Daur Ulang

Daur Ulang
Genangan Air Keruh


__ADS_3

Apa yang terjadi sebelumnya. Itulah kesalahanku karena diri ini tak bisa menahan amarah. Seberapa banyak lembaran kertas yang kuhabiskan untuk sekadar menjelaskannya, empat atau lima lembar. Terserahlah, aku lelah.


Kemungkinan tidak banyak. Kuharap untuk ke depannya diri ini akan lebih mampu menahan apa yang harus kutahan, lebih tepatnya mengendalikan perasaan. Baik buruknya keinginan. Ingin marah atau apalah yang sama saja mengikuti perasaan.


Kendaraan ini terus menerus melaju di jalanan, roda yang berputar menuntunku dalam menelusuri malam-malam di waktu maghrib. Lebih tepatnya belum memasuki waktu isya untuk wilayah Bangkok dan sekitarnya. Dekat lagi, waktu berganti.


Semua orang juga tahu mengenai itu, mungkin inilah yang hari itu juga dikatakan salah seorang editor naskah.


Dia berlaku baik memberikan saran dengan caranya, walaupun terdengar kasar. Menyuruhku membakar naskah yang kuserahkan kepadanya. Mungkin itu adalah ide yang bagus. Lebih baik lembaran itu hangus tak bersisa menjadi abu.


Aku juga sadar tidak begitu mengerti mengenai apa yang tertera di dalam suatu makna pengertian kelipatan angka ganda yang dikalikan atau mungkin dibagi entahlah, menguraikannya dalam bentuk penjelasan berlibat, kurasakan diri dalam memahaminya tak keruan.


Saat ini. Saat berkendara menuju pulang, barulah aku menyadari semuanya mengenai kalimat apa yang kurangkai selama ini teruntuk Wapta mungkin tak sebagus yang kukira, tulisanku yang katanya tidak bernyawa.


Iya, kenyataannya tulisan memang tidak bernyawa, tetapi bukan itu maksud ucapan editor sebelumnya. Akan kujelaskan mengenai tulisan bernyawa adalah tulisan yang memberikan kesan terindah atau tidak sama saja yang terpenting seakan tokoh itu nyata di hadapan. Apa yang kutuliskan ini memang nyata terjadi.


Hanya saja kekuranganku dalam penguraian kalimat yang membuatku tak bisa menggambarkannya lebih detail kejadian demi kejadian hingga membentuk suatu cerita yang terasa nyata. Sementara, cerita yang kubuat ini jelas terasa hambar.


Inilah yang membosankan. Cerita yang di dalamnya tidak ada dialog percakapan seakan hanya aku yang hidup di dalamnya. Iya, ini semacam curhat atau kenapa aku juga tidak tahu lebih detail mengenainya.


Apa yang terbaik bagiku saat ini adalah menulis catatan, lebih leluasa dari hal apa pun, lebih bebas menggunakan kalimat terulang atau kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan.


Aku berkendara di malam hari masih berada di waktu maghrib, belum memasuki waktu isya sekarang memuncakkan rasa ingin kembali menulis catatan dengan kalimat panjang lebar, tentunya menggunakan kata yang mungkin dalam bentuk baku atau nonbaku. Terserahku.


Catatan yang tentunya dibaca hanya olehku, bukan untuk orang lain yang katanya perlu disempurnakan dengan beberapa kaidah penulisan dan lain sebagainya.

__ADS_1


Dengan tetap mempertahankan satu kesatuan arti tanpa dibebani alur cerita. Ini lebih baik, lebih leluasa. Semua tulisan ini hanya sekadar catatan atau istilah sebelumnya yang kusebut koran pagi.


Bukan apa-apa, semua ini sebatas menulis kata menjadi kalimat hingga ke paragraf yang sebenarnya kesemuaan apa yang telah kutulis ini memiliki alur cerita.


Dari awal hingga saat ini memang inilah catatan yang hari itu kutulis, catatan yang telah lama terpendam di perangkat lunak.


Kalau ada yang bertanya, sudah berapa banyak bab yang terlewati? Kujawab menunggu waktunya tiba, semuanya tidak sebanyak dalam hitungan seratus, kurang dari lima puluh, mendekati atau lebih.


Tunggulah ....


Tunggulah, saat tulisan ini mencapai ribuan bab nantinya, tunggulah hingga aku bisa menulis banyak hal lebih detail, mungkin akan terulang-ulang. Kejadian yang tempo lalu akan terus dibahas hingga mendapat titik kesempurnaan yang bisa dirasakan.


Selama ini aku terus menulis kata, terus melakukan sikap terbaik yang bisa kulakukan teruntuk sang kekasih. Sosok yang sering muncul di dalam batin, di depan mata juga di dalam pikiranku.


