota yang korupsi. Dalam tindak munafik koboi dalam ceritaku menyamarkan identitas dan bergaul bersama mereka, hasilnya walikota itu tertangkap dan semua barang bukti ada di tangan seorang koboi yang terlebih munafik melakukan tindak pahlawan.
Dia sepertinya seorang penulis yang sama sepertiku. “Maaf, saya ingin bertanya apa bapak ini seorang penulis?” tanyaku.
“Ya, aku melihat sekilas tulisanmu dan intinya itu bisa buat lanjutan novelku.”
“Bisakah aku melihatnya lagi untuk keseluruhan tulisanmu itu?” Dia berkata dan apa yang kuherankan adalah dengan anehnya aku malah memberikannya.
Itu refleks, sebetulnya aku tidak ingin memberikan naskah itu padanya. Sekarang, aku ada sebuah janji dengan editor naskah.
Usai beberapa menit dia mengeceknya, lalu memberikannya padaku. “Tulisanmu ini bagus dan inti dari ceritanya lumayan bisa ditemukan. Hanya saja, kalau boleh aku beri pendapat padamu, jangan tergesa gesa mengantarkannya ke ruang editor naskah dan itu bisa membuatmu persis seperti mendapatkan sebuah tamparan keras. Itu sensasi penulis pemula.”
“Sepertinya kau baru menulis tahun ini?”
Dia menebak dan semua itu benar.
“Bapak ini seperti tukang tebak profesional, saya merasa takjub dengan bapak.” Aku tidak niat memuji, itu hanya basa basi.
Dalam batinku saat mendengarnya kok bisa tahu aku ingin mengantar naskah ini ke ruang editor? Dia siapa? Jangan bilang dia mata mata yang sejak awal mengintai mangsanya? Aku mengambil naskah itu tanpa menjawab apa pun lagi.
***
Angkotan kota itu saat ini berhenti di depan gedung besar penerbit ternama di Asia Tenggara. Ya, ternama? Wah—woow.
Di sinilah tempat janji temuku dengan salah seorang editor naskah, saat itu aku berdoa dalam batin melontarkan kosa kata terbaik di atas segala hari yang terlewati.
Astaga, jantungku terasa ingin copot. Gugup yang kurasakan. Ayolah, jangan lebay... aku tidak selebay itu menatap gedung sebesar ini. Benar, kawan. Aku tidak lebay hanya kagum bisa menatap dan menginjakkan kaki di tempat ini.
Menghela napas adalah pekerjaanku sehari-hari. Lebih tepatnya hobi. Eh? Mana ada, itu cuma kebiasaan.
Sembarangan, itu bukan termasuk hobi tapi sudahlah. Aku tidak punya banyak waktu dalam hal menjelaskannya. Jazu juga pernah berkata, “Helaan napasmu itu bagai tiupan hidung gajah, teman.”
Jazu tertawa lepas dengan raut wajah yang kutatap menyenangkan.
Itulah juga yang membuatku tertawa bagai tali yang sambung menyambung. Lawakan kami absurd dan anehnya aku malah tertawa mendengarnya. Mungkin saja, itu karena atmosfer persahabatan di antara kami yang terjalin cukup erat.
Di kala waktu bersantai seringkali kami menghabiskan waktu bersama sambil bermain kata majas dalam ungkapan yang terlebih seru dibahas, lebih menyenangkan.
Semoga pertemuanku dengan editor naskah ini lancar selancar jalanan yang bebas dari hambatan dan kemacetan.
Semoga saja, itu doaku.
Sekarang, aku tahu dulu salah mengucapkan doa, jalanan itu tidak selalu bebas dari hambatan. Bisa di suatu waktu ia akan macet atau kendaraan yang habis bensin di tengah jalan.
Lupakan semua yang ada dalam benak pikiran sepandang.
Naskah itu kini kupegang dalam segenap langkah pasti. Di dalam angkotan kota yang berhenti di titik temu itu. Aku terkejut menatap orang yang tadi melihat naskahku dan memberi uang 500rb itu menyeringai.
