
Pagi harinya Riki membicarakan ini kepada maminya, bahwa ia ingin memeriksakan sumsum tulang belakang untuk diberikan kepada kakaknya. Riki berharap bahwa sumsum tulang belakangnya bisa cocok dengan Kak Intan. Mami menyambut niat baik dari Riki, mami sangat bersyukur karena Intan sudah menyerah untuk hidupnya, selalu mencuci darah ia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi.
"Mami, Andin lah yang membujukku agar segera mengecek samsung tulang belakangku, apakah cocok dengan Kak Intan atau tidak? Andin bilang sudah menganggap Kak Intan bukan sebagai kakak iparnya, tetapi seperti kakak kandungnya sendiri," ucap Riki.
"Kamu beruntung sekali bisa mempunyai istri seperti Andin. Mami sangat bersyukur, Rik, Mami ingin bertemu dengan Andin dulu sebelum kita berangkat," pinta mami.
Andin memang kebanyakan berada di dalam kamar karena bahu yang retaknya semakin parah, tidak boleh banyak bergerak. Mami masuk bersama dengan Intan dan Riki ke kamar Andin. Andin tersenyum ketika melihat mereka.
"Mantu Mami yang cantik, terima kasih sudah membicarakan ini kepada Riki," ucap mami.
"Mi jangan berterima kasih memang sudah seharusnya Ricky membantu Kak Intan karena aku dan Riki ingin Kak Intan sembuh," ucap Andin.
Intan memegang tangan Andin, ia sangat berterima kasih. Setelah berbicara dengan Andin mereka langsung ke rumah sakit untuk pemeriksaan sumsum tulang belakang.
"Luna, tolong jaga Andin yah. Kami mau berangkat dulu," ucap Riki.
"Iya Rik, tenang aja," ucap Luna.
Setelah Riki dan keluarganya pergi, tak disangka Andin keluar dari kamarnya. Luna menatap Andin, ia langsung menghampiri Andini.
"Loh kamu kok keluar sih? Istirahat dulu lah Din, bahu kamu itu keretakannya semakin parah. Jangan terlalu bergerak terlalu banyak," nasehat Luna.
"Ada yang mau datang ke sini, aku sengaja memanggil mereka ke sini agar Riki dan keluarganya tidak tahu akan rencana ini. Tapi aku akan jujur kepada Riki tentang rencana ini, aku hanya tidak mau Mami dan Kak Intan tahu akan permasalahan ini," ucap Andin.
"Maksud kamu apa Din?" Luna mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Andin rencanakan.
"Kamu tunggu aja sebentar lagi mereka akan datang," ucap Andin.
Tak selang lama ada ketukan pintu.
TOK TOK TOK
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang di balik pintu. Andin meminta tolong kepada Luna untuk membukakan pintu. Luna pun beranjak menuju pintu dan membukanya. Ia terkejut ternyata yang datang adalah Bu rohaya, Pak Untung satpam komplek dan Pak Ucup satpam kantor Kampung Design. Mereka bertiga dipanggil oleh Andin karena mereka orang kepercayaan.
"Wa'alaikumsalam, Bu Rohaya, Pak Untung, Pak Ucup, mari silakan masuk. Andin sudah menunggu, maaf ya Andin bahunya sedang terluka jadi aku yang membukakan pintu," ucap Luna. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah Andin dan duduk di ruang tamu. Andin menyambut mereka dengan hangat.
__ADS_1
"Mbak Andin, bahunya masih sakit? Aku pikir sudah agak sembuh. Mbak itu masih memakai alat di bahunya," tanya Bu Rohaya ketika melihat Andin.
"Iya Bu, ini saya tidak hati-hati sehingga retak di bahu saya itu semakin parah," jawab Andin.
Mereka langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan Andin.
"Bagaimana Bu sudah dapat?" tanya Andin.
"Alhamdulillah Mbak Andin, aku sudah dapat rumahnya, bagus, luas di kampung desain. Orangnya melepas tanahnya karena ia tahu yang membeli adalah Mbak Andin," ucap Rohaya.
"Alhamdulillah, tapi nanti nama suratnya bukan saya. Untuk surat rumah tolong nanti balik namanya dengan nama Angel," ucap Andin. Luna yang mendengar sangat terkejut bahwa Andin membeli rumah untuk dirinya.
"Kamu beli rumah di kampung desain untuk aku? Aku 'kan sudah bilang sama Bu Rohaya bahwa aku hanya mengontrak," ucap Luna kepada Andin.
