
Kudaku sekarang terus memelesat di tengah gurun pasir. Meninggalkan monster yang sebelumnya menyerang. Aku bergumam syukur bisa meluluskan diri darinya dengan selamat. Helaan napas pun menderaikan leluhan bara api panas dalam jiwa, bergetar pasir dan lubang waktu terbuka. Lubang raksasa yang tengah kutatap dan sekarang cakrawala menghitam dengan gumpalan awan.
Gemuruh angin terdengar dan tiupannya lebih kencang. Pasir bagai tersapu olehnya. Aku menghentikan pergerakan kuda.
“Lubang waktu?” Aku turun dari pelana.
Memegang topi. Menatap lubang waktu yang terbuka. Istana kerajaan gurun pasir terbesar dengan jin berderet menjaga pintu masuk. Aku datang kemari bukan maksud apa-apa, hanya ada sebuah janji dengan salah seorang raja baginda istana. Salah satu jin menatap lenganku yang sebelumnya terkena cakaran monster.
Dengan sihir. Sesosok jin itu dengan sekejap mata dapat menyembuhkan luka di tanganku. Aku terbelalak merasa heran dalam batin dan memasang ekspresi munafik dengan santai. Jin itu lanjut menampilkan perang yang terjadi antar suku kerajaan. Satu dua kerajaan tumbang. Kerajaan yang tengah berdiri di depanku ternyata adalah bekas kerajaan di pulau yang tak tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku selama ini. Mereka terbang membelah langit, membuka jalanan yang tampak hanya duka dan leraian air mata sang ibunda raja. Mendekap sang anak.
Mereka terbang dengan istananya. Memilih gurun pasir sebagai tempat tinggal.
Itu saja mereka perlihatkan, identitasku diperiksa dengan alat mistik. Seketika itu mereka tahu aku hanyalah seorang pengelana yang mempunyai sebuah janji resmi dengan baginda raja istana.
Setelah mengetahui hal demikian. Para jin itu sekarang mempersilakan masuk istana. Permadani merah dan tatapan pelayan hangat menyambut kedatanganku. Tak perlu ada penyambutan seperti ini, aku hanya ingin membicarakan suatu masalah.
Raja itu bertepuk tangan, muncul di balik ruangan, tersenyum ramah. “Lama kita tidak berjumpa, koboi.”
“Usai perjalanan jauh kau pasti lelah.” Raja menghampiriku dengan perangai hormat.
Menyuruh pelayan menyediakan jamuan dan berbagai hal lainnya. Aku bersedekap tangan, mengambil inisiatif tidak ingin banyak ucap dengan tetap menjalankan prinsip hidup yang selama ini kupegang.
“Maaf, saya tidak lelah. Perlu Anda tahu saya sudah terbiasa berkelana.” Aku menjawab dengan nada damai.
“Ya, ya, ya. Kau memang seorang pengelana yang aku sendiri tahu kau malu mengatakannya bahwa kau sedang lelah.”
“Heh, Anda salah menilai.” Aku tidak terima dengan tatapan raja itu kepadaku.
“Ho-ho. Aku baru tahu, kau koboi yang tidak suka diberi nilai sembarangan.”
Aku mendeham. “Lupakan tentang itu. Langsung ke intinya saja, aku tidak ingin berlama-lama berada dan menginjakkan kakiku di istanamu yang busuk ini.”
“Apa? Busuk kau bilang?” Baginda raja itu menatapku tidak terima.
“Lancang, kau hanya tamu di istanaku. Berani sekali kau bilang istanaku ini busuk.” Dia marah memanggil puluhan jin penjaga. Mereka menodongkan pedang.
Menghentikan pelayannya dan menyuruh mereka agar membatalkan perjamuan yang tengah mereka persiapkan.
Dalam batinku tertawa puas karena berhasil membuktikannya. Perkara mudah membuat seseorang berubah dari yang semula menyambut kini mengerut.
“Ini hanyalah kesalahpahaman.” Aku tertawa pelan menatap mereka.
“Kesalahpahaman? Apa maksudmu?” tanya baginda raja seperti penasaran.
“Baginda raja sepertinya terlalu lelah dan berbeda jauh dari yang saya duga. Kerajaan Anda ternyata selama ini terletak di sini, rupanya. Kalau Anda ingin tahu tentang semua ini. Semuanya memang hanyalah sebuah kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang Anda ciptakan sendiri.”
Aku menerangkan di depan mereka. Baginda raja mendesak apa maksud ucapanku berkata seperti itu?
“Baik, baiklah. Saya akan langsung ke intinya saja, Yang Mulia Raja. Selama ini saya tahu Andalah yang telah melakukan pembunuhan terhadap ayah Anda sendiri dan lari dengan isteri Anda. Membawa istana ini dan membiarkan kerajaan bertikai satu sama lain. Kekuasaan Anda terbilang sesuatu yang tidak bisa saya bayangkan. Anda masih bisa hidup tenang di sini dengan berbagai hal lainnya.”
“Itulah kesalahpahaman yang Anda ciptakan sendiri dengan perantara sihir dari jin yang Anda miliki. Hari itu, Anda benar-benar telah lupa jasa seorang ayah, Anda melakukan tindak perilaku biadab.”
Raja itu dulunya hanyalah seorang anak keturunan ke-13 yang tak akan mungkin mendapatkan tahta kerajaan. Karena suatu hal baginda raja yang saat ini berdiri di depanku. Dulu, dia menemukan sebuah botol rahasia. Tak sengaja menggosoknya dan keluar raja jin yang terkurang selama hampir ribuan tahun lamanya. Baginda raja itu pada akhirnya mendapatkan kekuasaan dari jin yang dia bebaskan dan patuh sampai sekarang. Saat pembunuhan ayahnya, belasan orang bertikai dan kerajaan menghilang. Sejarah tercatat, kerajaan itu hilang dalam semalam.