Persis menatap tidak main-main yang membuatku menelan ludah.
Itu cuma persepsiku yang berlebihan dan berusaha kubuang jauh-jauh.
Apa yang sekarang kulihat?
Megah. Gedung yang megah, kawan. Sajak, temanku dulu dan juga yang lainnya. Inilah moment pertama dalam hidupku ke tempat penerbit yang ternama di Asia Tenggara.
Aku pernah bilang dulu kepada Sajak bahwa aku ingin menjadi penulis terkenal, tunggu saat ini aku sedang melangkah dengan pasti, kawan. Ini tidaklah berat, aku harus bisa tenang dan yakin.
Ini cuma pembicaraan sekilas, tidak pula panjang lebar dan memakan banyak waktu.
Setiap ruangan mempunyai pendingin yang terpampang di atasnya. Rak buku cukup memanjakan mata bagi orang sepertiku.
Menyusuri dan bertanya di mana ruangan editor naskah itu berada. Aku tersenyum ramah, melangkahkan kaki dengan percaya pada satu hal yang telah lama ada dalam helaan napas hidupku. Dramatis.
Kupikir tidak banyak mengapa tentang semua ini, aku tidak banyak lagi bertanya karena ruangan editor naskah itu berada di depanku. Pelan pelan mengembuskan napas, membuka ruangannya yang terlebih di sana kutatap salah seorang dengan posisi duduk membelakang pintu masuk, menghadap ke jendela kaca.
Aku meletakkan naskah itu di mejanya tanpa melihat wajah editor itu dan dia mempersilakanku duduk. Aku pun duduk di sana dengan tidak peduli banyak hal.
Sabar dulu. Tarik napas dan jangan pernah berpikir hal lain, ini mudah hanya pembicaraan yang kubayangkan singkat.
“Bagaimana harimu, wahai penulis baru?” Dia bertanya tanpa menatap ke arahku.
Dalam benakku mengatakan dia sombong. Tatapan matanya masih ke jendela kaca, di luar gedung, panorama cahaya dengan gedung gedung bertingkat ternampak.
Bahkan aku berduduk bisa menatapnya dengan jelas, pemandangan kota ini begitu indah. Ini pertama kalinya dalam hidup merasakan atmosfer yang berbeda.
Hari hariku kujawab dengan baik-baik saja, sejauh ini memang tidak ada yang tidak baik-baik saja, aku baik seperti pada umumnya. Bisa dilihat dari napas dan tatapan mataku yang terlebih menyegarkan. Karena sebelumnya aku sempat becermin di jendela. Menguatkan tekad dan mental terlebih dahulu.
Pelan pelan dia memalingkan kursi dengan wajahnya yang tidak pernah kusangka. Astaga? Aku termangu. Dialah orang yang tadi bersamaku di angkotan kota. Ini kejutan atau bala bencana yang akan hadir dalam hidupku, itu dua hal dalam benakku.
“Ba—bagaimana mungkin? Ternyata...” kataku refleks. Berdiri kaget.
Editor itu tertawa terdengar cukup sadis, bukan tawa menyenangkan.
“Duduklah.” Dia menyuruhku lagi.
Aku memang tidak pernah menyangka. Duduk kembali perlahan dengan diliputi debaran jantung dan perasaan aneh. Belum sempat lama-lama berbicara.
Dia sekarang malah berucap menginginkan naskah punyaku dan jelas saja aku menolaknya dengan penolakan yang sama.
Bahkan aku menolaknya dengan tegas agar ada kesan seriusnya. “Saya datang kemari ingin menjadi penulis. Bukan menjadi orang yang menjual naskah itu ke orang lain. Saya tidak ingin menjualnya.”
Itu kujawab mantap, tidak ingin naskah itu berakhir ke tangan orang lain. Harapan besarku menjadi penulis adalah dari dulu semenjak aku kecil, itu juga yang pernah kubilang pada Sajak.
