
Kalau aku diperbolehkan memilih takdir hidup. Aku akan memilih menjadi seorang koboi munafik, hidup di zaman yang tidak modern. Aku akan memacu lari dengan kuda. Perkasa membelah gurun sahara. Berteriak lebih nyaring dari hanya sekadar ucapan yang mengandung kalimat dusta.
Teriakan koboi yang membahana di gurun pasir sahara. Lihatlah di sana ada seekor monster yang ingin melahapnya. “Kau tidak bisa lari kemana pun, koboi.” Monster itu menyeringai, tertawa bahak.
Aku juga tertawa. “Hhaha.. kau itu makhluk kecil, berani ingin menghadapi seorang koboi sepertiku? Dimataku, kau itu tidak lebih hanya monster yang tidak tahu diri.”
“Apa? Kau katakan aku tidak tahu diri! Berani sekali kau, siapa kau? Haah, hanya manusia yang mudah sekali kuinjak!”
Di dunia ini, kawan. Ada banyak orang, dijumlahkan dan direnungkan, pada hakikatnya aku sekarang hanya membuat satu kepingan yang menuduh di antara orang itu ada yang hatinya seperti monster.
Saat ini aku berhadapan, bersitatap dengan monster ganas di hadapanku. Memekik dengan suara yang bagaikan wanita kejepit di sela-sela bangku kelas.
Aku balas menyeringai. “Monster, kita tidak boleh berkelahi. Aku hanya membela sesuatu yang ingin kubela. Kalau kau menyerang, aku akan balas menyerangmu.”
Lihatlah, betapa aku ini adalah seorang munafik handal. Saat kuucapkan itu berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam batinku. Malah dalam batinku sekarang marah seraya mengumpatkan kekesalan, ingin sekali kubunuh monster itu dan membayangkannya berakhir tersungkur mati di pasir yang tandus dan dibakar langsung oleh cahaya matahari.
“Koboi, kau percaya diri sekali mengatakan itu padaku. Ini gurun pasir, aku adalah penguasa di sini, kau hanya orang yang menumpang menginjakkan kaki di wilayahku ini, kau tidak berhak sombong.”
“Sombong? Monster, kau berucap omong kosong. Sepertinya matamu katarak dan telingamu itu tersumbat. Kau salah menilai diriku, kau salah menilainya, bodoh!”
“Kau tidak pernah membaca rupanya!” Monster itu mengejekku buta aksara.
Iya, itu memang benar. Aku adalah koboi yang hidup bebas sesuka hidupku. Memilih jalan semauku dengan duduk di atas pelana kuda. Dia berhak menilaiku sembarang. Bahkan samudra sekalipun tetap diam menggema dengan ombak besar di pengujung duka, lerai nestapa.
Sudah kubilang aku adalah seorang koboi munafik. Terkenal di semenanjung utara sana sebagai orang yang menipu banyak orang. Aku mengingkari apa pun yang ada di hadapanku, memilih hidup dengan jalanku sendiri mengenai pemikiran dan lain sebagainya. Aku tidak suka dituduh dengan gaya sok tahu seperti itu.
“Sudah kupastikan, koboi. Kau buta aksara, kau tidak pernah membaca!” Monster itu menggeram ke arah langit.
__ADS_1
AAARRRGGHHH!
Aku memegang topi yang hendak terlepas karena teriakan monster itu membuat angin bertiup lebih kencang dari apa pun yang saat ini kurasakan. Kalau ingin tahu, aku adalah Narak yang punya imajinasi menjadi koboi liar dalam hidupku.
Tidak pernah kusangka, aku akan terjepak dalam lingkaran kuliah per tahun. Merasakan atmosfer yang berbeda. Aku rindu kampung halaman, rindu bagaimana kabar wanita yang menjadi impianku.
“Aku mengakui diri.. wahai monster, aku hanya seorang koboi yang menjalani hidup dengan gayaku sendiri, aku tidak suka dituduh seperti itu, kau hanya menuduh dan tidak tahu perkara yang sebenarnya!”
“Menuduh? Heh, kalau aku tidak salah kuingat. Kaulah seorang koboi munafik itu, bukan? Kau sudah terkenal di penjuru wilayahku, kau telah menipu banyak orang dan berkelana ingin menyelamatkan diri!” Monster itu menatapku semakin geram.
“Kau benar, aku adalah seorang koboi munafik. Jadi, apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin membunuhmu, koboi!”
Monster itu berlari ke arahku dengan wajah seramnya yang terbilang sekarang aku ingin meneriakkan suara lantang.
Sejak saat itu kalimat munafik tidak menjadi kebanggaanku lagi, aku merasa sudah hidup melampaui batas. Kata monster itu menyadarkanku akan satu hal.
Setiap jiwa yang mempunyai napas pasti akan merasakan yang namanya kematian. Saat kematian itu datang, aku tidak bisa membantahnya dan takdir hidup telah berakhir dalam catatan panjang.
