Daur Ulang

Daur Ulang
Jutaan kata untukmu


__ADS_3

Masih pagi. Kalau ingin jangan galau dulu, banyak senyum. Itu kata kakek yang seakan menebak isi batinku yang melanglang entah kemana, terbang dengan jutaan kata yang berguguran dari langit ke tanah.


Dan terkubur dalam sekian dalamnya, sedikit menyebalkan kala mengingat kembali coretan usang yang sebelumnya telah kubakar. Moment di mana aku berulang kali hapus tulis untuk menyempurnakan baitnya.


Di lembaran kertas yang telah kubakar di malam hari itu, usai bertemu editor naskah. Di jalanan, sunyi dari orang-orang, tepat saat mendekati tengah malam.


Kesunyian malam di jalanan, membuatku menepi berlama-lama. Menatap langit yang dipenuhi bintang gemintang, merenungi masa yang telah berlalu.


Inilah perasaan yang saat ini kurasakan. Wapta, kamu tahu tetesan air hujan di hari panas, rintik-rintiknya yang tampak setia turun perlahan ke bumi. Tidak deras dan tentunya berbeda dari hujan biasanya.


Tamsil buatanku tidak melulu benar, kadang bisa cacat logika. Tahukah kamu aku bagai orang yang berjalan di bawah rintik-rintik.


Orang yang menelusuri jejak jejak kenangan tentang dirimu yang mungkin telah hilang di ingatanku atau apalah. Sekarang, aku tidak ingin mengerti lebih banyak. Lebih detail melelahkan, itu bukan gayaku.


Di lain waktu nanti, semoga Sang Maha Kuasa menjawab semua doa yang selama ini sering kulantunkan dalam bentuk alunan syair di keheningan malam, memohon untuk bisa bertemu denganmu.


Aku seringkali susah terlelap hingga tak sadar diri karena mengingatmu.


Tahukah kamu, hari demi hari yang kulewati terus menggambarkan wajahmu. Sepertinya ini lebay dan lebih dari sekadar kata. Ini benar adanya. Bahkan bagiku lebih dari sekadar tulisan yang ditatap belaka.


Pagi ini aku makan bersama kakek dan nenek. Syukurlah, rasanya rinduku sekarang sedikit terobati dari sekilas warna kebersamaan dulu yang kulalui saat ini, tawa hangat mereka memberikanku suatu kenyamanan. Kupikir ini jauh lebih baik.


Wapta, sekarang aku ingin membicarakan hal penting dalam kehidupanku saat ini, mengenalmu dalam waktu sesingkat dulu, tak selama yang kupikirkan sekarang, rasanya ada hal perihal yang terasa mengganjal dan tidak bisa kuungkap secara langsung.


Masalah ini bagai jarum yang berada di setumpukan jerami, seakan aku kesulitan mencari. Tentunya mencari kata terbaik yang bisa kujelaskan kepadamu, jauh lebih mengherankan bukan? Tulisan ini kutulis semacam nada lagu yang kuharap suatu saat nanti aku bisa melantunkannya di keheningan malam yang memenuhi kalimat rinduku dan mengajak diriku diam dengan sikap pasrah dalam menjalani hubungan samar ini.

__ADS_1


Hubungan ini jelas bagiku, tetapi mungkin samar bagi orang lain. Hanyalah diriku yang menatapnya, sedangkan kamu hilang dari pandanganku, tiada berada di sisi diri yang sekarang merasa amat kecewa.


Aku hanya kecewa bagai gula yang telah larut dalam cangkir, menyatu bersama air. Aku sendiri tidak tahu ujung kalimat yang kumaksud, bahkan rasanya ini sekadar kalimat yang tidak berarti apa-apa. Bisa saja cacat logika dan terbaca aneh.


Wapta, semoga kata ini tidak lebay. Apa yang kukatakan saat ini memang terasa bagiku tidak lebay, tetapi bagi orang lain mungkin saja lebay dan entahlah.


Bagaimana denganmu? Apa ini lebay?


Aku tak ingin terbebani oleh jutaan kata hinaan. Aku tahu ada semacam magnet daya tarik yang kurasakan saat menatap sekilas tulisan seperti ini. Daya tarik untuk menghina dan lain sebagainya.


Karena aku tidak tahu arti sesungguhnya dari suatu kalimat lebay itu seperti apa? Aku menghela napas tentram, sekarang dan saat ini juga lambat laun semakin ke sini semakin berpura-pura tidak tahu.


