
Pagi mulai menyingsing, Andin segera untuk membersihkan tubuhnya. Ia pun ingin menyiapkan sarapan untuk keluarganya dan juga Luna. Ia bergegas untuk ke dapur, ternyata Luna pun sudah ada di dapur. Luna sedang memotong-motong sayur-sayuran.
"Luna kamu di dapur? Kirain aku kamu masih tidur," ucap Andin mengagetkan Luna.
"Aku pusing tidur terus," jawab Luna.
"Oh iya aku lupa, kamu lagi latihan ya agar nanti jika sudah menjadi istri dokter Jimmy kamu bisa masak makanan untuk dokter Jimmy, iya 'kan," ucap Andin.
"Ngomong apa sih kamu Andin? Walaupun aku menikah dengan dokter Jimmy, aku membuat perjanjian hitam di atas putih," ucap Luna.
"Apa? Kamu membuat perjanjian? Gila! Kamu belum menikah udah membuat perjanjian," Andin terkejut.
"Ya aku nggak mau aja seperti kamu, hartanya diambil sama suami kamu dulu," ledek Luna.
"Nyindir aku nih..." ucap Andin.
"Tapi aku perjanjiannya itu bukan mengenai harta, tapi ia tidak boleh menyentuh aku, sebelum aku jatuh cinta kepadanya," ucap Luna dengan santai.
"Perjanjian apa itu? Mana bisa seorang laki-laki menahan hasratnya, apalagi jika sudah halal baginya," ucap Andin.
"Ya aku nggak tahu, pokoknya hitam di atas putih. Mungkin nanti aku akan memberi saksi-sanksi jika melanggar perjanjian itu," ide baru Luna muncul.
"Jika kamu yang melanggarnya, bagaimana? Tiba-tiba kamu menyentuh dokter Jimmy, secara dia tampan, badan kekar," ucap Andin.
"Jangan ngaco kamu Andin, mana mungkin aku menyosor duluan?" ucap Luna tudak terima.
"Mungkin aja hal itu bisa terjadi," ucap Andin sambil mengangkat bahunya.
"Udah ah, lebih baik kamu membantu aku masak." Luna ingin mengakhiri topik paska nikah dengan Jimmy.
Mereka memasak berdua, Natasha sedang dimandikan oleh baby sitter nya, di rumah Andin tidak ada jarak antara mereka karena Andin yang belum menikah, maka baby sitternya makan di meja makan yang sama dengan Andin. Andin tidak pernah membeda-bedakan antara teman dan juga pengasuh anaknya. Jika ia berbelanja, Andin tidak lupa untuk membelikan baby Sitter Natasha.
Tok Tok Tok
"Assalamu'alaikum." Seseorang mengucapkan salam. Mereka yang sedang sarapan langsung memberhentikan makannya.
"Biar Bu, saya aja yang membuka pintunya," ucap baby sitter Natasha.
"Kamu makan aja, biar saya yang membukakan pintu. Kamu kan lagi suapin Natasha," ucap Andin.
__ADS_1
Andin memberhentikan makannya dan ia melangkah kakinya untuk membuka pintu. Andin terkejut ketika membuka pintu ternyata Irsyad sudah datang ke rumahnya. Andin melihat jam tangan di lengannya.
"Loh vukannya kamu mau jemput aku pukul 09.00. Ini baru pukul 07.00 pagi," ucap Andin. Ia heran karena Irsyad datangnya sangat pagi.
"Aku tadi ada urusan pukul 06.00 jadi karena sekalian lewat makanya aku langsung aja deh ke sini, daripada aku bolak-balik pulang lebih baik biar aku menunggu di rumah kamu sampai pukul 09.00. Setelah itu baru kita berangkat, " ucap Irsyad.
"Kamu belum sarapan kan, kebetulan aku dan yang lainnya sedang sarapan. Masuk aja yuk, gabung dengan aku," Ajak Andin. Irsyad tidak menolak ajakan Andin, ia langsung memasuk. Andin langsung menuju meja makan, Luna berdehem kepada Andin untuk meledek Andin.
"Maaf ya lauknya seadanya, karena ini ala-ala chef Luna sama chef Andin," ucap Andin Irsyad termangu ketika melihat anak balita yang sangat lucu yang wajahnya mirip Andin.
"Dia putrimu?" tanya Irsyad.
"Iya dia putriku, umurnya baru satu setengah tahun," jawab Andin.
"Mirip kamu ya wajahnya, sama-sama cantik Irsyad tanpa sadar memuji Andin. Luna yang mendengar pujian dari Irsyad untuk Andin dia sampai batuk ketika dia mengunyah makanannya.