Inilah yang sulit. Cinta yang tak mampu kukatakan terus terang ditambah jarak jauh, juga sedikit rasa kerinduan aneh yang sampai saat ini jelas kurasakan.


Rasa yang sampai saat ini tak mampu untuk kukatakan. Lebih baik begini, lebih nyaman dan terasa bebas tanpa ada hal yang membuatku sengsara memikirkan lebih dalam. Hanya rindu yang sepele.


Beberapa kali kadang aku sering kesulitan mencari kata yang sesuai di dalam benak pikiranku. Aku sering kesulitan hingga membuat apa yang ingin kusampaikan susah dimengerti, masalah terbesarnya adalah kesulitan mencari kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini.


Kesulitan yang amat berat. Di punggungku seakan membawa beban yang tak mampu kupisahkan dan kutinggalkan.


Kata yang membingungkan, inilah mungkin ketidaknyambungan kata antara satu dan yang lainnya. Aku berusaha untuk menyambungkan semua ini menjadi satu cerita yang jelas, walaupun dalam bentuk kalimat yang menerangkan seakan aku sedang bicara sendirian.


Sejatinya tidak begitu. Semua apa yang kutulis ini berlanjut dari bab ke bab. Dari awal hingga saat ini yang memberatkan mataku menatap lebih lama kala membacanya, merasakan sendiri saat hari itu editor naskah menatap tajam ke arahku.

__ADS_1


Ini catatanku hari itu. Hari di mana sang editor naskah bilang lebih baik katanya naskah itu dibakar. Iya, aku masih jelas mengingat kata-katanya yang membuat gejolak atmosfer di dalam benakku memanas, mengakibatkan amarahku kian membeludak dan sulit kuhentikan.


Sedih. Apa yang kurasakan tidak ingin kujelaskan lebih sedih karena memang itu bukan bakatku, lebih-lebih akan terbaca lebay dan tidak sinkron dengan sikapku.


Sikapku yang saat ini kupunya. Tidak lama, tidak jauh berbeda dengan apa pun perasaan yang kurasakan. Lebih dan lebih dari yang kutahu inilah yang kusadari.


Kota yang saat ini kutatap. Kota yang dipenuhi cahaya di sepanjang jalanan memandang. Inilah kotaku saat ini.


Saat di mana salah seorang editor naskah telah mengatakan hal yang menurutku tidak punya perasaan, menghempas naskah tulisanku seakan ingin menambahkan moment berharga untuk kedua kalinya.


Kota Bangkok. Kota tempat tinggalku saat ini, tidak jauh berbeda dari kotaku sebelumnya, hanya saja kadang kala bertutur menggunakan bahasa thai, rasanya masih susah untuk kututurkan.


Tentunya, aku sadar mengenai apa yang membuatku bisa adalah dengan cara terus berlatih dari waktu ke waktu hingga saat ini. Saat di mana semuanya kurasakan tampak berbeda. Saat di mana tulisan ini tampak berantakan di mata seorang editor.


Saat di mana tulisan ini tidak memiliki alur cerita di mata seorang editor. Apa yang kutahu dan apa yang kurasa mengenai sang editor naskah, kupikir dia hanya sekadar berkata, mengatakan suatu kalimat yang bagiku sengaja ingin meruntuhkan semangatku atau katanya mengetes mental.


Kurasa editor naskah itu berbohong. Selama ini, aku telah berlatih keras menulis, perjuangan yang sama seperti berperang dengan diriku sendiri. Dia masih mengatakan tulisanku sama dengan dulu.


Itulah yang membuatku tidak percaya. Kemungkinan lain, mungkin saja itu benar. Entahlah, aku seakan dibuat berpikir keras hanya karena masalah ini. Masalah yang menurutku seharusnya ringan.


Sekarang, otakku berpikir keras, berusaha mendamaikan suasana, melapangkan atmosfer perasaan yang seakan terasa menyakitkan. Sepertinya bagus juga kalau naskah itu kubakar biar tidak berbekas rasa kekesalan yang sebelumnya kurasakan.


Rasa yang begitu menganggu pikiranku. Lampu-lampu kendaraan di malam maghrib mendekati isya, aku terus melaju menuju rumah, berharap besok atau lusa aku bisa melupakan kejadian sebelumnya.


Saat ini. Aku terus berusaha melupakan wajah editor naskah yang seakan membuat perasaanku kesal kian bertumpuk.

__ADS_1


Ingin sekali berusaha kuleraikan dan kubuang jauh-jauh mengenai semua apa pun dan beragam macam kata yang kurasakan ketidaknyamanan.


Sekilas tatap bagai genangan air keruh yang berada di tengah-tengah taman kota, mengganggu pemandangan indah yang selama ini kutatap di dalam benak pikiranku.


__ADS_2