Pihak kerajaan yang baru menghilang itu menuduh sembarangan pihak kerajaan lain melakukan tindak sihir dan terjadilah tolak menolak ucapan hingga berakhir menjadi sebuah peperangan antar kerajaan dari sisi ke sisi. Kesalahpahaman itu terjadi hingga kini terus berlanjut dan kerajaan yang hilang itu masih belum kembali ke tempatnya. Hanya seorang kakek tua yang sering betapa di lembah gunung. Dia mempunyai keyakinan kuat kerajaan itu akan kembali ke tempatnya. Aku membaca kisah itu di perpustakaan saat berada di kota. Kisah itu kurasa janggal dan mengetahui jelas saat aku menyelidikinya.
Itu semua adalah kesimpulan punyaku. Bukan apa yang tercatat di buku sejarah. Buku sejarah hanya mencatat kerajaan itu menghilang dalam semalam. Aku punya keyakinan bahwa semua itu adalah olah si raja jin yang bisa menguasai siapa pun. Raja jin itu berusaha ingin mengelabui baginda raja yang saat ini berdiri di depanku, juga kerajaan lainnya yang membuat mereka saling bertengkar dan bertikai satu sama lain. Bumbu permusuhan dan dendam menjadi satu kesatuan yang sama mereka rasakan.
“Darimana kau tahu semua itu?!” Baginda raja menatapku kaget.
“Sepertinya kau bisa menghindari diri dari terhipnotis saat memasuki pintu. Secara pandang, aku tidak percaya dan bagaimana mungkin kau bisa menghindari para jin saat menampilkan perang besar itu. Dibalik tampilan itu memang palsu dan punya pengaruh sihir dan siapa pun yang menatap tampilan perang itu mereka akan terdaya dan memuji semua tentangku dan ternyata kau bisa menghindari semuanya.”
Kuakui raja itu bisa menebak dengan sempurna, saat sebelumnya tampilan layar itu menampilkan peperangan antar suku oleh sekumpulan jin. Jiwaku yang sudah terlebih munafik dengan ekspresi terbelalak dalam batin dan santai pada wajah. Sifat kemunafikanku itu seakan menjadi tameng kuat dalam menangkal sihir yang mereka berikan.
Aku tidak lupa dengan apa yang telah diperbuat baginda raja. Dia memalsukan segalanya dengan jin itu buatnya bebas berbuat apa pun. Itulah sekarang aku tidak ingin mengambil banyak risiko. Menatap raja itu dengan tertawa pelan.
“Anda bertanya padaku bagaimana caraku menghindari hipnotis sihir mereka? Itu bagiku tidaklah penting. Satu hal yang penting sekarang adalah itulah mengapa alasan saya tadi mengatakan bahwa saya tidak ingin berlama-lama di sini. Saya tegaskan saya datang kemari, hanya untuk menginginkan hak saya selama ini dikembalikan sebagaimana mestinya.”
Pertemuanku dengan baginda raja terkesan menyebalkan dan ingin rasanya aku tidak banyak ucapan. Aku tahu ini tidak mudah. Lewat beberapa lama kemudian, syukurlah aku bisa melanjutkan perjalanan.
Aku naik ke atas kuda. Para jin itu membuka gerbang. Persis sebelumnya, lubang waktu terbuka. Aku pun pergi meninggalkan istana nan megah itu.
Sekarang, tiada apa pun yang perlu kurisaukan. Aku sudah meminta hakku untuk kembali dan raja itu dengan banyak pertimbangan setuju untuk mengembalikannya, tentu semua itu tidak gratis dan tidak murah. Dia menyuruhku mencari bunga anggrek putih dan di padang pasir, kemana harus jua kucari? Tapi, aku tidak punya pilihan lain.
Dia punya tentara jin yang siap kapan saja menyerangku, bahkan membunuh dengan hanya menjentikkan jari, puluhan pedang akan melayang ke arahku. Pilihan satu-satunya yang bisa kupilih adalah menuruti kemauan baginda raja.
Aku hanya bisa berdoa. Pun, berharap pada jati diri ini semoga anggrek putih itu bisa kutemukan dan mengembalikan hak yang selama ini aku perjuangkan.
Di samping itu, aku tidak tega menatap istrinya yang tengah terbaring lemah, tak berdaya dikarenakan sebuah kutukan dari jasa menggunakan perintah jin. Sebab akibatnya mereka memerlukan anggrek putih sebagai obat penyembuhnya.
Pilihanku satu bertumbuh dua. Gurun pasir sahara yang terlebih luasnya tampak hamparan kosong di sepanjang perjalanan, tanpa ada rumah dan pepohonan.
Dengan terpaan panas di wajahku, aku terus menyusuri padang pasir. Terik matahari persis sempurna terang, tanpa adanya awan yang menutupi sinarnya.
Kudaku terus berlari. Hawa panas yang seakan membakar ini tetap kulalui.
Aku mengembuskan napas. “Sejak menatap tumbangnya kerajaan. Bagaimana seorang anak membunuh ayahnya sendiri. Saudara-saudaranya yang tidak terima dan kerajaan lain mendapatkan satu kesempatan untuk menyerang. Mereka pada akhirnya punya masalah hidup masing-masing. Terlebih aku mengetahui perkelahian dan pertengkaran akan melahirkan dendam, nyawa katanya harus ditebus nyawa. Di dunia ini, sejak berkelana menyusuri wilayah. Semua itu kusadari bisa terjadi karena diri yang tidak bisa mengendalikan amarah dalam menatap seorang musuh. Di dunia ini, amarah yang terpendam akan melahirkan dendam, dendam akan melahirkan kebencian dan seperti yang kudengar kebencian itu berakar hingga menembus relung hati dan merusaknya. Manusia bisa berpikir dari waktu ke waktu hingga berganti musim sekalipun, mereka punya insting dan naluri yang bisa membedakan barang antik dan klasik, bahkan mencari benda yang tidak terjamah tangan, benda yang tidak pernah terdengar suara di telinga orang.”
