
"Din, kok diam gitu sih, Bang Jimmy nggak apa-apa 'kan?" tanya Luna.
Andin tidak menjawab, ia hanya terdiam. Wajahnya pun datar.
"Din, jangan bercanda. Katanya Abang Jimmy is okay?" tanya Luna.
Tapi Andin tetap diam, Luna hatinya tidak tenang terlebih mimpinya seperti kenyataan. Jimmy memegang nyawa di rumah sakit ini. Luna langsung turun dari ranjang dan berlari ke ruang ICU Jimmy, ia melihat kedua orang tua Jimmy berpelukan dan menangis.
Luna menggelengkan kepalanya, rasanya seperti de javu pemandangan in. Luna tidak perduli, ia langsung membuka ruang ICU Jimmy. Tapi tidak ia lihat Jimmy berada di dalamnya, dirinya semakin panik.
"Mah, Ayah, Abang mana? Kok nggak ada di kamarnya?" tanya Luna dengan suara yang gemetar.
"Ikut mama," ucap mama Jimmy.
Luna mengikuti langkah mama Jimmy dengan jantung yang berdetak kencang. Ia takut mimpinya menjadi kenyataan.
"Jangan takut, calon suamimu sudah sadar. Sekarang dipindahkan ke dalam ruang rawat inap, kamu masuklah di kamar VVIP itu." Mama Jimmy menunjuk ke arah pintu ruang rawat Jimmy.
Tanpa pikir panjang lagi, Luna berlari mendekati ruang rawat inap. Kemudian membuka ruang itu, senyumnya mengembang ketika Jimmy menatap dan tersenyum padanya ketika ia membuka pintu.
Luna berjalan menghampiri ranjang Jimmy. Ia menatap Jimmy yang tengah menatap dirinya juga.
"Sayang, kok kamu diam?" tanya Jimmy. Tangan Jimmy bergerak pelan dan ingin mengambil tangan Luna.
Tangan kanan Luna langsung meraih tangan Jimmy dan tangan kanannya mengelus kepala Jimmy.
"Jangan buat aku takut lagi Bang, jangan buat hatiku tersiksa," ucap Luna.
"Maksud kamu?" tanya Jimmy tak mengerti
"Aku nggak mau kamu pergi sebelum kamu menikahiku, jahat kamu membuat jantung aku berdebar takut kehilangan kamu. Kenapa aku harus menunggu 4 hari, baru kamu membuka mata. Kamu harus mendapat hukuman dariku," ucap Luna.
"Aku baru sadar dan senang ketika melihat kamu, aku nggak mau hukuman darimu, aku maunya hadiah darimu," ucap Jimmy.
"Yah sudah jika kamu nggak mau aku hukum, padahal hukumannya pernikahan kita diteruskan dan tanggal untuk pernikahan, aku maunya tetap ketika pas lamaran dibicarakan yaitu 2 hari lagi. Baik aku akan kasih hadiah, nanti aku belikan untukmu Bang," ucap Luna.
"Eh jangan...Jangan...Aku mau hukuman kamu itu, aku nggak mau hadiah darimu. Aku maunya hu-..., ucapan Jimmy terhenti dan bola matanya membola. Ketika Luna menempelkan sekilas bibirnya ke pipi Jimmy.
"I love you," ucap Luna setelahnya.
'Aduh Angel, bod*h banget sih kenapa mencium dia. Ihh murahan banget kamu sih Angel." Luna memejamkan matanya ia merutuki dirinya sendiri, lalu ia meninggalkan ruangan itu. Malu rasanya dengan Jimmy dengan melakukan hal memalukan seperti itu.
Jimmy hanya memegang bibirnya, ia syok dengan apa yang dilakukan Luna, Jimmy baru sadar ketika tidak melihat Luna di ruangan itu.
Andin yang baru mau masuk ke ruang Jimmy bersama Riki, berpapasan dengan Luna.
"Eh Lun, mau kemana? Bukannya jagain ayangnya kok malah keluar?" tanya Andin.
"Aku mau ke kantin Din, laper dan haus." Luna menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajah yang sudah memerah.
Ketika Luna ingin melangkah, lengan Luna ditarik dan diajak masuk lagi dengan Andin.
"Sayang, tolong bantu aku. Belikan ayam bakar dan air jeruk hangat untuk Luna di kantin, ia memang belum makan dari kemarin, baru berasa lapar mungkin setelah Jimmy sadar," pinta Andin.
"Baiklah sayang, aku belikan," ucap Riki.
__ADS_1
CUP
Andin mengecup pipi Riki.
"Terima kasih sayang," ucap Andin. Riki tersenyum menatap Andin lalu ia langsung berjalan menuju kantin. Ketika ia melihat Andin mencium Riki, ia teringat bahwa dirinya barusan mencium Jimmy. Sungguh ia malu untuk bertemu dengan Jimmy.
