Daur Ulang

Daur Ulang
Rangkaian Yang Kedua


__ADS_3

Aku pergi dengan perasaan berkecamuk gugup, memberanikan diri menemui Wapta. Dengan langkah pasti aku berusaha agar bisa terus menyembunyikan harapan yang masih kupendam dalam.


Harapan yang aku yakini adalah kenyataan yang bisa mengubah hidupku.


Wapta tersenyum melihatku. Ada segurat cahaya kebahagian yang kutatap saat berjumpa dengannya, tapi sekarang aku sudah berbeda. Aku tidak seperti dulu lagi, aku yang biasanya banyak bicara, kini malah menjadi pendiam. Kaku dan dingin.


Aku tidak menghendakinya seakan rasa yang kupendam membuat hari-hari sesak penuh ratapan. Hal itulah yang tak bisa aku ceraikan, tak bisa aku pisahkan.


Sepertinya Wapta tampak berusaha mengerti keadaan, kupikir dia memaklumi akan keadaanku sekarang.


Dia masih saja menatapku dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan. “Kenapa? Kenapa kau memandangku seperti itu?” Aku bertanya dengan perasaan yang masih gugup.


Wapta tersenyum. “Tidak ada apa-apa. Oh, ya kenapa kau menemuiku dan tempo hari aku berusaha menghubungimu, tapi kau tidak menjawab teleponku dan setelah itu ponselmu tidak dapat di hubungi lagi.”


Saat ditanya Wapta. Aku tidak ingin menjawabnya dengan jujur, kala membayangkannya saja rasanya aku seakan linglung tak tentu ekspresi dan perasaan, susah dikendalikan.


Aku hanya beralasan bahwa ponselku waktu itu jatuh ke air. Ya, memang benar, jatuh ke air karena dilempar. Aku mengarang cerita lain kepada Wapta, mengatakan ponsel itu jatuh ke air karena waktu itu aku sedang jalan-jalan di dekat sungai, tiba-tiba tanpa sengaja aku malah terpeleset. Begitulah alasan yang kuberikan.


Maaf, aku berbohong.


“Karena itulah ponselku rusak, sebenarnya itu adalah kesalahan kusendiri yang kurang berhati-hati saat berjalan di dekat sungai,” lanjutku berbohong dengan menunjukkan wajah tersenyum tanpa bersalah sedikit pun yang kuharap dia mempercayainya.


“Pantesan, aku hubungin gak ada respon sama sekali, jadi itu penyebabnya?”


“Iya, maafkan aku.”


Maaf juga telah membohongimu, aku bersalah.


“Lupakan soal itu, tidak ada apa-apa. Oh, ya. Aku ada sesuatu untukmu, Nar. ini buku untukmu.” Wapta memberikan kepadaku buku yang tampak tebal.

__ADS_1


Saat pertama kali melihatnya, aku sangat bahagia. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia, buku itu sudah lama sekali aku ingin membelinya. Saat itu, uangku selalu terpakai untuk hal lain sehingga selalu lupa untuk membelinya.


Hari ini, aku menatap buku itu, mengambilnya, “Buku ini, bagaimana kau bisa tahu, aku sudah lama ingin membeli buku ini.”


“Oh, ya. Aku tidak tahu soal itu, katanya Jazu kamu suka membaca, dia menyarankanku membeli buku ini untukmu.”


Saat mendengar penuturan Wapta, aku langsung menduga sepertinya Jazu sengaja merencanakan hal ini untukku. Karena waktu itu dia tahu aku sudah lama mencintai Wapta dan dia juga tahu aku tidak berani mengatakan cintaku padanya. Apa ini cara Jazu juga melakukan drama naskah punyanya. Aku tidak tahu, kenapa dia ikut campur dalam masalah ini.


Dengan sorotan mata. Aku tak bisa membohongi siapa pun. Wapta, apa kau tahu perasaanku, perasaan yang jauh sekali rasanya membubung ke langit.


Senyumanmu yang mekar hari ini membangkitkan keahlian di diri ini untuk mengukir kata terbaik yang bisa kuucapkan, kata cinta yang kubuat sesempurna mungkin. Sesempurna langit menurunkan hujan. Walaupun, pada hakikatnya di dunia ini tidak ada yang sempurna.


Wapta, aku bahagia melihatmu tersenyum hari, semula perasaanku yang sendu memikirkanmu, kini seolah-olah ada sesuatu yang menghampiriku.


“Terima kasih, Wapta.” Aku mulai membaca di hadapannya, membolak-balik kertas halaman.


Wapta tersenyum. “Iya, sama-sama.”


Kami pun akhirnya kembali berpisah, lambaian tangan Wapta kala itu masih segar, tersimpan rapi di dalam ingatan.


Aku terus saja mengingat pertemuan yang hanya berlangsung sekitar tiga menit, entah apa yang membuatku jadi begini. Mungkinkah ini cinta, ataukah hanya nada irama kebohongan belaka yang membuat bimbang perasaan dengan rasa yang tidak keruan.


