
Aku memandang mereka yang kini tampak bersorak menanti cerita lanjutan. Tapi, aku sudah tidak berminat menceritakannya.
Pun membahasnya. Rasanya ingin kuhentikan mulutku bicara sekarang juga. Menghentikan semua ini bagai setumpuk kertas yang ingin kubakar. Selesai.
Kisah seorang koboi itu sudah pernah kubilang tidak banyak berarti, kosa kata di dalamnya terkesan hambar, tidak ada apa pun yang bisa dirasakan. Pun, dipikirkan saja itu tokohnya kelewat batas, melebihi seseorang munafik di dunia yang bulat ini.
Ya, bulat! Bukan kotak, apalagi datar.
Munafik dan tukang tuduh, tukang pamer dan tukang paling merasa hebat di alam jagat raya. Koboi kau berkata dusta, kau bersandiwara.
Di atas kertas, tertulis sedemikian lembar catatannya. Banyak, puluhan halamannya yang membuatku malas mengecek ulang.
Pun editor naskah yang hari itu menatap naskah itu menghina, lantas menghempasnya tanpa peduli terhadapku. Dia jujur. Perangai galak mengatakan terus terang dan semuanya menjadi jelas. Aku tidak lagi bertanya kenapa itu bisa terjadi? Kenapa? Tidak, sama sekali, aku tidak bertanya. Pun, di sini berusaha diam dengan sebatang pohon harapan yang hendak kutebang hingga ia tumbang. Hei, ayolah, jangan pernah buat aku bertambah galau begini. Ketahuilah, kawan. Satu kalimat sendu yang kalian ucapkan itu semakin membuatku lemah. Mudah buat kalian berucap demikian, bagaimana denganku yang saat itu ditertawakan para staf dan editor naskah menyeringai dengan gaya menyebalkan, sangat menyebalkan.
“Maafkan aku, kawan. Sepertinya aku memilih keputusan mutlak, aku tidak ingin menceritakannya lagi, tentang cerita itu biarkanlah ia tenggelam di antara ribuan kata yang kubuang di tong sampah!”
“Dan kau tahu itu memang novel sampah!”
Kataku dengan intonasi tinggi. Rasanya sekarang aku tidak berminat menceritakannya. Kau tahu, kawan. Lebih-lebih sebelumnya aku hanya berkeinginan meminta sebuah saran kepada mereka, bukan sesuatu yang membuatku bertambah sunduk dan membuatku tidak selera berbicara. Hidup ini aneh, kupikir sesuatu yang kuinginkan kadang di suatu waktu, semua itu tidak berjalan mulus dengan imajinasi kuatku.
“Cerita itu memang sampah.”
“Apa maksudmu?” tegah salah seorang menatapku serius. “Aku tidak mengerti ini, kawan. Bisakah kau menjelaskannya?”
Dia tampak sedikit terkejut dengan suaraku yang sebelumnya meninggi. Pun tiba-tiba mengencang, tanpa sebab dan mereka tidak tahu alasannya kenapa? Yeah, walau bagaimanapun aku tidak perlu menjawab pertanyaannya. Itu bagiku tidak penting.
“Benar itu, Boi. Apa maksudmu? Kenapa kau memilih tidak ingin menceritakannya? Bukankah sebelumnya ... padahal, kami pun belum mendengar isi ceritamu secara keseluruhannya. Itukah yang kau inginkan? Bayangkan kau punya seorang pembaca yang menyukai ceritamu dan kau menulis novel itu nanggung, tidak tamat, Boi. Bagaimana perasaan seorang pembaca itu? Pasti pembaca itu akan merasa kecewa. Kau itu aneh sekali, begitu mudah putus asa, begitu cepat menyerah.”
“Tidak ada yang membaca naskah itu selama aku tidak menerbitkannya.” Aku menjawab mantap, itulah faktanya.
Maaf, untuk kali aku benar-benar telanjur telah mengucapkannya, kawan. Aku tahu sebelumnya akulah yang meminta saran pada kalian sehingga kalian berbaik hati memberikan berbagai kata semangat padaku, bahkan menyuruhku bercerita tentang cerita koboi yang kutulis itu. Ketahuilah, satu hal sekarang aku hanya sedang tidak berminat bercerita ataupun menceritakannya. Dan... kupikir lebih baik cerita itu kukubur saja ke dalam tanah.