Kalau ingin tahu selama ini aku sering berusaha membaca kesan terindah atau apalah yang ada di dalam lembaran kertas. Buku kecil, pembahasan tidak panjang, pentingnya menyenangkan.


Dan mengenai pancaran sinar terang yang hari itu jelas kutatap termangu seakan membuatku tak mampu beralih pandangan, menatap yang lain. Sinar terang yang menyilaukan mataku dalam menatap lebih lama.


Seberapa banyak jutaan kata yang akan kupersembahkan kepadamu. Saat ini aku tidak tahu, lebih banyak mengenai semua kejadian yang saat ini ada di depan mataku.


Kehilangan. Keputusasaan. Kejadian yang tak ingin dipandang olehku. Juga kejadian yang membawa angan dan rasa kurang nyaman dipikirkan. Dari semuanya yang telah terjadi aku merasa harus bisa memilih kenangan mana yang kurasa pantas untuk selalu kuingat.


Di saat kehilangan berada di depan mataku sendiri. Entah apa yang akan kurasakan nanti, mungkin saat itu terjadi diriku bagai gunung yang meletuskan keputusasaan. Bagai orang yang merengek kepada Tuhan supaya mengembalikanmu kepadaku.


Jutaan kata untukmu, Wapta. Inilah surat yang kesekian kalinya kutulis hanya untukmu. Dan untuk mengenang kertas yang sebelumnya kubakar.


Perkataan editor naskah ada benarnya. Besok, aku berencana akan mematuhi peraturan baku tulisan dan rambu lalu lintas menulis. Bisa repot nanti saat tersiduk tulisanku cacat logika.

__ADS_1


Berandai-andai lautan api, rasanya mustahil. Api yang membakar lautan air, kosong melompong hilang logika di dalam pengharapan yang memang telah musnah.


Irama musik menambahkan suasana sendu yang kini berbunyi, tak lagi bernada cerah seperti dulu. Suntuk dan tak punya apa pun rasanya. Perih di dalam satu kesatuan makna yang segera ingin kulupakan.


Lantas kubuang ke lautan. Dimakan hiu, remuk di dalam perut, berubah kotoran. Keluar dari sana menjadi buih yang memecah di antara ombak dan desir angin yang ikut meniupnya.


Saat aku tahu menatapnya dengan rasa yang tak ingin kutatap. Lirihku seperti orang yang termangu diam dari gerakan, berkomat kamit mulut tanpa suara. Desing dan dengung masih bisa didengar. Ini mungkin, sayup samar didengar telinga.


Sementara. Sayup yang sementara tidak lama, bernaung dari terik matahari yang menyengat diri. Sebisaku berlari di padang pasir yang hangat, menempuh jutaan kilometer jaraknya. Berharap dan aku hanya mampu berharap.


Dalam hal berlari mengejar sesuatu yang tidak kasat mata membuatku lelah sendiri. Tanpa tujuan kaki ini berlari, arah mana? Selatan atau timur, mungkin barat?


Aku bimbang. Meninggalkan arah utara di benakku. Aku berada di sini pun terdiam sejenak mendongak, menatap langit cerah di atas sana, perasaanku bergetar. Riuh prasangka di dalam batinku berteriak.


Utara? Bukan juga sepertinya, lalu di mana? Di manakah rasa yang bergelantung itu berada? Banyak pertanyaan saat ini memenuhi isi kepalaku.


Dan kini aku tahu arah mata angin yang saat ini membingungkanku, Wapta. Aku ingin tertawa puas karena bimbang dibuat olehnya.


Aku berusaha menasihati diriku sendiri agar jangan memikirkan berbagai hal ihwal perasaan. Karena walau bagaimanapun Tuhan memberikanku cobaan hidup yang hingga membuatku tahu rasanya.


Aku mengetahuinya sendiri, mengenai perasaan yang kalau dibahas akan memakan banyak kertas. Panjang lebar, lebih dari selembar kertas.


Wapta, jutaan kata untukmu. Untuk sekian kalinya warna yang kamu hadirkan padaku hingga memenuhi ruangan sanubari ini.


Warna warna kemilau yang jelas kutatap. Mengenai senyuman dan sekilas harapan. Telah lama, sekitar dua tahun lalu kamu terbang dari Negeri Gajah Putih menuju Zamrud Khatulistiwa. Kamu tahu, rasa itu masih ada di dalam diriku, bahkan sejak pertama kali kita berjumpa.

__ADS_1


Memikirkanmu mungkin adalah takdir dalam hidupku yang sudah seharusnya kujalani dengan hati, juga pikiran lapang. Mengenangmu selalu dan selalu.


__ADS_2