"Ayo Lun, masuk ah. Kemarin nangis-nangis 3 hari 3 malam, sekarang kenapa nggak mau masuk? Cepat ah masuk." Andin terus memaksa Luna untuk masuk ke ruang rawat Jimmy.
Dengan terpaksa Luna masuk kembali ke dalam ruangan Jimmy, ia tidak berani untuk menatap mata Jimmy. Andin terus menarik tangan Luna dan di dudukan di samping ranjang Jimmy. Wajah Luna hanya tertunduk malu.
'Tambah imut banget kamu sayang, malu-malu seperti itu,' ucap batin Jimmy menatap Luna.
"Dokter Jimmy bagaimana perasaannya sudah sadar? Luna histeris banget ketika dokter tertembak, sampai belum makan dari kemarin. Dia hanya ingin menunggu Dokter untuk sadar," ucap Andin.
"Perasaan aku lega Bu Andin karena Angel selamat," jawab Jimmy.
"Jangan panggil aku Ibu dong, panggil nama aja seperti Angel dan Alice memanggil aku," protes Andin.
"Kamu juga jangan ada panggilan dokter karena aku teman suamimu," ucap Jimmy.
Jimmy mengambil tangan Luna, Luna terkejut karena ada sentuhan di tangannya.
"Sayang kok belum makan, makan yah. 'Kan sebentar lagi kita nikah," ucap Jimmy.
"Memang udah kalian bicarakan? Nggak diundur tanggal pernikahannya?" tanya Andin.
"Angel yang minta Andin," jawab Jimmy.
"Ehem Lun udah ngebey banget nih buat nikah," ledek Andin.
"Ih nggak mau kalah," ledek Andin kembali.
Jimmy meminta kepada kedua orang tuanya untuk mengurus semua, bahwa ijab kobul akan ia lakukan di dalam ruang rawat inapnya. Luna di rias sangat cantik, memakai kebaya berwarna putih. Wajahnya di rias.
Prosesi ijab kabul dilaksanakan di dalam ruang rawat Jimmy. Jimmy pun melakukan prosesi akad ini masih dalam tubuh yang berbaring di ranjangnya
"Ananda Jimmy Gio Ramadan bin Albert Ahmad Ramadan, saya nikahkan dan saya kawinkan Ananda dengan anak perempuan saya Shayna Angela Reesa binti Syarif Agus Zain dengan mas kawin uang tiga puluh tiga juta rupiah dibayar tunai." Ayah Angel menghentakkan tangan Jimmy.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shayna Angela Reesa binti Syarif Agus Zain dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Jimmy mengucapkan kabul dengan lancar.
"Sah?"
"Sah... sah..." ucap 2 saksi yang menyaksikan ijab kabul yang sangat sakral.
"Alhamdulilah."
Wajah Luna tersenyum mengembang, ia tak menyangka akan tetap menikah dengan Jimmy. Luna langsung memeluk kedua orang tuanya dan kedua orang tua Jimmy. Kini dirinya sudah sah menjadi istri Jimmy.
"Selamat Angel, akhirnya sah menjadi istri dokter Jimmy. Tinggal aku nih yang belum di ijab kabulin. Kayanya oke nih resepsi pernikahan kita barengan bertiga, bakalan seruh nih kita undang teman SMA kita, sekalian reonian hehehe," ucap Alice sambil memeluk Luna.
"Jangan barengan ah, nanti amplopnya ketuker," protes Luna.
"Dih, dasar tukang hitung-hitungan kamu," protes Alice.
"Angel selamat yah," ucap Andin memeluk Luna.
__ADS_1
Proses akad sudah selesai, Luna pun sudah berganti pakaian. Kini hanya Luna dan Jimmy yang berada di dalam ruang rawat Jimmy. Luna yang akan menjaga suaminya dalam proses pemulihan.
"Abang haus?" tanya Luna.
"Nggak sayang," jawab Jimmy.
"Terus kenapa pandangin aku seperti itu? Memang ada yang aneh yah dengan wajahku?" tanya Luna.
Jimmy menggelengkan kepalanya.
"Aku boleh nggak sentuh ini?" izin Jimmy sambil menyentuh bibir Luna.
"Hanya ini 'kan, kamu masih sakit loh Bang, aku nggak mau melakukan itu di rumah sakit," ucap Luna.
"Nggak sayang, aku hanya ingin sentuh itu aja," ucap Jimmy.
Jantung Luna berdetak sangat kencang. Jimmy menggenggam tangan Luna. Luna mendekatkan wajahnya ke wajah Jimmy, Jimmy memegang tekuk leher Luna dan ia menyentuh bibir Luna dengan lembut. Luna memejamkan mata, ia merasakan kehangatan ketika Jimmy mengecup bibirnya dengan penuh rasa cinta.
Ilustrasi Luna
Bersambung
Aku kabulkan yang fans sama Luna, Authoress nggak suka cerita yang muter-muter kaya kaset kusut langsung sat set SAH 😁😂
Follow aku yuk kk manis
Baca juga yuk cerita seru novel Authoress.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst) (Tamat)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On Going)
__ADS_1