Daur Ulang

Daur Ulang
Berat badannya melebihi truk bensin


__ADS_3

Tertawa dan menangis adalah dua ekspresi dan perasaan yang berbeda. Aku tak bisa mengerti keduanya.


Mungkin di dalam kehidupan ini ada semacam rumus yang bisa kugunakan untuk memahaminya. Rumus yang di dalamnya menghimpun bilangan sederhana yang harus diketahui terlebih dahulu. Seberapa sulit. Aku tidak tahu, mungkin saja rumus itu teramat sulit hingga membuat kepala yang awalnya berambut lebat menjadi botak.


Tolong jelaskan kepadaku, aku sangat membutuhkan penjelasan untuk inspirasi kehidupan yang sedang kujalani.


Hari itu, aku kembali menulis banyak kata di buku harian, kata yang kutulis ingin meminta pertolongan, buku itu sering kujadikan sebagai tempat pelampisan kekesalan, kesedihan dan sebagainya.


Apa artinya kebahagian? Apa artinya kesedihan? Mengapa kedua perasaan itu tidak bisa aku mengerti. Kadang kesedihan mengetuk pintu, tanpa diundang. Kesedihan yang menyiksa sanubari, sakitnya bagai tersayat sembilu, menyebabkan luka perih di dalam jiwa. Kesedihan yang sering diibaratkan bunga layu, sebaliknya kebahagian diibaratkan bunga mekar yang penuh keindahan.


Aku menulis sedikit seputar pertanyaan singkat hidupku. Sangat berharap rasanya ada yang menjawab, entah itu suara angin atau suara decitan pintu tua. Di kursi, di tempatku ini. Lagi-lagi, aku duduk sambil melamun dengan tangan sibuk memegang pena, menulis berbagai macam perasaan.


Kala itu entah mengapa aku sedikit tahu apa saja yang menyakitkan di dunia ini. Aku kembali menatap cahaya senja yang hendak terbenam. Di ujung pantai itu tampak menawan, walaupun dalam bentuk khayalan.


Sejujurnya aku menatap lukisan, di situ terpampang pemandangan indah bernuansa pantai, panorama senja. Indah, semua itu mampu mengukir bayang-bayang di dalam benak dan pikiranku yang tak keruan, bayangan yang sadar tak sadar mampu mendamaikan sakit hati dan pikiran kacau balau akibat terusik bayangan palsu, menipu penglihatan.


Aku berusaha semaksimal mungkin agar bisa mengusir semua kegundahan atau apalah yang bersemayam dalam benak pikiranku.


Seperti yang aku alami sekarang, memendam cinta itu menyakitkan, aku tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa kukuh berdiam diri mengandalkan harapan.


Harapan yang kian memudar oleh tiupan angin kepalsuan, memutar balik arah kincir angin, lalu terciptalah putaran yang dapat menghancurkan.


Separuh uang logam di tanganku seakan terbelah dengan satu sayatan pisau tajam yang mengerikan. Aku berpaling arah tidak ingin menoleh dan tidak ingin mengeluarkan sepatah kata apa pun.


Aku seakan sedang berpijak di pantai itu meninggalkan jejak-jejak samar yang tak elak harap, walaupun sekilas gambar yang kutatap. Di balik lukisan senja itu tersimpan banyak kenangan yang tersirap.


Di ujung pantai yang senyap, burung-burung bergerembul, beterbangan di sekitaran pandai, memekik di sela-sela kepingan senja yang menunjukkan cahaya bernaungan ratapan rindu.


Segala bentuk perasaan yang menghampiriku dengan rasa yang tiada pernah bisa kujelaskan.


Kau tahu senja yang seakan memanggil diriku untuk pergi menemui sunset jingga terbenam lerai di sana, aku ingin meminta bantuannya supaya rasa lara yang membakar jiwa dan sanubari ini menghilang selama-lamanya.


Entah bagaimana? Hari ini terasa begitu cepat berlalu. Keesokan paginya, di mana matahari muncul di sebelah ufuk timur, aku terbangun dari bayangan mimpi yang selama ini menipu diriku. Menipu dengan kata-kata dusta tak mencerminkan sikap manusiawi.