“Kartu nan indah itu tersembunyi di dasar yang sulit kutemukan. Aku selalu bertanya bagaimana bentuk jati diri itu yang selama ini selalu kucari, bagaimana caranya agar aku bisa menemukannya ataupun membawa jati diri itu bertemu dengan sosok pemuda sepertiku yang bisa dilihat aku hanyalah seorang munafik. Kalau kupikir lagi, saat ini aku hanya ingin melanjutkan apa yang ingin kulanjutkan dalam hidup yang singkat ini. Bicara pada diriku pun tak apa. Aku tidak akan menyerah begitu mudah, anggrek putih itu dapat kupastikan aku akan menemukannya. Aku bicara pada diriku sendiri, wahai diri yang masih kukuh merindukan seseorang yang bahkan aku sendiri tidak tahu apakah dia mencintaimu ataukah sebaliknya. Lebih baik kau berdoa saja, wahai diri yang penuh harap.”
“Selama ini aku masih mencintainya, jauh teramat panjang bait nada yang akan kulantunkan dalam kesekian kalinya.”
Aku melamun di sepanjang jalanan pasir. Padang gurun sahara yang tidak ada satu orang pun di sana. Kuharap aku bisa bertahan lebih lama dari apa pun tanpa air, tanpa makanan. Berkelana ini melelahkan.
Aku berharap ada perkampungan yang bisa kujadikan sebagai tempat beristirahat. Aku benar-benar lelah dan hampir putus asa.
***
Aku selalu memikirkan bagaimana alur cerita itu bisa berakhir mantap hingga mencapai titik klimaksnya. Kurasa apa yang kutulis ini tidak seperti itu.
Konsep sederhana yang kutulis ini memang berantakan, tidak seperti memutar video yang diputar berulang kali pun takkan bosan. Sederhana saja, tentang bagaimana peristiwa lampau itu kuingat. Peristiwa kenangan yang mulai hilang dan kembali ke dirinya sendiri.
Aku hanya ingin membikin sesuatu yang beda dari sebelumnya dan sebelumnya.
Di tempat ramai saat ketika semua orang tampak bercengkrama. Saat itulah masa yang masih kuingat tentang usiaku di mana masa itu baru memasuki tujuh belas tahun dan aku bergerak aktif sama seperti halnya remaja lainnya, seorang pemuda yang tumbuh dengan tekad bersama satu dua prinsip hidup yang kupegang.
Di salah satu warung yang kami jadikan tempat nongkrong, menemani waktu kami saat bersantai. Di sanalah tempat yang sering kami gunakan untuk melepas penat, mengisi waktu dengan berbincang suatu masalah hidup dan saling bertukar cerita.
Satu minuman di tanganku kutegok pelan. Menatap mereka dengan helaan napas panjang. “Kau tahu, kawan. Saat ini rasanya aku ingin menyerah.”
Aku menghela napas. Memandang mereka bertiga yang duduk bersamaku.
Ini hari libur. Beda jauh dari apa yang bisa kujelaskan lebih banyak. Tukang semir sepatu di ujung taman itu menatap kami.
“Menyerah atau kalah. Itu terserah kau saja, Boi. Aku tidak ingin ikut campur dengan apa pun masalahmu itu yang tentu ribet dan membuat pusing kepala, mending aku main game sama makan coklat.” Salah satu di antara mereka bicara.
Terhentak seketika saat mendengarnya. Mentalku kurang kuat dalam hal ini dan saat mendengarnya seperti ada partikel yang berguguran di atas kepalaku, telingaku melebar seperti ada semacam bom atom yang meledak dan seakan membuat jantungku berhenti berdetak. Ingin kuucapkan kalimat ta'awwudh billah, kalimat yang mengandung makna agar hati ini menjadi tenang nan tentram, walaupun selama ini kami sering kenal, sering mengobrol bareng, bicara banyak sana sini. Baru kali ini, dia berucap demikian dan meruntuhkan semangat yang ada padaku.
Atau memang aku yang salah karena memilih untuk bercerita ataupun terlalu memandang masalah ini serius.
“Kau tak ingin membantuku? Memberi saran misalnya, kalau cuma kalimat seperti itu kupikir bahkan musuhku akan lebih mudah mengatakannya.” Aku menjawab masih menatapnya yang sebenarnya aku tak ingin menatap ke arahnya.
“Bercanda, Boi. Mana mungkin aku membiarkanmu sendirian begitu. Macam mana pula kau lupa tentangku yang selama ini sering mendengarkan kau bercerita, selama itu, Boi. Kau tahu aku tidak pernah bosan mendengarnya. Hah? Kau telah lupa padaku, Boi? Hanya seminggu, loh. Hanya seminggu ini kita tidak berkumpul seperti ini dan kau sudah lupa padaku?” Dia sejenak tertawa, menatapku dengan begitulah tingkah lakunya.
“Iya, memangnya ada apa?” Salah seorang di antara mereka juga menatapku.
“Apa yang ingin kau ceritakan?” Lengkap sudah semuanya, mereka bertiga saling tatap ke arahku yang membuatku sendirian merasa serba salah seakan dipojokkan.
“Yeah, kalau kau ingin cerita. Ceritakan saja itu pada kami. Kau tahu selama ini kami selalu mendengarkan semua cerita milikmu, bagaimana mungkin sekarang kami berubah begitu saja. Tempat ini juga tempat yang sering kita jadikan sebagai tempat untuk kita saling mengobrol, saling bertukar cerita, juga berbagai hal lainnya yang perlu kau tahu kau tidak perlu menyembunyikan apa pun pada kami, Narak.” Salah seorang lainnya lagi bicara.
