
Martin Sirikanjana tertawa kecil. Kecantikannya mengembang di sela-sela udara. Aku yakin kala para buaya melihatnya, mereka semua akan bersiul-siul memanggil. Aku tidak menganggapnya apa pun. Biasa dalam pandangan sederhana.
Benarlah, kata Kakek dulu di saat januari terjadi hujan rintik. Kakek bilang: “Secantik apa pun wanita yang tengah kau tatap, kala hatimu telah terpahat pada satu wanita, kau tak akan tertarik. Lihatlah, kakek dari dulu mencintai nenekmu alangkah tidak pernah pandangan ini menatap ke lain wanita. Kau harus tahu itu, Man. Kalau kau tidak percaya, nanti kau akan merasakannya sendiri. Jika kau termasuk golongan lelaki setia, maka kau pasti berbahagia memiliki satu wanita.”
Lagi-lagi wajah kakek bagai hologram muncul tepat di depanku. Jika kuceritakan lebih detail, saat itu aku ditantang kakek menulis cerpen berbahasa thai. Hampir berkutat lebih lama, lebih letih rasanya merangkai Aksara. Tanganku sampai sakit, ingin menyerah, tetapi terus berusaha menulis Aksara Thai lebih kuat.
Akhirnya aku menyerah, angkat tangan meminta keringanan. Kakek memberiku kata-kata yang tertera di atas, aku ditantang lagi menulis ulang, diganti ke bahasa Thai.
Begitulah cerita singkatnya. Sebenarnya ada banyak peristiwa berlalu bersama kakek yang kalau diceritakan bisa memuat ratusan halaman. Kakek termasuk orang yang suka memberi nasehat-nasehat.
Jika aku adalah seorang penulis, saat ingin membuat karya yang di dalamnya memuat nasehat, sangat cocok rasanya aku bertanya pada Kakek. Dia akan menjelaskan lebih dari selembar kertas. Aku pernah berjam-jam lamanya hanya terdiam mendengarkan setiap kata yang diucapnya.
Sekarang, inilah ternyata. Aku sudah tahu apa yang dimaksudkan Kakek, hatiku telah terpahat atas satu nama yaitu Wapta. Untuk sekarang, sepertinya aku harus lebih tenang bagai lautan yang tiada berombak.
Setelah berbicara sebentar. Aku dan Martin Sirikanjana sekarang berjalan memasuki tempat perkulihan.
Dia wanita yang banyak bicara, walaupun sudah kukatakan aku tak minat berucap. Dia terus menghibur dengan gaya ucap cepat, menyisakan diriku yang daritadi hanya diam menyimak betapa cepatnya dia berucap.
Perasaanku sekarang mengatakan diri ini bagai orang yang tertimpa batu di atas kepala. Sakit, tapi tidak berdarah ataupun bagai dikerumuni sekumpulan bintang yang beredar di atas kepala, pusing terasa, tidak sanggup aku mengerti.
***
Di waktu senggang. Pulang dari tempat kuliah, aku bisa menghela napas lega, terbebas dari dosen yang lumayan galak.
Sebelumnya saat di dalam ruangan yang senyap, sibuk mendengar. Martin Sirikanjana sering kali menepuk pundakku. Dia duduk di belakangku, meja itu adalah tempat duduknya, sedangkan aku berduduk di depan dirinya.
Wanita itu seperti tahu aku sedang duduk sambil mengantuk karena malam hari itu aku tidak bisa tidur.
Inilah yang membuatku tak mendengar dengan baik. Kesalahan terjadi karena aku terlelap, tertunduk dan jatuh ke meja.
Dosen galak itu kemungkinan menatapku, menghampiri, lantas menepuk meja dengan keras. Mengenai pergerakannya, aku hanya menduga karena saat itu aku sudah terlelap tidak mengetahui keadaan sekitar lagi.
__ADS_1
Suara tepukan meja bukan main-main, melainkan nyaring sekali. Aku terperanjat bangun mengusap mata.
