Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan

Di Campakkan Suami Setelah Melahirkan
Akting Sukses Alice


__ADS_3

"Ya Allah sakit." Alice menutup wajahnya, ia berpura-pura meringis kesakitan.


"Kaki kamu jangan di tekuk, coba luruskan." Dariel membantu kaki Alice untuk meluruskannya.


"Ah masih sakit," ucap Alice.


"Kamu jangan tegang, releks," ucap Dariel.


Dariel menunggu Alice 10 menit, sampai Alice tidak meringis kesakitan.


"Sudah nggak sakit?" tanya Dariel.


"Iya Kak." Alice duduk.


"Ini minumlah, masih baru segelnya belum terbuka." Dariel memberikan botol air mineral kepada Alice. Alice pun meminumnya.


"Terima kasih telah menolong aku. Namaku Alice." Alice mengulurkan tangannya, Dariel melihat tangan Alice yang di ukuran lalu ia meraih tangan Alice.


"Dariel," ucap Dariel.


Alice berdiri secara perlahan.


"Aku pamit, sekali lagi aku sangat berterima kasih Kak Dariel," ucap Alice.


"Sama-sama," ucap Dariel.


Alice berjalan dengan pura-pura kakinya masih sakit, jadi terlihat pincang. Dariel menatap punggung Alice, ia merasa kasihan dan berlari menghampiri Alice.


"Mbak Alice, boleh saya membantu. Sepertinya Mbak masih terasa sakit yah kakinya. Mungkin masih kaku bekas keram tadi," tawar Dariel ingin membantu.


"Apakah tidak merepotkan Kak Dariel?" tanya Alice.


"Tidak, aku sudah selesai berolah raga," jawab Dariel.


"Maaf boleh aku memapah kamu?" tanya Dariel meminta izin karena akan menyentuh Alice.


"Caranya bagaimana? Aku lebih pendek dari Kak Dariel," ucap Alice.


"Aku akan memegang pundakmu dan kamu memegang pinggangku," ucap Dariel.


'Eh dia sentuh aku dong, nggak! Aku akan menolaknya,' ucap batin Alice.


"Maaf Kak, biar aku jalan sendiri aja. Aku mengucapkan sangat berterima kasih sudah membantu aku. Mobil aku dekat kok, mari Kak. Aku permisi dulu." Alice menolak secara halus, lalu ia tersenyum manis kepada Dariel.


Alice berjalan sambil akting kaki pincang sampai dia masuk ke dalam mobil. Sampai di dalam mobil ia bisa bernafas lega.


"Misi pertama untuk kenalan selesai, sukses. Tinggal pertemuan berikutnya, kata Luna kaku orangnya. Apaan gampang di dekatin gitu," ucap monolog Alice.


Kring Kring


Handphone Alice berdering.


"Assalamu'alaikum Bu Andin, ada apa?" tanya Alice.


"Waalaikumsalam Neng Alice, sudah jam berapa ini? Aku butuh kamu untuk rekap barang yang keluar dan masuk. Mau pukul berapa kamu datang ke pabrik?" tanya Andin di ujung telepon. Alice melihat jam tangannya.


"Astagfirullah pukul 8. 30, aku langsung ke pabrik. Din ada baju ganti buat aku nggak? Barang kali di mobilmu ada baju ganti," ucap Alice.


"Aku bawa, nanti aku siapkan," ucap Andin.


"Oke, aku langsung meluncur ke pabrik. Assalamu'alaikum," ucap Alice.


"Wa'alaikumsalam." Andin menutup telepon.


Alice langsung pergi ke pabrik kain, ia menjalankan mobilnya meninggalkan taman itu. Tidak mengira Dariel terus memperhatikan Alice sampai mobil Alice sudah pergi dari penglihatannya.


Alice langsung memarkirkan mobilnya di pabrik kain. Dan ia langsung menelepon Andin untuk ke parkiran. Andin bergegas untuk ke parkiran dan masuk ke dalam mobil Alice.

__ADS_1


"Cantik banget Alice ke pabrik pakai baju seperti ini," ucap Andin.


"Jangan meledek deh, aku baru misi pertama kenalan sama Dariel. Mana baju kamu Din? Aku pinjam baju kamu dulu," pinta Alice.


"Kok meledek sih, beneran cantik. Rambut di ikat seperti waktu SMA. Wajah kamu tampak lebih muda, lihat nih bajunya juga. Hmmm top banget sama wajah, selaras," ucap Andin tersenyum.


"Bilang aja terlalu seksi kan? Ih...makanya aku mau ganti baju, nggak mungkin juga aku berpakaian seperti ini masuk ke pabrik," ucap Alice.


"Sebentar aku ambilkan di dalam mobil aku." Andin turun dari mobil Alice dan mengambil bajunya di dalam mobil, kemudian kembali lagi ke mobil Alice.


"Ini baju baru design aku, sebenarnya untuk bertemu dengan Irsyad. Buat kamu aja deh." Andin menyerahkan dress nya. Alice mengerutkan dahinya.


"Nggak ada yang lain Din, ini seperti pakai gamis aku," protes Alice.


"Yah elah Alice, ketahuan aku sudah pakai jilbab. Dress aku semua seperti ini lah. Lagi pula design ini nggak pakai jilbab juga kamu cocok. Udah pakai, dari pada pakai yang ini ayo mau pilih yang mana?" tanya Andin. Dengan terpaksa Alice pun mau memakainya.


