
"Apa? Aku jatuh cinta dengan Lurah karet itu? siapa wanita yang mau sama dia, ngoceh terus tentang kebersihan...kebersihan... Ogah amat sama dia," ucap Andin.
"Hati-hati dengan ucapan, nanti ucapan kamu jadi boomerang sendiri. Ogah-ogah tapi nanti akhirnya jatuh cinta," ejek Luna.
"Udah ah Lun, jangan ngomongin lurah karet itu, fokus sekarang sama fashion show aku, sebentar lagi desain aku akan ditampilkan di atas panggung." Andin menarik tangan Luna agar berjalan lebih cepat.
Mereka langsung ke tempat duduk asalnya, Andin wajahnya tetap cemberut ketika dia duduk di sebelah Alice.
"Habis dari toilet, kenapa itu Andin mukanya cemberut?" tanya Alice.
"Habis ketemu Lurah ganteng Alice, disapa lagi sama lurahnya," ledek Luna.
"Lurah siapa? Memangnya di mall ada Lurah?" tanya Alice bingung.
"Ada tuh baru datang yang di samping Bu Ratna duduknya, itu Lurah." Luna menunjuk.
"Ih Andin ganteng tahu, gagah terlihat pakai seragam lurah, tambah pinter aja Din cari yang bening," bisik Alice di telinga Andin.
"Ih kamu Alice berisik deh superti Luna, jangan ketularan Luna deh," ucap Andin.
MC berdiri di atas panggung memperkenalkan desain yang di design Andin, para model berlenggak-lenggok menampilkan desain Andin yang sangat cantik dan elegan. Desain ini adalah yang ditunggu-tunggu oleh penonton yang memang sudah datang. Sejak Andim memposting di instagram yang memberi pengumuman di status instagrannya akan ada fashion show karya barunya.
Para penggemar design Andin mereka bertepuk tangan, ketika satu persatu model keluar. Ketika desain Andin di tampilkan pemesanan online langsung meningkat.
Ratna menengokan kepalanya ke belakang dan tersenyum kepada Andin. Ia memberi kode kepada Luna agar membuka website di tabletnya, Luna langsung membuka karena Luna merupakan asisten Andin di kampung desain. Luna terkejut dengan angka yang melonjak, orderan meningkat. Ia menarik kerudung Andin.
"Ih apa sih Luna, narik-narik kerudung aku, kerudung aku mencong ini," protes Andin.
"Yaelah Din, cuma sedikit doang, mentang-mentang sekarang cantik. Mau diperhatiin tuh sama Pak Lurah, tinggal benerin sedikit," ucap Luna.
"Diam deh Luna ngomongin Lurah terus, kalau kamu nggak diam aku sumpel nih mulut mu pakai lemper, dari tadi ngomongin lurah, lurah terus," kesal Andin.
"Ya maaf Andin." Luna langsung memperlihatkan tabletnya, peningkatan penjualan di website Bu Ratna.
__ADS_1
"Masya Allah, ini beneran orderan ke kita. Waduh ini penjahit aku harus nambah lagi nih yang profesional, aku harus saring penjahit lagi kalau seperti ini, mereka nggak sanggup hanya bekerja 10 penjahit. Orderan sebanyak ini seluruh Indonesia," ucap Andin menatap angka penjumlahan orderan.
"Alhamdulillah bonus naik ya," ucap Luna sambil tersenyum manis.
"elum apa-apa udah nagih bonus, kamu dasar Lun, memang dari dulu hitung-hitungan terus otaknya," oceh Andin.
"Mbak Andin ke belakang panggung, sebentar lagi nama Mbak Andin dipanggil namanya," ucap asisten Ratna memanggil Andin.
"Oh iya Mbak Sasa." Andin mengikuti Sasa dari belakang, ia bersiap untuk naik ke atas panggung.
"Sekarang kita panggil sang pendesain yang sedang naik daun, pendesain ini seperti berevolusi dari berat badannya 120 kg sekarang berat badannya hanya 55 kg. Kalian pasti tak akan kenal olehnya, karena dia belum mengupload foto terbarunya. Kita panggilkan saja pendesain kita yang sedang naik daun ini. Anastasia Andina Syahla, kita kenal dengan sebutan Mbak Andin. Mari kita sambut dengan tepukan yang meriah." MC memanggil Andin.
Para penonton bertepuk tangan. Andin dibantu oleh Sasa untuk naik ke atas panggung. Ia sekarang berada di atas panggung, melambaikan tangannya kepada semua orang. Andin dipersilakan mengucapkan sepatah dua kata.
