
Roby memegang perutnya, darah sudah keluar sangat banyak. Body guard membawa ke markas, mereka tidak berani ke rumah sakit karena pihak rumah sakit akan curiga dan polisi akan mencium keberadaan mereka.
"Ah..." teriak Roby ketika tubuhnya dipindahkan ke branker.
"Kenapa bisa tertusuk?" tanya big Bos.
"Saya nggak sengaja, niatnya mau menusuk cowo yang Bos Roby suruh pukul tapi dia malah menghindar dan terkena Bos Roby akhirnya," ucap body guard yang menusuk Roby.
"Nggak becus lu kerjaannya, mau tusuk lawan tapi malah tusuk kawan. Beg* banget jadi body guard lu, bawa Roby ke dalam biar dia langsung dioperasi," perintah big Bos.
"Baik big Bos," ucap body guard.
Roby langsung ditangani oleh dokter yang sudah dicoret lisensinya. Peralatan kedokteran juga sangat minim, jadi dokter ini hanya melakukan operasi seadanya. Untungnya di markas ada alat rongent sehingga dokter bisa tahu luka Roby tidak menembus ke organ dalam. Roby tidak mendapatkan obat bius.
"Siapkan alkohol," perintah dokter.
Dokter langsung mencabut pisau yang tertancap di perut Roby. Roby menjerit rasanya seperti dikuliti. Dokter membersihkan alat medis menggunakan alkohol. Dokter itu menjahit pembuluh darah yang robek. Roby sampai menangis menahan rasa sakit dijahit tanpa pembiusan. Dokter mengoperasi Roby sangat cepat, hanya 45 menit operasi selesai dilakukan.
"Kenapa kalian untuk membawa satu perempuan saja bisa gagal, kalian ini badannya hanya gede aja tapi otaknya kosong semua. Percuma gua bayar lu pada mahal-mahal, tapi lu nggak berguna bagi gua," ucap big Bos.
"Cowok penjaganya kuat banget Bos, dia jago beladiri. Kita bisa menonjoknya karena kita menyandera ceweknya dia, tapi tenaganya sangat kuat. Masih bisa bertahan walaupun sudah babak belur. Tadi benar-benar kecelakaan bos Roby kena rusuk," ucap body guard sampai menundukkan kepalanya karena sangat takut akan di hukum big Bos.
"Kalian ini 5 kalah dengan lawan satu, bod*h!"
BUGH! BUGH! BAM!
Kelima body guard itu tersungkur karena dipukul dan ditendang oleh big Bos. Mereka tidak berani melawan, karena akan celaka jika mereka melawan.
"Maafkan kami Bos," ucap body guard.
"Kalian tahu, jika pencucian uang itu terendus sama polisi. Maka akan hancur semua," murka big Bos.
***
Dariel kini sudah ditangani oleh dokter, tangannya mendapat jahitan.
"Terima kasih yah sudah temani aku ke dokter," ucap Dariel.
"Ih apa sih Kak ngucapin terima kasih. Kakak seperti ini kan gara-gara aku juga," ucap Alice penuh sesal.
"Aku bersyukur bisa selamatkan kamu. Alhamdulilah babak belur tapi hadiahnya kan kamu terima cinta aku," ucap Dariel.
"Lumayan juga punya pacar Kak Dariel, ganteng soalnya. Jadi nggak malu jika aku pergi ke acara pernikahan teman bawa Kakak," ucap Alice.
"Apa? Aku hanya untuk dipamerkan untuk ke acara pesta? Kamu cantik-cantik jahat banget sih." Dariel mengacak rambut Alice. Alice repleks menepis tangan Dariel yang berada di atas kepadaya.
__ADS_1
"Aduh." Dariel meringis kesakitan karena tangan yang baru dijahit kena tepisan Alice.
"Ya Allah, maaf Kak. Aku nggak sengaja." Alice mengambil lengan Dariel. Dariel memperhatikan perhatian yang Alice berikan.
"Nggak apa-apa cantik," ucap Dariel.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Dariel memaksa dia yang mengendarai mobil padahal Alice sudah melarangnya.
"Biar aku aja Kak yah yang bawa mobil, aku antar Kakak pulang nanti aku minta jemput Tasya," ucap Alice.
"Masa kamu yang antar aku pulang, kebalik dong. Biar aku aja yang antar kamu pulang," ucap Dariel.
