
"Aku nggak akan diam saja jika ada perempuan lain yang memelukku. Aku janji sama kamu," janji Irsyad.
Makanan yang mereka pesan tiba. Andin tidak jaim ketika makan siang bersama Irsyad. Dia makan dengan lahap sampai bibirnya kotor karena menempel bumbu ikan bakar.
Irsyad menatap Andin dengan senyum, Andin menatap Irsyad.
"Kenapa aku makan kamu senyam senyum gitu?" tanya Andin.
"Aku senang melihat kamu makan, ngak jaim. Di dekat bibir kamu itu ada yang kotor," ucap Irsyad.
"Di mana? Di sini?" Andin mengelap pinggiran bibirnya.
"Bukan yang itu," ucap Irsyad.
"Yang mana sih Mas." Suara Andin, di telinga Irsyad ketika memanggil Mas terdengar manja. Membuat Irsyad semakin gemas.
"Maaf." Irsyad mengambil tisu dan mengelap bagian yang kotor. Pipi Andin memerah menatap bola mata hitam milik Irsyad, ditambah senyuman dari Irsyad membuat jantung Andin berdetak kencang.
'Ya Allah ganteng banget sih nih cowo, kalau punya suami seperti ini bentuknya harus di rantai nih biar nggak kepincut sama cewe-cewe pelakor,' ucap batin Andin.
Setelah itu mereka menghabiskan makanan mereka dan Irsyad mengantarkan Andin ke hotel.
"Terima kasih yah untuk hari ini, sejarah hidupku terpenjara tanpa cinta tapi kamu buka dengan cinta penjara itu. Aku berjanji tidak akan menghianati cinta kita," ucap Irsyad.
"Simpan janjimu itu dan buktikan setelah kita menikah. Aku masuk yah karena hari ini harus kembali ke Jakarta. Alice dan Luna sudah di dalam hotel nunggu aku," ucap Andin.
"Yah sudah aku juga harus pulang ke Jakarta hari ini. Terima kasih sayang, i love you." Irsyad menunggu Andin untuk membalas ucapan cintanya. Tapi Andin hanya terdiam, ia hanya memberikan senyuman. Irsyad tidak mau memaksa agar Andin membalas kata cinta, ia langsung membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.
"Mas Irsyad, aku juga sayang kamu," ucap Andin. Irsyad membalikkan tubuhnya dan tersenyum kepada Andin.
"Assalamu'alaikum." Irsyad melambaikan tangannya.
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan Mas," ucap Andin sambil melambaikan tangannya.
Ternyata Luna dan Alice melihat adegan romantis Andin dan Irsyad. Setelah mobil Irsyad berjalan meninggalkan Andin. Kedua sahabatnya langsung keluar dari persembunyiannya.
"Andin...cie calon bu lurah," ledek Luna.
__ADS_1
"Apa si Bu Jimmy, jangan ngolok-ngolok aku deh," ucap Andin.
"Aku nggak ada yang bisa di olok-olok. Ih nyebelin masih jomblo," teriak Alice. Luna langsung membekap mulut Alice.
"Jangan ngumumin kalau jomblo kali," ucap Luna.
"Din, langsung pulang ke Jakarta. Aku sudah siapkan mobil bagian belakang sudah dibuka kasur lipat untuk Natasha. Kita langsung pulang sekarang agar nggak kemalaman," ucap Alice.
"Yah sudah ayo kita pulang, aku check out dulu." Andin membayar biaya hotel untuk 1 hari kemudian ia menyusul Luna dan Alice ke dalam mobil.
"Biar aku aja yang nyetir." Luna meminta kunci mobil yang dipegang oleh Alice.
Mereka langsung pulang menuju Jakarta, perjalanan agak macet.
"Lun, Alice, kita langsung jalanin rencana untuk Roby," ucap Andin.
"Alice, aku sudah kirim alamat Dariel. Kamu coba dekatin dia, agak sombong dan susah di dekatin," ucap Luna.
"Oke, doakan aku agar bisa dekat dengan Dariel dan rencana kita bisa kita jalanin," ucap Alice.
Mobil yang dikendarai oleh Luna, berjalan agak lancar ketika memasuki jalan tol. Andin duduk di belakang bersama dengan Natasha yang masih terlelap tidur. Mereka Jakarta dengan perjalanan 2 Jam. Luna mengarahkan mobilnya ke rumah Alice terlebih dahulu setelah itu menuju rumah Andin.