"Ayo silakan makan, semoga kamu suka dengan makanannya," ucap Andin.
Irsyad mengambil nasi, dan memakana apa yang ada di meja makan. Sesekali Andin melirik ketika Irsyad makan. Mereka makan tak bersuara, hanya ada celotehan Natasha saja. Andin sesekali juga membersihkan mulut Natasha yang belepotan dengan makanannya. Itu tidak terlewatkan dari pandangan Irsyad. Irsyad beberapa kali mencuri pandangannya.
Andin ingin membersihkan peralatan makanan yang kotor, tapi Luna yang mengambil alih.
Andinpun langsung menggendong Natasha dan baby sitter di suruh untuk membantu Luna. Andin melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan duduk berhadapan dengan Irsyad. Natasha di bangku di paha Andin.
"Terima kasih yah atas sarapannya. Aku jadi nggak enak langsung ke rumah kamu. Maaf yah Andin," ucap Irsyad.
"Nggak apa-apa, lagi pula aku dan Luna tadi masak kebanyakan. ' Kan jadinya habis, alhamdulilah jadi nggak kebayang," ucap Andin.
Natasha ingin di gendong dia menangis, Andin langsung berdiri dan menggendong Natasha.
"Boleh aku gendong putrimu?" tanya Irsyad.
"Hah, memang kamu bisa?" tanya Andin.
"Bisa, aku biasa momong anaknya Kak Ratna," jawab Irsyad.
Irsyad menggendong Natasha, terlihat bahwa Natasha senang ketika digendong oleh Irsyad.
"Kamu kenapa mau jadi lurah?" tanya Andin.
__ADS_1
"Entahlah, aku suka dengan pekerjaan ini, memang kenapa?" jawab Irsyad.
"Karena kan biasanya bapak-bapak yang sudah tua, perut buncit. Lain dengan kamu, single dan berwajah tampan," ucap Andin.
"Kamu menilai aku tampan?" tanya Irsyad.
Andin tak menjawab pertanyaan Irsyad, ia salah mengatakan itu. Andin mengutuk dirinya setelah ucapan itu ia katakan.
'Ini bibir nggak bisa diajak kerja sama, nggak ada filternya nih mulut. Disangkanya aku merayu dia lagi, janda gatel,' ucap batin Andin.
"Kamu juga cantik, padahal sudah pernah menikah dan mempunyai anak." Tiba -tiba suara itu terdengar.
"Aku diceraikan oleh suamiku karena aku jelek, gendut. Tubuhku menjadi seperti ini karena Luna yang membantu aku. Berat badanku tidak terkontrol setelah melahirkan. Nafsu makanku 2 kali lipat karena aku menyusui anakku di tambah lagi aku suntik KB," ucap Andin.
"Suntik KB bisa membuat gemuk pada tubuh?" tanya Irsyad.
"Iya, karena seperti hormon tubuh wanita di acak-acak di dalam, jadi para perempuan tidak hamil, jika perempuan itu berhubungan dengan suaminya. Dampa negatifnya tubuh perempuan akan mudah gemuk jika KB," ucap Andin
"Kasian yah sebenarnya jika perempuan melakukan KB, nanti jika aku punya istri aku suruh jangan KB aja kasian tubuh istriku menjadi gemuk," ucap Irsyad.
"Lalu akan hamil terus dong," ucap Andin.
"Yah kan bisa dikomunikasikan dan di tanya oleh dokter kandungan, agar perempuan yang aku nikahi kelak tidak berubah postur tubuhnya," ucap Irsyad.
Natasha tertidur dalam gendongan Irsyad. Andin mengambil alih lalu ia memasukan Natasha ke dalam box bayi. Setelah itu Andin dan Irsyad memutuskan untuk berangkat walaupun waktu baru menunjukkan pukul 8.30 pagi.
Kini Andin dan Irsyad berada di dalam 1 mobil. Tadinya Andin ingin duduk di jok belakang, tapi lagi-lagi jok belakang ada barang-barang Irsyad. Mau nggak mau dia harus duduk di jok depan sebelah Irsyad.
Irsyad mendekatkan wajahnya ke wajah Andin, bak seperti terhipnotis, Andin terpesona melihat wajah Irsyad yang makin mendekatinya.
"Ma...mau apa kamu?" tanya Andin gugup.
"Maaf, kamu belum pasang sitbelt. Kita mau jalan. Aku hanya membantu kamu memasang sitbelt." Irsyad langsung memakaikan sitbelt.
Seakan waktu berhenti keduanya saling menatap satu sama lain. Jantung Andi malah berdetak dengan cepat.
'Ya Allah kenapa dia tempan sekali di mataku,' ucap batin Andin.
Bersambung
__ADS_1