Aku sekarang menyesali hidupku. Dari remaja aku tumbuh sebagai seorang koboi munafik yang dirinya sendiri malah bangga dengan sebutan itu, terkenal di penjuru wilayah gurun pasir. Cakaran monster itu tak kusangka mengenai lenganku, aku berusaha menghindar dengan segenap kemampuanku dan berlari melindungi diri.
Hidup dan mati saling berhubungan seperti halnya siang dan malam, itu satu kepastian yang nyata akan terjadi pada waktu yang telah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.
Dalam waktu yang tak lagi sama, kemungkinan aku akan tenggelam dalam dasar yang tak mempunyai arah tujuan. Dalam hal kerinduaanku kepada salah seorang wanita yang selama ini selalu kurindukan.
Merenungi dan membuat satu kesepakatan dengan diriku bahwa aku akan menjadi manusia biasa yang hidup dengan tidak mengurusi orang lain, hidup dengan tidak mempermasalahkan orang lain.
__ADS_1
Aku ingin hidup seperti biasa membantu orang lain dan mengulurkan bantuan ringan dengan sekeping emas permata. Kenangan yang berharga itu membuat air mataku hendak menetes. Dalam hidupku rasanya tidak pernah aku mengenal apa itu kenangan berharga, apa itu kebersamaan yang membuatku tahu banyak tentang arti berbagi dan arti dari sebuah senyuman.
Monster itu benar aku adalah seorang yang sombong. Selama ini aku buta aksara, tidak melihat jati diriku sendiri, aku terlahir dalam keadaan yatim piatu tanpa ayah dan ibu. Bagaimana aku hidup selama ini?
Menjalani hari bagiku terasa bagai sebatang pohon yang berusaha tegar, lara sendirian tanpa ada orang di dekatku. Kalau ingin tahu lebih banyak mengenai hidupku, bayangkan saja seorang koboi yang munafiknya terlewat batas.
Aku menipu orang lain dengan wajah gembira dan senyumanku diikuti tawa yang terlebih semua itu hanyalah dusta, aku benar-benar bangga berhasil menipu orang lain dengan gaya menerima, padahal jauh di dalam batinku sedang mengumpatkan kekesalan dengan teramat lantang dan tidak ada siapa pun yang bisa mendengarnya. Kalau aku bisa bersyair, niscaya akan kulantunkan satu bait atau beratus bait hanya untuk menjelaskannya dalam satu kesatuan kata yang indah.
Aku masih menghindari serangan monster itu yang tidak sabar ingin membunuhku. Persis sebelumnya aku mengatakan padanya kalau monster itu menyerangku, aku akan balas menyerangnya.
Akan tetapi, entah mengapa sekarang aku merasa kosong. Sanubariku seakan sudah terkena tamparan oleh perkataan monster tersebut. Mungkin yang pantas disebut monster itu bukan ia, melainkan akulah yang seharusnya pantas disebut monster.
Aku menatap kudaku yang berada di sana. Jarak sepuluh meter bagiku yang sudah lama terlatih itu tidak jauh. Aku meloncat seakan terbang di langit, menaiki kuda.
Monster itu sekarang tertinggal jauh dan masih mengejarku. Aku menguatkan tali kekang pengendali dan memacu kuda itu agar berlari. Lari dari monster tersebut.
Pasir itu kini tersapu oleh kaki kuda. Bergemuruh angin sekitarku menerpa wajah dan membuat rambutku bergoyang, berarak sejajar. Rambutku tidak akan lepas karena itu rambut asli. Kencangnya kuda itu berlari bagai membelah gurun pasir membuatku berteriak dengan suara lantang, menatap langit. Hiiya, aku bebas!
Aku balik menatap monster itu yang juga sama berteriak karena tidak bisa mengejarku. “Hei, koboi. Jangan lari, kau ternyata tidak lebih hanya seorang pengecut! Haaaah, beraninya kau itu hanya lari dan takut menghadapiku.”
“Dasar kauuuu pengecuuuuut!”
GRRRAAARR!
Suara monster itu membahana di langit nan biru. Aku tidak peduli, entah sebutan pengecut atau munafik sekalipun, orang lain hanya menatap luar, mereka tidak tahu apa yang kurasakan. Selama ini aku memang seorang munafik yang pandai menyembunyikan semuanya.
Kalau aku ingin membahas mengenai semua ini, kawan. Sudah kupastikan bahwa ini akan memuat banyak tulisan kertas, akan memuat ratusan halaman, itu juga akan membosankan dan terkesan lebay.
__ADS_1
Aku tidak perlu menjelaskan apa pun ke orang lain. Bagiku orang yang benar-benar mengenal pribadi diriku, mereka tidak butuh penjelasan apakah aku orang baik ataukah orang jahat. Karena mereka bisa melihatnya sendiri dan punya hak untuk mencelaku ataupun meninggalkanku.