
Aku melangkah keluar kamar. Menuruni tangga kembali menuju ke ruangan makan sebelumnya. Di sana kulihat kakek dan nenek masih santai bercengkrama dengan tatap hangat menggunakan bahasa thai.
Bahasa yang kupelajari memusingkan kepala. Itulah bukti belajar dulu, baru sekarang mendapatkan hasil yang terbilang lumayan. Tutur kataku masih kaku dan terkesan lidahku seperti terpelecok.
Perlahan aku sekarang terbilang bisa bertutur bahasa thai yang membuat pikiranku menjadi segar kala mendengarkan suara orang bercengkrama, sebaliknya dulu terbayang dalam ingatanku menyebalkan.
Seperti kasur yang tak empuk, lama-lama badan sakit, kepala juga ikut sakit. Itu dulu sebelum aku belajar keras ingin menguasai bahasa tersebut, bahkan merangkai aksaranya di lembaran kertas yang sering kucoret-coret, buang ke tong sampah.
Bahkan saat ini aku tak pernah menyangka Rangkaian ini akan sampai ke delapan. Inilah sebelumnya di mana tentang suatu perkara cinta yang tak pasti dan aku telah menggabungkan semua rasa yang selama ini kupunya teruntuk Wapta.
Bukan untuk siapa-siapa, kupikir semua ini hanya untuk dirinya yang entah bagaimana lagi kuterangkan, juga sekilas peristiwa yang selama ini kulewati bersama kakek dan nenek. Keseharianku melewati dunia yang teramat indah bagiku sekarang.
Suram? Tidak, kurasa tidak begitu, tetapi tak bisa kumungkiri bahwa dulu aku pernah menyangka kehidupanku suram, berbagai dugaan yang kurasakan. Kilauan yang membuat mataku perih.
Nyatanya kini aku membuktikannya sendiri mengenai pergantian jam ke jam hingga hari yang telah memberikan arti dalam kehidupanku selama ini.
Selama ini berlalu dengan kepingan yang tak lagi sama, waktu terus meninggalkanku dengan beberapa kejutan. Terlebih apa yang kurasakan ini akan terasa tentram diingat.
Mensyukuri hidup dengan badan sehat dan kalimat yang terucap dalam setiap langkah menatap dunia ke berbagai wilayah.
Walaupun aku tahu sekeping logam bisa hancur dan sebatang kayu bisa patah. Sepertinya hati bagai capit kepiting yang patah berangsur akan mulai tumbuh capit baru seiring berganti waktu.
Ini hanya mengenai kepiting yang hari itu aku pergi ke salah satu tempat penampungan banyak kepiting. Hewan yang bagiku super fantastis dapat meregenerasi dan menumbuhkan capit yang telah patah.
Bahkan berganti cangkang. Kemungkinan sama halnya hati yang saat itu kurasakan menyiksa diri dan aku terjatuh ke dasar jurang kerinduan dan terombang ambing di lautan, berada dan bergumam di bawah naungan kebimbangan.
Terpaan angin di musim kemarau. Panas dengan derajat yang hampir mengukus tubuh, terlebih perasaanku mengatakan berbagai hal ketidakpastian ucapan.
Mengenai hidup ini seperti ucapan kakek bagai bintang yang bersinar, suatu saat akan redup. Bintang di langit malam.
Aku menyakini apa yang terbaik untuk saat ini mendamaikan suasana hati. Melangkah dengan satu perasaan pasti bahwa semoga aku akan berhasil mengobati masalah hati yang telah patah.
Ini hanya masalah waktu dan kerinduanku suatu saat akan sirna dan menemukan titik terangnya di kemudian hari.
Masih pagi. Kalau ingin jangan galau dulu. Banyak senyum.
__ADS_1
“Kakek, nenek. Heeehe.” Suara senyuman yang terdengar aneh.
Pun sama, aku merasa aneh sendiri. Kakek dan nenek syukurlah tidak mengatakan hal demikian. Kadang punya teman menyebut itu tingkah laku orang gila. Astaga? Teman yang suka sembarang ucap.
Aku menghampiri dengan sapaan senyum hangat mengambil tas. Sebentar berdiam, memasang niat berangkat.
Doa keseharian yang kuucapkan dalam batin. Itu penambah semangat. Bahkan, kurasakan sesuatu yang melipat gandakan energi dalam jiwaku seakan memunculkan warna yang begitu memukau.
Kakek saling pandang bersama nenek yang tampak tersenyum. Jangan lupa ucap salam dan minta doa sebelum berangkat.
Saat ini aku meminta doa sakti kepada nenek supaya dihindarkan dari dosen killer yang suka memarahiku tidak jelas.
Dialah dosen menyebalkan dan kala mendengarnya telingaku bagai disetrum menjulur ke sekujur tubuh. Bagai dilempar ke lautan, napasku berembus lelah berenang ke daratan. Hampir tenggelam.
Bahkan aku merasa aneh, saat itu aku disuruh mengerjakan tugas berpuluh halaman, hanya karena lupa menyapa dan memberikan senyum kepadanya.
