
Andin menjalankan mobilnya ke arah kediamannya, diikuti oleh mobil yang di dalamnya ada 4 pesilat tangguh yang Andin sebut bodyguard. Andin langsung menemui satpam penjaga kompleks, pak Untung yang dulunya adalah seorang polisi.
"Pak Untung, bisa bicara sebentar?" tanya Andin.
"Bisa Bu," jawab Untung. Untung keluar dari pos penjaga dan berbicara 4 mata dengan Andin.
"Bapak punya kenalan yang bisa menyadap seseorang? Saya butuh saat ini juga Pak untuk menolong sahabat saya," ucap Andin.
"Saya bisa Bu, dulu pernah memasang alat penyadap di rumah seseorang," ucap Untung.
"Saya minta bantuan Bapak sekarang juga dan ikut dengan saya," ucap Andin.
"Saya pulang dulu untuk mengambil alatnya Bu. Kebetulan saya masih menyimpan karena untuk jaga-jaga juga jika diperlukan di kompleks ini," ucap Untung.
"Terima kasih Pak, saya akan tunggu di sini." Andin menunggu Untung untuk mengambil perlengkapannya, Salama 45 menit menunggu dan akhirnya untung kembali. Sebelum Andin menjalankan mobilnya, Andin menelepon Alice untuk memastikan beradaan sahabatnya di mana sekarang.
"Assalamu'alaikum, Alice hang out yuk. Kita sepertinya sudah lama nggak jalan bareng." Andin menelepon Alice, dia berusaha untuk mencari info di mana keberadaan Alice sekarang.
"Waalaikumsalam, maaf Andin. Aku ada janji dengan Roby untuk makan malam bersama," ucap Alice di ujung telepon.
"Yah, padahal aku kangen banget jalan sama kamu. pukul berapa Roby menjemput kamu?" tanya Andin.
"Sekarang dia masih di kantor, katanya dia habis dari kantor langsung jemput aku," jawab Alice.
"Oh yah sudah, have fun yah," ucap Andin di ujung telepon.
"Maaf yah." Alice merasa bersalah karena tidak bisa menerima ajakan Andin.
"It is okay, bye." Andin menutup teleponnya.
Setelah Andin mengetahui Roby masih di kantornya, Andin masuk ke dalam mobil. Andin melihat jam tangannya, terlihat pukul 2.30.
"Kita harus bergegas Luna, sebelum Roby keluar kantornya. Pak ayo masuk ke dalam mobil," ajak Andin kepada Untung.
"Iya Bu." Untung masuk ke mobil Andin.
Andin langsung melajukan mobilnya ke kantor Roby diikuti mobil dibelakangnya. Andin sudah meminta nomor handphone salah satu dari bodyguard Andin. Mereka memasuki parkiran kantor Roby.
"Pak Untung, tolong pasang penyadap suara ke dalam mobil itu bisa?" tanya Andin.
__ADS_1
"Din, tapi 'kan mobilnya di kunci. Bagaimana bisa Din? Pak Untung masuk ke dalam mobil Roby tanpa berbunyi," tanya Luna.
"Saya bisa Mbak Luna, tapi sayangnya di sana ada CCTV. Nanti ketahuan jika saya membuka mobil yang ingin di sadap," ucap Untung.
"Soal CCTV, biar saya yang urus Pak," ucap Luna.
Luna langsung mengeluarkan laptopnya, kemudian dia mulai mengetik kode-kode digital untuk meretas CCTV 1 kantor milik Roby, dalam waktu 10 menit CCTV kantor Roby ada di laptop Luna. Luna merekam kejadian yang ada di sekitar tempat parkir, lalu ia mengganti video yang sudah di rekam untuk gambar keadaan tempat parkir saat ini.
"Pak, bisa pasang penyadap sekarang. CCTV sudah saya yang pegang," ucap Luna.
Luna memasang earphone ke telinganya, ia harus memantau Roby di kantornya. Takut Roby keluar kantor tiba-tiba. Pak Untung mulai beraksi, ia membuka pintu mobil Roby tanpa ada alarm saat membuka pintu secara paksa. Ia memasang penyadap suara di bawah jok bangku depan.
"Din, Roby keluar Din. Cepat telepon Pak Untung," ucap Luna mendadak.
Andin langsung menelepon Untung yang sedang memasang penyadap suara di dalam mobil Roby.
"Pak, yang punya mobil 5 menit lagi sampai ke parkiran," ucap Andin di dalam telepon.
"Iya Bu, semoga tepat waktu," jawab Untung.
'Ya Allah semoga Pak Untung berhasil,' ucap batin Andin.
Keadaan semakin menegangkan karena Untung belum ada tanda-tanda untuk keluar dari dalam mobil Roby.