Kini, akar-akar harapan seakan menjalar dengan begitu banyaknya. Pohon yang semula kutatap rendah, sekarang menjulang lebih tinggi, tinggi dan tinggi, seperti tumbuh cepat dan ada efek super yang membantunya. Ingin sekali kutebang, tetapi takut jika ia tumbang mengenai diriku yang sedang bimbang.


Di kursi ini, di tempat ini, daritadi aku terus membual dengan menulis sesuatu yang membingungkan. Benarlah kata temanku yang sebelumnya bertemu di kedai kopi, untuk apa aku menulis padahal aku tidak ada bakat sama sekali dalam menulis, tapi apa salahnya? Aku hanya mencoba seperti dahan yang patah gugur ke tanah, lantas diserap bumi hingga musnah.


Jangan memikirkan daun, biarkan ia musnah dalam hisapan bumi yang mematikan. Aku tahu itu sekadar kata-kata, tetapi kenapa aku merasa tulisanku jelek, semakin jelek rasanya kalau ada yang mengejeknya.


Di depanku terpampang cermin. Aku menatap diriku di sana. “Ah ... kenapa di dunia ini seperti banyak orang jahat yang tidak membelaku sama sekali.”


Aku kembali berbicara dengan diriku seraya menatap lekat ke arah cermin. Lihatlah, wajah orang yang selama ini sering menangis. Lelaki yang bersimbah air mata, lelaki yang sungguh beda derajatnya dengan mereka yang tahan banding. Aku menangis, terus menangis menatap diri di depan cermin. Sendirian, tanpa ada siapa pun yang ada di sisiku.


Saat itu, aku menyeka air mata, lalu menyisir rambut, merapikan dasi untuk bersiap-siap pergi bekerja. Hari ini, aku lupakan sejenak bualan-bualan yang mengacaukan pikiran.


Aku menulis untuk diriku sendiri, bukan orang lain yang ingin tahu kehidupanku, bukan pula untuk dikenal oleh banyak orang, lantas sombong, melupakan hakikat diri yang sejatinya sama tercipta dari tanah.

__ADS_1


Melainkan aku menulis hanya untuk diriku sendiri. Dalam sekalian juta rasa, inilah hidupku yang tidak seperti orang-orang. Aku yatim piatu semenjak usia tujuh tahun.


Aku sudah sering menghadapi hari-hari, malam-malam sendirian tanpa ada satu orang pun di sisiku menemani, bahkan tidak ada yang memberikan aku satu kata pun ucapan yang menenangkan.


Aku tahan banting dalam segi fisik dan tatapan, tetapi sedikit saja aku mendengar ejekan, seketika itu air mata menetes tanpa aku kehendaki, hinalah sudah diri ini. Seorang lelaki yang bermata teduh, berderai linangan air mata, lemah? Di dunia ini, mungkin hanya aku yang begini atau ada di luaran sana. Aku tidak tahu.


Aku harus sabar, menghela napas sekian persen jumlahnya dalam sehari. Bagi orang yang tidak mengalaminya, mereka tidak akan mengerti seberapa menyakitkannya hari-hari yang kulalui.


Saat ini, aku keluar rumah. Aku cukup mandiri, punya rumah, juga punya kendaraan roda dua yang selalu kubawa ke mana saja saat aku bepergian.


Aku pun menginjak pedal gas, berangkat ke tempat biasa, tempatku bekerja. Setiap hari aku bekerja di tempat itu, kecuali hari Minggu, bersama rekan kerjaku yang bagiku mereka semua baik. Jujur, mereka itu sangat baik. Mereka memberiku sapaan hangat. Enak dipandang.


Kebanyakan rekan kerja di tempatku, usia mereka lebih tua, tetapi mereka tetap berkawan akrab denganku seolah-olah mereka tak memperdulikan berapa usia yang kumiliki.


Usiaku masih muda dari mereka, bahkan selisihnya sejauh 100juta kilometer jarak tempuh perjalanan. Aku bersyukur bertemu dengan rekan kerja yang sikapnya tidak seperti orang-orang di luaran sana.


Terkadang di luaran sana aku bertemu dengan orang yang lebih tua dariku, tetapi mereka meremehkan, bahkan mengatakan hal yang tidak ingin kudengar. Mereka itu tidak bisa menyesuaikan genre usia. Bahkan, mereka percaya diri sekali menyebutkan sesuatu yang tidak selayaknya disebutkan. Itu timpalku, sebenarnya aku tidak suka dengan sikap-sikap orang tersebut.