Aku menatap kakek sekarang. “Aku merasa lebih baik mendengar ceramah kakek daripada harus mendengar ceramah dosen yang bagiku sangat menyebalkan.”
Kakek tertawa. “Man, dosen memarahimu pasti kau juga salah, sering melamun!”
Aku sekarang diam mendengar ucapan kakek yang bagiku itu sedikit benar adanya.
“Man, kau harus bisa sabar. Yakinlah dosen itu punya alasan memarahimu semoga kau menjadi makhluk yang berguna di suatu saat nanti, bahkan ambillah sisi baik dari ceramahnya. Walaupun kau menganggap itu menyebalkan, paling tidak kau bisa belajar memperbaiki kesalahanmu di matanya.”
Kakek melanjutkan bicara. Sementara aku sekarang berpura merapikan lipatan tangan yang memang sudah rapi.
Untuk itu kupikirkan ada benarnya, tetapi kakek tidak tahu mengenai beberapa kesalahan yang bagiku dosen itu sengaja jail. Sebelumnya aku telah menyebutkannya. Hanya karena waktu itu lupa menyapa dan memberikan senyum kepadanya. Itu bagiku kesalahan kecil dan kenapa malah dibesar-besarkan. Astaga?
Aku tidak ingin mengatakan hal macam-macam kepada kakek yang justeru kakek tidak akan mengerti masalahku dengan dosen tersebut.
Aku bersalaman ingin mengalihkan topik. Biasanya usai bersalaman percakapan antara seseorang akan berhenti sejenak. Benar saja kakek berhenti bicara, memberikan doa agar aku selalu sabar.
“Kesabaran adalah hal yang terpenting bagi seseorang untuk terus maju dan itulah kunci keberhasilan, Man.” Kakek lanjut bicara.
Aku mengangkat kepala usai menunduk sebelumnya. “Terima kasih, kakek. Untuk seterusnya aku akan mengingatnya.”
__ADS_1
“Nah. Bagus, kau harus terus sabar.”
Aku mengangguk. “Pasti. Insya Allah.”
Pasti kuucap di awal dan di akhir kupikir beberapa orang sepertiku tidak bisa melulu istiqomah dalam hal sabar. Entah mengapa ada saja terjangan badai yang lebih ganas menghantam dinding pikiran ini.
Semoga dengan ucapan itu lubuk sanubari dan pikiran akan selalu bisa bersabar. Karena kalimat doa dan ucapan yang terkandung makna baik di dalamnya berada di atas segalanya.
“Man, itu soal sabar. Sekarang beda pembicaraan, kakek ingin bertanya apa kau ingin tahu berapa lama waktu yang kau habiskan bercermin tadi?”
Kakek bertanya usai bersalaman denganku, seperti mengalihkan topik pembicaraan.
Dia menatap ke jam tangan. Sekarang, aku langsung mengarahkan pandangan, menatap jam punyaku. Kakek memberikan pertanyaan ringan yang tidak rumit.
Mudah kujawab, ingin tertawa. “Berapa? Cuma sepuluh menit,” kataku tanpa membiarkan kakek menjawab.
Sebenarnya saat itu aku bercermin cuma semenit, kupikir itu pun tidak sampai. Sedikit lama melamun di dekat jendala.
Kakek menggeleng. “Tidak, Man. Kau salah besar memahami pertanyaan!”
“Eh, salah?” kataku terperangah. “Bagaimana mungkin, kok salah?”
Aku tidak terima mendengarnya begitu saja. Bukan apa-apa, hanya sedikit protes apa maksudnya, memancing kakek bicara lumayan melelahkan.
“Kakek memberikanmu pertanyaan begini apa kau ingin tahu berapa lama waktu yang kau habiskan bercermin tadi? Jawabannya hanya dua, Man. Kau ingin tahu atau tidak.”
Astaga, aku baru paham sekarang. Menepuk jidat. Kakek menjelaskannya cukup membuatku berpura-pura tertawa.
“Itulah bukti kuatnya, Man. Kau selama ini hanya sibuk memikirkan wanita itu hingga otakmu sekarang tidak cerdas.” Kakek seperti menajamkan ucapan, tetapi raut wajahnya sangat berbeda.
Aku bahkan tertawa mendengarnya. Saat itu menatap pasti dengan dugaan kuat dalam benak pikiranku. “Oowwwuh, kakek pasti sengaja mengatakannya ingin memberikan ceramah susulan.”
Sejenak tertawa ingin bercanda bersama kakek yang sebelumnya juga tertawa beda suara, walaupun ini terdengar garing. Tapi, tawa itu bisa memecahkan suasana yang terasa kebersamaan kadang membuatnya lebih istimewa. Atmosfer suasana bahkan ikut menggebukan sanubari untuk tertawa.
Ini masih pagi dan matahari sekarang baru menampakkan sinarnya yang jelas ditatap orang di luaran sana, seperti katanya jangan galau dulu, banyak senyum.
__ADS_1