Kuharap ia akan benar benar tenggelam hingga mencapai ribuan kilometer hingga terus mencapai dasar bumi menembus intinya, lalu musnah di dalam sana. Aku pun tidak peduli lagi.
“Kau berpikir negatif, cobalah positifkan pikiranmu dengan tenang.” Salah seorang di antara mereka memberi saran.
“Aku tahu kalian bertiga hanya bersandiwara dan kalau kutulis di kertas, semua ini akan tampak sandiwaranya dan itu lagu lama yang sudah bosan kudengar, kalian seakan merana menatapku seperti itu. Bagiku cerita tentang koboi itu hanyalah sebuah cerita di antara ribuan dan banyaknya cerita fiksi dan kupikir lagi aku tidak perlu mengungkitnya ataupun membesar-besarkan masalahnya. Itu tidaklah perlu dan bahkan tidak penting.”
“Kau tidak mengerti, Boi. Kamilah pembaca ceritamu yang kumaksud sebelumnya, lebih tepatnya kami adalah pendengar. Kau ingat, awal-awal kau menyampaikannya pada kami. Jangan lupa kami juga adalah pembaca naskahmu yang memang kacau balau itu. Awal-awal saat yang lain belum mengetahuinya. Kau sendiri bercerita pada kami pada waktu itu, walaupun naskah kau itu berantakan, tetapi semua itu masih bisa membuatku penasaran akan kelanjutan ceritanya. Lebih tepatnya lagi, aku penasaran tulisanmu akan berkembang seperti apa nantinya? Perlu kau tahu, itu semua bisa kulihat dari hanya menatap naskahmu, itu juga yang selalu kunantikan untuk ke depannya akan seperti apa.”
“Bukankah itu impianmu selama ini?”
Aku menggeleng saat mendengar penuturannya. “Walau bagaimanapun kalau mengatakannya. Aku tetap tidak percaya dengan perkataanmu, kawan. Aku tahu kau sebatas memandangku seperti itu, katakanlah yang sejujurnya. Sungguh, itu tidak apa-apa lantas aku akan senang mendengarnya. Kupikir kau tidak mungkin penasaran akan tulisanku, tetapi kau hanya ingin menunjukkan empati dengan mengatakan kebohongan mutlak yang semua itu bisa kutebak dengan mudah.”
“Kau salah sangka, Boi. Bukan begitu maksudku dan aku tidak bermaksud ....”
“Yeah, apa pun maksudmu dan apa pun yang kau katakan, aku tetap memilih tidak ingin menceritakannya pada kalian. Cerita tentang koboi itu perlu kau tahu di sana banyak mengandung plot hole. Banyak pula kejadian rumit yang memang sulit ditangkap logika dan akal sehat. Kalian yang mendengarnya antusias di awal, memang itulah kesan pertama dalam novel itu hingga pada pertengahan ketidaknyambungan mulai terasa. Atmosfer kekacauan alur cerita yang kubuat. Itulah yang hari itu editor naskah katakan padaku. Aku malah mempunyai dugaan kuat bahwa kalian bertiga akan berubah pikiran saat mendengarkan keseluruhan cerita tentang koboi itu sehingga kalian akan dengan mudah mencelaku dan itu seharusnya tidak pernah kulakukan dalam hidupku.”
Aku menjelaskan semuanya. Kalau ingin kujelaskan lebih panjang, ini adalah perkara rumit yang terjadi di antara kenangan dan kesekian derita lama di masa lalu, pahit getir di masa yang hendak kutelan saja rasa pahit dan membeli permen. Berbicara seperti ini membingungkan. Berbicara seperti ini dengan tiga orang temanku itu yang bagai robot berkepala canggih, seperti ini.. berbagi cerita di antara kami satu sama lain yang mereka melebihi dari yang kuduga. Kupikir lagi.. mereka bertiga itu tidak tahu caranya dalam memberikan suntikan semangat kepada orang yang pernah mengalami trauma di masa lalunya.
Masa lalu menyedihkan, bertemu editor naskah yang menghempas naskahku.
