
Angel teringat akan sepupu yang terdekat dengan dia. Tere merupakan sepupu yang selalu lengket dengan Angel ketika Angel berada di Inggris dia lah yang selalu memberi kabar tentang keluarganya di Indonesia. Kini sudah tak ada, sudah hampir 2 tahun Tere meninggal wajah Tere masih sangat jelas diingatan Angel Iya berjanji kepada dirinya akan membalaskan dendam untuk Tere. Angel menghapus air matanya.
Angel keluar dari kamar karena perasaannya saat ini sungguh tidak baik. Lalu ia pergi ke belakang yaitu ke taman Andin, biasanya di sana dia akan menyendiri untuk menenangkan perasaannya.
Ketika Angel sedang menyendiri, tiba-tiba handphonenya berdering. Ia melihat siapa yang menelepon. Ternyata yang menelepon adalah Jimmy, Ia ragu untuk mengangkat telepon dari Jimmy karena dia sudah memberi kesempatan kepada Jimmy, akhirnya Angel mengangkat telepon itu.
"Halo assalamu'alaikum," ucap Angel di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam, kamu ada di rumah Andin? Tadi aku ke rumah orang tua Andin, tapi katanya kalian sudah pindah ke rumah Andin," tanya Jimmy.
"Iya aku sekarang berada di rumah Andin," jawab Luna.
"Kamu hanya bertiga dengan Andin dan Riki?" tanya Jimmy kembali.
"Kamu lupa bahwa Andin sudah memiliki putri? tentu putrinya juga diajak oleh Andin dan juga ada pengasuh Natasha, serta ada mami mertua dan kakak ipar Andin tinggal di sini," jawab Luna.
"Oh berarti rame ya di rumah Andin, syukurlah," ucap Jimmy.
"Memangnya kenapa? Kamu pikir aku tinggal di rumah Andin hanya bertiga dan Riki yang satu-satunya pria di rumah ini? Kamu memikirkan itu? Atau kamu memikirkan sesuatu negatif karena aku tinggal satu rumah dengan Andin dan suaminya?" tanya Luna. Ia tidak suka dengan pertanyaan Jimmy.
"Aku hanya nanya, aku nggak nggak berpikir seperti itu," ucap Jimmy.
"Nggak, kamu masih curiga dengan aku, bawa aku menghianati kamu padahal aku bukan perempuan yang seperti itu. Dan di depan kamu aku tidak pernah memuji ketampanan pria lain," Angel mengungkit tentang kesalahan Jimmy.
"Sungguh aku minta maaf kepadamu, aku memang salah. Kamu mau anggap aku adalah pria yang menebar pesona, pencemburu, itu nggak apa-apa. Tapi aku hanya menjaga cintaku kepadamu, aku benar-benar mencintaimu," ucap Jimmy terdengar sangat sedih.
"Ah sudahlah, aku tidak mau bicara lagi. Kamu tidak ada perlu lagi kan. Aku tutup ya teleponnya," ucap Angel.
"Eh tunggu dong, jangan ditutup dulu. Aku ke rumah Andin ya, boleh kan? Aku ingin bertemu denganmu," pinta Jimmy.
"Jangan sekarang deh, hati aku lagi nggak enak. Tolong mengerti aku," Angel menolak.
"Ya sudah, terima kasih sudah menerima telepon aku. I love you Angel. Aku sangat mencintaimu," ucap Jimmy.
"Iya, sampai jumpa." Angel tidak membalas ucapan cinta dari Jimmy, ia langsung menutup teleponnya.
"Jimmy, beri aku waktu untuk menata hatiku. Aku juga masih menyukaimu tapi trauma aku membuat aku takut terhadapmu," ucap monolog Angel.
"Angel, ternyata kamu di sini. Aku mencarimu di kamar," ucap Andin. Ia datang mendekati Luna dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Kok nggak istirahat, aku antar ke kamar yuk. Kamu harus banyak istirahat." Luna berdiri dan hendak mengajak Andin untuk ke kamarnya kembali.
"Bahu aku memang sakit, sangat sakit. Tapi kaki aku nggak sakit, aku bosan sejak siang sampai sore di kamar," tolak Andin.
