
Andin mulai mendesign, pagi dia ke kampung design. Siang ke pabrik kain, Andin menyuruh Luna untuk stay di kampung design karena Luna yang bertanggung jawab atas masuknya orderan. Walaupun Andin sedang ada proyek fashion show bulan depan, dia masih menerima orderan lewat email.
Andin dan Luna mempunyai 1 ruangan tapi mempunyai 2 meja. Andin memesan meja khusus untuk designnya.
Gambar Andin sedang design.
"Andin, ada email dari Roby. Beneran order dia. Ada catatan khusus nih buat kamu, aku bacakan. 'Hai cantik, ini deskripsi yang aku kirimkan. Kapan kita bisa bertemu lagi? Aku kangen kamu, entah sejak aku bertemu kamu di rumahmu. Wajah kamu terbayang-bayang. Aku akan putuskan Alice tapi selama aku belum putus dengan dia, kita main belakang aja,' catatan dari Roby. Sudah mulai berani dia Din," ucap Luna.
"Balas emailnya Lun. 'Ah kamu buaya darat, enak di kamu nggak enak di aku. Kamu dapat 2 perempuan, aku dan sahabatku tapi aku hanya dapat kamu,' Luna mengetik apa yang Andin ucapkan dan dia kirim.
"Kalau dia balas lagi, kamu karang aja Lun. Aku mau fokus design dulu. Kamu ladenin cowo benalu," ucap Andin.
Tok Tok
Pintu di ketuk.
"Iya silahkan masuk," teriak Andin.
KLEK
Pintu terbuka.
"Maaf Bu Luna, ada seseorang yang mengirim bunga untuk Bu Luna. Tadinya orang itu mau bertemu dengan Bu Luna langsung tapi saya larang. Sesuai apa yang dikatakan Bu Andin, jika ada tamu hari ini tolak. Jadi orang tersebut menitipkan ini untuk Bu Luna," ucap Ucup satpam di kantor design Andin. Ucup memberikan bunga itu kepada Luna.
"Dari siapa Bang Ucup bunganya?" tanya Luna.
"Saya nggak tanya namanya Bu, cowo Bu, ganteng," jawab Ucup.
"Terima kasih Bang," ucap Luna.
"Saya permisi, mari Bu Luna dan Bu Andin." Ucup meninggalkan ruang kerja Luna dan Andin.
"Waduh ada yang di pepet terus nih sama dokter tamfan," ledek Andin.
"Aku masih belum mau ada hubungan dengan lelaki manapun Din. Aku susah untuk percaya lagi dengan laki-laki," ucap Luna.
"Tapi bukan berarti kamu nggak nikah Luna, kamu berhak bahagia," ucap Andin.
__ADS_1
"Aku belum kenal dengan dokter Jimmy Din," ucap Luna.
"Sabar yah, aku baru sewa detektif untuk mencari info tentang dokter Jimmy," ucap Andin.
"Segitunya Din, kamu menyelidiki sampai sewa detektif," ucap Luna.
"Makanya aku cari tahu dia menggunakan detektif. Karena pria ini yang lamar kamu, aku nggak mau kamu dibohongi lagi, wajahnya tampan itu bonus tapi yang penting attitudenya, kamu jual mahal dulu dengan dokter Jimmy. jika dia pria baik, why not untuk terima dia," ucap Andin.
Andin sangat menjaga para sahabatnya, bagi Andin sahabat yang baik itu adalah aset. Kadang sahabat lebih perduli dari pada saudara sedarah. Ketika Andin terpuruk, Luna yang telah membantunya. Luna memang menyamar sebagai suster, kenapa sering nggak bisa menghubungi mendadak karena Luna harus menjaga kondisinya, ia harus rutin check up. Pendarahan di otaknya menyebabkan keadaan Luna tak seimbang jika berjalan atau berdiri terlalu lama. Kadang Luna menahan sakit ketika bersama dengan Luna, itu kenapa wajah Luna terkadang pucat ketika bersama dengan Andin.
Luna langsung memeluk Andin dengan erat.
"Aku bersyukur mempunyai kamu sebagai sahabatmu," ucap Luna.
Dedz Dedz
Notifikasi di laptop kecil Andin.
"Din, Roby telepon seseorang tuh." Andin langsung mengambil earphone. Ia dan Luna mendengarkan percakapan Roby.
"Eh, gua minta obat perangsang dong." Roby meminta obat perangsang kepada temannya.
Andin berbicara dengan Luna tanpa kata-kata, hanya deskripsi gerakan bibir.
"Suara Rafif," ucap Andin dengan gerakan bibirnya. Luna menggelengkan kepalanya.
