
Agus frustasi mendengar ucapannya Bowo, begitu juga dengan Wulan nampak takut dan tidak membayangkan jika masa depannya kembali hidup susah.
" Kok bisa secepat ini, bank mau sita perusahaan, rumah, dan mobil mau disita juga?" Tanya Agus kaget mendengar ucapannya Bowo, karena secepat ini dirinya diambang hidup miskin.
" Ayah, masa kita hidup susah? mana janji ayah memberikan kehidupan yang layak untuk bunda?" Tanya Wulan tidak menyangka jika Agus bangkrut seperti ini.
" Tenang sayang, aku akan memperbaiki kondisi kita sayang." Lanjut Agus meluk Wulan, Agus tidak tega melihat Wulan nangis karena takut hidup susah
" Oh yah, Bowo kamu cari Nesya sekarang cuman Nesya yang bisa cairkan dana yang dikasih orang tua saya, dana itu tabungan yang diberikan orang tua saya sebagai kado pernikahan, dan nilainya cukup besar." Sambung Agus, Agus baru ingat jika Nesya punya tabungan yang belum dipakai sama sekali.
" Mau dicari kemana pak? sedangkan kita diberikan tempo kosong kan rumah ini dan perusahaan ini sampai akhir bulan? mana ada waktu pak Agus?" Tanya Bowo pura pura panik, padahal Bowo tahu dimana Nesya berada
__ADS_1
" Masih ada waktu, sekarang kamu cari Nesya sampai ketemu, saya yang berusaha cari pinjaman." Lanjut Agus, Agus sama sekali tidak mendapatkan ide bagaimana caranya menolong perusahaannya.
" Baik pak Agus, saran saya anda harus hemat pak, sampai anda mendapatkan bantuan pak. dari pada hidup boros membuat sisa tabungan kalian habis tanpa tersisa." Lanjut Bowo sengaja, Bowo ingin kerjain Wulan yang selama ini seenaknya menguras harta Agus tanpa memikirkan dampak sama sekali.
" Yang benar saja sih Bowo, masa kita makan seadanya, terus siapa yang merapihkan rumah ini. saya tidak mau hidup susah." Tegas Wulan, Wulan tidak mau capek selama hamil dan tidak mau makan seadanya
" Tidak sayang, aku tidak akan membiarkan makan seadanya sayang, bunda jangan banyak fikiran yah, kasihan anak kita nantinya sayang." Lanjut Agus berusaha menenangkan Wulan yang semakin panik.
Diam diam Bowo merekam pembicaraannya bersama Agus dan Wulan, dan dikirim ke Nesya, Bowo langsung meninggalkan rumahnya Agus dan mengabaikan ucapan ucapannya Wulan yang merasa ketakutan hidup susah
Dilain sisi, Nesya fokus membuat baju baju pesanan pelanggannya, Nesya melihat handphone nya dan melihat chat masuk dari Bowo. membuat Nesya langsung membaca chat dari Bowo.
__ADS_1
" Kerja yang bagus Bowo, bikin mereka semakin pusing, jangan biarkan mereka dengan mudah ketemu saya, sampai mereka keluar dari rumah itu." Ucap Nesya membalas chat dari Bowo, Nesya merasa lega karena rencanya berjalan dengan lancar.
Nesya melanjutkan menjahit, Nesya merasa bahagia karena dengan mudahnya balas dendam, Nesya tidak peduli dengan perasaan Wulan apa lagi sekarang lagi mengandung.
Dilain sisi, Agus mulai kesal melihat Wulan sama sekali tidak melakukan apapun di rumah, Agus tahu keadaan sulit seperti ini salahnya, tapi sebagai istri Wulan sama sekali tidak peduli dengan suaminya sendiri.
" Bunda, bantuin cuci baju dong sayang, ayah lelah sekali banyak yang sudah ayah kerjakan." Ucap Agus, Agus baru kali ini merapihkan rumah, bahkan dari kecil Agus mana dibolehkan membantu ibu nya merapihkan rumah.
" Sayang, aku kan lagi hamil sayang, kata dokter kan aku tidak boleh capek sayang. ayah tidak kasihan nanti anak kita kenapa kenapa." Ucap Wulan sengaja menunjukan wajah sedihnya.
" Astaga sayang, walaupun tidak boleh capek tapi kan setidaknya ada yang bunda lakukan sayang, sudah nanti cuci baju yah, ayah harus pergi ke kantor soalnya mau memperjuangkan nasip kita sayang." Lanjut Agus, Agus terpaksa meninggalkan Wulan dirumah sendirian, karena kalo tidak ke kantor bisa bisa perusahaan bener bener tidak bisa diselamatkan
__ADS_1
" Ayah jahat, memangnya ayah fikir bunda ART apa, yang harus cuci baju, mana janji ayah yang selalu memanjakan bunda, yang tidak membiarkan bunda capek." Teriak Wulan saat melihat Agus pergi begitu saja, Wulan bener bener kesel dengan keadaan Agus yang seperti ini.