Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan

Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan
Kecelakaan


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Ratna, Irsyad langsung melajukan mobilnya menuju kediaman rumah Andin tapi ketika melewati pos penjaga mobil Irsyad tidak bisa masuk ke area kompleks blog Andin. Andin sudah berpesan kepada Untung agar tidak membiarkan Irsyad masuk ke area kompleks.


"Ah...Andin maafkan aku, aku sungguh mencintaimu. Aku hanya emosi ketika bertemu dengan penghianat itu. Aku takut dia mengambil kamu dariku. Irsyad bodoh banget si lu." Irsyad memukul-mukul setir mobil.


Irsyad tak hilang semangat, ia ke kampung design tapi di sana tak ada Andin. Lalu ia melajukan mobilnya ke pabrik kain. Ia tidak menunggu sampai Andin keluar dari pabrik kain. Andin akan keluar makan siang, jam waktu itu yang Irsyad tunggu


"Itu Andin," ucap Irsyad monolog. Ia langsung keluar dari dalam mobil dan berlari menghampiri Andin. Andin yang melihat Irsyad ingin menghampirinya buru-buru ia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya tapi Andin menginjak rem mendadak karena Irsyad berdiri menghadang mobil Andin.


"Ah gila nih cowo," ucap Andin kesal.


Irsyad menelepon Andin, dia tidak bergeming tetap berdiri di depan mobil Andin agar mobil Andin tidak bisa lewat. Andin mengangkat telepon dari Irsyad.


"Hallo, aku minta maaf. Aku mohon turunlah dari mobil. Kita bicarakan dengan kepala dingin," ucap Irsyad sambil menatap Andin di depan mobil Andin.


"Tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi, semua sudah berakhir. Jangan ganggu aku," ucap Andin di ujung telepon.


"Aku sayang kamu, aku cinta kamu. Please sayang beri aku 1 kali kesempatan lagi," ucap Irsyad.


"Tidak ada kesempatan ke dua untukmu. Kamu tidak mencintaiku terbukti kamu menghina masa lalu ku sebagai janda konyol. Yang kamu masih cinta itu adalah Cindy, mantan kamu yang telah memeluk kamu ketika di Bogor. Kamu pun merasakan kehangatan pelukannya kan, selama 10 tahun kamu terkurung dengan dendam. Tapi bukan sembarang dendam, di dalam dendam ada cinta yang masih bersemayam di hatimu," ucap Andin.


"No...big no... namanya sudah aku hapus dari hatiku. Hanya ada kamu sekarang di hatiku," ucap Irsyad yang berusaha meyakinkan Andin.


"Hahaha...mana mungkin 10 tahun kamu memendam dendam padahal kamu masih sangat mencintainya. Kalian teman sekolah yang 10 tahun lalu selalu bertemu, bergandengan tangan atau mungkin kalian sudah kissing. Aku hanya kamu kenal melalui sampah, pertemuan kita aja konyol kamu sudah menghina aku sebagai sampah masyarakat. Padahal aku janda tapi bukan sembarang janda, janda yang bukan polos lagi seperti Andin cupu dulu, janda yang tidak bodoh lagi menerima ucapan manis dari seorang pria langsung luluh hatinya. Minggir aku mau jalan, jangan buang waktuku," ucap Andin di ujung telepon dengan nada geram.


"Aku tidak akan pergi dari sini, silahkan kau tabrak aku," ucap Irsyad.


"Oke, aku akan tabrak kamu agar kamu enyah dari dunia ini," ucap Andin yang disertakan menutup telepon.


Andin menyalahkan mesin mobilnya kembali. Ia mundurkan terlebih dahulu dan menginjak full gas. Irsyad menelan salivanya karena ucapan Andin tidak main-main, ia pun tidak mau mati konyol, Irsyad langsung melompat dan mobil Andin berjalan keluar dari pabrik kain.


"Aku bukan Andin yang lemah kepada laki-laki, laki-laki manis di bibir lain di hati, muak aku...muakkkkk." Andin berteriak di dalam mobil dengan air mata yang menetes.


"Din, jangan nangis kamu. Jangan nangis karena laki-laki itu." Andin menyeka air matanya sendiri.


Mobilnya ia lajukan dengan kecepatan di atas rata-rata. Karena kurang konsentrasi ia tak sadar ada mobil yang baru keluar dari sebuah gang. Andin membanting stirnya kemudian ia menabrak pembatas jalan. Besi pembatas jalan menusuk bagian kaca mobilnya dan menghantam pundaknya. Andin tak sadarkan diri, pecahan kaca mengenai lengannya karena Andin spontanitas melindungi wajahnya dengan lengan.


Mobil yang ingin ditabrak Andin pengemudinya sangat terkejut, ia langsung keluar dari dalam mobil. Warga sudah mendekati mobil Andin, mereka mengetuk-ngetuk jendela mobil Andin.

__ADS_1


"Astagfirullah, pengemudinya terjepit," ucap salah satu warga.


Pengemudi yang hampir di tabrak Andin, langsung menelepon polisi meminta agar bisa mengeluarkan Andin dari mobilnya. Para warga tidak tahu apakah Andin masih hidup atau sudah meninggal karena pundahnya terjepit tiang penyangga yang besar, bersyukur ujungnya tidak lancip tapi pundak Andin terbentur sangat keras.


