
"Kamu jangan ganggu Andin lagi," ucap Riki kepada Irsyad.
"Siapa kamu mengusir aku?" tanya Irsyad geram.
"Aku cinta pertamanya, aku kekasihnya yang hilang, aku calon suaminya. Aku dengar kamu menghina Andin. Cuih baru kenal 1 bulan dengan Andin sudah berani menghinanya. Aku sudah 9 tahun, lebih baik kamu tinggalkan rumah sakit ini. Tempat kerjamu di kelurahan, bukan rumah sakit Bapak Lurah." Riki menepuk pundak Irsyad. Irsyad menepis tangan Riki dari pundaknya.
"Hahaha calon suami? Akulah calon suaminya," ucap Irsyad.
"Kamu yakin, Andin masih menerima kamu setelah apa yang kamu ucapkan? Ucapanmu itu sama aja mengorek luka masa lalu Andin, jika tidak tahu tentang Andin, jaga lidahmu itu. Lidah tidak bertulang, lidah bisa menusuk ke hulu hati," ucap Riki.
"Aku mencintainya, tidak ada seorangpun yang bisa melarang aku termasuk kamu," ucap Irsyad.
"Begitu juga aku, aku akan menjaganya dari laki-laki seperti kamu. Tidak akan ada lagi hinaan yang akan Andin dapatkan karena aku akan menjaganya." Riki memajukan langkahnya sehingga menatap Irsyad dengan tajam.
"9 tahun sudah lama Bung, mimpi kamu bisa mendapatkan cinta Andin. Akulah yang akan memiliki Andin, aku yang akan menikahinya dan hidup bahagia bersamanya," ucap Irsyad.
"9 tahun adalah waktu yang lama daripada 1 bulan lalu langsung menghinanya. Andin wanita yang spesial, aku memperlakukan dia juga spesial. Enyah kamu dari rumah sakit ini, Andin tak akan mau lagi melihat wajahmu lagi." Riki langsung memukul wajah Irsyad.
BUGH
"Kamu berani denganku!" Irsyad pun ingin memukul Riki tapi Riki berhasil menangkis tangan Irsyad bahkan Riki memelintir tangan Irsyad ke belakang.
"Pria lemah sepertimu ingin menikahi Andin? Sungguh tak pantas kau bersanding dengan Andin!" Riki tak mau Irsyad terus menunggui Andin di rumah sakit ini. Ia memanggil satpam rumah sakit untuk membawa Irsyad ke luar.
"Pak satpam seret pria ini, saya tidak mau pria ini masuk ke rumah sakit ini. Paham!" perintah Riki.
"Paham Pak!" ucap satpam sambil membawa Irsyad untuk menyeretnya keluar.
"Lepaskan, saya bisa jalan sendiri." Irsyad menatap Riki sangat tajam, ia pun akhirnya keluar dari rumah sakit itu.
Luna dan Alice hanya menatap percekcokan antara Irsyad dan Riki.
"Angel, Alice, tolong bantu aku untuk menjauhkan Irsyad dari Andin. Andin sudah cukup penderitaannya," ucap Riki.
"Apa ada cerita yang belum kami tahu antara kau dan Andin?" tanya Angel.
"Dokter Riki, Mbak Andin sadar," ucap Jimmy. Riki bergegas untuk masuk ke ruang ICU kembali.
"Rik, kita bisa ketemu Andin nggak?" tanya Alice.
"Nanti jika Andin sudah di pindahkan ke ruang rawat inap," ucap Riki.
__ADS_1
"Dokter Jimmy terima kasih, aku ingin berbicara dengan Andin," bisik Riki ketika ia masuk ke ruang ICU. Jimmy hanya menganggukan kepalanya.
Kini Riki sudah berada di dalam ruang ICU, lengkap memakai baju khusus sekali pakai. Ia berjalan mendekati branker Andin. Andin tampak sangat lemah, wajahnya masih terlihat pucat. Andin menangis ketika melihat Riki, Riki menyeka air mata Andin.
