
Alice dan Luna sudah 2 hari menemani Andin, mereka belum pulang 1 hari pun. Wajah mereka sudah sangat lelah, Andin tidak tega untuk melihat kedua sahabatnya lelah.
"Alice, kamu pulang aja. Istirahat tidak perlu menungguku. Tolong titip Luna yah, untuk beberapa hari kedepan Luna tinggal sama kamu," ucap Andin.
"Nggak apa-apa Andin, kita tunggu di sini aja. Tangan kamu juga masih sakit nanti siapa yang ambilkan makanan dan minuman?" tanya Alice.
"Ada aku, kalian jangan khawatir. Aku juga ada hal yang ingin dibicarakan dengan Andin. Nggak enak juga jika ada kalian," ucap Riki.
Alice dan Luna akhirnya setuju, mereka akan pulang terlebih dahulu. Istirahat yang cukup, karena Luna harus tetap bekerja menggantikan Andin di kampung design. Ada design yang sudah Andin buat sebelum kecelakaan terjadi, Luna akan memerintahkan para penjahit untuk menjahit rancangan Andin. Alice harus menjalankan pabrik kain milik Andin, ia akan menggantikan Andin sementara.
"Rik, kami titip Andin. Awas jangan buat ia menangis," ancam Luna.
"Iya, kamu percayakan Andin sama aku. Mana mungkin aku membuatnya menangis, adanya dia yang membuat aku menangis," ucap Riki berjanji.
Luna dan Alice keluar dari ruang rawat inap Andin. Kini hanya ada Riki dan Andin di ruang rawat inap itu. Riki mengambil bangku dan diletakkan di pinggir ranjang Andin.
"Kamu mau bicarakan apa denganku?" tanya Andin.
"Aku ingin cepat menghalalkanmu," jawab Riki.
"Kamu sudah yakin ingin memperistri aku?" tanya Andin. Andin merasa ini sangat cepat, ada rasa ketakutan bahwa rasa yang Riki rasa hanya rasa sesaat karena menagih janji ketika SMA.
"Buat apa aku selalu sendiri selama 9 tahun ini? Kamu tidak percaya padaku?" tanya Riki.
"Bukan maksudku seperti itu, aku juga sayang sama kamu. Tapi ada rasa takut di hatiku, jika rasa yang kamu rasa sekarang hanya rasa sesaat," jawab Andin.
"Atas nama Allah, aku benar sayang denganmu dan aku ingin memperistri kamu. Aku nggak mau menunggu lama lagi karena aku bukan anak muda yang ingin merasa penjajahan bagaimana manisnya cinta sebelum menikah. Itu nafsu, kamuflase cinta. Aku ingin berjanji atas nama Allah mengukuhkan cintaku hanya untukmu di depan saksi kedua orang tuamu dan Mamiku." Riki menatap Andin dengan rasa cinta yang ia miliki.
"Hanya Mami kamu? Papi kamu nggak merestui kita? Pasti karena statusku yang janda. Kalau begitu undur dulu jika ingin menikahiku sampai kita mendapatkan restu darinya," ucap Andin.
Riki menatap Andin dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah sangat berjuang agar bisa menikahi Andin. Ia tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk menghalalkan Andin.
"Niat baik harus disegerakan, aku akan menikah denganmu tanpa restu Papi. Jangan sia-siakan perjuanganku, aku rela dicoret dari kartu keluarga oleh Papiku dan di usir dari rumah. Mami juga ikut denganku, ia tidak mau hidup dengan Papi yang sangat egois," ucap Riki.
Andin terkejut dengan apa yang terjadi diantara keluarga Riki sampai Riki rela keluar dari rumah dan di coret mamanya dari keluarga.
"Aku nggak mau ada suatu masalah setelah menikah, aku hanya ingin bahagia," ucap Andin.
"Aku paham itu Din, Insha Allah aku akan membuat kamu bahagia. Aku akan menjadikan kamu ratu satu-satunya di hatiku. Ibu dari Natasha dan adik-adiknya kelak," ucap Riki untuk meyakini Andin.
"Atau kamu masih belum yakin denganku?" tanya Riki.
Riki mendekati ranjang Andin, ia ingin mencium bibir Andin.
"Mau apa kamu?" tanya Andin langsung menjauhkan kepalanya dari Riki.
__ADS_1
"Aku ingin mencium bibir kamu agar kamu yakin sama aku, agar kamu sadar bahwa di dalam hatimu juga ada aku, menginginkan menjadi suamimu," jawab enteng Riki.
