
"Riki tolong share ke rumah Andin." Mami Riki mengirim pesan singkat ke nomor Riki.
Smartphone Riki berdering, ia langsung melihat dan membalas pesan mami dengan men-sharelog rumah Andin. Satu jam kemudian mereka sampai di rumah Andin. Mami dan juga Kakak Riki sangat terkejut dengan rumah Andin yang sangat terasa nyaman, unik dengan desain yang sangat cantik, halaman di luar luasnya tidak terlalu besar, tetapi ketika masuk rumah Andin sangat besar dan juga di belakangnya ada sebuah taman dan gazebo untuk beristirahat.
"Mas tolong sampaikan permintaan maafku pada mami, Bahu aku sangat sakit jadi aku tidak bisa menemui Mami. Maaf jika terlihat aku tidak sopan dengan Mami dan Kak Intan," ucap Andin.
"Iya sayang Mami pun akan mengerti, begitu juga dengan Kak Intan. Aku temenin Mami dulu ya dan mengajak Mami untuk masuk ke dalam kamar, aku izin sama kamu ya sayang," izin Riki.
"Jangan minta izin Mas, rumahku juga rumahmu, bilang sama Mami jangan malu-malu di rumah ini. Untuk makan malam nanti pesan online aja, tanya Mami dan Kak Intan mau makan apa," ucap Andin.
"Ya sudah, aku keluar dulu ya sayang." Riki membelai pipi Andin dengan lembut.
Angel terlihat sudah membaur dengan Mami dan kakak Riki. Ia memang mudah akrab ketika bertemu dengan seseorang, lebih lagi yang datang adalah mami mertua dan kakak ipar Andin.
"Luna terima kasih sudah menemani Mami dan Kakak aku," ucap Riki.
"Iya Rik, sama-sama. Yah sudah langsung antarkan Mami dan Kakakmu untuk ke kamarnya agar bisa istirahat," ucap Luna.
Riki dan Andin sudah sepakat jika di depan orang lain dia memanggil Angel dengan menyebut Luna.
"Andin masih sakit?" tanya mami.
"Bahu atasnya lagi sangat terasa sakit Mi, dia mohon maaf tidak bisa menemui Mami, bukan ia tidak sopan dan tidak ingin menemui Mami karena dia memang merasakan sangat sakit. Aku tahu rasanya karena retak bahunya itu semakin parah Mi. Dia juga susah untuk mendesain padahal fashion show nya sebentar lagi, kemungkinan akan diundur jadwal fashion show desain Andin yang terbaru," ucap Riki.
"Kesehatan harus lebih diutamakan daripada bisnis. Bisnis boleh tapi kesehatan lebih mahal dari bisnis," ucap mami.
"Rik, Kakak boleh melihat istrimu sebentar aja?" izin Intan.
"Boleh banget Kak, Andin tadi sudah tidur dia sedang istirahat aja sekarang karena sedang terasa nyeri bahunya. Aku juga sudah memberi obat untuk Andin," ucap Riki.
Intan ke kamar Andin, dia ingin berbicara empat mata dengan Andin di kamar. Andin melihat Intan yang mendekati ranjangnya. Ia mau duduk karena merasa tidak enak, jika ia hanya terus tiduran ketika kakak iparnya datang untuk melihat keadaannya.
"Eh Andin udah jangan duduk, kamu nggak usah merasa nggak enak sama Kakak. Kakak ngerti kok kamu sedang sakit," ucap Intan sambil menahan agar Andin tidak duduk.
"Maafkan aku ya Kak, aku tidak bisa menyambut Kakak dengan baik karena aku memang kondisinya seperti ini," ucap Andin menyesal.
"Iya Din, nggak apa-apa kakak menemui kamu ingin mengatakan sesuatu kepada kamu," ucap Intan.
"Mau mengatakan apa Kak?" tanya Andin.
"Umur kakak mungkin nggak lama lagi. Kakak sudah melewati penyakit ini sejak sebelum Riki masuk SMA, Kakak tahu Riki sangat kekurangan kasih sayang Mami dan Papi. Kakak hanya ingin bilang kepada kamu, tolong bahagiakan Riki dari sorotan matanya ia sangat mencintai kamu," ucap Intan.
"Kakak jangan berkata seperti itu Kak, pasti ada jalan Insya Allah Kakak akan sehat. Riki sedang merasakan bahagia bisa tinggal dengan Mami dan Kakak, jika Kakak pergi maka bagaimana dengan Riki? Kakak harus berjuang untuk sembuh, bukan untuk menjalankan pengobatan lagi," ucap Andin.
__ADS_1
"Riky katanya ingin mendonorkan sumsum tulang belakangnya tapi setelah kamu sehat, itu pun jika sumsum tulang belakang Riki cocok untuk aku, jika tidak cocok maka harapan aku sudah tidak ada," ucap Intan yang sudah pasrah.