Dariel mulai menjalankan mobilnya, walau wajahnya ia rasakan sangat nyeri tapi ia kekeh untuk mengantarkan Alice pulang. Tidak ada percakapan di dalam mobil sampai mobil Dariel memasuki rumah Alice.
"Aku nggak antar kamu yah, karena jika orang tua kamu lihat wajahku seperti ini apa yang akan mereka pikirkan," ucap Dariel.
"Kakak beneran nggak apa-apa? Kuat bawa mobil sampai ke rumah?" tanya Alice untuk memastikan.
"Kuat cantik, kamu istirahat yah. Terima kasih untuk malam ini, bagiku ini malam yang indah. Aku sayang banget sama kamu." Dariel mengelus kepala Alice.
"Sampai rumah telepon aku yah, terima kasih sudah menolong aku," ucap Alice.
CUP
Alice mengecup pipi Dariel dan langsung keluar dari mobil. Ia langsung berlari untuk masuk ke rumah. Dariel memegang pipi nya, terasa mimpi Alice telah mencium pipinya, jantungnya terpacu dengan cepat walaupun Alice sudah tak terlihat.
Dariel melajukan mobilnya kembali menuju pulang. Alice baru ia tidur setelah Dariel mengabari bahwa ia sudah tiba di rumah.
"Dariel, loh kamu wajahnya babak belur seperti itu. Astaga, kamu kenapa seperti ini sih?" tanya mama sangat khawatir.
"Aku bersyukur Mah babak belur seperti ini," ucap Dariel.
"Aneh kamu, tangan di perban. Bibir robek, dahi di plester, wajah biru-biru malah bersyukur. Jangan macam-macam kamu ah, Mamah sudah kehilangan Sabira. Mamah nggak mau kehilangan anak Mamah yang satu ini," ucap mamah marah.
"Aku tolongin Alice Mah, Mamah tahu? Alice menerima cintaku Mah. Aku senang banget, dia menerima cinta aku. Terima kasih Mah atas doanya, Dariel janji akan segera menikah dengan Alice, doakan agar ia mau menikah dengan aku Mah. Aku cinta banget sama dia, aku sayang sama dia," ucap Dariel sangat gembira.
"Selamat Nak." Mamah langsung memeluk Dariel dengan erat.
"Aku istirahat dulu yah Mah, tubuhku sakit-sakit soalnya," izin Dariel.
"Yah sudah kamu istirahat sana, sudah ke dokter kan." Dariel memperlihatkan bungkusan yang berisi obat.
Malam ini adalah malam yang indah untuk Alice dan juga Dariel. Mereka sudah sama-sama mengungkapkan rasa cintanya. Dariel mengungkapkan cintanya dengan kata-kata dan Alice memperlihatkan rasa cintanya dengan gestur tubuh dan juga perhatiannya ketika Dariel meringis kesakitan.
Pagi mulai menyingsing, di kediaman Andin. Angel sudah terbangun, tangannya masih sakit jika digerakkan. Di pagi hari Angel sudah mendapatkan buket bunga dan juga paper bag yang berisi makanan kesukaannya.
__ADS_1
"Dari dokter Jimmy, ia hanya memberikan ini sama aku untuk kamu." Andin memberikan paper bag tersebut. Angel menerima, ia menghela nafas ketika menerima pemberian dari Jimmy.
"Apakah aku bisa menerimanya lagi Andin? Hatiku terasa berat," ucap Angel.
"Maksud berat hati kamu itu, apakah kamu tidak menyukai dokter Jimmy lagi?" tanya Andin.
Angel terdiam sejenak dan berbicara, "aku sayang sama dia Din, tapi jika kuingat sikap kasarnya aku berat menerimanya lagi."
"Yah sudah, gini aja. Kamu istikhoroh minta petunjuk sama Allah. Apa yang hatimu pilih apakah lebih berat menerima dokter Jimmy atau menerima dokter Jimmy kembali," nasihat Andin.
"Terima kasih Din, aku nggak tahu jika nggak ada kamu," ucap Angel.
"Aku sahabatmu Angel, hari ini aku dan Mas Riki akan ke tempat Irsyad," ucap Andin.
"Apa? Mau apa kamu Din ketemu dia lagi?" Angel syok ketika Andin bicara seperti itu karena ia takut jika nanti Andin terluka.
Bersambung
Jangan lupa komen-komen dan jempol kalian, aku lemes hari ini.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1