
Kupikir catatan tidak perlu panjang, bukan? Ringkas, seringkas yang kubisa. Untuk ini, untuk kepingan yang telah hancur.
Untuk deburan ombak yang memecah di sela karang berdekatan dengan laut. Semilir angin sejuk. Hirupan napas yang tak lagi sama, merindukan. Terdiam diri dalam helaan napas jerih tanpa ucapan.
Kakek saat ini menepuk pundakku. “Man, hidupmu itu tidak lebih seperti kelereng yang meleset sasaran.”
Aku tertawa pelan. “Aku tidak mengerti maksud kakek apa? Tapi jangan bilang padaku soal anak tetangga itu lagi.”
Nada bicaraku tidak ketus, tetapi wajahku sengaja sedemikian rupa sebaliknya. Sambil menunjuk anak tetangga di sana yang sedang menjemur pakaiannya.
Kakek juga tertawa. Nenek hanya diam menatap kami berdua yang saling menepuk lengan. Pembicaraan kami ini tidak lama, sebentar tertawa lanjut berbincang lagi.
Pembicaraan yang tidak serius, tidak seperti saat aku bertemu seorang dosen yang mengajakku berbincang mengenai makalah dan berbagai hal lainnya. Kupikir bicara sama kakek itu simpel. Lebih kurasakan kenyamanannya dan tentulah mungkin semua itu ada kharisma yang berbeda di antara dosen dan kakek.
Kharisma yang memancar dan rasa itu kurasakan jelas seperti berada di tengah kursi bioskop dengan santai memakan popcorn. Menonton film layar lebar dengan gembira lebih leluasa, tanpa canggung.
“Kau ingin tahu kelereng yang meleset sasaran itu maksudnya?” Kakek bertanya padaku. Dengan wajah yang sama seperti sebelumnya, aku menduga.
Dugaan yang mengatakan sepertinya kakek akan mengetes kemampuanku lagi, jawaban yang tergambar dalam benakku adalah kata ingin. Baiklah, aku akan menjawabnya atau sebaiknya tidak, kupikir tidak penting.
“Sepertinya tidak perlu. Nanti saja mengenai itu, Kek.” Aku menjawab lemah. Dengan perasaan tidak ingin banyak terpaan lagi.
Kakek seperti memaklumi. “Baiklah, nanti kita akan bahas panjang lebar.”
Beserta tepukan ringan di bahuku. Dalam batin ini melongo. Panjang lebar? Astaga, apa aku tidak salah mendengarnya?
Aku tertawa. “Kakek bergurau?”
“Ini serius, Man.” Kakek menjawab pendek.
__ADS_1
Dapat kupahami dari tatapan dan raut wajahnya. Yeah—tidak salah, ternyata aku tidak salah mendengarnya, bahkan tadi sekadar bertanya memastikan.
Kupikir mendengarkan penjelasan panjang lebar itu tidak mengapa. Toh, nantinya sebelum saat itu tiba, mungkin aku akan tabah dan menerungi keadaan diri.
Terlebih dulu buatku kesempatan ada banyak waktu agar mempersiapkan diri. Persiapan yang matang. Bersiap mendengarkan penjelasan panjang lebar itu nantinya. Sedikit menghela napas. Memikirkan entah akan seberapa panjang dan seberapa luas kelebaran ucapan kakek nantinya? Apa mungkin seperti jalan tol yang bebas hambatan atau mungkin seluas lautan? Lebih ngeri padang pasir. Entahlah, saat ini aku tidak ingin bertanya perihal tersebut.
“Baiklah, nanti setelahnya bisa diatur kapan waktunya yang pas berbincang. Terserah kakek saja, aku siap mendengarkan.” Aku menyahut angguk.
Kakek tersenyum. “Begitu? Tidak usah kau pikirkan, kakek tidak akan memberi tahumu seberapa luas dan seberapa dalam mengenai kelereng yang meleset sasaran. Hanya gambarannya saja. Bisa jadi, panjang lebar atau malah sebaliknya.”
Yeah, itu terserah kakek. Di lain keadaan saat ini, aku sadar dan tahu betul mengenai jam yang terus berputar. Jarum jam yang berdetak dari detik ke detik. Berganti menit, semua orang pun tahu mengenai semua itu. Jadi, aku tidak perlu menjabarkan secara lengkap.
Kembali saat itu menatap jam tangan, mengalihkan perhatian kakek yang masih berbicara sana sini. Kulirik sebentar, kakek seperti menatap paham ke arahku.
“Oh, ya. Waktumu sepertinya begitu berharga, anak muda. Berangkatlah, nanti lama-lama di sini kau bisa terlambat masuk. Dosen yang kau ceritakan itu nanti bisa memarahimu lagi.” Kakek memulainya.
Mengingatkanku kembali pada seorang dosen yang bagiku memang menyebalkan. Satu kesalahan baginya bagai butiran abu vulkanik yang harus sesegera mungkin disingkirkan. Andai dia tahu cara mendidik dengan baik, tentu hasilnya akan mudah kuterima. Cara dia memandangku berbeda dengan mahasiswa lainnya.