“Sebelummya aku hanya meminta saran dari kalian, bukan malah bercerita.” Aku melanjutkan bicara usai menjelaskan panjang lebar kepada mereka.
“Sepertinya keputusanmu sudah bulat. Baiklah, hanya saja perlu kau tahu, Boi. Tiada orang lain yang saat ini kau tatap, di sini kau bertatap muka dengan kami, kau bercerita dengan kami dan kau sendiri tahu sejelek apa pun cerita yang kau ceritakan. Selama ini kami tidak pernah menghina ataupun mengeluarkan kata ejekan, hanya memberi satu pendapat yang syukur bila-bila kau mau menerimanya.”
Dia terus mengatakannya terus menerus, bahkan lebih panjang dari hanya sekadar itu. Inilah yang membuatku semakin kian bimbang antara memilih melanjutkan ataukah melupakannya. Secara lisan kata semangat itu mudah saat ketika kau mengucapkannya, bayangkan saat kau pernah mengalami masa trauma dalam hidupmu yang mengharuskanmu agar terus melangkah, menguatkan hati dan berusaha untuk tidak menatap ke belakang sana. Pun, menuntun langkah kaki supaya terus berjalan di bebatuan terjal, menanjak pegunungan. Berdesir pasir pun di gurun sahara sana lantas ditiup angin dan gemuruh ombak besar yang menghempas kapal di lautan lepas, rasanya getir berdiri bagi orang yang takut menatap ombak. Nyeri pun terasa seakan membelah dada.
Itu dramatis. Semoga tidak terkesan lebay karena sejatinya itulah ciri khasku dalam menulis. Aku belum bisa menggunakan diksi yang memukau, malah membuat dahi mengernyit atau bahkan menggelikan.
“Kau bebas berbicara dan aku bebas memilih semua itu agar kusimpan saja.”
Aku menjawab tidak perlu panjang. Bagiku saat ini aku tidak ingin berduka. Bahkan aku ingin tertawa saat mengingatnya.
“Mengenai ini aku tahu masalahnya. Sepertinya kau memainkan drama, tapi baiklah aku bisa memakluminya. Mungkin saat ini kau galau mengingat editor naskah itu yang tidak mau menyunting naskah punyamu dan malah menghempasnya dengan tanpa peduli perasaanmu. Kau galau, Boi. Itu bisa kulihat dengan jelas.”
__ADS_1
Aku menggeleng. “Aku tidak galau.”
Mereka saling pandang, mungkin merasa heran dan kalau ingin tertawa. Silakan, itu hak mereka untuk tertawa. Karena sikap ketidakkonsisten di diri yang sebelumnya mengucapkan ingin menyerah, ingin kalah.
Itu bisa kupahami seperti orang galau dalam memikirkan kehidupan. Orang galau dalam menjalaninya. Tapi, sekarang aku hanya membela diriku dari sebutan orang lain dan berusaha menepisnya.
Sebenarnya galau untuk apa? Aku tidak galau dengan semua itu, justeru saat editor naskah menghempas naskah kala itu kuberikan satu tatapan pasti menatap ke arahnya bahwa suatu saat nanti akan kuperlihatkan padanya dan di suatu saat aku akan menemukan seseorang yang lebih mengerti dan lebih memahami semua tentangku selain dirinya. Masih banyak di dunia ini editor di luaran sana. Masih banyak pula kesempatan dalam hidupku untuk memulai hal baru untuk kujelajah.
“Kau tidak galau, mungkin kau sedih mengingat semuanya, Boi?” Dia menatapku lebih menjengkelkan dari sebelumnya.
Ingin kutampar, tetapi aku menahannya dalam batin, lalu menghela napas dalam-dalam.
“Kumohon.. berhentilah mengatakan hal sia-sia, kawan. Kau semakin tidak mengerti tentang semua ini.”
“Aku tidak galau dan tidak sedih atas semuanya, jiwa pemuda dalam darahku saat ini masih mengalir ke sembuluh urat nadi. Masa inilah masa berkobarnya api semangat yang membara dalam jiwaku. Di hadapanku mereka tertawa menertawakanku. Di ruangannya saat itu, mereka mengejek naskah tulisanku dengan kosa kata menghinakan. Semakin ke sana mereka bicara, semakin editor naskah menolak naskahku dan meremehkannya. Maka kobaran api dalam jiwaku akan semakin membesar kian melebar ke segala penjuru, satu hal yang kau ingat, kawan. Jangan pernah menatapku seperti itu.”