Tidak dengan rekan kerjaku yang berbeda dengan sekelompok orang di luaran sana. Rekan kerjaku menganggapku sebagai adik mereka sendiri, mereka tidak membully malah menyemangati hari-hariku dengan senyuman yang terpampang rapi.


Mereka sering membantuku dalam mengangkat barang, pekerjaanku ini lumayan berat karena aku tidak terbiasa. Itulah alasanku, mereka mengerti tentangku, kadang aku terjatuh. Sakit! Memang, tetapi bekerja adalah caraku untuk menghasilkan uang.


Setiap orang pasti mengetahuinya. Sederhananya, uang yang sedang kupegang, berada di dompet, kadang di kantong celana atau baju, jaket atau apa pun.


Kesemuaannya dalam bentuk lembaran kertas yang memiliki nilai nominal bertanda resmi dari pemerintah.


Mereka semua itu melakukan atas dasar uang. Mencari-cari kelebihan barang-barang bermerek, mungkin selama ini apa yang menjadi kebutuhan mereka itu masih kurang sehingga mendzolimi hak orang lain.


Uang yang berbentuk lembaran itu memiliki banyak mata nama. Di berbagai negara salah satunya yang terkenal, apa yang kuketahui adalah lembaran uang Dollar. Uang yang juga diketahui banyak orang.


Dulu, di sebuah mesjid ada sedikit ceramah yang kuingat dari salah seorang ustadz. Dia menyebutkan, “Pada hakikatnya uang itu sama saja, bentuknya lembaran dan disukai banyak orang.”


Itulah pokok kehidupan di dunia ini. Makan dan minum yang dibeli melalui selembar uang, itulah kebutuhan dan kuota internet yang kupunyai sekarang hanyalah sekadar iseng mencari hiburan, mencari wawasan di kala waktu senggang. Jangan tanya apa pun? Karena itu adalah alasanku, bagaimana alasan orang lain terhadap ini? Mungkin, mereka berbeda denganku, tiap orang punya alasan, tiap diri memerlukan kebutuhan.


Di tempat kerja, aku sejenak beristirahat. Duduk di salah satu bangku dan lanjut menulis di sana. Dari dulu, aku sangat ingin menuliskan betapa tidak bagusnya korupsi, itu mengambil hak orang banyak, juga para pembajak buku dan penjiplak. Aku ingin menulis buku yang membahas tentang kejahatan-kejahatan di dunia ini.


Kejahatan yang dirasakan enteng, padahal itu dosanya amat besar, juga merugikan orang lain. Dzolim dalam langkah sembunyi yang tiada sanggup kujelaskan.


Kendatipun demikian, aku bukanlah orang yang pandai berceramah, jadi aku tidak akan sanggup berpuluh-puluh halaman membahasnya, orang yang membacanya pun pasti akan bosan.


Aku bukan orang seperti itu, melainkan aku adalah aku, seorang pemuda yang sering melihat berita di televisi, juga membaca berita di koran-koran, menyimak curhatan dari salah seorang penulis yang membahas tentang buku-buku bajakan, bahkan penjiplak dan lain sebagainya.


Aku lelah. Sudah lelah menjelaskan dalam tulisanku, menulis curhatan di laman-laman berita dll. Sekarang, aku menulisnya di buku harian, sejenak menghela napas, lalu menutup buku harian tersebut.


Aku kembali bekerja, mengangkat barang-barang ke mobil. Sepertinya aku tidak ditugaskan mengantar, Wapta pun sama. Lihatlah, wanita itu berdiri anggun, memegang daftar barang di tangannya, mengecek-ngecek pesanan. Aku menatap dari kejauhan. Damai dan tentram rasanya.


Aku hanya sejenak menatap. Lanjut bekerja dengan giat dan fokus pada pekerjaan yang sedang kulakukan. Begitu fokusnya sekarang aku bekerja hingga melupakan waktu istirahat. Teman baikku bernama Jazu menepuk pundakku. Waktu itu, aku baru sadar saat dia menepuk pundak.

__ADS_1


Dia tersenyum. “Ambillah roti ini, kau perlu makan sekarang, teman.” Dia memberikan roti kepadaku.


Aku tak banyak ucap, bergerak cepat mengambilnya. Jazu adalah teman baikku yang selalu memberi makanan, tentu seperti dugaanku Jazu sengaja membelinya berlebihan, itulah yang aku sukai dari dia.