Luna duduk kembali di sebelah Andin.
"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Andin.
"Kamu memang sahabat aku yang tahu ketika aku sedang sedih dan kepikiran sesuatu," ucap Luna.
"Umurku boleh berubah, tapi rasa kepada sahabatku itu nggak pernah berubah. Sahabat yang selalu membantuku diam-diam, walaupun dirinya sedang sakit. Sekarang giliran aku yang membantu mu. Kamu memikirkan bagaimana caranya Roby bisa tertangkap?" tanya Andin.
"Ketika aku di kamar, aku ingat dengan sepupu aku, Tere. Kamu kenal Tere 'kan, kita juga pernah hang out ketika sekolah dengan Tere. Rasanya baru kemarin aku pulang dari Inggris, kini aku nggak bisa bertemu lagi dengannya. Ketika ia meninggal pun, aku memakai Tere. Seolah-olah Tere adalah aku, menutupi dari Roby bahwa aku masih hidup," jawab Luna.
"Sepupu kamu yang cantiknya sama dengan kamu, ceria. Kita yang masih hidup hanya bisa mendoakannya saja," ucap Andin.
"Aku belum bisa membalas dendam Tere Din, Roby masih berkeliaran. Aku harap dia semalam mati kena tusuk pisau anak buahnya," ucap Luna.
"Roby ketusuk?" tanya Andin.
Luna menceritakan semua apa yang Alice katakan.
Luna menghela nafasnya, Jimmy benar-benar berusaha untuk membuat hatinya menerimanya kembali. Luna menundukkan kepalanya, tetesan air mata membasahi pipinya.
"Jangan menahan rasa yang ada di hati kamu Lun, kamu sudah mencintai Jimmy kan. Bukan menyukainya lagi," tebak Andin.
"Aku perlu waktu Andin, untuk menata hatiku lagi," ucap Luna.
"Apapun keputusan mu, aku akan mendukungmu. Aku akan menjadi garda terdepanmu," ucap Andin.
***
Malam sudah menjelang, setiap orang masuk ke kamar masing-masing. Natasha sudah tertidur, sebelumnya bersama dengan Andin. Andin memeluk Natasha sampai tertidur setelah itu Mbak Ayu menemani Natasha di kamarnya. Andin dan Riki kini sedang berduaan.
"Bahu kamu jangan digerakkan dulu yah sayang. Agar tahap penyembuhannya cepat." Riki membelai rambut Andin.
"Iya dokterku yang tampan, oh iya Mas aku ingin bicara dengan Mas. Kamu jangan tunggu aku sembuh untuk mendonorkan sumsum tulang belakangmu untuk Kak Intan. Secepatnya sayang cek sumsum kamu, jangan tunggu aku sehat." Andin berbicara dengan menatap mata Riki sambil mengelus wajah Riki.
"Kalau cocok dan aku operasi lalu siapa yang jaga kamu sayang?" tanya Riki.
__ADS_1
"Astagfirullah, jadi kamu berpikir seperti itu? Aku akan minta bantuan Luna. Kamu jangan memikirkan itu sayang, kasian Kak Intan sayang. Dia pasti sangat kesakitan, demi aku tolong cek sumsum tulang belakang kamu. Aku juga nggak mau kehilangan Kak Intan, aku bersyukur menikah denganmu. Aku langsung mempunyai kakak perempuan." Andin merayu Riki dengan mencium suaminya. Mana mungkin Riki menolak permintaan Andin jika rayuannya sesuatu hal yang sudah menjadi candunya.
"Ah kamu sayang, bikin aku nggak bisa berkata nggak. Baik besok aku dan Kak Intan akan cek apakah sumsum tulang belakang aku cocok atau nggak. Lagi dong kissingnya," pinta Riki.
"Dengan senang hati dokter tampanku." Mereka mempererat cinta mereka dengan kissing panas mereka, walaupun Riki tidak mengajak Andin untuk ke puncak nirwana karena kondisi Andin yang tidak memungkinkan.
Bersambung
Maaf yah telat up date.
Komen dan likenya jangan lupa.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1