
POV Andin
Aku membuka mataku, melihat ada seorang pria yang memegang tanganku. Dia mencium tanganku, aku bingung. Siapa dia? Kenapa ia menangisi aku? Aku di mana sekarang? Aku merasakan tangan kiriku sakit. Aku di rumah sakit? Aku kenapa?
"Andin, apa yang kamu rasakan sayang?" tanya Riki.
Dia memanggil aku sayang? Siapa dia?
"Kepalaku pusing," ucapku.
Dia langsung memeriksaku, kulihat wajahnya masih tampak ada kecemasan. Sebenarnya siapa dokter ini? Apakah aku mengenalnya? Kenapa dia sangat khawatir dengan aku? Aku menatap wajahnya sangat lekat. Dia sadar ketika aku menatapnya.
"Kamu bingung? Nggak kenal aku?" tanya Riki.
"Kamu siapa?" tanyaku bingung.
"Kenapa kamu melupakan aku? Sedangkan aku tidak bisa melupakanmu. Andin, aku Riki. Riki cungkring teman SMA kamu, yang pernah menembak kamu tapi kamu belum menjawabnya. Kamu janji kepadaku, jika aku menjadi dokter kamu akan menjadi kekasihmu," jawab Riki.
Riki? Cinta pertamaku yang aku lepas. Nggak Rik, jangan menangih janjiku. Aku tidak pantas untukmu, kamu berhak mempunyai kekasih yang suci. Tolong jangan tagih janjiku Rik.
"Kenapa kamu langsung diam?" tanya Riki. Dia membelai kepalaku.
"Kalian bisa pergi, biar aku yang menjaga Andin di sini. Tolong siapkan kamar VVIP kita akan memindahkan Andin di ruang rawat Inap. Jangan beri keterangan apapun tentang Andin ketika kalian keluar. Kunci mulut kalian semua, jika tidak aku akan memecat kalian," ucap Riki.
"Baik."
Riki menunggu para dokter dan perawat keluar dari ruangan ICU. Ia ingin berbicara berdua dengan Andin.
"Bicaralah, kini semuanya sudah pergi. Hanya ada aku dan kamu," ucap Riki.
"Mau bicara apalagi Rik, aku sudah bilang denganmu agar kamu jangan mencariku," ucapku.
"Nggak bisa, aku tak bisa lakukan itu. Din aku sangat sayang sama kamu, bahkan perasaan ini tidak berubah sejak aku SMA dahulu. Aku menangih janjimu, kini aku sudah menjadi dokter dan dirut di rumah sakit ini. Jangan ingkari janjimu karena aku akan rusak jika kamu mengingkari janjimu. Tolong lihat mataku Andin," pinta Riki.
__ADS_1
Ya Allah, aku tak sanggup melihat matanya. Jujur aku rindu dengannya tidak ada laki-laki yang setulus dirinya. Dia yang telah menunggu aku, dia yang menerima aku apa adanya. Rik, jangan denganku. Kamu sudah sukses sekarang, nggak pantas dirut rumah sakit bersanding dengan janda beranak satu. Tolong Rik lepaskan aku.
"Sayang, jangan diam aja. Bicaralah tatap aku," ucap Riki.
"Aku tidak mencintaimu Rik, aku berjanji seperti itu agar kamu semangat untuk belajar dan mencapai kesuksesan. Kamu sering cerita bahwa kamu dikucilkan keluarga kamu, kasih sayang yang tidak adil dari keluarga kamu. Aku hanya membantu kamu. Maaf yah, aku mempermainkan perasaan kamu," ucapku.
Aku melihat, seketika wajahnya berubah. Ya Allah, aku tidak kuat melihat wajahnya yang sangat kecewa karena aku. Aku harus berbuat ini, Rik maafkan aku. Ini cara aku mencintaimu dengan tidak merusak kamu. Cari wanita yang pantas Rik untuk kamu jadikan kekasihmu.
"Kamu bohongkan, jangan bercanda Din. Kamu mencintai aku kan, sayang aku terima status mu. Aku nggak perduli dengan status yang kau sandang. Janda beranak satu, akan kuanggap anakmu menjadi anakku. Aku sayang kamu Din, aku cinta kamu. Jangan buang perasaan cinta ini yang sudah tumbuh subur untukmu," ucap Riki.