Orangnya selalu perhatian. Baik selalu, tidak pelit di dompet, lihatlah roti berukuran jombo itu kupegang, kumakan perlahan.


Aku refleks karena kebiasan di rumah sendirian, sering melahap makanan sekali ngap, roti yang semula dimakan perlahan itu sekarang langsung kuhabiskan. Itulah kebiasaan yang seakan melekat kuat.


Jazu tertawa kecil menatapku. “Kau jangan rakus teman, menghabiskan semua roti itu sekali gigitan.”


Aku juga ikut tertawa. Sudah kubilang itulah kebiasaanku, jangan tanyakan apa pun.


Dasar Jazu berlebihan menyebutku begitu, bercanda dengan sekali gigitan, mana ada? Bayangkan saja ukuran jombo dimakan sekali gigit, tetapi aku paham itu hanyalah istilah yang sering digunakan orang-orang.


Aku menepis sejenak. “Ah, siapa yang rakus? Itu adalah kebiasaanku dari dulu, tidak akan membuatku gemuk. Kecuali aku makan semen tiap hari.”


Jazu menepuk jidat. “Astaga, teman. Seperti biasa kau sering berlebihan.”


“Tidak. Aku tidak berlebihan, aku hanya memberimu kata di luar nalar.”


“Itu kebiasaan terburukmu, teman. Aku tak ingin mendengarnya.”


“Terserah. Aku cuma ingin bilang sekaligus bertanya, apa aku salah mengatakannya padamu, mengatakan bahwa dunia ini bulat di kelilingi lautan dan daratan, atau rokok yang sedang kau hisab hanyalah asap yang tidak membuatmu kenyang?”


Jazu sejenak mengembuskan asap rokok di tangannya. Aku lupa bilang, dia itu perokok. Bahkan, saat memberikan roti kepadaku terselip di kupingnya sebatang rokok. Lalu, saat aku makan roti, dia menyalakannya, lanjut menghisab hingga kusinggung sebagai balasan karena menyebutku rakus.


“Teman, semua tidak salah, tetapi saranku jangan pernah kau bilang kepada orang lain selain aku, nanti kau terkena bully. Kau tahu, semua tahu bumi itu bulat, rokok tak akan membuat kenyang, hanya saja penggunaan bahasamu yang sebelumnya membuat kepalaku terputar 90⁰ derajat untuk memahaminya. Apa benar kau memakan semen tiap hari?” Jazu berucap panjang lebar, lalu tertawa sejenak. Aku diam tak ingin menjawabnya.


“Ah, maafkan aku, teman.” Dia lanjut menepuk-nepuk pundakku.


Aku tertawa. “Lupakan soal itu, teman. Aku memaafkannya. Aku takut denganmu.”


“Kau takut denganku, kenapa? Apa wajahku terlihat menyeramkan?”


“Tidak. Bukan begitu, berat badanmu melebihi truk bensin.”


“Aduh, teman. Haha, lagi-lagi kau membuatku tertawa dengan omongan absurdmu itu.”


“Itu keahlianku, kau hanya perlu tertawa dan ikuti iramanya.”


“Engkau menyuruhku tertawa? Padahal, aku sudah tertawa dengan senangnya.”


Sebenarnya aku tidak pernah tahu apa itu lelucuan. Bagiku apa yang sekarang kujalani tidak selucu itu, aku adalah orang yang selama ini sering mengalami banyak kesedihan, bertopeng dengan gaya sok asyik di depan banyak orang.


Aku tidak pernah tahu namanya lelucuan, bahkan itu bukan keahlianku, melainkan aku hanya refleks saat bingung mencari jawaban. Di saat itu, keluarlah kata-kata secara tidak sengaja yang kebanyakan orang mengatakannya absurd, bagiku itu tidak lucu sama sekali.


Sebenarnya ada segurat perasaan senang saat Jazu tertawa, walaupun aku tahu dia tertawa karena omongan itu terdengar absurd.

__ADS_1


Aku juga bukanlah seorang yang ahli dalam hal apa pun, tetapi tak apa biarkanlah semua itu laksana matahari yang mengenali awan, senantiasa memberi sinar kepastian kepada bumi, memberi kehangatan yang nyaman.


__ADS_2