Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan

Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan
Lamaran dadakan


__ADS_3

Setelah rekaman selesai, kunci untuk memberi tahu kepada Alice bagaimana kelakuan Roby. Mobil Andin keluar dari kantor Roby dan berjalan menuju rumah Rohaya.


"Lun, kapan kamu akan memberitahu Alice tentang jati diri kamu yang sebenarnya?" tanya Andin.


"Belum waktunya Andin, aku masih belum berhasil meretas kantor Roby agar perusahaannya kolaps. Jika aku memberitahu Alice sekarang maka nanti Roby akan tahu aku sebenarnya dan aku nggak bisa diam-diam meretas perusahaannya. Perusahaan Roby bergerak di bidang IT jadi aku juga harus hati-hati, main bersih," ucap Luna. Andin menganggukan kepalanya, ia paham akan maksud Luna.


"Andin, bisa ke rumah sakit dulu nggak. Aku ada jadwal check up hari ini," pinta Luna.


"Oke, aku antar kamu untuk check up terlebih dahulu." Andin memutar arah, ia mengambil jalan untuk menuju rumah sakit.


Andin memarkirkan mobilnya, dan menemani Luna untuk daftar pasien. Luna dan Andin menunggu di kursi tunggu. Tak lama nama Luna di panggil.


"Din, kamu mau ikut masuk atau nggak?" tanya Luna.


"Aku tunggu di sini aja," jawab Andin.


Luna masuk ke ruangan dokter Jimmy, dokter Jimmy tersenyum ketika melihat Luna untuk check up.


"Bagaimana Mbak Angel kondisinya? Masih merasakan sakit atau pusing di kepalanya?" tanya dokter Jimmy.


"Pusing masih sih Dok kadang-kadang, tapi pusingnya nggak terlalu sakit banget seperti di awal," jawab Luna.


"Saya periksa dulu yah," ucap dokter Jimmy.


Dokter Jimmy mulai memeriksa Luna, ia juga memeriksa respon syaraf Luna.


"Hasilnya bagus Mbak Angel, Alhamdulilah dari operasi sebulan yang lalu. Nggak ada gangguan syaraf karena letak syaraf itu ada di otak." Jimmy menjelaskan akan kondisi Luna.


"Terima kasih Dok, sudah bersedia mengoperasi saya," ucap Luna dengan senyuman. Luna mulai pamit kepada dokter Jimmy.


"Mbak Angel tunggu," panggilan Jimmy memberhentikan langkah Angel.


"Iya Dok, ada yang mau dijepaskan lagi dengan saya?" tanya Luna.


"Bukan penjelasan, tapi sebuah pernyataan. Suster bisa keluar sebentar?" Jimmy menyuruh suster pendampingnya untuk keluar dari ruangan. Luna mengerutkan keningnya.


"Maaf jika saya lancang, Mbak Angel sudah punya calon suami?" tanya Jimmy to the point.


Luna tercengang mendengar pertanyaan dokter Jimmy. Untuk apa Jimmy menanyai kepribadiannya.


"Memangnya kenapa Dok?" tanya Luna.


"Jika belum ada, boleh aku masuk untuk menjadi calon suami Mbak Angel?" tanya Jimmy dengan tatapan serius.


"Jangan bercanda Dok, Dokter baru kenal saya 1 bulan. Kita berbicara juga ketika saya Check up oleh Dokter. Nggak mungkin ada cinta dalam sesingkat itu," ucap Luna.


"Kalau cinta itu datang pada pandangan pertama bagaimana? Tidak bisakah itu menjadi tolak ukur takaran perasaan saya kepada kamu?" tanya Jimmy.


"Dokter tidak tahu saya, wajah saya ini adalah pahatan operasi plastik Dok, bukan asli ciptaan Tuhan," ucap Luna.


"Saya akui memang awalnya dari wajah kamu, tapi saya tapik rasa itu. Rasa yang besar timbul ketika aku mendengar kisah kamu dari Mbak Andin," ucap Jimmy.


Luna terdiam, ia tidak tahu apa yang akan ia katakan. Baginya dokter Jimmy orang asing, ia hanya menganggap Jimmy seorang dokter.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu jawab sekarang, tapi ingat satu hal jika kamu menerima aku, aku nggak mau tunagan tapi langsung menikahimu," ucap Jimmy.


Perasaan Luna menjadi kalut, ia tidak menjawab apapun.


Ded ded


Handphone Luna bergetar.


"Save yah itu nomor pribadi saya," ucap Jimmy kembali.