"Kamu sudah mengambil paksa ciuman di ruang ICU yah, jangan berbuat seperti itu lagi sebelum kita menikah. Nikahin dulu aku baru kamu bisa menyentuhku, aku bukannya janda gampangan." Andin marah kepada Riki.
"Baik aku akan menikahimu dengan segera, kapan kamu siapnya? Sekarang juga aku mau," ucap Riki.
'Ah, aku salah lagi bicara seperti itu,' ucap batin Andin.
Andin terdiam, ia terdesak dengan ucapannya sendiri. Ketika jarak dengan Riki begitu dekat dengannya, jantung Andin berpacu dengan cepat. Andin benar-benar merasakan cinta, cinta yang ia simpan rapih sejak SMA.
"Aku nggak mau nikah sirih, karena aku janda maka orang-orang harus tahu aku sudah menikah denganmu agar tidak ada fitnah," ucap Andin pada Akhirnya.
"Pasti itu sayang, bahkan aku akan mengadakan resepsi besar-besaran. Kamu jangan takut aku nggak punya uang karena namaku di coret, aku sudah menabung sejak lama untuk mempersiapkan ini. Aku sangat mencintaimu Din," ucap Riki.
"Rik, tolong kamu menjauh," pinta Andin.
"Kenapa? Kok pipimu merah seperti itu? Kamu malu yah?" tanya Riki dengan tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Menjauh, stop meledek aku atau aku akan berubah pikiran," ancam Andin.
Riki tidak mau mengambil resiko, ia langsung menjauh. Jantung Riki juga tidak normal dekat dengan Andin. Ia takut dengan dirinya sendiri, tidak bisa mengontrol nafsunya.
"Jika aku menikah, artinya aku nggak bisa bantu Angel dan Alice," ucap Andin.
Mendengar kata sampah, membuat ia teringat dengan Irsyad. Bagaimana dengan Irsyad nantinya jika Andin menikah dengan Riki. Andin berpikir untuk membicarakan ini juga kepada Riki.
"Rik, hmm...." Andin ragu membicarakan ini dengan Riki.
"Kamu mau mengatakan apa?" tanya Riki.
"Aku ingin bertemu dengan Irsyad, aku nggak mau nanti ada dendam seperti Rafif yang mempunyai dendam lama kepadaku. Boleh aku bertemu dengan Irsyad?" tanya Andin.
"Boleh, tapi setelah kamu sehat dan menjadi istri aku," jawab cepat Riki.
"Aku ingin sebelum kita nikah bertemu dengannya," pinta Andin.
"No... I disagree! Nanti kamu malah berubah pikiran jika bertemu dengan dia terlebih dahulu. Apalagi wajahnya lebih tampan dari aku." Andin menahan tertawa karena Riki membandingkan wajahnya dengan wajah Irsyad.
"Rik, kamu senyum deh." Andin meminta Riki tersenyum, padahal tidak ada kejadian lucu yang buat iya ternyum. Wajah Riki tidak tersenyum bahkan wajahnya ditekuk karena rasa kecemburuannya dengan Irsyad.
"Mas Riki sayang, aku nggak akan berpaling lagi darimu," ucap Andin.
"Kamu panggil aku apa?" tanya Riki memastikan pendengarannya.
"Mas Riki sayang," ucap Andin kembali. Riki langsung tersenyum.
__ADS_1
"Nah senyummu itu loh Mas yang bikin aku nggak bisa aku lupakan sejak SMA. Terlalu manis untuk dilupakan senyumanmu itu," ucap Andin.
"Ya Allah, aku baru kali ini hatiku seperti ada sengatan lebah mendengar ucapanmu itu. Bagiku terlalu indah kamu menjadi kenanganku. Terima kasih sudah mengisi hatiku dengan cinta," ucap Riki.
"Kalau pelukan boleh nggak?" Riki merentangkan kedua tangannya.
"Nggak boleh, aku belum halal untukmu," jawab Andin.
Dari percakapan dengan Riki. Riki menyetujui bertemu dengan Irsyad dengan Syarat harus bersama dengannya ketika pertemuan itu.
Bersambung
Terima kasih sudah membaca bab ini. Tinggalkan spam komen positif di novel ini dan tempelkan jempol kalian juga para reader.
Andin kedatangan Mami, malunya Andin di suapin jeruk dari tangan Maminya Riki.
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1