“Benar itu, Boi. Kau adalah seorang koboi yang sering kusebut selama ini. Ayolah, koboi itu tidak bersedih, dia itu menunggang kudanya, melesat di gurun pasir nan luas di sana. Perkasa menghadapi musuhnya tanpa mengeluh. Itu, kan yang hari itu kau ceritakan bahwa kau menulis novel tentang koboi. Cerita milikmu yang hari itu kau ceritakan padaku dengan menyebut tokoh penjahat yang pada akhirnya dia berubah menjadi baik. Kau pun tidak boleh menyerah begitu saja.” Salah seorang yang tadi mengatakan bodo amat sekarang mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
“Resep agar bahagia itu simpel. Kau tidak perlu mendengarkan apa pun yang bisa membuatmu merasa sakit hati dan singkirkan semua itu dengan mudah.”
Dia seakan ingin menyemangatiku dan memberi dukungan. Memberikan suatu kata ucapan yang kutahu aku juga tidak bisa menjawabnya, hanya mampu diam menatap ekspresi yang jauh berbeda dari sebelumnya saat aku ingin bercerita.
Tiga orang itu kompak menyuruhku agar bersegera menceritakannya. Cerita tentang apa yang membuatku sekarang merasa ingin menyerah, merasa ingin kalah. Hidupku berada dalam situasi bermasalah.
Hidup yang bagiku susah untuk mendapatkan apa yang kuinginkan dalam genggaman sementara. Pun, menyaksikan seringai yang tak tentu berbalas ucapan.
Sekadar inilah hidup sekarang kurasakan tentang tatapan mata dan berbicara. Dalam segala hal, aku mengakui diri sebagai orang lemah. Menulis narasi sedih memang bukanlah bakatku selama ini.
Aku lebih suka narasi yang mengandung intonasi kuat. Menggelegar di langit nan biru tanpa ada beban ataupun kepingan.
Kalau ingin tahu aku ini memang seorang lelaki yang punya mental lemah. Pun, saat ini aku membutuhkan sosok untuk berbagi. Cerita sama mereka. Untuk diajak bicara dan meminta saran. Pada akhirnya mereka bertiga mau mendengarkan cerita milikku.
Saat mendengar tuturan mereka yang menyuruhku bercerita, entah mengapa sekarang aku merasa enggan, sejenak menghela napas. Kami bertiga sedang berada di masa nongkrongan, saling bicara satu sama lain di salah satu warung dekat pinggir jalan. Ini masa libur antar pegawai dan sekolahku juga ikut libur. Jazu sedang sibuk dengan perkara lain, sementara ini hanya menyisakan aku bersama tiga orang teman yang mereka bertiga sama-sama kompak kadang memanggilku koboi.
Itu karena sering saat bersama mereka membahas cerita punyaku tentang salah seorang koboi yang kutulis di naskah.
Seperti kata mereka. Koboi tidak pernah bersedih. Koboi itu harusnya pemberani. Gagah perkasa dengan memakai topi di kepalanya, memakai baju jas coklat dengan lencana bintang keemasan berkilat, sepatu bot bergerigi tajam dan kudanya yang siap kapan pun memelesat di gurun pasir nan luas di sana, menelusuri wilayah tanpa kenal takut sedikit pun, terus mencoba hal baru dan lain-lainnya.
Namun, cerita yang kutulis itu tidak banyak berarti, kawan. Aku belum bisa untuk menggambarkan bagaimana sosok itu berkembang dari waktu ke waktu dan itu lebih terkesan seperti sampah. Cerita itu bahkan memang ingin kubuang.
“Ceritakan saja, cerita kau itu kepada kami, Boi. Agar kami bisa mendengarnya.”
“Tenang, si koboi kita ini juga punya hati, dia tidak bisa bercerita kalau kita terus memaksanya, lebih baik kita tunggu saja sampai dia mau menceritakannya.” Salah seorang menyahut. Dia seakan ingin membelaku dari mereka yang terus memaksaku untuk bercerita.
Mungkin, dia memaklumi keadaan yang saat ini memang aku tidak berminat menceritakannya, sebelumnya aku hanya menginginkan mereka memberi saran atas apa yang kulakukan, tidak lebih dari itu.
Aku juga tidak bersedih akan hal ini, hanya merasa mengkal dan tabiatku memang suka marah terpendam dalam diam. Dari tulisan ini saja kupikir sudah terbaca marah dan sangat tidak mungkin mencerminkan orang yang sedang bersedih atas rumitnya masalah yang menimpanya.
Telingaku seperti tersumpal. Pun, sekarang telingaku seperti tidak mendengar apa pun yang mereka katakan, saat ini aku hanya diam memegang minumanku dengan pikiran yang menggantung di langit.
Kegiatan menulisku di mulai sejak tahun lalu dan berhasil menulis tentang Koboi Berkepala Dua; Wajah Yang Terbelah.
Saat itulah moment pertama kali bertemu salah seorang editor naskah yang tidak kusangka. Itulah juga momok mengerikan yang pernah terjadi dalam hidupku. Pertama kali terjadi pada masa remaja. Hilang, aku merasa seakan deburan ombak pecah di dekat telingaku.
Ini juga adalah aktivitas terbaruku dari masa kelonggaran kegiatan SMA dan Wapta yang sama sama kami bekerja di jasa tukang angkot barang. Mandiri adalah sebutan bagi kami. Sekolah sambil bekerja, itulah yang ingin kujelaskan tanpa banyak hal lagi. Tiga orang di sampingku saat ini terus mendesakku soal cerita itu.
Namun, aku berdalih alasan. “Jangan membahasnya. Kalian tidak usah tahu.”
“Macam mana pula, tak asyik kau ini.”
“Iya, tadi kau ingin bercerita, kenapa sekarang kau seperti berubah pikiran?”
“Entahlah, kupikir tidak usah membahas apa pun tentang itu, nanti kalian bilang aku adalah orang lebay. Itu bukan gayaku.” Aku tertawa, mencoba mengalihkan situasi.