Luna langsung membuka handle pintu, ia melihat Andin yang sedang memainkan handphonenya. Luna berjalan mendekati Andin.


"Sudah selesai Lun?" tanya Andin. Luna hanya menganggukan kepalanya. Dan mengikuti Andin dari belakang. Luna tak banyak bicara sampai ia naik mobil.


Andin merasakan perubahan Luna sejak keluar dari ruang dokter.


"Lun, kata dokter kamu nggak ada apa-apakan? Nggak ada efek dari operasi 1 bulan yang lalu?" tanya Andin.


"Ada Din," jawab Luna.


Andin mengerem mendadak.


"Aduh Andin kenapa rem mendadak sih," protes Luna.


"Apa kata dokter, jangan bilang hidup kamu tinggal..." Andin menggantungkan kalimatnya.


Luna membuang nafas secara kasar.


"Dokter Jimmy melamar aku Din, jika aku setuju langsung nikah, dia nggak mau tunangan," ucap Luna.


"Jangan meledek Din, aku nggak pernah mikirin dokter Jimmy tapi tiba-tiba di lamar. Kirain aku dia sudah punya istri," ucap Luna.


Andin menjalankan mobilnya kembali, ia berjalan dengan kecepatan rata-rata.


"Memang tampang dokter Jimmy tua? Kan muda, tampan lagi," ucap Andin.


"Lalu aku harus jawab apa?" tanya Luna. Andin berpikir sejenak lalu dia mengeluarkan pendapatnya.


"Bagaimanapun juga kamu pernah gagal, so kamu harus hati-hati. Aku akan bantu kamu untuk mengetahui siapa dokter Jimmy itu, latar belakang keluarganya, pokoknya informasi semuanya tentang dokter Jimmy." Andin tak akan membiarkan sahabatnya masuk lubang yang sama. Kegagalan yang pertama menjadi sebuah pelajaran tapi jangan sampai kegagalan di ulang kembali.


"Terima kasih Din, kamu memang sahabat yang terbaik di dunia ini." Luna memeluk Andin dengan erat.


"Lun, lepasin Lun. Aku lagi nyetir," protes Andin.


Mobil Andin terus berjalan membelah kota Jakarta, mereka sampai dan langsung masuk ke rumah Rohaya. Mereka di sambut sangat baik oleh Rohaya. Andin mengadakan meeting oleh teamnya untuk fashion show bulan depan. Luna menjelaskan kepada semuanya tentang tema apa yang akan mereka buat. Andin akan langsung design di kantor. Mereka semua paham dengan temanya, mereka menunggu Andin untuk membuat designya. Setelah itu barulah mereka membuat pola dress sesuai dari design Andin, selanjutnya barulah di jahit.


"Bu, tolong sebarkan foto ini. Jangan biarkan 2 orang ini masuk ke kampung design. Mereka ini menguntit Bu." Andin memberikan foto Roby dan Rafif kepada Rohaya. Rohaya langsung menyebar ke group RT dari group RT akan ke sebar ke seluruh warga kampung design.


"Semoga fashion show kedua kita lebih sukses." Mereka menyatukan tangan mereka dan berteriak membentuk sebuah yeal.


"Bismillah...kampung design. Yes," teriak yeal mereka.


Andin lega sudah meeting bersama teamnya.

__ADS_1


"Din, laper nih. Kepengen bakso deh, seger nih panas-panas makan bakso," ucap Luna.


"Sebentar lagi Mang Jajang keliling, Ntar juga lewat depan Neng," ucap Rohaya.


Benar saja, tak lama tukang bakso kampung lewat.


"Bakso...Bakso...gurih...enak...kenyang," teriak Jajang.


Andin memanggilnya dan membeli bakso untuk para teamnya juga. Inilah sifat Andin yang disenangi oleh team nya karena mereka puas. Puas dengan perut mereka dan juga uang yang diberikan Andin.


Ded Ded


Handphone Luna bergetar, ada pesan singkat yang masuk. Luna langsung membacanya.


"Aku serius sama kamu. Aku akan tunggu jawabanmu. Jangan lupa makan, jaga kesehatan. I love you my Angel," isi pesan singkat dari dokter Jimmy.


"Uhuk...uhuk..." Luna terbatuk, ia tersedak ketika menghirup kuah bakso. Andin langsung memberi air untuk Luna.


"Segitu terkejutnya dapat pesan dari dokter, sampai batuk," ledek Andin. Luna langsung menatap Andin dengan tajam, Andin malah cengar-cengir.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar (Tamat)




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan


__ADS_1



Love dari author sekebon karet ❤💞


__ADS_2