Daur Ulang

Daur Ulang
Bangunan Terpeleset


__ADS_3

Bicara tentang kehidupan ini memang kadang melelahkan dan mungkin beberapa dari seseorang akan merasa pusing tujuh keliling berputar bintang di kepalanya, itu kata Jazu yang hampir membuatku tertawa. Raut wajahnya persis lucu bagai bakpao yang mengembang mengempis. Itu dulu usai beberapa waktu lamanya kami berjumpa di musim panas yang mataharinya kau tahu seakan berada di atas kepala dan tidak tahu kenapa saat itu tidak ada awan, langit biru sepenuhnya.


Aku sekarang hanya bisa mengenang semua itu dalam satu waktu yang disebut orang, kenangan. Lama, yang membuatku terdiam, senyap tanpa suara di keheningan.


Bergeming pun diri ini tidak banyak protes lagi, bagaimana itu bisa terjadi pada hari suram. Kini hanya bisa menatap kosong ke arah lembaran kertas yang tidak kutahu itu tidak banyak diperdulikan, sore hari catatan itu kubuang, malam harinya kembali kupungut dan kusimpan dalam plastik.


Itu usai menjadi sampah seperti kata mereka. Dan anehnya aku malah kembali memungutnya. Sebenarnya untuk apa? Aku pun sama bingung, sebenarnya tidak tahu untuk apa aku memungutnya, kalau kujelaskan ada sedikit rasa bersalah atas apa yang telah aku tulis, hanya sebelumnya melihat seekor singa di televisi, inspirasiku datang bagai alunan musik di kasur nan nyaman, tertidur dan tidak bisa mengaum.


Teras dan dingin.


Cerita apa yang saat itu ingin kutulis? Itulah pertanyaan dalam benakku membanting kursi dalam artian berkutat lebih lama duduk senyap bergumam, berkerut dahi sedikit mengusapnya.


Inspirasiku hilang, singa di televisi itu sudah lari dengan iklan iklan minuman.


Tidak ada inspirasi lagi, untuk saat ini ingin memulainya, tidak ada juga unsur makna yang bisa kujabarkan. Lebih lelah, ini hanya sebatas tulisan yang kacau balau.


Berkutat lebih lama duduk di atas kursi, sibuk melamun hingga tak sadar kertas itu kini dipenuhi coretan, tanganku bergerak sendiri tanpa kukehendaki. Mataku kini benar benar mengantuk, menguap dan terlelaplah hal yang kuinginkan sekarang.


Akan tetapi, mata ini tak kunjung terlelap, mengapa ini susah? Aku bertanya pada tembok, kawan. Kepada siapa lagi aku akan bertanya, tidak ada yang bisa kutanyakan.


Aku kembali mengacak-acak rambut. Gatal, aku merasa gatal seperti ada semacam ketombe dengan kutu yang tidak kutahu mengapa aku kesal. Dering suara alarm itu kudengar untuk kesekian kalinya seperti pukulan sang waktu yang berbunyi menghantam dadaku, memperingatkan dan mengisyaratkan akan suatu hal tentang tantangan dan kekuatan, tentang aktivitas olahraga di hari libur yang tak ada kegiatan.


Hampir saja aku bunuh diri hari itu. Tidak ada yang membuatku bisa lebih tabah selain mengingat ngingat masa lalu yang telah usai menjadi setumpukan benang. Telah kusut dan tidak juga berguna mengingatnya. Hendaknya kulupakan dan kubuang jauh jauh dari hidupku, tetapi ia ada dalam bentuk yang tak bisa kubuang. Dalam bentuk yang hanya bisa kukenang.


Di hari yang sama saat aku mencoba bunuh diri. Dalam hitungan tanggal yang berbeda, saat aku mulai ingin terjun dari ketinggian gedung, tidak pernah kusangka saat itu Lita Aksima menjelma sesosok burung dara dan hinggap di pundakku, burung dara itu berkicau merdu hingga kupikir ia mengalahkan tiupan seruling.

__ADS_1


Aku terdiam dan membatalkan niatku untuk loncat dari atas sana. Dalam benak pikiranku sendiri mempertanyakan hal itu penuh keheranan tentang burung dara yang hinggap di pundakku, tentang mengapa ia bernyanyi dan seperti ia tahu keadaanku.


Aku terdiam menatap burung itu yang tak kunjung terbang dan terus bersenandung, bahkan saat aku menyentuhnya, dia jinak dan tidak terbang menghindariku. Kulihat ke langit ada bayangan yang menembus sinar matahari, ia lewat terbang di langit.


Burung dara itu juga ikut terbang, di langit nan biru aku menatapnya persis seekor burung dara itu berubah menjadi sosok wanita yang samar untuk kulihat.


Beberapa usai itu ia menghilang dan Lita Aksima persis menepuk pundakku tepat dia berada belakangku, saat aku menoleh ke arahnya, itu hampir membuatku terkejut mengetahui bahwa dia ada di belakangku.


Dia muncul secara tiba tiba, tepat saat bayangan itu hilang di depan mataku dan dia menjelaskan bahwa dialah sosok bayangan yang sebelumnya kulihat.


Dia memberikan kata ucapan yang bahkan tidak pernah kusangka itu seakan butiran salju yang berguguran memadamkan api. Padam, niatku sebelumnya ingin bunuh diri menjadi urung. Aku merasa seperti hidup kembali di alam nan baru.


“Dengan segala apa yang kau ucapkan, aku ingin berterima kasih, Lita Aksima.” Itulah yang kukatakan padanya. Berterima kasih.


