
Andin dan Luna bersikap biasa, mereka makan menu yang sudah mereka pesan.
"Luna, kamu lulusan mana?" tanya Alice.
"Aku lulusan Inggris, dapat beasiswa di sana lepas SMA." Luna menjawab dengan jujur.
"Ih kamu seperti sahabat aku, dia cantik, pintar, kuliah di Inggris karena dapat beasiswa. Namanya Angel, aku rindu sama dia. Sayangnya aku lost contact sama Angel," ucap Alice.
"Uhuk...uhuk..." Roby terbatuk ketika mendengar nama Angel di sebut.
"Duh sayang, makannya hati-hati dong." Alice mengelus punggung Roby dan memberi ia air mineral. Di bawah meja tangan Luna sudah mengepal, Andin menyentuh tangan Luna dan menepuk-nepuk dengan perlahan.
"Terima kasih sayang," ucap Roby kepada Alice. Alice hanya membalasnya dengan senyuman.
"Aku juga kangen sama Angel, sejak lulus SMA nggak pernah bertemu secara langsung paling VC aja, bagaimana yah wajahnya sekarang?" ucap Andin. Luna melirik Andin.
"Yah pastinya sahabat kita itu cantik, di antara kita bertiga Angel yang paling cantik. Apalagi waktu SMA pernah jadi model majalah," ucap Alice memuji Angel.
"Kayanya aku harus bertemu Angel nih, jadi penasaran," ucap Luna tiba-tiba.
Roby menjadi salah tingkah karena 3 perempuan yang di satu meja dengannya sedang membicarakan tentang Angel.
"Roby, kamu kerja di bidang apa?" tanya Andin basa basi.
"Aku bekerja di bidang IT," jawab Roby.
"Andin, tunangan aku ini CEO loh. Dia beli perusahaan yang bangkrut lalu ia ubah perusahan IT," ucap Alice membanggakan Roby.
"Wah hebat yah," ucap Andin sambil tersenyum ke arah Roby.
Mereka makan dengan tanpa suara hanya dentingan sendok dan piring yang beradu. Setelah makan selesai, Andin bergegas untuk pamit terlebih dahulu dengan Alice.
"Alice aku duluan yah, aku nggak balik lagi ke pabrik. Mau ke kantor design aku." Andin melihat jam tangannya seolah-olah ia sangat sibuk.
"Okay Andin," ucap Alice.
Andin melambaikan tangannya memanggil pelayan untuk membayar.
"Berapa Mbak semuanya?" tanya Andin.
"600 rb Bu, biar aku aja yang bayar. Anggap aku yang traktir." Andin membayar dengan kartunya.
"Terima kasih Andin," ucap Alice.
"Roby kami duluan yah." Andin dan Luna bersalaman dengan Roby.
Andin dan Luna meninggalkan Alice dan Roby. Mereka masuk ke dalam mobil.
"Kamu berhasil meretas handphone Roby?" tanya Andin.
__ADS_1
"Aku berhasil Andin, setiap ada notifikasi handphone Roby maka laptopmu akan ada notifikasi juga," ucap Luna.
"Aku baru tahu kamu bisa meretas," ucap Andin berdecak kagum.
"Sudah yuk jalan." Luna menyenderkan kepalanya di jok mobil dan ia memejamkan matanya.
"Kenapa Luna? Kamu sakit?" tanya Andin.
"Kepalaku sakit Andin, mungkin ini kayak tadi aku meretas handphone Roby itu agak tegang, jadi kepalaku sekarang terasa sakit." Luna masih menutup matanya ketika berbicara dengan Andin.
"Kamu mau ketemu dokter? Agar di periksa. Aku takut kamu kenapa-kenapa, karena kamu baru operasi sebulan yang lalu." Andin sangat mengkhawatirkan keadaan Luna.
"Nggak apa-apa Andin. Aku butuh istirahat saja, aku bawa obat kok jika aku sakit, aku akan meminum obat yang diberikan dokter," jawab Luna.
"Atau kita mau pulang aja agar kamu istirahat." Andin tidak mau memaksakan Luna karena ia takut kepala Luna akan sangat terasa sakit.
"Nggak usah Andin, kita lanjut aja ke kantor desain kamu. Aku tidur ya nanti jika sudah sampai bangunkan aku," pinta Luna.
Andin menjalankan mobilnya menuju kantor design nya. Karena sudah diliput oleh media kantor desain Andin yang berada di kampung membuat customer datang langsung ke kantor Andin. Tapi untuk memesan design Andin harus melalui Email. Luna yang akan memeriksa email yang masuk. Kampung tempat kantor design Andin sampai berganti nama menjadi kampung design Andin.