“Oh, ya. Kalau begitu bagaimana sekarang perkembangan novel kau itu, Boi?” tanya salah seorang seperti memaklumiku, seperti juga ingin mengalihkan topik.
“Apa kau masih menulisnya sampai sekarang? Memperbagus diksi dan sebagainya yang sering kau lakukan?”
“Ya, jangan ditanya, saat ini aku malas membicarakannya. Lebih baik rasanya naskah itu kubuang ke tong sampah.”
Tiba tiba aku tidak minat bicara soal itu, bahkan tidak seharusnya. Masa traumaku saat menatap editor naskah di ruangan pribadinya hari itu hampir terbayang kuat membekas. Dalam hari yang berlalu, aku memang memaafkan apa yang dia lakukan, hanya saja dalam waktu dekat ini aku harus menguatkan mental dan berusaha untuk melupakannya. Mendaur ulang cerita naskah punyaku dan memperbagusnya.
Atau mungkin akan kubuang saja nantinya ke tong sampah. Aku benar-benar bimbang dibuat olehnya. Naskah itu tidak banyak berarti lagi buatku, keterbatasan diksi membuatnya terasa hambar.
“Astaga? Kau ingin membuang naskah itu ke tong sampah. Ya, janganlah, Boi.”
“Ya. Koboi, dengarkanlah.. sejak awal melihatnya aku mengakui memang naskah kau itu amburadul, kau harus belajar lagi bagaimana membuat novel itu seperti apa? Rangkaian cerita yang memuat tokoh dan kejadian. Buatlah agat semenarik mungkin dan aku percaya suatu hari kau pasti bisa mencetak sejarah baru dalam hidupmu sebagai penulis novel the best seller.”
“Cerita koboi kau itu harus kau teruskan, jangan berhenti di tengah jalan begini. Jazu juga pernah menyemangatimu, loh. Dia kata kau itu tidak berbakat menulis. Maksudnya kau tahu sendiri, kau punya bakat bercerita dan hanya perlu dilatih saja. Tapi, saat menulis kuakui bakat berceritamu itu seakan menghilang. Bisa jadi, itu karena kau membayangkan sesuatu dengan emosi. Seharusnya kau bisa mengurangi emosi. Menyalurkan tenaga positif di dalamnya agar cerita kau itu terkesan nyata, spektakuler dan akan terbaca teks semangat seperti sosok seorang pemuda tanpa beban di hidupnya, walaupun dibaca berulang pun tak akan bosan. Tapi, ya begitulah, Boi. Kita hidup ini tidak selalu apa yang kita inginkan dapat kita capai, tetapi itu tidak mustahil bagi seseorang untuk giat berusaha hingga dia bisa mencapai impiannya. Ketika kau sudah berusaha semaksimal mungkin dan terus tanpa henti, pada saat itulah aku yakin kau pasti bisa mencapainya.”
“Bukankah kau pernah mendengar orang-orang yang berhasil. Di dunia ini ada orang yang berhasil dulunya dia berusaha keras hampir berkutat lebih lelah, merangkak pun mereka terus berusaha untuk mencapai impiannya. Mereka bersusah payah dari siapa pun. Ada pula di dunia ini orang yang seperti berlari dengan cepat tanpa hambatan apa pun, ada pula orang yang berjalan santai ingin mencapai impian. Tapi, ketahuilah impian itu tidak mungkin dicapai dengan anggota badan yang santai. Kau harus berusaha keras, Boi. Pastikan kau akan tetap melangkah, terus bersemangat untuk menjalani hari. Walaupun kau merangkak sekalipun jangan pernah sesekali kau menyerah, Boi.”
“Kalau kau sudah berusaha dan tetap tidak bisa mencapainya. Paling tidak, ya kau sudah pernah mencoba sesuatu yang menantang dalam hidupmu.”
***
Dalam hitungan satu waktu yang tidak lama, aku bisa melupakan wajah editor naskah yang mengesalkan, tetapi itu jelas teringat dalam satu kepastian yang jelas.
Alur cerita yang melanglang. Satu tempat ke tempat lainnya. Pernah sekali ini pun rasanya kupikir tidak banyak berarti.
Bahagia saja kata pun orang senang, narasi ini tidak ingin kubuat sedih. Bagiku bersedih untuk apa? Tidak ada habisnya semangat kalau mengingat segala macam hal, setiap moment memiliki satu dua hal yang menggembirakan sejenak hati.
Riuh bergemuruh tawa. Senyuman lebar menatap hangat. Hari itu di ruangan kelas tanpa ada banyak hal lain yang kupikir.
Jam 06.59. Suasana kelas masih sepi.
“Hei, PR kau sudah selesai? Hari ini katanya dikumpul. Ini gawat, kawan. PR-ku belum selesai. Aduh, bagaimana ini?” Itu kata salah satu teman di waktu SMP. Panik PR matematikanya belum selesai.
Mencari teman hendak meminta bantuan, aku menatapnya. “Tenang, katanya PR itu tidak jadi dikumpul hari ini.”
“Benar, kau tidak berdusta, kan?” Dia memastikan dengan raut wajah gembira.
Aku tidak mengiakannya. “Saranku berdoa saja semoga kau tidak dihukum oleh guru.”
“Katamu tadi tidak jadi.” Dia menggerutu.
“Itu tidak jadi buatmu. Hahaha.. lain waktu saja katanya. Eh? Coba dengarkan sini, bukankah kau sering melihat murid yang tidak mengerjakan PR akan dihukum dan PR-nya nanti itu akan ditambah.” Aku berbisik dekat telinganya, sedikit tertawa.
“Gawat! Minjam PR-mu sini, sesama teman harus tolong menolong. Kau ingat ceramah di mesjid hari itu, bukan?”
“Ceramah tentang apa?”