Munafik! Itulah sebutan yang pantas buatku yang saat ini berlagak sok kuat, aku memang pernah merasa tenggelam dalam tanah saat mentalku melemah, kepalaku menunduk. Ditertawakan para staf di sana, juga editor naskah yang terlebih kaku wajahnya, menatapku tidak tersenyum.
Cahaya tatapan senang atau bahkan ramah di wajah editor itu menghilang dari sorotan matanya. Itu bukanlah sesuatu yang patut kujadikan batu pijakan. Ingin kulempar ke laut dan buang jauh-jauh dari hidupku.
“Kau sedang menggerutu, teman.”
Suara itu kudengar di sana, lantas dia berdiri dekat, menepuk pundakku.
“Jazu.” Aku menoleh.
Saat ini aku menatapnya sebentar.
“Kenapa? Kenapa akhir akhir ini kau sering menggerutu begitu, teman. Apa ini.. tadi sempat kudengar kau galau?” Dia bertanya.
Ketiga orang bersamaku itu saling tatap. Jazu duduk di antara kami dengan perangai biasanya, aku memilih menundukkan kepala dengan kondisi marah karena sebelumnya telingaku bagai disetrum saat mendengar perkataan mereka yang menyebalkan, saat ini aku hanya berusaha tidak menatap mereka yang sok tahu akan semua tentangku dan berusaha untuk tidak memedulikan mereka. Entahlah, aku seakan benar-benar tidak bisa berpikir jernih, kepalaku bagai mau pecah memikirkan akan hal lain pun aku tidak bisa dan kupikir ini ribet terpuntal bagai tali benang nan kusut. Lelah pun sudah pasti dalam hitungan menit, jam dan detiknya yang berlalu. Lelah memikirkan kehidupan.
“Ada apa ini, teman?”
“Ayo, ceritakan itu padaku. Aku baru datang dan tidak tahu semuanya. Mengapa kalian semua pada diam begitu. Apa kalian menganggapku lebah atau seekor beruang yang hendak memangsa kalian?”
“Ini hanya tentang naskah novel yang hari itu kutulis, teman.” Bicaraku pendek.
“Ah. Aku paham masalahnya, tulisan kau itu memang jelek dan ya bagiku lebih baik kau berhenti saja, kubur dalam-dalam impianmu ingin jadi penulis. Bakat kau itu tidak ada di sana, teman.” Jazu seperti biasa, mengatakan hal demikian.
“Tidak enak kali ucapan kau itu, sebutan teman itu lebih baik kau sebut saja kawan.” Salah seorang di antara mereka protes.
Jazu memang dari dulu menyebut orang yang dia kenal maupun tidak dia kenal dengan sebutan teman, kadang-kadang juga aku mengikutinya saat bicara dengannya di kedai kopi hari itu.
“Itu ciri khasku, teman. Kau tidak bisa mengubah apa yang sudah kutetapkan, bahkan semenjak usiaku tujuh tahun.”
Usai bicara, Jazu menatap orang di sana, melambai dan memesan minuman.
“Begini, teman. Kau sudah pernah kusuruh agar berhenti menulis, tetapi kau masih tetap menulisnya. Itulah penyakit ciri khasmu yang kadang membuatku tidak paham.” Jazu lanjut bicara.
Satu dua di antara mereka ada yang menanggapi, aku menatap pasti ke arahnya. “Aku juga pernah bilang padamu, teman. Semakin kau mengejek naskahku, semakin itu membuatku bersemangat menulis naskah itu, saat di kedai kopi hari itu kau benar-benar memberikan satu semangat yang sampai saat ini kuingat.”
“Haha.. itu baru seminggu lalu, saat kau dan aku bicara di kedai kopi, itu tidak selama yang kau katakan, teman.”
“Kalian ini asyik sendiri bicaranya.” Salah seorang lagi mengatakannya.
“Menganggap kami batu?”