"Aku akan bicara dengan Riki, jangan menunggu aku untuk sehat. Kakak jangan berpikir terlalu jauh untuk meninggalkan kami, aku baru kenal dengan kakak, aku pun baru merasakan mempunyai seorang Kakak karena aku adalah anak tunggal. Aku mohon Kak, jangan putus asa terlebih dahulu." Andin memegang tangan Intan dengan tangan kanannya.
"Ya Allah Ricky bersyukur banget mempunyai istri seperti kamu, Terima kasih sudah menyemangati Kakak, Kakak akan tetap berharap kepada Allah untuk kesembuhan Kakak ini. Terima kasih juga sudah menjadi adik ipar Kakak, ternyata adik ipar Kakak ini bukan hanya CEO, juga sudah sebagai bintang iklan ya." Intan membelai rambut Andin.
***
Alice bersiap untuk bertemu dengan Dariel, ia sedikit berdandan karena ini kedua kali akan ke rumah Dariel dan bertemu dengan mamanya. Sesuai dengan permintaan Dariel bahwa ia akan masak di rumah Dariel.
Alice masuk ke dalam mobilnya, ia membawa mobilnya sendiri menuju ke rumah Dariel. Perjalanan selama 1 jam 15 menit Alice tiba di rumah Dariel.
Ting Tong
Alice menekan tombol bel, tak lama keluarlah Dariel untuk membuka pintunya.
"Assalamualaikum," ucap Alice.
"Wa'alaikumsalam, masuk sayang mama sudah menunggu di dalam," ucap Dariel mengajak Alice masuk ke dalam rumahnya.
Alice langsung mencium punggung tangan mama Dariel.
"Assalamu'alaikum tante," sapa Alice dengan sangat ramah.
"Mah jangan Mamah yang masak dengan Alice, biar aku aja Mah," pinta Dariel.
"Bilang aja kamu mau berduaan dengan Alice kan, pakai mau masak. Nggak bisa masak juga kamu," ucap mama Dariel
"Kangen Mah sama Alice, ngerti dong Mah. Alice kan baru menerima cinta aku semalam," ucap Dariel. Alice sangat malu, wajahnya sudah merah merona karena Dariel terang-terangan mengakui Alice sebagai kekasihnya.
"Ya sudah sana, kalian masak tadi Dariel melarang Tante untuk masak, katanya kamu yang akan masak untuk sarapan pagi ini. Belum jadi istri sudah nyuruh-nyuruh aja kamu Dariel," protes mamah.
"Alice akan segera menjadi istriku Mah, doakan saja agar ia mau menerima lamaran aku," ucap Dariel. Alice langsung menatap Dariel ketika ia mendengar ucapan Dariel.
Dariel langsung mengajak Alice ke dapur, di sana sudah ada sayur-sayuran, ikan dan juga ayam.
"Ih Kak, kita baru jadian Kak, masa Kakak mau langsung lamar aku sih," protes Alice.
"Memang kamu tidak mau menikah dengan aku? Aku sudah cukup umur sayang, aku nggak mau lama-lama. Walaupun aku belum lama mengenal kamu, baru hitungan mingguan tapi rasanya aku sudah merasa yakin bahwa kamu akan menjadi pendamping hidupku yang terbaik," ucap Dariel.
"Sudah ah Kak jangan ngelantur ngomongnya. Ayo kita masak kasihan juga Tante belum sarapan gara-gara Kakak nggak bolehin Tante masak," ucap Alice mengalihkan pembicaraan.
Alice memotong-motong sayuran, lalu Dariel membersihkan sisik ikan. Mereka bekerja sama seperti suami istri yang sedang memasak. Alice mencoba memotong ayam yang masih utuh.
__ADS_1
"Duh Kak kenapa nggak minta dipotong-potong sih Kak," protes Alice.
"Takut salah sayang, semua ini aku yang belanja. Kamu bisa potong-potongkan?" tanya Dariel. Alice menganggukan kepalanya bertanda ia bisa melakukannya.
Alice melihat di rongga ayam yang belum terpotong ada sesuatu, lalu Alice mencoba untuk memasukan tangannya. Isi dari ayam yang isian sebenarnya itu sudah tidak ada. Alice sangat terkejut ketika dia mendapatkan sebuah cincin di dalam ayam yang masih utuh.
"Ini cincin siapa Kak? masa beli ayam dapat cincin emas? Jeroan ayam sekarang cincin emas yah?" tanya Alice merasa aneh sambil memegang cincin yang ia temukan
"Cincin untuk kamu sayang apa yang aku katakan tadi, itu tidak main-main. Aku serius dengan kamu, aku sudah yakin denganmu. Will you marry me?" tanya Dariel yang sudah memegang tangan Alice.
Bersambung
Up ke dua hari ini....Makasih yang sudah komen di bab sebelumnya. Pokoknya kalian the best.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1