
Andin menangis di dalam kamar, melihat ada anak yang mengaku bahwa dia adalah putra suaminya. Andin mengusap air matanya, ia tidak perduli dengan Riki yang terus -terusan mengetuk pintu kamar.
Andin mengambil teleponnya dan langsung menelepon Untung, satpam komplek sekaligus salah satu anak buah kepercayaan Andin.
"Assalamu'alaikum Pak, saya ingin minta bantuan sama Bapak," ucap Andin di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam Bu Andin, bantuan apa?" tanya Untung.
"Bapak tahu wanita yang ke rumah saya kan, dia bawa anak laki-laki sekitar 4 tahun. Masih berada di komplek nggak Pak? Jika masih ada tolong ikuti dia," pinta Andin.
"Baru masuk ke dalam mobil hitam Bu, ada yang jemput. Saya masih bisa mengejarnya," ucap Untung.
"Iya Pak, tolong kejar, ikuti dan jangan sampai ketahuan. Ambil foto atau video mengenai dia," ucap Andin.
"Baik Bu, laksanakan," ucap Untung di ujung telepon. Telepon pun berakhir.
Andin tidak mau keluar kamar walaupun dia tahu wanita itu sudah pergi. Andin berpikir ketika ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Logikanya Mas Riki sudah menunggu dan mencari aku selama 9 tahun. Aku juga sudah menyelidiki kebenaran setiap ucapan yang ia katakan, detective yang aku sewa mengatakan bahwa Mas Riki tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Detective itu menanyai teman ketika masa kuliahnya. Bahkan Mas Riki di biling penyuka sesama jenis dengan teman-temannya. Ada yang aneh," ucap monolog Andin.
Sejak Andin mengalami pemerkosaan oleh Rafif, perselingkuhan Rafif menyebabkan Andin tidak percaya dengan mudah seseorang yang datang kepadanya. Bahkan Andin menyewa detective untuk menyelidiki Jimmy ketika Jimmy menyatakan cinta kepada Angel. Dia menjaga dirinya dan orang-orang yang ia sayangi dengan kekayaan yang ia miliki sekarang. Terlihat diam tapi sebenarnya Andin terus bergerak.
Andin menunggu kabar dari Untung yang akan melaporkan apapun yang ia lihat.
"Mas, sorry yah aku cuekin kamu. Aku percaya sama kamu, karena aku tahu karakter kamu sejak sekolah dulu. Nggak apa-apa yah buat kamu gelisah sebentar," ucap monolog Andin.
Andin malah tertidur di kamarnya, dia terbangun 1 jam kemudian ketika handphonenya bergetar. Andin melihat video yang dikirim oleh Untung.
"Astagfirullah, suruhan Papi Riki. Dia mau menghancurkan rumah tangga aku dan Riki. Segitu bencinya sama aku." Andin menghela nafasnya.
__ADS_1
Ia langsung menelepon Alice, sahabatnya yang masih bisa ia minta bantuan. Karena Angel sedang merawat Jimmy, tidak mungkin untuk menghubungi sekarang.
"Alice, ke rumah aku sekarang. GPL oke!" Isi pesan singkat Andin di kirim ke nomor Alice.
"Bu Bos, kirim pesan mendadak suru GPL lagi. Kalau aku lagi di pup bagaimana masa harus di tunda. Sahabat macam apa kamu," pesan singkat balasan Alice.
"Ya Allah sensi banget si Bu, nih kalau sensi ngebet kawin nih. Sabar Bu sebentar lagi jadi nyonya Dariel," ledek Andin.
"Aku OTW ke rumah kamu, sama calon suamiku. Gagal fitting baju pengantin demi sahabatku tersayang," ucap Alice.
"Hehehe manisnya sahabatku, oke aku tunggu." Andin mengakhiri berbalas pesan singkatnya.
30 menit kemudian mobil Dariel sampai di depan rumah Andin. Andin langsung membuka pintu kamarnya.
"Sayang, kamu percaya kan sama aku. Itu bukan anakku, aku tidak pernah dekat dengan wanita. Kamu percaya kan sama aku," ucap Riki. Riki langsung memeluk Andin dengan erat ketika Andin membuka pintu kamarnya. Ternyata Riki menunggu Andin di depan pintu.