Di mana dulu kami membahas sesuatu mengenai cita-cita dan apa yang seterusnya akan kami lakukan masing-masing. Inilah awal apa yang ingin kuraih dalam catatan sederhana, tidak perlu panjang, pentingnya menerima.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa, itu keputusanmu tidak ingin menjualnya.” Dia berkata sambil mengembuskan napas.
“Kau penulis baru yang tidak tahu tata bahasa dan tanda baca, genre seperti ini tidak cocok buatmu, terlebih bahasanya kaku. Kalau aku yang menulisnya kesan dalam cerita ini akan lebih bermakna.”
“Kupikir kau tidak cocok menjadi penulis.”
“Apa maksudmu?” tanyaku memastikan.
__ADS_1
Enak rasanya, dia berkata tanpa menjaga lisan dan sembarangan. Kutampar tahu rasa! AKU SADAR DIRI, ya lebih tepatnya harus sadar diri di mana tempat posisiku.
Itulah juga kebiasaanku yang sering merasa jago sendirian dan sebenarnya mana berani? Itu hanya rasa panas dalam darahku saat mendengar ucapannya.
Editor itu mulai menyeringai. “Naskah ini adalah sampah! Itu ringkasnya.”
“Kau tahu naskah ini tidak layak terbit, kau bisa memilih menjualnya padaku atau memilih membuangnya ke tong sampah? Itu pilihan. Maka pilih saja di antaranya.”
“Atau mungkin kau memang penulis sampah yang tidak tahu aturan?”
“Apa maksudmu?” Saat itu hanya itulah yang bisa kukatakan.
“Ya, kau tahu naskah sampah seperti ini, hanya ditulis oleh penulis sampah. Dan kaulah sampahnya yang menulis naskah ini, kau tidak menyadari semua itu? Hei?”
Aku masih diam mendengarkan. Beribu ucapan hinaan mulai dia keluarkan dan naskah itu dihempaskan olehnya.
“Buang naskah ini ke tong sampah, naskah ini benar benar tidak layak terbit. Ingin jadi penulis? Hah! Kau menulis saja masih berantakan seperti ini? Pikirkanlah dalam otakmu yang tidak waras, kau itu tidak punya otak atau bagaimana?”
“Tidak lebih, ini hanyalah sampah!”
Kata itu bagai petir menggelegar, kawan. JDUUAR! Besarnya harapanku kini seakan mengecil saat mendengar ucapannya
Aku tidak bisa menulis dramatis, tetapi saat ada orang yang berkata seperti itu rasanya memang aku punya bayangan dalam otak akan membuangnya ke tong sampah, tetapi aku mendewasakan sejenak pikiran untuk beberapa saat.
Aku seakan ditampar oleh satu kalimat itu saja yang kudengar. Jantungku, berdebar tidak keruan, kepalaku memanas.
Inilah moment pertama dalam hidupku. Lelah pun terasa, berdesir perih kian meronta, menjular ke seluruh kepala dengan irama yang tidak kusukai. Satu kata dalam benakku adalah sabar! Kuingat satu ceramah kemampuan seseorang dalam bersabar benar benar diuji saat benturan yang pertama kali.
Kalau aku mampu bersabar untuk saat ini menatap tangguh, di kemudian hari aku akan terus bisa bersabar dengan segala apa pun yang menimpa mental dan jiwaku.
Jarinya mengetuk naskahku. “Kuulangi sekali lagi agar kau sadar, kau ingin menjadi penulis? Itu mimpi! Dengan naskah yang berantakan seperti sampah, heh kau datang ke tempat ini? jual saja naskahmu ini dan nikmati uang 500rb.”
“Saya tidak ingin menjualnya.” Kujawab mantap bersikukuh mempertahankan.
“Kau penulis baru yang keras kepala.”
“Semakin Anda berkata demikian. Itu berarti naskah saya ini lumayan sampai Anda ingin membelinya.”
Kalau hanya satu lawan satu, berbalas argumen dari dulu aku adalah jagonya bicara. Tapi, saat itu tidak pernah kusangka. Editor naskah itu menyeringai.
Kalau Sajak menyukai seringai wajah pemain sepak bola favoritnya. Maka aku membenci seringai wajah editor naskah.