Ingin kupastikan dulu kebenaran semua itu dan rasanya aku tidak ingin sembarang menyetujui apa pun dengan begitu saja kata-katanya. Itu bisa jadi hanya dugaannya semata atau hanya sebuah karangan yang sengaja dia karang dan ucapkan padaku dengan wajah tanpa dosa.
Dia diam tidak bisa menjawabnya. “Itu.. aku lupa ceramah tentang apa? Tapi, membantu orang itu pahalanya besar.”
Yeah, aku jadi teringat saat waktu SD mengatakan hal demikian kepada Sajak. Dan ternyata aku salah mengenai hal itu.
“Itulah kau itu salah tangkap, kawan. Membantu dalam hal kebaikan itu baru berpahala, entah besar atau kecil tergantung dari apa yang tebersit di hatimu, tapi contek mencontek itu tidak boleh namanya. Menaati peraturan itu termasuk berpahala dan melanggarnya berdosa. Itu, kan kesimpulannya?” tanyaku padanya usai menjelaskan.
Saat waktu SD aku begitu lugu mengatakan hal itu juga pada Sajak. Tapi, sekarang karena keseringan membaca, aku tahu mencontek itu hukumnya tidak boleh. Tolong menolong yang mendapatkan pahala adalah saat menolong dalam hal kebaikan, sedangkan tolong menolong dalam hal keburukan itu sama saja zonk besar, bahkan tidak diperbolehkan, tidak ada pahala di dalamnya. Temanku itu hanya garuk kepala saat mendengar penjelasanku yang sok jadi guru agama.
Pengecualian dalam hal menolong itu banyak juga dan tidak mungkin kujabarkan di sini, nanti dikira buku pelajaran.
Maaf, aku keseringan karena entah mengapa saat selesai membaca dan itu berisi dalam otakku, saat ada orang yang melakukan hal kesalahan di depan mataku, saat itu juga aku mengeluarkan apa yang kuketahui biar semuanya menjadi jelas.
“Mumpung ada waktu sebelum guru masuk, kau bisa kerjakan sekarang dengan otakmu sendiri, kecuali ada soal yang sulit kau pahami dan kau boleh menanyakannya kepadaku.” Aku melanjutkan bicara yang tadi menjelaskan dan tanpa banyak ucapan lagi, dia setuju denganku.
Gerakan gesit menjawab soal, beberapa kali dia bertanya aku hanya menjelaskan cara rumusnya dan bukan mencontekkan jawaban. Cara rumus yang sering dipakai orang, sederhana tapi lumayan cepat.
Seperti kata kebanyakan orang, di mana ada kemauan dan di situ ada kesungguhan. Dia yang tadi bergelisah hati, sekarang PR-nya sudah selesai tepat saat guru datang ke kelas kami dan menyuruh kami mengumpulkan soal, lelaki sebaya denganku itu tersenyum penuh ceria.
***
Waktu berlalu bagai tiupan angin. Aku pernah merasa sunduk dan tidak berselera menjalani hari. Perasaan yang terlebih kaku dan tidak bisa kujelaskan lebih banyak.
Seorang pelajar sepertiku ini kini hanya bisa mendekap buku pelajaran di bawah dadanya. Berjalan menyusuri lorong gelap tanpa cahaya. Segelincir nada pun tak bersuara, aku senyap di antara kegelapan.
Tersesat pun aku tidak tahu. Bertanya pada diri mengapa bakatku tidak ada dibidang yang ingin kukuasai. Semenjak kepergian Sajak yang entah kemana? Saat itu aku terus berlatih menulis.
Berharap suatu saat aku akan kembali bertemu dengannya. Sajak yang punya impian ingin menjadi pemain sepak bola dan duta besar di Amerika sana.
Di bulan Januari itu aku pernah menulis kata hingga membentuk kalimat ambyar dalam buku catatan harian. Namun, semua itu tak berlangsung lama, aku kembali tak sabar ingin melihat catatan itu.
Saat itulah aku mengetahui bahwa ada suatu kelainan yang berbeda. Aku merasa tulisan itu hambar dan terkesan tidak ada yang bisa kurasakan apa pun. Catatan yang pernah membuatku sedikit bergumam iba pun tidak. Malah ingin mencaci, catatan yang ingin kumusnahkan karena dipenuhi dengan coretan tinta hitam yang membuatku kesal seakan catatan itu tidak memberi apa pun makna yang dapat kupetik dan renungkan di dalamnya, seakan benar-benar kosong dan tidak ada ekspresi di dalamnya. Memanglah sudah itu secara pandang hina dan menyedihkan!
Seorang pemuda yang kini tampak bermata sembab berjalan hampa itu tak punya banyak hal untuk diingat dan dikenang. Hidupku dari dulu sampai sekarang memang jauh berbeda denganmu, kawan.
Mencoret kertas. Membuangnya ke tong sampah tanpa banyak hal yang dapat kupedulikan lebih banyak.
__ADS_1
Catatan itu pada akhirnya kubuang, lebih tepatnya sejak awal januari aku melamun di sepanjang waktu dan memilih satu hal mengenai catatan itu yang ingin kulempar jauh-jauh. Berdiri menatapnya melayang jatuh di jembatan, kertas itu kini seakan tengah diterbangkan angin.
Apa yang kuharapkan saat itu? Tidak ada yang bisa kuharapkan. Hanya kosong dan tentang sebuah kata penguat itu sangat ingin kutenggelamkan ke dasar tanah bersamaan dengan tiupan badai topan di lautan sana yang menggemakan keputusasaan mengenai cahaya yang abis terangnya, gelap pun tampak.