"Aku punya uang, aku nggak mau melihat sahabatku hidup menderita dengan cara mengontrak. Terimalah Angel ini untukmu, anggaplah bonus dariku selama kamu bekerja denganku," ucap Andin.
"Kamu membelikan mobil untuk aku, kamu juga bilang bonus dan sekarang rumah, kamu pun bilang bonus. Sudah hampir sebulan ini kamu tidak design, pemasukan kamu juga berkurang, aku jadi nggak enak sama kamu Din. Bukannya aku membantu untuk mensejahterakan bisnis kamu, kamu malah mengeluarkan uang untuk aku," ucap Luna.
"Soal uang tenang aja Lun, rezeki tidak akan kemana-mana Insha Allah, Allah akan memberikan rezeki kepada aku. Jika rezeki itu tertunda karena aku kecelakaan, maka nanti Allah akan mendouble rezekiku yang bulan sebelumnya dengan bulan ini. Aku percaya itu, sudah kamu jangan terlalu banyak mikir. Pokoknya kamu nggak boleh tolak pemberianku ini oke! Nanti kamu bisa ke sana untuk melihat rumahnya dengan Bu Rohaya," ucap Andin sambil menggenggam tangan Luna.
"Din kamu menyuruh Pak Untung dan Pak Ucup untuk menyelidiki Roby?" tanya Luna.
"Maaf Angel aku tidak membicarakan ini dengan kamu dan juga Alice sebenarnya ini mendadak ketika mereka menjenguk aku di rumah sakit. Aku tidak mau menunda untuk menyelidiki siapa sebenarnya Roby. Karena aku curiga Rafif berteman dengan Roby dan Roby itu mengincar kamu dan Alice. Rafif mengincar aku itu artinya yang mereka incar adalah kita bertiga. Aku berpikir seperti itu, lalu aku meminta bantuan kepada Pak Ucup dan pak Untung. Pak Untung mempunyai jaringan polisi, jadi ketika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan maka polisi akan bertindak. Pak Ucup merupakan mantan kepala preman, ia banyak mempunyai anak buah kita, bisa mendapatkan bantuan dari anak buah," Andin menjelaskan kepada Luna.
"Bu Andin setelah teman aku yang menjadi polisi penyamar, bahwa Roby ternyata mempunyai jaringan mafia. Mereka sering melakukan pencucian uang," ucap Untung.
"Aku nggak nyangka Roby ternyata mempunyai jaringan mafia. Pantas aja Angel, semalam Alice dan Daniel dihadang oleh 5 anak buah Roby, ternyata mereka memang mafia," ucap Andin.
"Andin aku minta maaf sebelumnya, karena aku juga tidak membicarakan ini kepada kamu. Aku dan Alice juga Dariel sudah meretas rekening Roby. Kami sudah menguras semua uang Roby kemungkinan perusahaan Roby akan kolep, memang di salah satu rekening Roby ada pencucian uang karena uang yang masuk dalam jumlah yang tidak masuk akal. Dariel meretas tanpa bisa disadap siapa pelakunya." Luna berkata jujur kepada Andin.
"Kamu yakin Dariel tidak bisa diketahui bahwa ia yang meretas? Karena ini jaringan mafia, aku takut Dariel dan Alice yang menjadi incaran karena Roby tidak tahu bahwa kamu masih hidup," ucap Andin.
"Dariel yang mengatakan seperti itu Din. Dia meyakinkan aku dan Alice. Rapi aku sempat berpikir kenapa Roby bisa tahu di mana Dariel dan Alice berada dan semalam Alice sampai ingin diculik oleh Roby," ucap Luna.
"Kita harus bermain dengan hati-hati karena yang kita hadapi bukanlah orang biasa, bukanlah Roby yang kita pikir hanya pecinta wanita cantik dan ingin mengambil hartanya, tapi Roby mempunyai Bos. Kita harus tahu siapa Bos yang sebenarnya dan apa alasannya mereka mentargetkan kita bertiga," ucap Andin.
__ADS_1
Bersambung
Aku mau tanya sama para readers, dari triple A. Tokoh siapa yang kalian sukai?
Andin or Alice or Angel?
Jangan lupa komen-komen dan jempol para reader yang manis. Terima kasih yang sudah membaca, kasih jempol, tulis komen, yang subscribe, yang follow aku dan yang paling keren yang vote novel ini. Love you reader manis sekebon karet.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1