“Ah, sial. Lagi-lagi aku melamun memikirkan sesuatu yang mengacaukan pikiran.” Aku membentak di dalam batin sehabis suara.


Aku terus menerus berdebat dengan diri yang sendiri tahu sakit hati itu rasanya seperti apa. Sakitnya yang teramat perih, walaupun demikian aku berusaha melapangkan dada, menenangkan pikiran, lagi-lagi kegundahan datang ke hati seorang pemuda sepertiku.


Selepas senja menghilang dengan ciri khasnya. Senja yang semula menunjukkan cahaya kuning membayang. Kini, malam hari bergelayut bintang-bintang pun datang dengan hawa-hawa kesunyian yang melanda hati ini, aku memutuskan pergi ke sebuah taman, duduk di sebuat bangku dekat pepohonan yang daunnya rindang.


Aku terdiam beku menatap cahaya lampu taman itu yang tampak seakan-akan mengikuti irama hati ini, lampu itu berkelip-kelip bagai denyut jantung yang memompa titik darah penghabisan cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


Aku menghela napas. Suasana yang begitu terasa tenang, aku duduk merenungi kejadian yang sudah berlalu tadi siang.


Sambil membaca buku yang tadi siang diberikan Wapta kepadaku. Buku itu seolah-olah melambangkan cinta yang akan menjadi kenangan terindah dan tersimpan rapi di ingatan.


Begitulah diriku yang sangat menghargai pemberian orang lain, selama ini aku tidak pernah menerima apa pun dari orang lain, satu pemberian pun tidak pernah.


Baru kali ini. Ada orang yang memberikan sesuatu kepadaku, terlebih orang itu adalah wanita yang selama ini kucintai.


Sekadar mana rasa itu terus tumbuh. Aku sering bertanya pada diriku. Bagaimana caranya mematikan rasa yang kian menusuk jantung ini. Buku itu masih erat kugenggam dengan genggaman kuat, aku terus menggerutu di dalam hati. Menyedihkan!!


Ketajaman sebuah anak patah seakan diuji oleh tembok yang begitu tebal, sangat tebal, dinding yang terbuat dari baja yang sangat kokoh, tidak bisa ditembus oleh anak patah biasa. Sedangkan anak patah tersebut sudah meronta-ronta ingin memelesat dengan cepatnya.


Sayang sekali, sang pemanah seperti diriku ini ragu melontarkannya, aku masih saja memegang anak patah itu, meremasnya kuat-kuat, memilih untuk menghentikan sasaran panah. Lantas, aku menyadari jika aku tidak lepaskan, anak patah itu tidak akan memelesat dengan sendiri untuk mengenai perasaan dan hati seorang wanita.


Busur yang tadi terarah ke sasaran, kini kulempar ke tanah. Bahkan, anak panah itu sudah patah di dalam genggaman. Aku tahu penyebabnya. Keraguan, itulah penyebabnya yang membuatku tidak berani mengatakan perasaan.


Malam hari berlalu dengan peputaran waktu yang terasa cepat, aku beranjak dari bangku taman, memilih untuk kembali ke rumah hingga tiba di dalam kamar, aku membaringkan tubuh yang sangat lelah.


Aku terbaring lelah memikirkan kata cinta yang sangat membebankan pikiran, membuat kesedihan yang teramat sakit kurasakan. Kesedihan ini seakan berkepanjangan dan aku tak tahu kapan semua ini akan berakhir.


Aku berharap besok pagi akan jadi lebih baik dari hari ini, aku juga berharap semoga besok pagi aku bisa melupakan kejadian yang kemarin kurasakan.


Aku tahu semua ini tergantung seberapa banyak diri mengingatnya. Jika semua itu dilupakan, kesedihan itu tidak akan terasa.


Walaupun aku mengetahui ketergantungannya, entah mengapa aku tetap tidak bisa melupakannya begitu saja karena mungkin aku mempunyai ingatan yang kuat tentang apa pun yang telah kulalui.


Catatan buku yang tersimpan rapi di lemari itu menelusuri setiap langkah kakiku menempuh arah. Aku ingin membuang semua catatan itu, tetapi perasaan ini terasa berat untuk membuangnya.


Bahkan, semua foto bersama Wapta masih tersimpan rapi di ponsel milikku. Aku menghela napas, mencoba bersyukur dengan hati lapang meletakkan ponsel yang tampak masih dengan layar menyala. Memasukkannya ke dalam lemari.

__ADS_1


Aku berniat tidak ingin menyentuhnya lagi, Seperti alasan yang telah kuberikan kepada Wapta. Ponsel itu telah rusak, jadilah seperti itu. Jadikanlah alasan itu masuk akal.


Aku akan benar-benar menganggap ponsel itu telah rusak, aku juga akan berusaha semaksimal mungkin melupakan kenangan bersama Wapta yang bisa kupahami. Aku tidak dapat menuliskan banyak kata yang bisa mengungkapkan perasaan dengan setulus-tulusnya.


__ADS_2