Sangat drama mengeluarkan tubuh Andin dari dalam mobil, karena para warga mengenal Andin sebagai pendesign terkenal, wartawan banyak berdatangan.


"Pak, saya sudah panggil ambulan, saya dokter Pak dan saya juga melihat kejadian Mbak ini menabrak batas jalan karena ia menghindari mobil saya yang baru keluar dari gang. Mbak ini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi," ucap Riki.


"Kami akan membuka jendela, Dokter Riki periksa terlebih dahulu dengan korban. Jika memungkinkan mobil akan di tarik dari belakang," ucap pak polisi.


"Baik Pak," jawab Riki.


Polisi menghancurkan kaca jendela mobil Andin dengan hati-hati karena mereka tahu ada pergerakan nafas terlihat dari dada yang kempang kempis.


"Bagaimana Dok, aman nggak sama nyawa korban jika kami langsung dorong ke belakang mobilnya?" tanya polisi.


"Agak banyak resiko, jika di dorong langsung maka tubuh korban akan jatuh ke depan. Biar saya masuk jok belakang, saya akan memegang tubuh nya agar posisinya tetap duduk lalu tarik mobilnya kebelakang karena saya takut tulang bahu patah atau benturan terkena organ dalam," ucap Riki.


"Baik, kita langsung Dok agar korban bisa cepat di tangani," ucap polisi.


Alice yang ketika itu menunggu Andin karena ada yang harus ditandatangani mendapat telepon dari Luna.


"Hallo, Alice. Andin kecelakaan, cepat ke rumah sakit Raya," ucap Luna dengan suara gemetar.


"Astagfirullah, keadaannya bagaimana?" tanya Alice di ujung telepon.


"Aku nggak tahu, Bang Jimmy tadi telepon aku. Andin berada di rumah sakit tempat Bang Jimmy bekerja. Aku akan segera kesana. Kita ketemuan di sana," ucap Luna.


"Iya Lun." Alice menutup telepon. Ia meraih kunci mobilnya dan naik kedalam mobil, melaju menuju rumah sakit daya.


Sesampainya di rumah sakit Raya, wartawan masih menunggu kabar keadaan Andin. Alice dan Luna datang dengan mengendap-endap. Mereka tidak mau diwawancara karena mereka hanya ingin tahu keadaan Andin terkini. Luna dan Alice bertemu di tempat parkir sehingga masuk ke rumah sakit bersamaan. Luna menelepon Jimmy, ia ingin tahu keadaan Andin dari penjelasan Jimmy.


"Bang, bagaimana kondisi Andin?" tanya Luna.


"Sayang, aku belum tahu yang tangan Andin Dokter Riki," jawab Jimmy.


Luna dan Alice menunggu, sekitar 25 menit Riki keluar dari pemeriksaan.

__ADS_1


"Jimmy, pasien harus segera di operasi," ucap Riki.


"Riki, ini sahabat pasien," ucap Jimmy. Riki menatap Luna dan Alice.


"Alice? Kamu Alice 'kan?" tanya Riki tiba-tiba.


Alice menatap Riki, ia menatap Riki dan mengingat siapa dokter Riki itu.


"Kamu Riki cungkring?" tanya Alice.


Luna pun terkejut, ia tak menyangka yang ada di depannya itu adalah Riki cungkring teman SMA dahulu.


"Kalian saling kenal?" tanya Jimmy.


"Dokter Riki ini teman SMA kita dulu, dulu mah bentuk tubuhnya cungkring. Sekarang beda banget," ucap Alice.


"Jelas beda, dia itu Dirut rumah sakit ini. Dia bawa Andin ke sini karena merasa dirinya bersalah karena kecelakaan itu padahal ketika itu Andin yang menjalankan mobilnya dengan sangat cepat sehingga tidak tahu ada mobil yang keluar dari gang. Riki merasa sangat bersalah dan ia tidak mau dokter lain yang menangani Andin, harus dirinya yang menjadi dokter Andin," ucap Jimmy.


"Apa Jimmy? Nama pasien itu Andin? Alice dan kamu Angel? kenapa wajah kamu berbeda?" tanya Riki.


"Aku mengalami kecelakaan, wajahku terbakar dan aku melakukan operasi plastik di Korea," jawab Luna.


"Lalu yang aku periksa Andin? Andina Anastashia?" tanya Riki sekali lagi.


"Iya dia Andin," jawab Luna.


"Astagfirullah Andin yang mengalami kecelakaan karena aku." Riki wajahnya terlihat pucat, setelah dirinya tahu bahwa korbannya itu adalah Andin.


"Riki jangan bilang kamu masih sayang sama Andin," ucap Luna.


Riki terdiam, dari sorotan matanya sudah bisa terjawab akan pernyataan Luna.


Bersambung


Ets ada yang merasa dikit membaca bab itu? Jika itu yang kalian rasakan berarti kalian menikmati bacanya.


Ssttt jangan bilang-bilang love you reader sekebon karet. Terima kasih yang like dan komen ide saya datang dari like dan komen kalian. ❤

__ADS_1


__ADS_2