Begitulah cerita singkatnya, aku harus mendengarkan ceramah susulan, mangut-mangut meminta maaf. Itulah kesalahanku yang harus kuakui.
Aku merasa lucu sendiri, juga tidak mengerti. Entahlah, sampai sekarang entah mengapa aku masih saja cengar-cengir, merasa senang saat mengingat tampang dosen galak itu yang ketika marah persis terlihat seperti tomat panggang yang tampak sedikit ada cahaya kegosongan.
Dosen itu wanita berambut lurus semampai, cantik berkelainan pemarah, memang kebiasaannya marah-marah, kadang sering marah-marah tidak jelas, mengingatkanku pada salah seorang wanita yang juga sama kelakuannya. Dialah big bos yang sekarang entah bagaimana kabarnya.
Sekarang, aku benar-benar bisa menghela napas lega, pulang dari kuliah rasanya ada keinginan untuk membantu kakek. Aku kembali beranjak menuju ke toko.
Akan tetapi, aku tidak pernah menyangka kakek kembali menegah dengan ucapan sederhana, sama seperti sebelumnya. Menyuruh diriku belajar lagi, lagi dan lagi. Aku mengerti, mengangguk maklum.
Dengan perasaan penuh tekad. Aku membuka buku-buku tebal, membaca setiap menit, lalu menghafal satu per satu kalimat. Itulah caraku dari dulu, cara yang membantu meningkatkan kapasitas otak.
Jungkir balik di kasur, membaca terus hingga tak sadar terlelap tidur. Ketika bangun entah mengapa bayangan yang hadir di dalam benakku hanyalah Wapta. Lagi-lagi, apakah orang yang merindukan seseorang selalu begitu? Atau hanya aku yang begitu lebaynya mengatakan ini dan itu.
Setelah berpuas diri dengan buku-buku tebal yang syukurlah kesemuaan informasi tersimpan rapi di dalam memori jangka panjang. Sekarang, tiada kegiatan lagi yang membuatku sibuk. Aku kembali mengambil selembar kertas, tujuanku ingin menulis surat untuk wanita yang kucintai.
Dia berada di negera yang dijuluki sebagai Zamrud Khatulistiwa. Negera yang melintang garis khatulistiwa dan terbentang kepulauan dari Sabang sampai Merauke. Aku di sini di negara yang dijuluki sebagai negeri Gajah Putih. Surat itu rencananya ingin kukirim, tetapi itu baru rencana, tidak dalam kenyataannya.
Hanya tiga kata. “Wapta, apa kabar?” satu kata menyebut nama, dua sisanya menanyakan kabar. Kupikir aku tidak usah mengiriminya surat, sebenarnya untuk apa? Bertanya kabar dengan kata sesingkat itu. Aku tidak yakin dia akan menyukainya.
Sepertinya akulah aneh, berharap dia menyukainya. Padahal, tidak perlu dipikirkan tinggal kirim, selesai. Aku menghela napas, satu hal yang membuatku berat adalah muncul suatu ketidakmampuan.
Di lain prangsangka, muncul dugaan yang mengatakan bisa saja dia telah berganti alamat rumah, aku memang tidak tahu lagi kabarnya sekarang, sebagai contoh sederhana kakek yang pindah rumah. Bisa saja itu terjadi juga padanya.
Aku yang salah karena dulu tidak meminta nomor ponsel miliknya. Hanya meminta tangan tanda di buku diary yang dia berikan. Buku itu masih utuh kupegang, masih dengan kemasan yang selalu kurapikan.
Setelah usai menggunakannya, selalu dan selalu kujaga dengan sikap hati-hati. Bahkan saat menulis di buku diary itu semaksimal mungkin tulisan tangan kugerakan dengan teliti agar membentuk tulisan yang rapi.
Di dalam kamar, aku duduk melamun di atas kursi, sejenak membuka komputer dan lanjut menulis di sana.