"Jangan menangis yah, kamu perlu banyak istirahat. Aku nggak mau kamu drop kembali karena itu membuat jantungku sangat tertekan melihat kamu terus memejamkan mata," ucap Riki.
Andin ingin melihat pergelangan tangan Riki. Andin mengulurkan tangannya ingin meraih tangan Riki. Riki semakin mendekati Andin agar Andin bisa melihat pergelangan tangannya.
"Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi," ucap Andin.
"Iya, aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Apapun yang kamu suruh akan aku lakukan," ucap Riki.
"Kamu jangan banyak bicara dulu yah, tubuhmu masih terasa dingin?" tanya Riki.
"Iya masih terasa," jawab Andin.
"Sebentar lagi kamu akan di cek kondisi kamu, jadi jika ada bakteri yang masuk ketika operasi akan langsung ketahuan dan memberikan pengobatan yang pas untukmu," ucap Riki.
Tak lama perawat masuk ke ruang ICU, membawa Andin untuk diperiksa. Riki selalu mendampingi Andin. Luna dan Alice melihat Andin di bawa untuk keluar.
"Andin..." ucap lirih Luna dan Alice. Andin hanya tersenyum menatap mereka dengan wajah yang tampak pucat.
"Baik Dok," ucap perawat.
Andin akan ke bagian ruang radiologi, Riki akan memeriksa apakah ada infeksi di bekas operasi. Jika ternyata ada infeksi maka bisa langsung segera ditangani. Andin masuk untuk pemeriksa, susai yang di prediksi Riki bahwa ada infeksi sehingga bakteri masuk ke tubuh Andin sehingga Andin mengalami tubuh nya terasa dingin. Riki langsung menanggani masalah itu.
Setelah pemeriksaksaan selesai, branker Andin di dorong ke ruang rawat inapnya. Luna dan Alice sudah berada di dalam ruang rawat inap Andin. Melihat sahabatnya masuk, mereka sangat senang. Kini mereka bisa melihat Andin sadar setelah kemarin mereka menangis karena melihat Andin yang koma dan hampir meninggalkan mereka.
"Din, Alhamdulilah kamu sudah sadar. Kami takut kehilangan kamu Din," ucap Luna.
Andin hanya tersenyum, ia menunjuk ka arah botol yang berisi air mineral yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit.
"Kamu haus? Mau minum?" tanya Riki. Andin menganggukan kepalanya, ia merasakan kondisinya sangat lemas. Riki langsung mengambilkan air mineral tersebut dan sebuah sedotan di arahkan ke bibir Andin. Andin meminum air pemberian Riki.
Luna dan Alice melihat interaksi antara Andin dan Riki. Mereka saling bertatapan. Luna dan Alice memang tidak tahu bahwa Andin dan Riki sangat dekat ketika sekolah dulu karena mereka berdua memang tidak sekelas dengan Andin dan Riki dan Andin tidak menceritakan perasaan sebenarnya kepada kedua sahabatnya itu.
"Kalian berdua terlihat sangat dekat, padahal baru ketemu setelah 9 tahun lamanya. Apakah ada cerita yang tidak kami tahu Andin?" tanya Luna.
"Andin masih lemas, kalian jangan memaksa dia. Biar dia istirahat," pinta Riki.
"Aku masih kuat untuk berbicara Rik, biar aku bercerita dengan sahabatku," ucap Andin.
__ADS_1
"Jika kamu lelah jangan dipaksa," ucap Riki. Andin menganggukkan kepalanya.
"Maaf aku tidak menceritakan ini kepada kalian, karena aku malu. 3 tahun silam aku diperkosa," ucap Andin dengan lelehan air matanya.
"Astagfirullah, Din kenapa nggak cerita sama kita. Itu penyebab kamu ganti nomor kamu dan tidak aktif di semua media sosialmu?" tanya Luna.
"Iya, karena aku begitu malu pada kalian saat itu. Aku mengutuk diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa menjaga kesucianku," ucap Andin melanjutkan ceritanya.