Alice pindah ke bangku belakang, dan mengganti bajunya dengan dress Andin.


"Jangan tengok ke belakang, aku malu," pinta Alice.


"Iya, cepat ganti," ucap Andin.


Alice pun mengganti pakaiannya dengan dress Andin. Agak setengah hati dia menggunakan dress yang diberikan oleh Andin.


"Sudah," ucap Alice. Andin membolehkan kepalanya dan menatap Alice, Andin langsung tersenyum.


"Subhanallah cantik," ucap Andin. Andin pindah ke belakang dan memberikan make up tambahan. Andin juga memberikan asesoris di rambut Alice.


"Sempurna, ayo turun. Asisten pribadi Andin harus tampil cantik," ucap Andin sambil menarik tangan Alice.


Alice memasuki pabrik, pegawai pabrik senyam senyum melihat Alice. Alice langsung bekerja untuk memasukan data selama 2 hari ini di tinggal. Ia mulai menusukkannya ke data komputer dan menghitung laba yang dihasilkan oleh pabrik kain milik Andin.


"Andin, naik hanya 15%. Aku punya ide, tapi nggak tahu kamu mau menerima ini atau nggak," ucap Alice.


"Apa ide kamu? Katakan aja," ucap Andin.


"Good idea, kalau tembus aku kasih kamu bonus," janji Andin.


"Ah enaknya jadi asisten kamu Din, kalau telat datang nggak di marahin. Pasaran laku keras dapat bonus," ucap Alice. Andin menimpuk Alice pakai permen.


"Enak aja, bonus nggak bakalan kamu dapat jika kamu nggak kerja keras," ucap Andin.


Pukul 2 siang pekerjaan Alice telah selesai. Khusus untuk Alice, jika pekerjaannya sudah selesai ia bisa pulang, kecuali ada meeting dan jika Andin berhalangan untuk ke pabrik kain maka Alice harus bekerja sesuai jam pulang kerja yaitu sampai pukul 5 sore.


Kring Kring


Handphone Alice berbunyi. Alice langsung mengangkat telepon.


"Hallo, ada apa Dek?" tanya Alice di ujung telepon.


"Teh mobil aku mogok, aku sudah panggil montir sih. Tolong jemput aku dong Teh Alice," rengek adik Alice, Tasya di ujung telepon.


"Aduh, kamu pakai taksi aja pulangnya. Teteh males ah jemput kamu," ucap Alice.


"Ah Teteh please dari pabrik kain Kak Andin nggak jauh juga," ucap Tasya.


"Ih...maksa deh kamu Dek, yah udah Teteh jemput kamu, terpaksa hari ini buat jemput kamu," ucap Alice ketus.


"Terima kasih Teteh aku yang cantik." Tasya menutup telepon.


"Andin, aku permisi dulu yah. Tasya minta aku jemput dia, mobilnya mogok. Aya-saya wae tuh anak, di suruh naik taksi nggak mau," ucap Alice kesal.


"Bersyukur punya adik, aku anak tunggal nggak enak. Nggak ada yang di ajak berantem," ucap Andin.


"Yah sudah, aku permisi dulu Din. Terima kasih dress nya." Alice mencium pipi Andin kanan dan kiri.


Alice langsung menuju kampus Tasya, perjalanan membutuhkan waktu 45 menit. Ia memarkirkan mobilnya di dalam kampus dan menghubungi Tasya bahwa ia sudah berada di parkiran kampusnya.

__ADS_1


Tok Tok


Tasya mengetuk jendela mobil Alice. Alice membuka jendela mobil.


"Lama banget kamu Dek, Teteh sampai haus ini," protes Alice.


"Teteh mau beli jus, aku traktir di kantin mau?" tanya Tanya.


"Bolehlah." Alice keluar dari dalam mobil karena cuaca sangat panas dia memakai kaca mata. Terlihat seperti wanita karir yang cantik dan elegan.


"Pakai baju siapa Teh Alice?" tanya Tasya.


"Dikasih Andin, design nya dia," jawab Alice.


"Pantas, Teteh tambah cantik yang design dress itu Kak Andin. Mintain juga dong Teh buat aku," ucap Tasya.


"Enak aja, nabung beli sendiri," ucap Alice.


"Pelit ih Teteh, nanti aku minta langsung sama Kak Andin," ucap Tasya.


Alice dan Tasya berjalan bersama, semua tertuju kepada Alice karena Alice sangat berbeda dari biasanya. Kini mereka ada di dalam kantin, Tasya memesan jus alpukat.


"Sebentar Teh, aku pesan dulu," ucap Tasya.


"Sekalian siomai Dek, laper Teteh," ucap Alice.


"Dih, di traktir minta yang lain juga," ucap Tasya. Alice hanya tersenyum.


Alice menunggu Tasya yang sedang memesan jus dan siomai. Ia memainkan handphonenya.


"Mbak Alice yah?" tiba-tiba ada yang menyapa Alice. Alice menoleh dan terkejut.


"Kak Dariel?" ucap Alice.


Bersambung.


Saya ucapkan terima kasih yang sudah membaca bab ini. Double terima kasih yang sudah memberikan like dan komen.


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar (Tamat)




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)




Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤💞


__ADS_2