“Hei, jangan begitulah. Baru gabung ini, baru masuk kontak, kalian harap maklum.”
Jazu tertawa. Yang lainnya tampak bergurau dan kembali saling tertawa.
“Aku hanya bercanda, kau ini tipe orang yang tak suka bercanda rupanya.” Salah seorang bicara, lalu menegok minumannya.
“Ya, teman. Kau itu boleh bercanda selama raut wajahmu tidak serius, kupikir itu malah lucu dan melegakan dalam waktu selama ini. Ahaha.. kodok betina.”
“Kodok dalam sawah itu melompat, tapi sayang jatuhnya ke air. Tenggelamlah ia tidak bisa berenang. Minta tolong, katak lagi menyelamatkan dan akhirnya mereka kawin dan melahirkan anaknya.”
__ADS_1
“Kau tahu, kodok itu sekarang punya peternak sapi dan kuda kudanya berisi semua, gemuk-gemuk malahan.”
Jazu berpuas diri tertawa bagai kartun yang ada di televisi, lawakannya memang tidak masuk akal. Tawanyalah yang membuat orang ikutan tertawa. Salah seorang yang sebelumnya dipanggilnya tadi, sekarang membawakan sebuah pesanan. Apa yang dipesan Jazu seperti biasa, segelas kopi hangat nan nikmat.
Itu katanya bukan kataku yang sekarang minumanku adalah teh manis dengan balok es persegi empat. Itu bukan main.
Jazu pun mengambilnya dan mengucapkan sebentar terima kasih, lantas dengan gerak perlahan meminumnya.
“Kopi ini... dan cuaca di bulan ini cukup nyaman bagi kita bersantai.” Dia sepertinya ingin memulai obrolan baru. Melupakan obrolan sebelumnya tentang tulis menulis.
“Omong-omong, Narak. Kau sudah menyukai kopi, mengapa minumanmu saat ini teh? Itu bukan gayamu yang hari itu kukenal di kedai kopi, teman.” Jazu lanjut bicara sambil menatap gelas teh punyaku.
“Yeah, saat ini aku sedang tidak ingin berpikir, teman. Kalau aku minum teh rasanya pikiranku lebih tenang dan nyaman dalam menikmati hari ini, saat ini kau juga sepertinya tahu kopi hanya kugunakan saat aku sedang ingin menulis sesuatu.”
Aku menjelaskan padanya, seperti itulah hari-hari yang kulalui bersama secangkir kopi untuk menemukan alur cerita yang berbeda dari kebanyakan di luaran sana.
Jazu meletakkan cangkir minumnya. “Oh, lumayanlah. Kau sudah bisa meminimalisir candu pada secangkir kopi, aku tidak bisa.”
“Kopi memang pas buat seseorang kalau ingin berpikir. Cita rasanya yang bercampur antara pahit dan manis, itu bisa membuat kau merasakan berbagai pola pikir cemerlang saat menyuduhnya dalam gelas, lantas meminumnya. Persis saat ini, teman. Kau menatapku minum kopi.” Dia lanjut bicara dengan gaya tangan yang tidak bisa diam, seolah-olah tangannya mengikuti ucapan yang dia keluarkan.
“Sepertinya kami bertiga ingin pamit, Boi. Kau tahu kita sudah lama di sini.” Salah seorang di antara mereka bicara.
Jazu menahan mereka, tetapi dengan lawakan mereka terus berpuas diri tertawa dan berbasi-basi sebentar. Pada akhirnya mereka tetap memilih pamit katanya ada hal yang lebih penting untuk mereka lakukan. Ditambah beberapa alasan lainnya yang Jazu tidak bisa menahan mereka.
“Gajah itu gemuk dan tidak bisa terbang. Kau hanya mengarangnya saja.”
“Gajahtera pesawat garuda, itulah maksudku, kawan. Gajahteralah pesawat garuda nan besar itu di langit.” Mereka tertawa, bukan karena apa-apa.
Itu hanya tingkah konyol mereka dalam bercerita sambil mendramatisir bunyi pesawat dengan tangan mereka.
“Teman, kau tidak tertawa bersama kami? Kau sungguh berbeda sekarang rupanya.”