Yang terlelap sepi wahai diri. Wahai diri kau tetaplah pada jalan yang terbaik, syukurilah apa pun hidup ini... Wahai diri yang masih bisa bernapas dalam suasana getirmu yang tak kunjung usai, jangan pernah menjadi seperti kayu yang mudah patah, kuatlah kau adalah bintang. Kau berharga seperti sebuah mutiara yang berkilauan, jangan terpedaya oleh api yang bisa membakarmu. Kau punya hak untuk terus melangkah dan meninggalkan semua hal yang kau pikir itu memberatkanmu dalam melangkah.
Wahai diri yang durjana. Mengapa engkau tak bisa diam saja di pojok dinding sana.
Meratapi nasibmu dan menenangkan dirimu. Satu hal kupinta, sabar dan tegarlah selalu, karena perasaan pilu ini akan segera menjadi batu, lantas pecah dipukul palu.
Aku mengejek diriku sendiri, mengejek semua tentangku. Orang yang benci denganku pasti akan tertawa puas saat tahu apa yang kutulis hari itu. Tapi, sayangnya catatan itu sudah kubuang.
Hilang dan berakhir semua angan.
Berharap pada tiupan angin bahwa ia akan bicara pada segumpalan awan yang menggeremet putih di sana dan berharap angin itu bicara pada awan agar ia menurunkan hujan lebat yang kutahu itu akan bisa menghancurkan kertas tersebut.
Teriakan kerasku di bulan Januari, menatap langit di malam harinya. Bertabur bintang gemintang yang terang menyelimuti cakrawala di sana. Wahai diri.. kau harus sabar, sedikit lagi kau akan pasti bisa.
***
“Aku tak ingin mengenalmu. Kau tahu itu, haahh ...! Pergilah dari hadapanku!” Seseorang mendorongku dengan keras.
Semangka di tangannya. Dia menamparku dengan semangka. Aku terjatuh ke lantai.
Bukan semangka bulat utuh. Itu hanya bekas yang dimakan olehnya. Lebih tepatnya disebut kulit semangka dengan sisanya yang ada di kulit tersebut.
Tidak ada yang kudengar, hanya suara jangkrik yang bersuara. Krik krik krik
Suara jangkrik itu berbunyi, entah ia ingin mengejekku atau apa? Mengenai itu jelas aku tidak mengetahuinya. Hal perihal yang membuatku tahu di dunia ini ada hal yang tidak bisa kuikut campuri, ada perihal khusus untuk mereka dan sebaiknya aku memilih tidak ingin berteman dengan siapa pun lagi yang seperti mereka. Mereka yang tidak ingin berteman denganku memang punya banyak hal untuk melakukannya.
“Hei, jangan perlakukan dia seperti itu?” tegah seorang wanita bernama Kila.
Kila adalah salah satu malaikat penolongku saat itu, saat mereka membuat barisan ingin menjadikanku sebuah bola kasti yang mereka permainkan dengan tamparan.
“Apa hakmu membelanya, haah? Aku tak ingin mengenalnya dan menyuruhnya pergi dari hadapanku dan itu adalah hakku, kau tak perlu membelanya!” Dia menajamkan ucapan pada Kila.
Kepalaku masih pusing saat itu, semangka itu mengenai kepalaku. Tidak ada hal lain yang kupikir, lingkungan sekolah di ujung sini sepi, bahkan hanya sedikit orang yang lewat. Mereka semua cuek bebek, kecuali Kila yang datang menyelamatkanku.
Kila dan mereka terus beradu mulut sampai tak kuduga Wapta muncul di sana berteriak sambil membawa alat pukul di tangannya dan menghampiri mereka semua.
“Pergi! Kalian pergi dari sini, kalian tidak boleh mengganggu Narak, satu langkah maju dan kalau kalian berani mengganggunya lagi, terima nasib kalian akan kupukul dengan ini satu per satu.”
Wapta mengancam mereka. Kila di sampingku seperti takjub menatap seorang wanita pemberani seperti dirinya.
“Cih, kau sok berani. Aku tidak sudi berhadapan dengan wanita sepertimu. Ayo, teman-teman. Kita pergi saja dari sini, ah, ya... sebelum itu kau harus ingat perkataanku, Narak. Aku tak ingin mengenalmu! Anggota kelompok kami ini semuanya sudah lengkap. Kau adalah biang keladi busuk yang tidak pantas masuk ke dalam kelompok kami!” Dia menatap ke arahku dengan penjelasannya.
“Camkan itu baik-baik!”
Mereka pun berlalu—pergi dari hadapanku.
Aku tetap berdiri menatap kepergian mereka, Kila berada di sampingku.
“Hei, apakah kau baik-baik saja?” Dia bertanya dengan sorotan mata peduli.
“Tak apa!” jawabku ringkas.
Wapta berpaling arah, menjewer telingaku dengan jeweran yang aku sendiri tidak merasa sakit. “Makanya jadi laki itu kau harus berani, bukan cemen seperti itu.”
“Wapta, jangan gitu. Kau membuatnya kesakitan.” Kila menghentikan Wapta.
“Gak akan. Jeweranku ini bukan karena marah, Kila. Ini adalah jeweran yang istimewa karena aku akan memberi pelajaran buatnya untuk menjadi lelaki pemberani, bukan cemen seperti tadi.”
Gak tahu kenapa jeweran Wapta itu tidak sakit, bahkan tak kusangka aku malah telanjur mengatakannya. Tidak kusangka usai mengatakannya, saat itu Wapta semakin menambah jewerannya dan barulah kurasakan betapa jeweran itu sakit. Aku meminta maaf berulang kali dan dia akhirnya melepaskan jewerannya.
Aku mengusap telinga. Menatap Wapta yang sekarang bersedekap. “Makanya sudah kubilang kau tidak boleh lemah, kau akan mudah ditindas orang.”
“Oh, ya. Narak. Sebenarnya ada apa? Tadi kudengar darinya kau ingin berkenalan sama mereka. Kenapa kau ingin berkenalan dengan kelompok mereka? Kau sudah tahu, kan? Mereka itu ganas dan tidak suka bergaul dengan anak seperti kita yang katanya tidak level.” Kila bertanya.