"Aku yang akan bantu jaga Natasha," ucap Luna.
"Lun, kamu kan harus mempersiapkan pernikahan kamu. Nggak mungkin juga harus setiap saat sama aku," ucap Andin sambil meletakkan Natasha di kamar lantai bawah.
"Kamu kapan sama pak lurah, sepertinya dia ingin cepat halalkan kamu," ucap Luna.
"Baru juga jadian Lun, paling setelah selesai aku bantu kamu mencembloskan Roby ke penjara baru aku akan membicarakan pernikahan dengan Irsyad," ucap Andin.
"Irsyad tahu tentang rencana kita?" tanya Luna.
"Sudah, agak berdebat dengan dia. Dia takut aku di sentuh-sentuh dengan Roby," jawab Andin.
"Ih manisnya." Luna mencolek dagu Andin.
"Sudah ah, aku mau istirahat." Andin berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu Andin dan Luna masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.
__ADS_1
Andin membaringkan tubuhnya. Handphonenya bergetar, Andin lekas mengambil handphonenya di atas meja.
"Assalamu'alaikum cantik, sudah sampai rumah?" tanya Irsyad di balik telepon.
"Wa'alaikumsalam, iya Mas aku sudah sampai, sudah mandi, ini aku baru mau tidur. Capek banget," jawab Andin.
"Yah sudah, selamat istirahat sayang," ucap Irsyad.
"Mas juga yah selamat istirahat." Andin menutup telepon dan ia lekas untuk tidur karena matanya tak sangat berat.
***
Alice melihat alamat rumah Dariel. Ia mencari tentang Dariel di google, kata Luna dia seorang profesor muda.
"Ah ini dia, Subhanallah...ini manusia? Tampannya, benar kata Luna harus hati-hati kepincut sama wajahnya. Oh ternyata dia Indo, ibu Indonesia, ayahnya Inggris pantesan wajahnya agak bule." Alice mencatatat informasi yang ia kumpulkan dari google.
"Besok aku langsung melakukan rencana pertama, untuk kenalan sama dia," ucap monolog Alice sambil menarik selimut untuk menuju mimpi malam ini.
Alice tidur bagai seorang putri sampai ia kesiangan salat subuh. Ia bangun pukul 5.45, buru-buru mengambil air wudhu dan salat subuh. Setelah salat, Alice langsung membersihkan tubuhnya. Ia akan melakukan rencana pertamanya, semalam ia mencari sosmed Darie dan Dariel membuat status esok akan lari pagi menghirup udara pagi di taman dekat rumahnya. Alice sudah mengetahui taman yang dekat dengan rumah Dariel.
"Sudah cantik belum yah." Alice melihat wajahnya di cermin dan memutarkan tubuhnya.
"Sudah oke sepertinya, semangat Alice. Bismillah..." ucap Alice menyemangati dirinya.
Alice melajukan mobil menuju taman yang ingin ia tuju. Ia memarkirkan mobilnya dan mencari keberadaan Dariel.
"Sudah 30 menit aku cari Dariel, apa aku salah taman yah?" Alice terus mencari-cari Dariel, ia melihat setiap sudut taman.
"10 menit lagi aku cari, jika nggak ketemu takdir hari ini gagal," ucap monolog Alice. Alice terus berjalan mencari keberadaan Dariel, tapi tidak ia temukan. Alice akhirnya menyerah dan ingin pulang langkahnya berhenti dari kejauhan ia melihat seorang pria yang sedang pust up. Alice melihat foto Dariel yang berada di handphonenya.
"Iya itu dia, alhamdulilah. Misi pertama." Alice menyiram wajah, leher, dan tangannya dengan air mineral yang ia bawa. Alice akan terlihat seperti orang yang mandi keringat seperti sudah berlari maraton. Ia mendekati Dariel sambil berlari seperti orang berolah raga lalu Alice menjatuhkan tubuhnya di dekat Dariel, ia memegang pahanya dan menggulingkan tubuhnya di atas rumput.
"Ah....sakit," teriak Alice sambil memegang pahanya. Dariel terkejut ada gadis yang tiba-tiba terjatuh di depannya.
"Mbak kenapa Mbak?" tanya Dariel.
"Kak, pahaku sepertinya keram. Ah sakit..." ringis Alice, ia pun akting menangis dan guling-guling di atas rumput.
__ADS_1
Bersambung
Saya ucapkan terima kasih yang sudah memberi like dan komen.