
Wulan menatap kesal kearah Agus, karena Agus memilih rumah yang lebih kecil dari pada rumah lamanya Agus dan apartemen nya Bowo.
" Ayah, tidak salah rumahnya kecil seperti ini?" Tanya Wulan tidak percaya, kalo Agus bener bener tidak berdaya untuk mencari tempat tinggal.
" Tidak salah sayang, uang yang kita punya tidak banyak sayang, kita harus hemat untuk moda jualan, dan biaya hidup kita sayang. bunda harus ikhlas menerima kehidupan baru kita yah sayang." Ucap Agus, faham saat ini Wulan pasti sangat kecewa dengan Agus karena memberikan kehidupan yang jauh dari layak.
" Tahu lah, tapi ayah saja yah yang jualan, ayah kan tahu kata dokter aku tidak boleh capek sayang selama hamil.' Lanjut Wulan dengan sengaja, Wulan tidak mau cape sama sekali selama hamil, biarlah Agus yang melakukan semuanya. mengurus rumah dan mengurus jualannya.
__ADS_1
" Sayang, aku tahu ibu hamil tidak boleh terlalu cape, tapi masa Iyah sih bunda tidak mau melakukan apapun sih sayang di rumah? atau pun saat kita jualan nanti?" Tanya Agus semakin heran melihat Wulan, tidak mau melakukan apapun di rumah.
" Oh ayah keberatan? oke aku kerjakan semuanya, kalo aku sampai keguguran dan saat itu juga aku pergi dari rumah ini? aku tidak ingin hidup susah ayah?" Tanya Wulan kepancing emosi, Wulan bener bener kesel dengan Agus dianggap suami tidak berguna.
Plak
" Oh begitu, oke tidak usah nunggu bunda keguguran kalo begitu, sekarang kita pisah saja, ayah sudah lelah dan muak dengan tingkah bunda semakin keterluan. ayah hancur karena bunda terlalu manja, di rumah tidak mau melakukan apapun, dan sekarang berani mengancam ayah? ngaca bunda apa apa kalo bukan ayah yang mungut dari jalan mengerti!" Bentak Agus penuh amarah, Agus sudah muak dengan tingkah Wulan dan sudah pasrah harus kehilangan istri dan anaknya juga. apa lagi Nesya bener bener tidak bisa ditemui.
__ADS_1
" Apa cerai? enak sekali ayah bilang, setelah semua kekacauan yang ayah buat? bunda tidak mau membesarkan anak ini sendirian enak saja, sudah paksa mengandung sekarang mau dibuang begitu saja! l" Bentak Wulan tidak terima ucapan Agus.
" Iyah cerai, kita nikah dibawah tangan, dengan mudah kita berpisah, saya kira kamu bisa berubah ternyata tidak sama sekali, sekarang saya menyesal sudah menyia nyiakan Nesya istri yang rajin, baik, dan bisa mandiri, tidak seperti kamu. saya kasihan saja melihat nasip kamu jika pisah, sekarang terserah kamu, kalo mau pisah silahkan tapi kalo mau bertahan kamu harus menjalani tanggung jawab kamu sebagai istri, merapihkan rumah bersama saya, kerja kan yang bisa kamu kerja kan, masak, cuci baju sekaligus setrika, dan cuci piring. sisanya biar saya yang kerjakan, kamu juga kadang kadang jagain toko juga. kalo nolak silahkan keluar, selamanya saya tidak akan akui anak itu sebagai anak saya!" Bentak Agus semakin emosi, bagaimana tidak emosi didalam kondisi tidak punya apa apa, Wulan sama sekali tidak ingin membantu suami sama sekali.
" Jahat kamu mas, kalo bukan karena anak ini aku tidak mau mas bertahan. baik lah aku bertahan. maaf kan aku, akan mencoba rajin mas." Lanjut Wulan pasrah, dari pada anakny dianggap anak tidak baik, karena orang tuanya pisah sebelum lahir dan nikah dibawah tangan.
" Nah begitu dong, hayo bantuin aku merapihkan rumah ini, setelah itu kamu bisa istirahat." Lanjut Agus senyum kemenangan
__ADS_1
Agus langsung angkat barang barangnya dan masuk kedalam rumah, diikuti Wulan disampingnya walaupun hati kesal tapi mau bagaimana lagi berpisah dalam keadaan hamil besar bukan pilihan yang baik membuat Wulan pasrah untuk tetep bertahan dengan keadaan hidup susah seperti ini.