Wapta memelototiku. “Iya, jawab. Narak, kenapa kau ingin berkenalan dengan mereka, haah? Kau ingin menjadi penjahat seperti mereka itu? Jawab!”
“Jawab, jawab, Narak.” Wapta memasang bibir ketusnya, memandang dengan tatapan biasa yang sering ia lakukan.
“Hahaha.. kau tau diriku, begitulah. Aku hanya ingin berkenalan dengan preman sekolah itu.” Aku tertawa menatap mereka.
Wapta kembali menjewer telingaku. “Untuk apa? Hah? Kau ingin berkenalan dengan mereka? Yang ada kau malah ditindas.”
“Iya, iya. Kau benar kalo soal itu, maaf. Maaf, lepaskan jeweranmu, Wapta.”
“Hissh.. kau itu bikin aku geram!” Wapta melepaskan jewerannya lalu memelotot.
Aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku hanya ingin berkenalan dengan mereka. Kelompok preman sekolah itu bernama Geng Master. Mereka adalah sekelompok preman sekolah yang mendominasi tempat di mana pun mereka berada. Perangai gagah perkasa itu yang kubutuhkan buat karakter novelku. Musuh sang koboi yang akan kugunakan. Itulah alasan mengapa aku ingin berkenalan dengan mereka, tidak kusangka aku akan mendapatkan perilaku demikian.
Aku hanya penasaran dengan seberapa tangguh kelompok mereka tersebut.
Secara diam-diam, selama ini aku selalu mengintai pergerakan mereka, mengawasi layaknya detektif yang sedang kelaparan.
Mencatat suatu pandangan yang kulihat mengenai sikap mereka yang gagah perkasa, terutama sang ketua kelompok mereka yang bijaksana dalam hal memimpin dan memerintah. Itu kurasakan bagai roti lapis yang jatuh dan minuman tumpah, kebijaksanaan malah ada di dalam kelompok yang seperti itu.
Tempo hari mereka tertawa gelak entah apa yang membuatnya begitu, aku terus mengintainya dan mencatat dengan imajinasi melanjutkan tulisan naskah novel koboiku yang masih dalam tahap penulisan dari segi tempat kejadian dan berbagai hal lainnya. Kuingin menulis kisah mereka.
“Pasti ada kasus besar ini!” Batinku sembari mengintai mereka.
Sayangnya saat itu aku ketahuan. Lantas tanpa banyak pikir, aku langsung lari terbirit-birit, keberuntungan diri ini bisa lulus dari cengkeraman kelompok mereka.
“Oh, jadi begitu, ya.” Kila mangut-mangut usai mendengar cerita milikku.
“Dan itu berbahaya, Narak. Bagaimana kau ketahuan. Menulis novel sampe segitunya. Lain kali, saranku mending liat filmnya.”
Wapta memberi saran kepadaku. Selama ini tidak pernah terpikirkan olehku soal itu bisa kupertimbangkan, tetapi film apa?
“Hmm.. film?—film apa? Apa kau tahu judul filmnya tentang koboi yang gagah perkasa dan persis seperti yang kuinginkan?”
“Kalo soal itu aku juga tidak tahu, Narak.”
“Kau cari sendirilah.” Wapta tidak banyak ucapan, tetapi sarannya bagus juga.
Hanya sebagai inspirasi sosok gagah itu seperti apa? Definisinya dan tindak perilakunya dan mengenai alur cerita akan kubuat sendiri. Karena kalo sama semuanya itu bukan sebuah inspirasi, tetapi plagiat yang tidak boleh dilakukan.
Kila juga sama tidak tahu. Naskah novel itu untuk saat itu kupendam. Biar nanti aku berharap akan ketemu titik terangnya.
Kami bertiga memutuskan kembali ke kelas. Sebelumnya aku mengusap kepala yang berlumuran semangka, ini moment kedua kalinya aku ditimpuk semangka.
Saat kecil di pesta ulang tahun aku juga pernah merasakannya bagaimana kepalaku ditimpuk semangka. Semenjak saat itulah aku merasa semangka menjadi buah yang tidak kusukai, bahkan aku tidak pernah lagi memakannya semenjak kejadian itu.
“Narak, kau melamun lagi. Dasar kebiasaan, jangan sering nanti kau dirasuki makhluk halus, loh.” Wapta tertawa.
Lihatlah ke arah gurat senyuman yang bercampur suara tawa itu, sejak dari dulu Wapta aku menyukaimu. Tapi, aku tidak bisa mengatakan semua tentang perasaanku kepadamu. Kila di sampingku juga ikut tertawa. “Udah, Wapta. Kau sering mengganggu Narak dengan ocehanmu itu.”
“Biarin, Kila. Biar dia itu kuat mental dan tidak cemen seperti tadi. Makanya kau harus terus mengganggunya.”
Wapta, perlu kau tahu, aku tidak pernah merasa terganggu dengan apa pun yang kau ucapkan. Senyumanmu yang terlebih indah itu telah membuatku menyukaimu.
Walaupun memang di lain sisi aku benar benar terganggu ingin mengatakan perasaanku padamu. Haha, aku tidak bisa membohongi semuanya. Itulah hal aneh yang terjadi dalam hidupku ini.
***
“Yeah, kau benar, kawan. Koboi juga punya hati, bahkan dia punya seorang kekasih di hatinya yang tak mampu dia ucapkan. Hanya mampu memendamnya, koboi itu tidak perkasa seperti yang terdengar dicerita milikku. Dia adalah seorang munafik yang pandai menyembunyikan perasaan, saat dia bilang tidak suka jauh di dalam hatinya berkata menyukainya.”
“Ho-hoy.. koboi kita sudah bercerita.” Salah seorang bersorak menepuk belakangku.
“Ayo, lanjutkan cerita milikmu, Boi.”
__ADS_1