"Assalamu'alaikum, pertama-tama saya mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan bakat desain kepada saya. Terima kasih kepada bu Ratna yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bekerja sama dengannya, sehingga saya bisa menampilkan karya desain saya. Terima kasih kepada yang sudah setia dengan order desain-desain saya. I love you full buat kalian semua. Terutama saya berterima kasih kepada 2 sahabat saya Luna yang memaksa saya diet sampai langsing seperti sekarang, dia adalah inspirasi design-designku. Terima kasih kepada Alice sahabat saya juga yang selalu menemani saya, kepada Bu Rohaya kepala penjahit dan 10 penjahit profesional yang sekarang sedang duduk di depan, tanpa mereka saya bukanlah apa-apa. Saya hanya mengatakan satu hal untuk pesan para wanita. Jangan malu dengan apa yang sudah Allah berikan kepadamu, jika seseorang menghina tentang penampilanmu maka balutlah dengan busana yang cantik dan elegan, sehingga orang itu menyesal bahwa orang yang dihina selama ini adalah wanita yang menarik, order di kampung design Andin, terima kasih." Andin merasa lega sudah memberikan sambutan.
Semua bertepuk tangan, mereka sangat mengagumi Andin. Para pengagum Andin sangat terkejut melihat perubahan Andin yang sangat cantik dan mempunyai tubuh yang sangat ideal, parasnya semakin cantik dibalut dengan busana muslim dan juga jilbab yang senada dengan baju muslimnya.
Selesai Andin memberikan sambutan. Bu Ratna langsung memberikan bunga kepada Andin, di atas panggung mereka berfoto bersama. Bu Ratna juga memanggil Lurah agar bisa berfoto bersama. Luna dan Alice saling berpandangan, mereka tak lama mau menyia-nyiakan momen ini, mereka berdiri dan mengambil Android mereka masing-masing untuk mengabadikan moment Andin dan Pak Lurah berfoto bersama. Andin wajahnya sudah sangat masam ketika dua sahabatnya itu sangat antusias untuk memfoto dia dengan Pak Lurah.
Irsyad menatap Andin, tak sengaja Andin pun sedang melirik ke arah Irsyad. Pandangan mereka saling beradu, tapi Andin menatap Irsyad dengan tatapan yang malas. Andin langsung memalingkan wajahnya ketika ia bertatapan dengan Irsyad. selesai berfoto bersama. Andin langsung turun dari panggung. Ia tidak mau lama-lama satu panggung dengan Irsyad. Andin berpamitan dengan Ratna karena acara sudah selesai. Ia memeluk Ratna.
"Bu saya duluan yah," ucap Andin.
"Nanti aku list orderannya yah," ucap Ratna. Andin menganggukan kepalanya.
Luna, Alice dan Andin berjalan bertiga menuju parkiran.
"Andin, aku langsung pulang. Tadi aku menelepon Ayah agar pak Raka sopir ayah jemput aku. Katanya sudah di parkiran," ucap Alice.
"Yah sudah aku dan Luna langsung pulang jadinya, terima kasih Alice." Andin dan Luna memeluk Alice.
"Besok aku ke rumahmu Din, mau ngobrol sama Luna. Ih aku gemes lihat wajah Luna sekarang. Seperti artis korea banget, bening," ucap Alice.
__ADS_1
"Topeng, bukan wajah asli." Luna cemberut di puji Alice.
"Udah ah jangan cemberut, aku duluan." Alice mencium pipi Luna dan Andin.
"Biasa Alice cium pipi, geli aku," gerutu Andin.
"Kalau di cium Pak lurah geli nggak?" Luna selalu berbicara tentang Lurah. Andin merangkul leher Luna.
"Jangan sebut-sebut lurah karet lagi," protes Andin.
"Hahaha maaf...maaf," ucap Luna sambil tertawa. Mereka berjalan ke parkiran, sesampainya di parkiran mereka di kagetkan.
"Luna," seseorang memanggil Luna. Luna menoleh melihat seseorang yang memanggil namanya.
"Dokter Jimmy, dari mana dia tahu aku di sini," ucap Luna lirih.
"Lun, sepertinya dr Jimmy mau jalan sama kamu deh, bawa bunga mawar lagi. Romantisnya," ucap Andin.
"Mbak Andin, boleh pinjam Luna? Saya mau ajak Luna kencan," ucap Jimmy.
"Boleh banget Dok, tapi jagain sahabat saya yah. Awas sampai lecet," ucap Andin.
"Saya jagain seperti barang antik yang selalu di jaga. Saya akan jaga Luna, karena dia sudah mencuri hati saya," ucap Jimmy.
"Din aku pulang sama kamu aja ah," rengek Luna.
"Penjajakan dulu, jika kamu nggak nyaman langsung telepon aku. Aku akan jemput kamu," ucap Andin.
Luna akhirnya mau dengan ajakan Jimmy. Ia masuk ke mobil Jimmy. Luna melambaikan tangannya ketika mobil mulai berjalan. Sepeninggal Luna, Andin ingin langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Hai sayang, kamu tambah cantik aja sih." Andin terkejut karena Rafif datang tiba-tiba. Rafif mencengkram tangan Andin.
"Raf, lepasin aku," teriak Andin.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu sayang." Rafif mendekati tubuhnya dan memaksa untuk mencium Andin.
Bersambung