"Lu mau bantu atau nggak? Gua mau pakai buat tunangan, kalau gua paksa nggak akan enak karena nanti dia nggak akan balas terjangan gua. Kalau pakai obat perangsang dia akan liar, pasti hot dapetin perawannya. Habis gua udah dapat mahkotanya, gua tinggal dia. Gua dapat kelas kakap soalnya," ucap Robby.
"Yah udah, gua kasih nanti di kantor." Rafif memberikan akses untuk Roby melancarkan rencananya.
"Din, Alice dalam bahaya," ucap Luna.
"Kita nggak tahu kemana Alice akan di bawa, jika aku mengajak Alice jalan dia akan menolak karena akan memilih jalan sama Roby." Andin masih belum tahu caranya
"Kita ke kantor Roby, aku sudah bisa retas CCTV, aku juga perlu orang untuk memasang penyadap di mobil Roby. Karena jika kita ikutin dari belakang akan ketahuan Din. Roby licik banget soalnya." Luna mengeluarkan ide nya untuk menyelamati Alice.
"Satpam rumahku, Pak Untung dulu dia polisi Lun. Polisi jujur dan karena kejujurannya dia di pecat karena nggak mau bekerja sama dengan atasannya." Andin langsung mengambil kunci mobil dan menarik tangan Luna.
"Pak Ucup saya keluar, jangan ada satu orangpun yang masuk ke ruang saya yah Pak," perintah Andin.
__ADS_1
"Beres Bu Andin." Ucup adalah preman tadinya, Andin berbicara dari hati ke hati. Ia mengatakan lebih baik bekerja untuk mendapatkan uang halal daripada memeras orang karena siapa tahu orang yang di peras kondisi keekonomiannya di bawah Ucup. Akan banyak doa dari orang yang di peras, kalau doanya Allah terkabul dan Ucup takut keluarganya akan celaka gara-gara kelakuan Ucup yang memeras seseorang. Akhirnya Ucup di angkat sebagai satpam kantor Andin dan Ucup bisa mengajak anak buahnya untuk melakukan sesuatu.
"Pak, saya butuh 4 orang yang jago pancak silatnya sekarang Pak. Pak Untung punya kenalan nggak? Saya bayar berapapun untuk hari ini," tanya Andin.
"Ada Bu, Ibu bisa tunggu 15 menit? Deket kok rumahnya, orang-orang dari kampung design," jawab Ucup.
"Oke Pak, sekalian sebuah mobil jadi mereka mengikuti saya dari belakang," ucap Andin.
Andin mengajak Luna untuk pergi ke rumah Rohaya. Andin ingin meminjam mobil Rohaya.
"Neng, mobil saya mobil tua," ucap Rohaya.
"Tapi kalau di pakai lancar kan, nggak mogok-mogok?" tanya Andin.
"Lancar sih, nggak pernah mogok," jawab Rohaya.
"Nggak apa-apa Bu, saya ingin menyelamatkan sahabat saya, yang ingin di jebak oleh pria yang mau mengambil kesuciannya." Andin menceritakan kejadian sesungguhnya dengan Rohaya.
"Neng Alice?" tanya Rohaya. Andin menganggukkan kepalanya.
"Astagfirullah, pake aje Neng mobilnye." Rohaya memberikan kunci mobil dan juga STNK.
"Bu Andin sudah siap 4 jagoan pancak silat." Ucup memperkenalkan keempat temannya, 1 kampung tahu siapa Andin, karena kampung ini menjadi bisnis rumahan. Bisnis rumahan yang lainnya menjadi hidup, perekonomian di kampung design meningkat.
"Oke, kita berangkat. Ikutin mobil saya yah para Bapak," ucap Andin.
"Baik Bu," ucap 4 jagoan pancak silat.
Andin dan Luna masuk ke dalam mobil Rohaya.
"Gila kamu Din, seperti Bos Mafia," ucap Luna.
"Hahahaha, Allah membuka untuk menyelamatkan Alice. Bismillah." Andin menjalankan mobilnya dengan membaca doa di dalam hatinya.
Bersambung
Curhat dikit yah Authoress. Niat semalam saya up novel ini tapi mendadak males gara ini.
__ADS_1
Jika nggak suka dengan novel ini lebih baik nggak usah di nilai, skip aja. Nggak usah baca. Jujur yah Authoress menulis bisa 3 jam untuk menulis 1 Bab. Reader bacanya hanya 5 menit. Di noveltoon kan gratis bacanya nggak bayar. Authoress dapat uang juga nggak banyak dari NT karena Authoress waktunya nggak full di NT, aku membagi waktu untuk 3 anak Authoress. Maaf yah aku curhat.