Begitulah, kujabarkan sekilas mengenai dosen yang hanya tahu memarahi tanpa menatap sebab akibat yang jelas kulakukan apakah itu salah atau tidak? Entah mengapa saat ini aku kembali teringat masa itu. Masa di mana tumpukkan tugas ditumpuk dengan suara yang membahana.
Gema menggelegar di udara. Petir menyambar dengan suara yang membuat tangan menyumpal telinga. Kupikir dosen itu tidak punya kerjaan atau ada masalah keluarga yang mudah sekali dia luapkan kepada mahasiswa sepertiku yang tak berdosa. Seenak ucap menumpuk tugas.
Seperti tak kenal maka tak sayang, seperti sepah dibuang. Tak dianggap dalam barisan mahasiswa. Cukup bangga, sering dipanggil ke ruangannya.
Atmosfer kepalaku susah mencari kata. Menyusun kalimat tugas yang diberikannya. Bagai coretan yang ingin kubuang ke tong sampah, menyebalkan. Kalimat bernada kesal kuucap dalam batin kala menyerahkan tugas itu kembali ke dosen. Dia menyuruhku untuk mengerjakan ulang tanpa sedikit pun mengatakan alasannya.
Pun berceramah yang kurasakan dilain jalur dari pembahasannya. Memarahi dengan kalimat yang tidak jelas mengenai ekspresi wajahku yang memang susah kuatur. Menatapnya kesal, itulah alasan mengapa kala itu dosen tidak melulu diam menatapku, terus menerus berceramah.
“Dosen yang kurang kerjaan.” Tawaku keluar sinis tanpa kukehendaki sedikit bercampur geleng kepala. Tidak ingin mengingat lebih banyak karena menyebalkan.
__ADS_1
Kakek menatap serius. “Kau tidak boleh begitu, Man. Dosen itu punya alasan melakukannya. Semua itu demi kebaikanmu, ambil sisi positif dan buanglah sisi negatifnya.”
Aku balas mengangguk. “Baiklah, Kek.”
Izin pamit. Sebenarnya ini masih lama, aku bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih untuk bersantai di sana. Kembali ingin bersalaman, mengulang sebelummya.
Tanganku bergerak. Wajah menunduk. Yeah, seperti pada umumnya. Niat dalam hati terpasang mantap. Tapi oh tapi bagai irama musik yang tersendat macet.
Kakek menghentikan tanganku, tersenyum bilang, “Bukankah tadi kau sudah?”
Benar juga, tadi sudah. Aku terpelongo sejenak. Sekejap berusaha mencari alasan.
“Tadi itu pemanasan, Kek.” Nyengir.
Garuk kepala. Alasan itu tiba-tiba tergambar dalam kepalaku, terbentuk secara tidak sengaja. Syukurlah, aku bisa cepat mencari perlindungan dibalik alasan. Kakek menepuk bahuku lagi. Mengajakku berjalan bersama menuju pintu. Nenek menatap seraya tersenyum seakan senang, merapikan piring dan sisa makanan yang terletak di meja.
Sementara aku dan Kakek berjalan menuju keluar rumah. Saat itu kakek bicara. “Kau tahu, Man. Apa yang aneh di dunia ini?”
Saat mendengarnya. Sekilas tergambar dalam benakku beribu keanehan. Banyak seperti kue lapis bertingkat tinggi dan tinggi. Seperti bantal yang dan apa yang mengisi di dalamnya.
Apa yang aneh? Termasuk kata-kata yang kutulis. Kupikir ada banyak sekali perkara aneh di dunia ini. Bahkan beberapa berita pernah meliput siaran ada hewan di kedalaman laut, gelap di sana tidak tembus cahaya, seluruh badannya malah bercahaya bagai bohlam di waktu malam. Bahkan bisa hidup di sana, beradaptasi terhadap lingkungannya.
Juga kadang terdapat keanehan yang ada di langit mengenai bentuk awan. Sering berubah-ubah. Fenomena alam, kesempurnaan yang ditatap jelas memantul kata di dalam benak pikiran. Kadang matahari yang bersinar bisa dilingkari pelangi. Ada banyak keanehan. ada banyak. Kakek menanyakannya padaku.
“Yeah—ada banyak keanehan.” Aku menjawab apa yang ada di dalam kepalaku.
Kakek tampak angkat bahu, tidak menjawab. Kami berdua terus berjalan hingga tidak terasa kaki ini kini berada di ambang pintu, anehnya kakek masih tidak bicara. Misteri? Aku bingung hendak bertanya, tetapi urung.
Persis saat kami berdua di halaman rumah, kakek hendak bicara padaku. Muncul mobil beserta klakson. Otomatis kami menatap, kakek tidak jadi bicara. Mobil itu singgah di depan rumah kami. Parkir anggun, mobil bercorak hitam dan rasanya aku tidak perlu menyebut mereknya, nanti dikira iklan.
__ADS_1
Bisa kutebak itu mobil siapa? Dari yang kulihat beberapa waktu lalu, itulah mobil hitam milik ayahnya Martin Sirikanjana.