Dia mengambil ponsel dan sepertinya menelfon seseorang lainnya. Beberapa menit kemudian, puluhan staf tiba ke ruangannya. Editor naskah itu menyerahkan naskahku pada mereka.
Apa yang mereka lakukan? Bersama-sama mereka kompak menertawakannya seakan akan mereka adalah beruang menyerang seekor kambing yang terlepas dari barisan.
Aku sendirian di sana dengan mental yang mulai melemah, suara tawa mereka dan hinaan yang membuatku seakan ingin mengeluarkan air mata, tetapi lelaki harus kuat dalam menjalani hidupnya.
Ini adalah novel sampah! itulah kata mereka saat menertawakan naskah itu.
“Dia ingin jadi penulis, lihatlah naskahnya yang berantakan itu. Hahaha... mimpi!”
“Mimpi itu jangan ketinggian.”
“Iya, pas jatuh nangis atau patah tulang.”
Mereka berpuas diri tertawa. Editor naskah itu menyeringai sambil mengacak acak lembaran naskah itu dan mencoretnya.
Terlebih ada suatu bab di mana aku fokus mendeskripsikan perasaan sang tokoh yang di situ mereka bilang karakter fiksi punyaku terkesan panci. Huruf p terbalik.
Wajah-wajah mereka itu benar tidak bisa kulupakan. Mereka puas tertawa, kalau diibaratkan cahaya, aku hanya sekumpulan bintik kecil di antara puluhan cahaya yang lebih tenang dariku.
Apa yang kulakukan saat itu? Hanya bisa menunduk diam tanpa bisa membela apa pun. Semangat yang dulu ada dalam setiap hari hariku itu tampak bagai bendera yang berkibar di langit dan kau tahu bendera itu kini putus diterbangkan angin berakhir jatuh ke tumpukan api, lantas hangus.
Semangat hidupku bagai bangunan yang kini runtuh. Aku tidak bisa berbuat apa pun dalam keinginan membela apa yang ingin kubela, tidak juga bisa kuterima.
Masih sama seperti sebelumnya, bahkan saat aku memutuskan beranjak pergi dan keluar dari ruangannya tanpa sedikit pun bicara aku tetap ditertawakan.
Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu apa yang terbayang hanya hinaan mereka.
Pada akhirnya aku memilih satu keputusan, membuang naskah itu ke tong sampah. Itu pilihan terakhirku dengan mental yang memang tidak pernah kuat. Seorang lelaki lemah sepertiku seakan tak mampu menghadapi badai kehidupan ini.
Seringkali aku merasa hidup sendirian yang memang kenyataannya tanpa sosok seorang ayah dan ibu di sisiku, hanya mempunyai beberapa orang yang bisa disebut kawan, tidak banyak pula yang bisa kuterangkan mengenai ini semua, bahkan menceritakannya kau tahu itu bagai tulisan hampa yang tidak bisa dirasakan. Nada nada segenap rasa hilang diterkam derita.
Sejak saat itulah aku membenci seringai wajahnya. Editor naskah itu yang terlebih kaku wajahnya, tidak tersenyum saat kutatap, tidak pula memberi kenyamanan saat bertutur kata dengannya.
Saat keluar dari ruangannya, aku memilih diam tanpa bicara, benar aku menatap kosong tanpa bisa membela diri, bahkan nama editor itu saja aku tidak tahu.
Persis dua tahun kemudian berlalu. Mungkin, sempat pikiranku menebak di antara mereka yang berteman akrab dalam dunia editor punya koneksi bercerita satu sama lain hingga keduanya memiliki dua hal yang sama. Memperlakukan orang sepertiku dengan tidak seharusnya.
Menatapku seperti itu dan kau tahu semua itu berakhir dengan kalimat penghinaan yang kupikir itulah jati diri mereka.
Mereka punya koneksi saling berhubungan satu sama lain untuk menolakku dengan berbagai alasan yang tidak wajar.
***
“Itulah ringkas cerita, kek.” Aku menatap kakek yang tersenyum.