"Rik, maaf aku benar-benar tidak mencintai kamu." Aku sontak terdiam ketika Riki langsung mencium bibirku. Ya Allah, apa yang terjadi ini? Kenapa aku tak kuasa menolak ciuman ini. Aku memang sangat merindukannya. Din, ini salah...nggak benar Din. Aku langsung memalingkan wajahku, tapi Riki tak mau melepaskan bibirnya dari bibirku. Dengan tangan kananku yang masih terpasang infus, aku dorong tubuhnya sekuat tenaga.
"Kurang ajar kamu Rik, aku baru sadar dan kamu langsung mencium bibirku. Akan aku tuntut rumah sakit ini karena dirutnya sudah melakukan pelecehan kepada pasiennya. Aku nggak menyangka kamu kurang ajar Rik." Aku tak bisa menahan air mataku, ketika ia mencium aku dadaku terasa hangat. Sungguh masih sama rasanya seperti dulu ketika aku menunggunya untuk menjadi dokter, dulu aku berharap agar kamu bisa cepat-cepat menjadi dokter agar aku bisa bersamamu. Harapanku hancur ketika Rafif mengambil kesucianku dan hamil di luar nikah. Aku terpaksa memaksa ayahku agar aku bisa menikah oleh Rafif, agar orang tuaku tak menanggung malu atas apa yang putrinya alami. Aku setuju dengan persyaratan Rafif untuk menjalankan bisnis yang diberikan ayahku, aku berusaha meyakinkan ayah bahwa Rafif sudah berubah dan mencintaiku. Padahal kehidupan sebenarnya adalah neraka bagiku.
"Tuntut aja aku, aku nggak perduli lagi. Terima kasih kamu berbohong denganku, hebat sampai aku percaya akan janjimu. Baiklah aku akan enyah dari hidupmu selamanya, kamu tidak akan melihatku lagi." Aku sontak terkejut dengan kalimatnya, jangan berlaku yang aneh-aneh Rik. Aku juga nggak sanggup jika aku tak melihatmu lagi. Aku melihat ia membuka baju hijau ruang, matanya sudah berair. Aku menyakiti dirinya, lalu aku lihat dia mengambil pisau. Mau apa dia?
"Aku lelah Din, lelah dengan perasaan cintaku ini kepadamu. Jadi lebih baik aku istirahat aja di depanmu aku akan lakukan ini, tenang kamu tidak akan aku ganggu karena aku akan pergi dari dunia ini langsung dihadapanmu," ucap Riki.
"Rik...jangan Rik..." Riki sudah mulai mensayat tangannya. Darah mulai keluar, ia malah memperdalam sayatannya.
"Riki, aku mohon jangan lakukan itu. A...aku cinta sama kamu, aku tidak mau kehilangan kamu, stop lakukan itu Riki. Aku mohon stop." Aku berusaha menggerakan tubuhku, aku tidak mau orang yang aku sayang selama ini mati di hadapanku, cinta pertamaku. Aku memaksa diriku untuk bangun, infusan terlepas. Aku ingin meraih pisau yang masih berada di tangan Riki. Tubuhku terjatuh, Riki terkejut, bekas jahitan operasi mengeluarkan darah. Kepalaku sangat pusing, bibirku terus merancu.
"Riki, aku bohong. Aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak kamu menolong aku dari Rafif, sampai saat ini cinta itu tidak berubah." Aku berusaha membelai pipinya dengan sisa tenagaku, mataku sudah mulai buram.
"Andin maafkan aku, jika aku tak melakukan ini kamu tidak mau berkata jujur," ucap Riki. Riki mengangkat tubuhku ke branker kembali, ia melihat luka bekas jahitan. Aku masih merasakan sentuhannya ketika ia membersihkan darah yang rembas dari bekas operasi. Ia memasang infus kembali di lenganku. Aku tak kuat lagi, tubuhku terasa dingin.
"Rik, aku dingin," ucapku lirih. Aku tak sadarkan diri lagi.
"Din bangun sayang, jangan tidur. Andin..." ucap Riki dengan berlinang air mata.
Bersambung
Duh Andin, Riki, cinta kalian sangat berliku-liku. Riki buat Andin sadar kembali.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca bab ini. Tolong bantu dengan komen, like agar novel ini bisa up.
Love sekebon karet dari Authoress.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1