"Keluar Lift Andin, menuju parkiran," ucap Luna.
"Pak Untung, ayo cepat Pak." Andin sangat gelisah, kakinya sudah tak bisa diam lagi.
"Din..." Luna menyentuh lengan Andin, dia juga sudah sangat gelisah.
Untung keluar dari mobil Roby, menutup pintu mobil Roby dan mengunci kembali. Tepat 5 langkah Untung berjalan, Roby masuk ke tempat parkiran. Untung santai melangkahkan kakinya sambil merokok. Ia berdiri tidak masuk langsung ke dalam mobil Andin agar Roby tidak curiga. Untung mengisap rokok dengan santainya. Roby terlihat tidak memperdulikan dan ia masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya keluar dari kantornya. Untung bergegas masuk ke dalam mobil Andin.
"Ayo Bu jalan," ucap Untung.
Untung membesarkan volume penyadap agar Andin bisa dengar apa yang akan dibicarakan Roby di dalam mobil. Andin menelepon bodyguard agar mobilnya berjalan di depan dan Andin di belakang.
"Ikuti mobil putih B1234J," ucap Andin.
"Baik Bu," ucap Muklas bodyguard kampung design.
__ADS_1
"Alice, malam ini kamu akan menikmati sentuhanku." Suara Roby terdengar di mobil Andin.
"Jangan harap, kamu menghancurkan hidup sahabat aku," gumam Andin di dalam mobil.
Terlihat Roby menjemput Alice. Alice terlihat cantik hari ini. Andin terus mengikuti mobil Roby dari belakang.
"Sayang, kamu cantik hati ini," ucap Roby di dalam mobil. Terdengar decapan suara kissing Alice dan Roby.
"Duh, sahabat kita kenapa bucin banget sih Luna. Kamu dulu gitu juga yah?" tanya Andin. Luna menatap Andin sangat tajam. Andin hanya nyengir gigi putihnya terlihat.
"Di restoran bagaimana kita bisa mendengar suara mereka? Kalau kita ikuti pasti Roby curiga karena melihat kita. Aku dan kamu juga nggak mungkin ikut masuk ke restoran, mereka akan kenal kita," ucap Luna. Agak cemas ia memikirkan ini semua karena Andin dan dirinya jangan sampai terlihat oleh Roby.
"Bu, ini ada penyadap kecil yang dipakai hanya sekali. Bisa ditempelkan di baju atau tas," ucap Untung.
"Tapi bagaimana menempelkannya?" tanya Andin.
"Harus ada yang mendekati orang yang mau dipasang penyadap, harus menyentuh baju atau tasnya," ucap Untung.
Andin berpikir sejenak cara agar Alice bisa terpasang penyadap suara. Ia menyusun rencana.
"Hallo Pak Muklas, target nanti akan memberikan minuman kepada teman saya. Tolong gagalkan agar teman saya tidak minum, pasti target akan memasuki obat di dalam minuman sahabat saya. Bapak pura-pura berantem dengan salah satu teman Bapak dan buat adegan Bapak terjatuh. Pas Bapak terjatuh pasang alat penyadap suara ke tas atau baju sahabat saya. Alatnya kecil dan sangat merekat jika di tempel, nanti saya berikan alatnya ketika kita sudah sampai di tempat tujuan. Tolong ikuti terus sahabat saya, selamatkan dia," ucap Andin di ujung telepon.
"Insha Allah Bu, sesuai perintah Ibu. Kita akan melakukan itu semua," ucap Muklas.
Muklas ini anak buat Ucup yang dahulunya preman namun insaf, ia sudah banyak pengalaman dengan kejahatan. 2 kali masuk penjara dirinya insaf karena ketika ia kembali ke kampung design, kampung design sudah sangat berubah dan juga Ucup sang kepala preman sudah ikut Andin. Otomatis semua anak buah Ucup mengikutinya.
Sesampai di depan restoran, Muklas menghampiri mobil Andin dan Andin memberikan alat penyadap suara kepada Muklas.
"Saya percayakan teman saya kepada Bapak dan teman-teman. Jika berhasil saya akan membayar Bapak 2 kali lipat," janji Andin.
"Siap Bu, percayakan kepada saya," ucap Muklas penuh keyakinan.
"Handphone dan earphone standby, kita komunikasi melalaui handphone," ucap Andin.
Mereka berempat masuk ke dalam restoran, mengikuti kemana Roby akan melangkah. Andin menunggu dengan sangat gelisah, ia berharap Muklas sukses memasang penyadap suara.
Bersambung
Selamat idul fitri 1444H.
__ADS_1
Mohon maaf lahir dan batin.