Saat mendengar itu aku terpaksa tertawa yang memang tidak lucu. Aku memulai ocehan absurd dengan berbagai kosa kata lainnya. Mereka semua menyimak bagai penonton yang ikut bersorak sorai. Terlebih saat itu aku hanya sebatas bergurau dengan Jazu, seakan melupakan mereka bertiga yang ada di depanku. Lawakan absurd punyaku sukses menggelitik mereka semua, tetapi tak berlangsung lama saat itu pun terhenti ketika seseorang di antara mereka menegok habis minumannya dengan cepat bagai sekali tatap, itu air langsung kosong dari cangkir.
Dan dua orang lainnya menatap juga terheran-heran. “Baiklah, aku memang harus pamit, kawan. Ada urusan penting di kantor. Big boss memanggilku, kawan.”
“Wah, kau kena masalah?” Jazu menduga.
Dia tertawa. “Tidak, hanya rapat katanya.”
“Baiklah, kalian berdua ikut denganku, bukan?” lanjutnya menatap ke arah dua orang bersamanya.
“Itu pasti, kami selalu ikut kemana pun kau pergi.” Mereka berdua kompak mengiakan.
Mereka bertiga bagai tiga tiang serangkai yang tidak bisa dipisahkan. “Nah, kami pamit, Boi. Aku baru tahu kalau sahabat lama seperti kalian kalau bertemu satu sama lain, bahkan membuatku mampu melupakan masalah dengan Big boss.”
“Kau tahu, kawan. Big boss itu menyuruh kami untuk melakukan rapat yang bagiku sia-sia belaka, pembahasannya tidak relevan dan terkesan menggurui, tidak ada diskusi yang memakai akal sehat.”
“Kau harus sabar, teman.” Jazu bicara.
“Itu ujian hidup.” Aku menyambung dengan tertawa, lepas tanpa beban lagi dipikiranku.
Salah seorang ikut tertawa. “Iya, benar. Kami pamit dulu, Boi.”
“Yeah, lain kali kita akan bicara lagi.” Salah seorang menatapku dan Jazu, seorang di sana lebih dulu beranjak dari sisi kami.
Mereka bertiga pergi pada akhirnya pergi katanya ingin melakukan rapat dengan big bos dan entahlah apa yang akan dibahas mereka di ruangan rapat. Aku saat itu hanya mengiakan, memberi tanggapan jempol ke arah mereka. Salah seorang di antara mereka ingin melakukan tos tangan.
“Kita tos dulu, Boi.” Dia memulainya lebih dulu dariku, aku membalas tosan tangannya dengan seringai mantap.
“Kau hebat, Boi. Tetaplah menjadi dirimu sendiri yang kuat walaupun kau diejek dengan ribuan kata sekalipun.”
Tangannya menggenggam erat tanganku, lepas itu dia mengepalnya dengan gaya menampar ke dadaku. “Kau itu laki, Boi. Kataku jangan mudah menyerah.”
Baiklah, itu akan selalu kuingat, kawan. Menyerah pula untuk apa? Aku menyadari akan hal ini sekarang yang pelik, terlebih dunia ini hanyalah sebuah tempat persinggahan sementara, dunia yang terbentang luasnya dengan lautan dan daratan, tempatku berpijak saat ini. Letak geografis di Asia Tenggara ini rasanya bagiku aku tidak banyak menyerah.
Terima kasih, kuakui saat sebelumnya aku sempat ingin menyerah akan semua hal yang telah membuatku sedih dan tertawa di luar ekspresi ini adalah munafik, aku pernah merasa ingin kalah. Tapi, kalian ada bersamaku, kembali menyemangatiku yang seakan itu telah menguatkan kembali tekadku. Seorang pemuda sepertiku ini. Maaf, aku sering kehilangan arah kemana harus kaki ini melangkah dan rasanya kupikir dengan apa yang telah kulalui ini, semuanya telah menjadi jelas.
__ADS_1
Bahkan kupikir tiada yang bisa kutunjukkan pada sebuah ketikan tangan dan deretan papan nama yang bergelar nantinya.
“Satu hal lagi, Boi. Jangan galau, selama kau hidup kau masih punya banyak waktu membuktikannya bahwa kau juga bisa.”