Andin sudah tiba di kampung desain, dia tidak membangunkan Luna. Andin memilih menunggu Luna untuk bangun. Perjalanan dari restoran ke kampung desain menempuh waktu 1 jam. Rohaya tahu itu mobil Andin, dia menghampiri Andin. Andin menyuruh Rohaya agar tidak berisik. Andin memberi kode dengan meletakkan telunjuk di bibirnya. IA tidak mau mengganggu tidurnya Luna.
"Bu Rohaya, nanti aku masuk. Aku tunggu Luna untuk bangun dari tidurnya," ucap Andin dengan berbisik. Bu Rohaya menganggukan kepalanya lalu ia masuk ke dalam rumah kembali.
Luna membuka matanya, dia melihat Andin sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Rohaya.
"Aku nggak mau ganggu istirahat kamu, agar kepala kamu tidak sakit. Kamu minum obat lah dulu sebelum kita kemari 'kan kita sudah makan." Luna langsung mengambil obatnya dari dalam tas dan ia langsung minum obat dari dokter.
"Berapa lama kamu menunggu aku untuk bangun tidur?" tanya Luna.
"Sekitar 30 menit nggak lama kok. Ayo kita masuk. Bu Rohaya sudah menunggu kita." Luna dan Andin membuka pintu mobil dan berjalan untuk menuju rumah Rohaya. Walaupun sudah ada kantor desain, tapi rumah Rohaya merupakan pusat dari rancangan Andin karena ketika Andin berhasil merancang suatu gaun, dia akan berdiskusi dengan Bu Rohaya.
"Neng Luna sudah lama nggak kemari, alhamdulillah ibu senang melihat Neng Luna sudah sehat kembali. Kemarin Neng Andin sempat cerita bahwa Neng Luna sempat kritis. Ibu doain Neng Luna agar sehat," ucap Rohaya sambil memeluk tubuh Luna.
"Terima kasih banyak Bu, sudah mendoakan aku. Aku juga sangat bersyukur Allah telah memberi kesempatan aku untuk hidup," ucap Luna.
Andin, Luna, dan Rohaya, mereka membicarakan tentang rencana sistem pemesanan desain Andin. Andin mengatur cara order tidak bisa langsung datang ke tempat kantor, para customers harus melewati email. Rohaya sangat setuju dengan hal itu, terlihat lebih eksklusif agar tidak banyak antrian di kampung design. Setelah diskusi selesai mereka pun pulang ke rumah. Andin dan Luna masuk ke dalam mobil tiba-tiba laptop Andin berbunyi.
"Buka Andin laptopnya, itu Roby sepertinya mau melakukan komunikasi dengan seseorang.
"Notif telepon Luna," ucap Andin. Luna memberikan earphone-nya satu dipasang ke telinga Andin dan satu dipasang ke telinga Luna. Luna memberitahu Andin agar menutup jendela mobilnya karena jika Andin berbicara ketika mereka mendengar percakapan Roby maka suaranya pun akan masuk.
"Hai Bro, lu belum berhasil mengambil anak lu?" tanya Roby di balik telepon.
"Ketat Bro, penjagaannya gua nggak bisa masuk," jawab laki-laki teman Roby.
"Bro, gua ketemu mangsa baru nih. Cantik tadi gue ketemu dua perempuan yang satu itu blasteran Korea Indonesia cantik banget, tapi dia masih asisten Bro, yang satunya lagi dia berhijab, elegan, cantik juga, dia yang punya dua usaha yaitu pabrik dan juga desain," ucap Roby.
"Pepet terus Bro, sampai dapat. Lagi pula tunangan lu yang sekarang itu nggak berguna, kekayaannya itu milik orang tuanya, punya adik 2 lagi. Jadi lu harus gaet perempuan yang mempunyai harta sendiri Bro," ucap teman Roby.
__ADS_1
"Gua belum dapat keperawanannya Bro, habis gua dapat. Gua akan tinggalin dia dan deketin sahabatnya," ucap Roby.
Andi dan Luna saling bertatapan ketika mendengar percakapan antara Roby dan temannya.
Mereka menunggu percakapan mereka berakhir, setelah itu baru Luna dan Andin berkomunikasi.
"Roby sudah mengincar kamu Din, kamu harus memasang taktik dan jagain Alice. Aku nggak kebayang jika kesuciannya di ambil lalu di tinggal," ucap Luna.
"Apapun yang terjadi, aku akan jaga Alice. Tenang Lun, aku adalah seorang janda. Aku sudah pernah merasakan menikah dan dibohongi oleh laki-laki yang hanya mengambil hartaku saja, kali ini aku tidak akan lengah," ucap Andin.
"Roby laki-laki yang Ber*ngsek." Luna sangat geram.
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
Love dari author sekebon karet ❤💞
__ADS_1