__ADS_1
Aku adalah orang yang sering melakukan corat-coret. Saat melihat kertas yang terbayang di dalam benakku hanyalah coretan, berbeda saat melihat layar komputer. Di situ aku bisa menulis lebih terampil, lebih hemat kertas tentunya.
Tanganku sudah siap mengetik huruf di keyboard, sayangnya aku mengurungkannya. Untuk sekian kali menimbang rasa, sepertinya tidak usah.
Sebenarnya aku cukup tahu. Sudah menjadi rahasia umum, siapa pun bisa menulis kata pujangga yang membuat wanita tersenyum-senyum saat membacanya.
Hanya dibutuhkan perasaan yang ditata sedemikian rupa di dalam bait-bait kata, disempurnakan dengan penuh ketulusan yang mendalam.
Jika direnungkan lagi, sebenarnya untuk apa? Untuk membuktikan kata cinta padanya atau sekadar menghibur dirinya dengan kata-kata yang tiada ujungnya.
Salah seorang pujangga, temanku dulu berucap begini;
jika kau membahas perihal cinta di depanku, kau pasti akan melewati masa berjuta-juta tahun lamanya. Itu tidak sebanding dengan perasaan yang membentang luasnya, membentuk dunia cintamu sendiri.
Aku harus menyadari di antara kami ada jarak yang memisahkan, berjuta-juta kilometer jaraknya, aku bukan salah tafsir dari kata-kata temanku, melainkan aku tidak sedang menafsir, aku hanya membayangkan jarak hubungan. Itu saja, bukan dalam masa setahun atau ratusan tahun. Tidak, sama sekali tidak.
Aku tidak ingin menjalin hubungan jarak jauh yang hanya akan terus dipertahankan. Sederhana ucapan yang kupahami, sebatas status tanpa kepastian.
Aku lebih baik menjadi pujangga yang menuliskan kata-kata untuk kupendam, kusebarkan tanpa menyebutkan nama seseorang yang khusus bagiku. Daripada mengatakan cinta langsung di hadapannya.
Aku sudah dari dulu terbiasa memendam perasaan. Aku tidak ingin menjadi lelaki jahat yang hanya bisa mengikat perasaan seorang wanita dengan kata-kata pujangga.
Lebih baik begini, tidak perlu lagi ada hubungan komunikasi, baik itu melalui telepon maupun surat dan lain sebagainya.
Aku memikirkan lebih dalam. Di saat menulis surat itu, aku mempunyai kemungkinan sederhana yang nantinya akan memberatkan Wapta dalam menjalani hari-harinya.
Mulai dari tidur, bahkan lebih menyiksa, memberatkan pikiran dan hati. Biarkanlah aku yang terus merasakan bagaimana perasaan itu terpendam jauh semakin dalam.
Di beberapa buku mengenai hubungan jarak jauh. Aku sudah banyak membaca semuanya, bagaimana mereka merindukan kekasih yang jauh di pandangan mata.
Rindu bersenandung ranum, bersahut suara lirih mengundang kegelisahan. Hubungan yang belum tentu bisa menuju ke jenjang pernikahan. Selama ini, jauh di alam renungan aku tidak ingin menjadi lelaki jahat yang hanya bisa menaruhkan kata cinta, tetapi tidak ada satu pun bukti nyata di dalamnya.
__ADS_1
Bukankah cinta itu dibuktikan dengan perbuatan? Jika cinta hanya sekadar kata-kata, siapa pun bisa menulisnya. Kata yang ditulis, dipikirkan dalam-dalam, rayuan gombal, tipu-tipu belaka.
Aku merasa seperti dibawa angin topan. Diterbangkan dan terus diterbangkan hingga terjatuh di lautan kegalauan. Saat itulah, aku teringat perkataan Lita Aksima. Dia seorang wanita yang benar-benar tahu bentuk ucapan lelaki. Persis saat kata itu diucap, dia terus mendustakannya.