Terima kasih yang tak terhingga dan untuk kesekian kilometer jaraknya. Bagaimana dulu aku merasa lelah hidup, ingin mencoba bunuh diri dan dia hadir menghentikanku. Kupikir mengenai hidupku ini tak ada lagi yang peduli, siapa yang peduli? Mereka hanya memandangku tanpa banyak hal yang mereka tahu tentangku. Dan dibalik semua itu ternyata masih ada, masih ada sesosok bayangan yang peduli terhadapku.


“Sebenarnya kau tidak perlu berterima kasih, Narak. Kau harus tahu kehidupan ini kadangkala tidak sejalan dengan pemikiran dan bayangan angan. Kau harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri.”


“Bukankah manusia itu diciptakan dengan kemampuan yang berbeda, maka kau tidak harus bersedih mengenai kehidupan ini, hanya saja kau tidak mengerti. Mungkin saat ini kau merasa tidak ada yang peduli denganmu, tetapi jauh sebelum itu beberapa orang dalam hidupmu sudah membuktikannya dan bisa kau lihat dengan jelas bahwa mereka peduli terhadapmu. Itu hanya sekadar pemikiranmu yang tidak banyak berubah. Di saat kau sedih, kau tumpukkan masalah hingga tak terasa kau menutupi banyak hal dengan sendirinya, kau bahkan menganggap tak seorang pun yang peduli terhadap hidupmu, padahal tidak begitu. Itu hanya kekacauan yang saat ini ada dalam benak pemikiranmu.”


Lita Aksima menerangkan banyak hal lagi padaku. Banyak penjabaran yang hampir kuingat itu sama dengan apa yang selama ini kudengar dari mulut ke mulut. Mereka yang berlagak bijak, itu maksudku.


Seringkali aku bertanya dalam benakku, bagaimana kalau mereka merasakan hal yang sama sepertiku. Itu memang mudah diucapkan dan bagiku sulit saat dijalani.


Aku seakan diberikan sebongkah bara api panas yang kian membuatku ingin terpejam. Diam menantikan jawaban dan mengenai semua ini, aku pun memutuskan meminta maaf atas seluruh hidupku.

__ADS_1


“Aku meminta maaf atas seluruh hidupku dan mengenai semua itu, aku telah banyak mendengar. Hanya saja, sukar saat kujalani bagaimana kiranya perasaan bisa bertahan pada masalah rumit dalam hidupku?”


Aku terdiam dengan suara lirih sebelumnya menyebut masalah rumit dalam hidupku ....


Selama ini aku berlagak pintar dalam menyusun kata kata. Padahal, itu semua hanyalah omong kosong yang tak banyak membuatku tahu. Sampah yang sejatinya adalah sikapku yang ingin kudaur ulang.


Tawa itu masih segar kuingat, bagaimana kalimat sampah keluar dengan tawa mereka yang begitu mudah seperti jalanan tanpa hambatan, seperti lautan tanpa ombak. Ingatan yang membuatku hampir merasa resah gelisah, tak tentu arah.


“Bisakah kau berbaik hati menjawab pertanyaanku?” tanyaku kembali, meminta.


Lita Aksima menggeleng pelan. “Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, tetapi dalam kondisi ini kau memang berhak menemukan jawabannya dan kuharap kau bisa menemukannya. Nanti, saat itu tiba dan seiring berlalunya waktu dalam hitungan lama atau tidak lama. Aku hanya bisa berharap kau akan menemukan jawaban atas semuanya.” Lita Aksima sepertinya tidak lagi memberi solusi.


Kemungkinan dia sudah tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku sempat merasa bahwa aku tidak berhak hidup dan kala itu bagiku lebih baik memilih mati.


Akan tetapi, kenyataan yang kulihat. Sosok bayangan menghentikanku? Gedung itu pun bahkan seperti hendak terpeleset. Gedung yang gagal memakan korban, seorang remaja sepertiku hanya bisa menarik napas lega. Gedung itu terpeleset dan aku selamat tanpa luka sedikit pun.


Lita Aksima berkata pada salah satu hidup ada yang dinamakan tawa kebahagian, ada juga yang dinamakan tawa kesedihan. Saat seseorang sudah mampu menertawakan masa lalunya. Melihat mata setiap seseorang tertawa. Dia tidak akan lagi sibuk bercerita panjang lebar kepada orang lain bagaimana hidup dia yang sebenarnya dan tidak akan merasa sedih lagi. Toh, dia usai mampu menertawakannya.


Sangat ingin kujelaskan bahwa aku dan mereka itu sangat jauh berbeda. Mereka mampu menertawakannya, itu bagiku yang tidak banyak peduli dan berharap bisa melupakannya ataupun mengenang dengan berbagai kata yang kubuat indah dan penuh topeng kepalsuan.


Bahkan aku takjub dengan mereka yang mampu menghadapinya dan membuat semua itu menjadi sebuah gambaran ringan dari gambar yang kesekian banyaknya, terlebih gambar itu bisa dihapus dan dilupakan dengan mudah.


Walaupun sekilas aku pernah tertawa, itulah orang sepertiku yang tidak konsisten, merasa ini adalah tawa untuk kesekian ratus angan yang menghilang.


Siapa yang sampah? Itulah jawab saja, akulah sampahnya yang hendak kudaur ulang. Maksudku cerita koboi tempo lalu, kata editor naskah, cerita sampah hanya ditulis penulis sampah.

__ADS_1


Aku mengakui kekalahan dalam beradu argumen dan dia memang benar. Aku adalah sampah yang tidak seharusnya ada dan tentang sikap ini, tentang semua hal yang ada dalam hidup ini. Bangunan terpeleset, syukurlah aku tidak jatuh.


__ADS_2