
“Tidak kusangka, Narak. Sekarang kau semakin pandai membuat alasan.”
Pak tua itu berbisik. Saat sebelumnya menuduh Martin Sirikanjana katanya adalah pacarku, aku balas berbisik mengatakan bahwa itu tidak benar dan itulah yang sekarang dia bisikan. Menyebutku pandai membuat alasan.
“Jujur saja, apa susahnya?” Pak tua itu seakan semakin ingin memojokkanku.
Kau tahu, pak tua. Kalau aku jelaskan padamu panjang lebar mengenai ini, kupikir akan habis waktu sekarang hanya untuk kalimat-kalimat unfaedah. Karena sejatinya cintaku hanya tergores pada satu nama yang sampai saat ini aku pun tidak bisa mengatakan langsung padanya.
Wanita itu adalah Wapta. Satu nama yang tak akan pernah kulupakan. Tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun.
“Ah. Maafkan aku, soal ini kau pasti malu mengatakannya padaku, bukan?”
Sekarang aku kehabisan kosa kata ingin menjawabnya. Memilih dalam benak pikiranku sendiri, ya sudahlah, bagiku apalah artinya sebuah tuduhan yang mungkin juga Pak tua itu sengaja berkata demikian ingin membuatku serba salah.
“Kau lelaki yang aneh, Narak. Pemalu dan apa perlu kutanyakan ke wanita itu?”
Saat mendengarnya aku kaget. Astaga, ini bagiku sudah memasuki level yang berbahaya! Kacau. Kubisikan kembali segera lupakan saja, tidak ada untungnya saat wanita itu kau beritahu ataupun tidak.
Karena aku tidak mencintainya. Itu adalah hal dusta yang ingin sesegera mungkin kutepis dan buang jauh-jauh.
Pak tua itu mangut-mangut mematuhi bisikanku. Dia kembali menyapu halaman, Martin Sirikanjana menanyakan padanya apakah kami sudah lama kenal?
Yeah, tidak perlu ditanya, Martin. Sejak awal masuk kuliah, aku tahu pak tua itu adalah teman kakek yang ternyata juga memiliki satu kesukaan sama, bahkan bisa dibilang mereka itu adalah sahabat lama.
“Oh, kalau soal itu, aku dan Narak sudah saling kenal sejak dia masuk kuliah yang ternyata dia adalah cucu dari sahabatku.”
Pak tua menjelaskan kepada Martin Sirikanjana yang terlebih fasih dengan bahasa thai miliknya. Pak tua itu juga sama, kupikir mereka memiliki satu kesempatan panjang untuk saling berkenalan dan mengenal satu sama lain.
Dan aku salah atas apa yang kupikirkan. Mereka justeru membicarakanku yang aku sendiri berada di hadapan mereka. Tapi, apa yang dikatakan oleh pak tua itu memang benar kami baru berkenalan awal masuk kuliah, kalau sekarang sudah terhitung hampir setahun lamanya, kami sudah saling kenal. Sejak awal masuk kuliah, kakek dan pak tua itu saling mengobrol dari sejak perkenalan antara aku dengannya. Selama itu aku tidak tahu nama aslinya siapa? Kakek punya gelar sendiri, dia menyebut pak tua itu katak yang selamat dari petir. Begitu katanya. Dalam bahasa thai; กบรอดจากฟ้าผ่า.
Konon cerita itu terjadi di saat hujan lebat dan terjadi di jalanan saat kecil pak tua itu melompat-lompat dengan riang hingga petir menyambar dekat kepalanya. Tapi, meleset sasaran, nyaris kena dan kakek pada saat itu memberinya gelar katak yang selamat dari petir. Persahabatan mereka terjalin lama, sekian memakan waktu semenjak dari kecil hingga tua saat ini.
__ADS_1
“Kalau ingin bicara masa lalu mengenai itu, bisa nanti kita bicarakan karena membicarakan masa itu akan memakan banyak waktu. Kalian ini datang kuliah hampir dekat jam masuk. Haduuh, kalian mahasiswa yang tidak bisa dicontoh. Bagaimana kalian ini?” Pak tua itu menatap kami berdua dengan ekspresinya yang membuatku hampir tertawa.
“Oh, ya. Narak, rasanya kita tidak bertemu baru dua minggu, sekarang kuperhatikan kau tampak beda. Itu wajahmu sepertinya kekurangan vitamin C.” Pak tua itu tertawa, bergurau dengan canda tawanya.
Dalam batinku berusaha menghela napas dalam diam, sedikit tersinggung dibilang begitu. Bercanda gurau sesekali kupikir itu tidak mengapa dan aku hanya perlu beradaptasi dengan semuanya.
“Maklum saja, pak. Kalau ingin tahu mungkin saja ini efek samping karena saya kebanyakan begadang.”
Ucapanku standar dengan alasan yang kupikir masuk akal dan mungkin baginya itu akan terdengar serius, sengaja ingin meminimalkan canda tawa miliknya.
“Oh.. itu tugas kuliah, kan? Pasti berat buatmu mengerjakannya.”
“Eh? Bukan itu, pak.”
Aku tidak mungkin berbohong karena itu adalah bagian dari hal yang tidak ingin kulakukan. Tugas kuliah selama ini bagiku adalah perkara yang paling gampang dan tak butuh waktu lama. Eh? Salah, maksudku tidak sampai membuat kepalaku pusing dan tidak sampai membuatku susah tidur. Baik itu sengaja begadang maupun tidak. Mengerjakan tugas kuliah adalah hal yang menyenangkan sekaligus hal yang kusukai dalam hidupku. Sejenak coret coret dan memang kuakui itu selesai dalam hitungan waktu berhari-hari dan kesannya bergerak dalam hitungan satu sampai seratus. Sederhananya bergerak lambat bagai seekor siput yang berjalan di bebatuan licin dan kalau dibandingkan kelinci aku akan kalah cepatnya. Bisa dibilang tugas kuliah itu kukerjakan saat jatah waktunya habis, kukerjakan sambil santai dengan deadline yang kuberi garis lingkaran pada kalender.