Aku tidak berbahasa thai dalam menjelaskannya, mulutku sedikit tidak bisa lebih banyak mengucapkan kosa kata. Kakek memakluminya tanpa menggubris.
“Kau tidak salah, Man. Kau juga tidak apa-apa atas semuanya, lelaki itu kuat bukan hanya sekali atau seberapa kali pun dia terkena terpaan. Asalkan kau bisa memikirkannya dengan lapang, apa pun yang ada di dunia ini dalam bentuk cobaan hidup dan saat kau sudah mengenalnya dengan betul betul mantap. Kau sudah pernah mengalami cobaan berupa air mata dan rasa sakit saat kau gagal. Itu semua tidak salah, Man. Itulah perasaan seseorang, setiap orang di dunia ini pasti pernah merasa sedih atau perasaan lainnya, itu lumrah terjadi dalam hidup ini.”
Kakek memang sering mengucapkan kata bijak padaku, sesekali bercerita tentang masa mudanya dulu. Bagaimana dirinya dulu kuliah di jurusan Astronomi. Kakek punya banyak hal saat membuatku tertawa. Mengejek seringai wajah si editor naskah yang sebelumnya kuceritakan.
“Yang penting kau terhibur, Man. Mengenai editor naskah itu biarkan sudah, pastilah kau bisa berkuat diri menghadapinya, semua itu tidak mengapa. Masa lalu biarkanlah tenggelam, jangan pernah diingat ingat lagi agar kau bisa terus maju tanpa perasaan sedih untuk ke depannya, tanpa penyesalan dan tangisan. Kau akan berdiri kukuh, untuk saat ini percaya saja tidak akan membuatmu rugi, Man.”
“Jagalah hatimu agar tidak membenci siapa pun, tidak ada yang perlu disalahkan. Kalau perlu salahkan dirimu sendiri agar kau bisa becermin dan di suatu hari nanti kau bisa fokus memperbaiki kesalahan.”
Kakek, aku percaya dengan ucapanmu dan hidup ini akan terus kujalani dengan apa pun takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. Bisa jadi, itu memang benar. Di sekian waktu nanti, aku akan membuktikannya pada mereka bahwa tidak selalu orang yang mereka tatap begitu akan selamanya menjadi orang yang sama. Sejatinya manusia bisa berubah, hal yang perlu dikuatkan adalah mental dan jiwaku.
Mereka yang dulu tidak percaya padaku, tetapi jauh dalam batinku mengukir suatu keinginan yang dari dulu hingga saat ini aku hanya menulis untuk membuktikan pada seseorang dan sangat ingin bertemu kembali dengan sesosok wanita bernama Wapta. Dialah orang pertama yang percaya dan seorang teman lama yang telah mengisi kegembiraan dulu saat di sawah hujan hujanan dan di dalam kelas yang riuh oleh murid murid bersorak sorai. Sajak, dialah orangnya.
Hanya itulah keinginan terbesarku. Ingin bertemu kembali dengan mereka berdua.
Kelak ini tidak akan sulit.
Sebelumnya aku memang membenci seringai wajah editor yang kutatap, semua itu bukan tanpa alasan. Melainkan ada beberapa alasan yang membuatku yakin untuk membencinya saat itu. Dia dengan mudahnya mengejek naskahku hanya untuk bisa membelinya. Naskah itu dulu memang sudah pernah kubuang, tetapi semburat cahaya masih tersimpan di drive yang enggan untuk kubuka sampai saat ini, naskah itu tetap kubiarkan.
Aku ingin memekik sehabis suara dengan lantunan bahasa asing yang tidak ingin kuterjamahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami. Tepat hari ini, saat aku kuliah aku tidak menyangka akan kembali bertemu dengan editor naskah itu.
Usai empat tahun berlalu, waktu yang kian meninggalkan kenangan pahit dalam getirnya napas berembus, kini aku malah bertemu kembali dengannya, usai selama itu membangun kembali tekad dan semangat. Dengan dia yang tidak pernah ingin kutemui lagi dalam hidupku.
__ADS_1