"Maaf Mas, aku perlu bukti jika itu bukan anakmu. Maaf aku harus pergi, aku izin pergi untuk menenangkan diri dengan Alice," ucap Andin. Andin melepas pelukan Riki.
"Jika kamu ikut bagaimana aku bisa menenangkan diri?" tanya Andin.
Andin melangkahkan kakinya kembali, ada rasa tidak tega dengan Riki yang wajahnya sangat frustasi.
'Maaf Mas, biar aku yang menyelesaikan ini. Aku yang menjadi sumber kebencian papimu maka aku yang akan menemui papimu,' ucap batin Andin.
Andin masuk ke dalam mobil Dariel. Di dalam mobil ia menceritakan semuanya kepada Alice. Andin menginstruksikan kepada anak buahnya untuk menjaga dirinya, karena Andin saat ini sedang menuju ke perusahaan papi Riki.
"Din, tetap waspada. Kita harus hati-hati orang yang tidak kita duga bisa seseorang yang mengincar kita selama ini," ucap Alice.
"Iya Alice, itu pasti. Aku nggak akan biarkan bahu kiriku terluka lebih parah lagi," ucap Andin.
__ADS_1
Andin di temani Alice turun dari mobil. 5 anak buah Andin juga turun dan mendampingi Andin, kali ini Andin menunjukkan siapa dirinya.
Andin langsung masuk dengan mudah karena satpam perusahaan Papi Riki sudah dijatuhkan oleh anak buah Andin. Ia langsung bertemu dengan Papi Andin dan berbicara 4 mata.
"Berani kamu menginjak kaki di perusahaan ini!" teriak papi Riki.
"Aku masih menghormati Papi sebagai ayah mertuaku. Aku datang ke sini karena Papi yang memancing aku, Papi sudah menyentuh keluarga aku. Aku lebih tahu Riki daripada Papi. Memakai cara murahan untuk mengirim wanita yang mengaku hamil anaknya Riki dahulu," ucap Andin langsung kepada intinya.
"Apa maksud kamu hah, kamu itu menuduhku? Dasar janda!" teriak Papi.
"Aku berbicara dengan bukti." Andin mengirimi video yang Untung kirimkan ke nomor Papi. Andin mengetahui nomor Papi Riki, karena sebelumnya ia membuka hp Riki yang berada di dalam kamar.
"Aku tidak mau melawan Papi karena bagiku Papi adalah orang tuaku juga. Tapi jika Papi tidak mau berdamai untuk menerima aku sebagai istri Riki, maka aku siap melawan Papi dan 1 lagi Pih, aku bukan janda lagi tapi statusku sudah menjadi seorang istri. Istri Riki ini bukan sembarangan wanita, bahkan aku bisa menggerogoti bisnis Papi. Bukankah pohon yang daunnya lebat akan habis jika ulat kecil memakan setiap daun pohon itu? Aku bisa menjadi ulat yang mengerikan bagi Papi, permisi." Andin meninggalkan kediaman papi Riki dan langsung masuk ke dalam mobil Dariel.
"Salut aku sama kamu Din, keren banget. Andin yang kecerdasannya di bawah Angel dan aku waktu sekolah, sekarang sudah di atasnya," puji Alice.
"Hahaha Andin bermetafosis." Andin tertawa sambil merangkul sang sahabat.
"Andin, aku sudah berhasil membobol pertahanan sarang mafia. Bisa kita ke kampung design sekarang?" tanya Dariel.
"Kok Kakak nggak kasih tahu aku kalau sudah berhasil?" Protes Alice.
"Kan bosnya sahabat kamu, kalau kamu bos keluarga kita nanti," ucap Dariel.
"Duh manisnya calon suamiku," ucap Alice.
Mobil Dariel melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Andin bertanya di dalam hatinya, siapa sebenarnya bos mafia yang menyuruh Rafif dan Roby yang telah mengincar dia dan kedua sahabatnya. Bagaimana benang merahnya?
Bersambung
__ADS_1
Aku buat novel nggak muter-muter, justru ini konflik di bab sebelumnya menjadi kuncinya.