Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan

Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan
Kecerdasan Luna


__ADS_3

"Aku Luna," ucap Luna.


"Aku Alice," ucap Alice.


Andin merasa persahabatan mereka sudah lengkap tapi situasi telah berbeda.


"Aku kembali ke ruanganku yah," ucap Alice.


"Terima kasih banyak yah, selama aku pergi kamu yang handle semua. Kamu sahabat aku yang terbaik." Andin memeluk Alice.


"Aku ' kan tangan kanan kamu di sini, sudah menjadi kewajiban aku menstabilkan pabrik ini." Alice kembali ke ruangannya.


Luna menarik nafas sangat dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia sangat gugup ketika bertemu dengan Alice.


Karena banyak orderan yang masuk, Luna mengatur secara apik. Ia memilah customer menengah dan juga kalangan atas. Andin tidak memegang sosial medianya lagi. Kini Luna lah yang memegang kembali, bagi customer yang benar-benar gaunnya di design oleh Andin maka wajib mengirimi email. Untuk model-model yang sudah jadi, Luna memasangnya di Instagram dengan status ready. Kini Andin hanya menunggu laporan dari Luna, Luna yang mencatat detail semua pesanan dari para customers.


"Lun, memang kamu sahabatku yang paling cerdas. Tadinya aku pusing mengatur ini semua. Sekarang tersusun sangat rapih." Andin memuji kinerja Luna.


"Cerdas apaan Din, aku di bodoh-bodohin habis oleh laki-laki yang aku cintai," ucap Luna. Andin hanya menepuk pundak Luna agar ia sabar menghadapi itu semua.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Andin dan Luna salat dzuhur terlebih dahulu, setelah itu mereka makan siang di luar. Andin dan Luna keluar, seperti biasa Andin selalu menyapa para karyawannya.


"Itu Ibu Andin? 1 bulan nggak masuk berubah banget, cantik," desas desus para karyawan membicarakan tentang Andin.


"Tadi kata Pak Jaka yang berbicara dengan Bu Andin, katanya Bu Andin kepikiran cari bahan baku untuk buat bikin kain agar kwalitasnya bagus, jadi jika di jual bisa dengan harga tinggi lalu gaji kita akan dinaikan," ucap Ria karyawan bidang pengepakan.


"Bu Andin memang beda banget dengan Pak Rafif. Pak Rafif mah boro-boro mikirin kita, uang lembur aja kadang nggak di kasih sama dia," ucap Bia karyawan bidang pewarnaan.


"Iya pasti lain, yang punya pabrik ini ternyata Bu Andin bukan Pak Rafif," ucap Ria.


Andin berjalan menuju mobil sport merahnya, bersama dengan Luna. Andin dan Luna tidak kembali lagi ke pabrik, mereka setelah makan siang akan mengunjungi kantor design.


"Mau makan apa Lun?" tanya Andin.


"Andin, berhenti sebentar di depan." Andin melihat apa yang di tunjuk Luna. Ternyata Andin melewati pasar kembang, Luna ingin membeli bunga melati. Bunga yang ia sangat sukai. Andin memarkirkan mobilnya, ia hanya menunggu di dalam mobil. Andin melihat Luna dari dalam mobil, terlihat Luna sedang berbicara dengan seseorang. Luna kembali masuk ke dalam mobil, wajahnya pucat pasi.


"Kamu sakit Lun? Kepalamu terasa nyeri? Wajahmu pucat sekali," belum Luna menjawab, jendela kaca mobil Andin di ketuk. Ia melihat yang mengetuk adalah Alice, Andin menurunkan jendela kaca mobilnya.


"Alice, kamu di sini?" tanya Andin.


"Aku bersama tunanganku, dia memberhentikan mobilnya di sini dan menyuruhku untuk memilih bunga yang aku suka. Andin, makan bersama yuk. Kata Luna kalian sedang mencari makan siang, mumpung aku bersama tunanganku agar aku bisa memperkenalkan kamu," pinta Alice. Andin menatap Luna, ia meminta persetujuan Luna. Luna menganggukan kepalanya.


"Oke deh, tunangan kamu mana? Nggak kelihatan?" tanya Andin.


"Sedang membayar bunga, oke makasih Din. Mobilku tepat di depan kamu, nanti ikuti mobilku yah. Aku tahu restoran yang bagus," ucap Alice. Andin setuju dan menutup kembali jendela mobilnya.

__ADS_1


"Kamu lihat Roby di dalam Lin?" tanya Andin.