Alice menggenggam tangan kanan Andin.
"Siapa yang tega melakukan itu Andin? Ya Allah...kamu sangat menderita sedangkan kami tidak tahu," ucap Alice.
"Natasha adalah anakku di luar pernikahan, Rafif yang telah memperkosa aku. Dia sangat dendam karena di keluarkan dari sekolah, ia menganggap karena aku dia di DO dari sekolah. Tanpa aku sadari, ia selalu mengikutiku. Aku tertipu Rafif. Aku pikir setelah lulus aku akan menggantikan ayahku sebagai CEO pabrik kain." Andin mengambil nafas dalam-dalam.
"Aku berkenalan dengan seseorang di sosial media, aku mulai chatting dengannya membicarakan tentang bisnis perkaian. Aku tidak menyadari jika itu dirinya. Kami pun membuat janji untuk bertemu, alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui dia Rafif. Aku lari tapi tanganku ditarik dan ia langsung membekap hidungku dengan cairan bius kejadian itu sangat cepat. Aku tak sadar ketika..." Andin menangis mengingat kejadian itu.
"Sudah cukup sayang, jangan lanjutkan ceritamu lagi. Tidak akan kubiarkan laki-laki lain untuk menyakitimu lagi," ucap Riki sambil mengusap air mata Andin.
"Aku tak sadar ketika Rafif menggerayangi setiap inci tubuhku, ketika aku sadar dari pingsanku. Aku sudah berada di sebuah hotel dengan tubuhku yang polos di balik selimut dan di samping tubuhku ada Rafif yang masih tertidur. Aku merasakan sakit dibagian bawah, jantungku seperti dihantam palu ketika aku melihat noda darah di seperai putih, kesucianku telah diambil. Seharusnya aku berikan kesucianku setelah aku menikah dengan Riki. Maafkan aku Riki...Maafkan aku..." Andin berteriak histeris.
"Din, sudah cukup. Jangan cerita lagi, hatiku perih mendengarnya. Sudah cukup sayang, kamu sudah bersama aku lagi, jangan pernah lari lagi dariku yah." Riki memegang kedua pipi Andin, dia lihat lekat-lekat mata Andin.
"Aku sayang kamu Rik, aku cinta kamu. Maaf jika telat menjawab pertanyaan kamu," ucap Andin.
"Terima kasih sudah menerima cintaku, terima kasih." Riki mengambil tangan Andin dan ia genggam erat.
Luna dan Alice dibuat bingung dengan pernyataan Andin.
"Din, jadi waktu SMA kalian sudah pacaran?" tanya Alice penasaran.
"Bukan pacaran, tapi hubungan tanpa status. Andin mengajukan syarat kepadaku, ia akan menerima cintaku ketika aku sudah menjadi dokter. Selama aku kuliah di UNPAD, tak lewat 1 hari pun aku selalu video call dengan Andin. Rasanya jika tidak melihat dan mendengar suara Andin, badanku menjadi lemas, nggak ada semangat," ucap Riki.
"Oh ternyata kamu berhasil lulus fakultas kedokteran UNPAD karena dorongan dari Andin. Heboh 1 angkatan karena murid biasa-biasa aja bisa lulus fakultas kedokteran UNPAD," ucap Luna.
"Bisa dikatakan seperti itu, Andin lah vitamin semangat hidupku. Aku tidak akan melepas Andin lagi akan aku ikat Andin dengan sebuah pernikahan," ucap Riki sambil menetap mata Andin. Andin terkejut dengan ucapan Riki.
Bersambung
Besok kira-kira pada baca di Noveltoon nggak? Jika pada jalan-jalan aku libur menulisnya besok. Walaupun besok aku hanya ada di rumah.
Selamat membaca, terima kasih bagi kalian yang sudah membaca sampai bab 73 ini. Hari ini up bab 72 dan 73. Jangan lupa dukungan kalian dengan komentar dan like. Yang belum follow, yuk follow aku.
__ADS_1