Pak tua itu sesekali menyapu kembali halaman. Martin Sirinkanjana di sampingku tengah menyimak pembicaraan di antara kami berdua. Wanita itu sekarang tampak hanya memberi senyuman.
Pak tua menghentakkan sapunya. Menatap ke arahku dengan sama seperti tadi.
Kupikir itu sama saja seperti introgasi polisi. Membuatku hampir merasa kurang nyaman dibuat olehnya, tetapi aku mengenal sosok dirinya, dia sahabat kakek. Selama hampir setahun lalu aku berkenalan dengannya hingga akrab sampai sekarang berbalas sapa.
“Biasa. Perihal wanita,” bisikku kepadanya.
Pak tua itu memelotot saat mendengar ucapanku. Astaga? Itu ekspresi benaran terkejut atau palsu belaka, terserahlah. Selama ini aku memang selalu merindukan Wapta yang entah bagaimama kabarnya?
Aku tidak berbohong. Malam hari di hitungan lebay dari satu jarak ke jarak lainnya, aku merasa susah untuk terlelap tidur hanya karena merindukan dirinya, bukan soal tugas kuliah yang gampang kuselesaikan dan sengaja mengundur waktu mengerjakannya.
Pak tua itu geleng kepala. “Astaga, apa kakek kau tahu soal ini, Narak? Kau jatuh cinta sama wanita mana?”
Dia berbisik, mungkin sedang penasaran. Aku tertawa. “Nanti kalau ada waktu kita akan lanjut bicara lagi, jarum jam terus berputar dan berganti dari menit ke jam.”
__ADS_1
Aku menyudahi ucapan. Kau tahu, pak tua. Saat ini aku terbayang sosok dosen yang memelototiku karena terlambat masuk.
Martin Sirikanjana berbincang sebentar dengan pak tua itu. Aku mendengarkan dan tidak lagi bicara, mereka berbasa basi, aku masih diam menyimak. Usai tak lama kemudian, kami meneruskan jalan.
Pak tua itu mendadah. “Kuliah yang rajin, Narak. Selangkah lagi kau akan sukses.”
Aku menoleh, balas mendadah. “Kau juga, selangkah lagi kau akan sukses.”
Aku membalas perihal yang sama. Pak tua itu berteriak, “Kau mengingau, Narak!”
Entah apa maksudnya. Aku tidak mengerti dan memilih memberi senyum. Martin Sirikanjana di sampingku sedikit tertawa mengatakan kepadaku bahwa Pak tua itu lucu dan dia tampak bahagia. Senyuman itu seperti terpancar tulus. Setulus padi yang berubah menjadi beras, berubah nasi yang membuat perut menjadi kenyang.
Di tempat kuliah ini, aku tidak banyak mempunyai teman. Beberapa di antaranya ada, tetapi jarang ketemu dan hanya Martin Sirikanjana yang sering berada di dekatku. Itu pun cuma akhir-akhir ini. Itu juga yang membuatku heran sendiri, apa alasannya? Dan mengapa dia bahkan menjemputku dengan ayahnya menggunakan mobil hitam itu yang juga akibatnya aku malah mendapatkan ceramah panjang lebar.
Kuliah di tempat ini kurasa sedikit lebih menyebalkan dari apa pun. Sepertinya dosen itu sudah menunggu di sana. Aku mengembuskan napas sekian khawatir.
Mengusap dada. Menguatkan pijakan, bisa-bisa aku akan terkena ceramah lagi darinya. Martin Sirikanjana terkekeh.
“ดูเหมือนอาจารย์จะมองมาที่คุณและมีความแค้นเคืองกับคุณ” (Dūh̄emụ̄xn xācāry̒ ca mxng mā thī̀ khuṇ læa mī khwām khæ̂n kheụ̄xng kạb khuṇ) Dosen itu sepertinya menatapmu dan punya dendam kepadamu.
Itu maksud katanya dengan menggunakan bahasa thai. Aku tertawa dibuat olehnya.
“Sudahlah, jangan dipikirkan.” Kujawab dengan bahasa indonesia, sekarang aku malas menggunakan bahasa thai.
Lidahku terpeleset dan terasa kaku saat ini, entah mengapa mungkin karena dosen itu berada di depanku sana, memandang dengan pelotot mata yang menyeramkan.
“คุณกำลังพูดถึงอะไร?” (Khuṇ kảlạng phūd t̄hụng xarị?) Apa yang kamu bicarakan?
Entahlah, ribet dan lelah. Mungkin saja, saat ini aku lelah dan salah tulis, mengenai bahasa thai itu memang susah. Sejenak mengembuskan napas. Haduuh!
Aku terpaksa memberikan senyum kucing yang terbilang aku sendiri punya firasat buruk tidak ingin menggunakannya. Garuk kepala dengan perasaanku menjadi serba salah, memilih diam pun susah.
__ADS_1
Kucing senyum yang terbilang mungkin menyebalkan bagi beberapa orang. Tapi, tidak kusangka Martin Sirikanjana malah menirukan gaya senyuman kucingku.
Sampai di hadapan dosen itu kami berdua memberi hormat padanya. Martin Sirikanjana dipersilakan masuk. Hanya aku yang ditegah olehnya dan entahlah apa alasannya kali ini mencegahku masuk.