"Iya, aku melihatnya. Mereka sangat mesrah." Luna menangis, setelah ia menahan ketika ia bertatap mata dengan Roby.


"Kamu yakin kita makan siang bareng, jika kamu nggak kuat. Aku bisa batalkan," ucap Andin.


"Tidak Din, lanjut saja," ucap Luna. Andin menyeka air mata Luna. Ia membuat Luna tenang terlebih dahulu.


"Kepala kamu terasa sakit nggak?" Andin harus memastikan bahwa Luna baik-baik saja.


"Aku sudah minum obat Din, sesuai petunjuk dokter." Alice dan Roby keluar dari toko bunga, mereka bergandengan tangan sangat erat. Andin memperhatikan wajah Roby, sepertinya ia pernah bertemu dengan Roby tapi Andin lupa bertemu di mana. Alice memberikan kode agar mobil Andin mengikuti mobil Alice.


Andin menjalankan mobilnya, ia mengikuti mobil Alice dari belakang. Masuk ke sebuah restoran, Andin memarkirkan mobilnya.


"Siap yah Luna," ucap Andin. Luna menganggukan kepalanya. Andin memakai kaca mata hitam begitu juga dengan Luna. Paras Luna yang seperti artis korea menjadi pusat perhatian, di sampingnya Andin yang sangat elegan dan cantik. Tubuh yang ramping mereka berjalan bak seperti berlenggang lenggok di atas panggung. Alice mengangkat tangannya, Andin dan Luna langsung duduk di meja yang sudah Alice pesan.


"Mas, perkenalkan ini Andin. Sahabat aku ketika SMA. Dia sekarang designer yang sedang naik daun. Dan yang di samping Andin adalah Luna, tadi di toko bunga kita sempat berpapasan. Luna adalah tangan kanan Andin sebagai designer," ucap Alice memperkenalkan Andin dan Luna.


"Andin, senang berkenalan dengan..." Andin pura-pura tidak kenal.


"Nama saya Roby," ucap Roby. Mereka bersalaman, Roby menatap Andin tanpa berkedip. Andin buru-buru melepaskan tangannya.


"Ini Luna asisten kepercayaan saya." Luna dan Roby saling bersalaman dan Luna bersikap biasa saja.


"Andin, Luna, mau makan apa?" tanya Alice. Andin melihat menu, dia memilih beberapa menu.


"Sayang anterin aku ke toilet," Alice menarik lengan Roby. Terlihat Alice sangat manja dengan Roby.


"Kami ke toilet sebentar yah," ucap Roby. Andin menganggukan kepalanya. Sepertinya Alice dan Roby, Luna melihat Roby lupa membawa handphonenya.


"Andin kamu bawa laptop kecil?" tanya Luna. Andin langsung mengeluarkan laptop kecilnya dan memberikan kepada Luna.


"Buat apa Lun?" tanya Andin.


"Aku mau retas handphone Roby, itu handphone nya lupa ia bawa. Tolong kamu tahan mereka di toilet Andin. Karena butuh waktu, 10 menit," pinta Luna.


"Oke, aku akan membuat mereka tidak terlalu cepat untuk tidak kembali," ucap Andin.


Andin berjalan menuju toilet, Luna mulai mengotak atik laptop Andin agar handphone Roby bisa ia retas. Apapun isi pembicaraan akan terjalin otomatis ke laptop Andin.


"Ah, nggak sia-sia aku belajar hacker di inggris." Luna tersenyum miring, ia sudah berhasil membuka pengaman handphone Roby, kini tinggal mengkoneksikan handphone Roby dengan laptop Andin.


"Luna, aku nggak bisa lagi menahan mereka lebih lama," pesan singkat Andin ke telegram Luna.


"Andin 2 menit lagi, tolong tahan mereka," balas pesan Luna.

__ADS_1


"Ayo...cepat...Ya Allah percepatan transfer nya," gumam Luna, tubuhnya sudah gelisah.


"Luna, mereka sedang berjalan menuju ke meja," pesan singkat Andin.


Ting...bunyi laptop Andin.


Done


Luna langsung memasukkan laptop Andin ke tas, lalu dia meletakkan kembali handphone Roby ke tempat semula. Tepat dengan kedatangan Alice, Roby dan Andin. Luna sudah duduk seperti biasa seperti tidak melakukan apa-apa sebelumnya.


Luna menatap Andin dan ia tersenyum lebar. Andin paham bahwa Luna berhasil meretas handphone Roby.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar (Tamat)




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan


__ADS_1



Love dari author sekebon karet ❤💞


__ADS_2